Loading

Slide Bar

Share

Mengenal Lebih Dekat Nyeri Perut pada anak



Nyeri perut merupakan salah satu keluhan yang paling banyak diderita anak dan menyebabkan orangtua membawa anak ke dokter.  Timbulnya mendadak dan disebabkan kelainan organ, yang berlangsung kronis atau berulang lebih merupakan suatu keadaan fungsional (psikis).

Penyebabnya:
Gangguan Non-organik,keadaan fungsional pada anak usia 4-15 tahun. Pada nyeri perut fungsional gerakan usus dapat meningkat atau pun melambat, sehingga tidak jarang anak mengeluh diare atau kembung. Kelainan organ tersering adalah pada saluran cerna dan saluran kemih. Intoleransi laktosa sering menyebabkan nyeri perut pada anak asia di atas usia 2 tahun krn berkurangnya enzim laktasi.


Jenisnya:

Nyeri perut fungsional dapat berupa fungctional dyspepsia, irrable bowel syndrome, functional abdominal pain, abdominal migrain, dan aerophagia.

Functional Dispepsia:  Nyeri atau tidak aman pada pert bagian atas (di atas pusar0 Rasa tidak nyaman berupa rasa penuh,cepat kenyang,sering sendawa,mual, atau muntah.
Irrable Bowel syndrome (IBS).Nyeri perut atau rasa tidak nyaman berhubungan  dengan pola defkasi.Gandungan organ perlu dipikirkan, bila ditemukan nyeri pada malam hari, diare,pendarahan,deman, atau penurunan badan.

Functional Abdominal pain:Nyeri di sekitar pusar berlangsung terus menerus pada anak usia sekolah atau remaja, tidak berhubungan dengan makan, defekasi, atau mensturasi.Rasa nyeri dirasakan pada malam hari sehingga anak tidak bisa tidur. Anak yang mempunyai masalah emosi ,sifat perfeksionis,kesulitan belajar, dan orangtua mempunyai harapan yang terlalu besar kepada anak.Anak sering pula mengeluh sakit kemala,mual,dan letih.

Abdominal migrain.Nyeri di dearah garis tengah perut berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari diselingi periode tidak sakit selama beberap minggu hingga beberapa bulan.Disertai keluhan lain,sakit keapla,takut terhadap cahaya, migrain,sakit kepala.
Aerophagia.Distensi perut akibat tertelan udara berlebihan yang menyebabkan gangguan masukan minum/makan anak.Sendawa berulangkali , sering buang angin,dan suara menerlan berulangkali akibat rasa cemas anak.Keluhan gejala klinis akan hilang pada saat tidur.

Perlu perhatian kepada setipa anak dengan keluhan nyeri perut.
Diambil dari
Dr. Badriul Hegar

KEBIJAKAN “TIDAK ADANYA NAIK KELAS BUAT ANAK SD”




Membaca kebijakan yang dibuat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan diatas  sangat mengejutkan .  Apakah kebijakan itu  telah mempertimbangkan dengan  matang tentang tidak adanya naik kelas buat anak SD?  Sebagaimana sebuah kebijakan tentu ada study kasus atau faktor-faktor yang mendasari landasan mengapa kebijakan ini dibuat.

Ada hal yang menggelitik ketika membaca adanya kebijakan ini. Saya sedang membayangkan bagaimana peran guru, peran anak , peran orangtua menyikapi kebijakan yang demikian .
Membaca lebih lanjut tentang tujuan atau alasan yang kuat yang mendasari dihapuskan Unas SD adalah adanya sejumlah pihak yang menganggap pelaksanaan Unas SD tidak sejalan dengan amatan Undang-
Undang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-undang itu ditegaskan, wajib belajar pendidikan dasar adalah sembilan tahun (SD hingga SMP).    Lebih lanjut dijelaskan jika ada anak SD tidaklulus , maka  anak SD itu berpotensi itu  tak bisa meneruskan ke SMP berarti kegagalan untuk mencapai 9 tahun .
Bayangan saya segera melayang kepada ketiga peran yang sangat terlibat dalam keputusan itu.



Peran Anak
Alangkah enaknya jadi anak yang tak pernah belajar, malas, tak punya motivasi untuk bisa mengetahui atau menyamaratakan dengan teman-temannya.   Ach, nanti pasti akan naik kelas, kok capai-capi belajar, apa gunanya.   Enakan santai saja.   Toch, nanti pasti naik kelas. 
Sebaliknya, gimana rasanya anak yang senang belajar.  Aku sudah rajin belajar, tapi temanku yang tak belajar kok bisa yach naik kelas.  Kok enak yach dia bisa naik kelas. Lalu apa gunanya aku belajar keras jika yang tak belajar pun bisa naik kelas. 

Peran Guru
Guru yang biasanya harus memberikan penilaian berdasarkan angka, sekarang diganti dengan narasi. Buat guru, membuat penilaian angka adalah suatu hal absolut, sekarang harus membuat narasi yang adalah suatu ungkapan tanpa pengertian yang  lebih kearah suatu penilaian subjektif. 
Guru sendiri bingung  bagaimana menjaga anak didiknya mempunyai motif belajar yang standar, tetap rajin belajar supaya naik kelas.   Aku membayangkan guru yang bingung itu terlihat dari suasana kelas yang tak lagi penuh dengan kompetisi , disiplin, dan tanggung jawab dari anak-anak.
Guru juga bingung dengan kurikulum yang baru yang harus dipelajarinya  tapi bertolak belakang dengan apa yang ingin dicapai tak seusai  dengan kenyataan dilapangan.
Guru  yang tahu bagaimana caranya mempelajari pedagogik untuk memacu anak tetap rajin belajar meskipun mereka semuanya akan lulus,  juga ikut dalam arus, “ach biarian aja, semauku mengajar, toch anak semuanya harus lulus”.


Peran orangtua
Orangtua yang biasanya ikut stres karena ada UAS, banyak pelajaran, test, segala macam, sekarang santai .
Tapi santainya orangtua itu tak begitu lama, karena tambah bingung ketika anaknya bukannya belajar, sekarang senang main game, bermain dengan teman-temannya.
Orangtua makin tak memahami akhir dari perjalanan seorang anak SD kenapa bisa masuk SMP tapi belum memahami  dasar-dasar dari pengetahuan anak SD karena kualitasnya merosot tajam.

Sebelum bayangan itu menjadi kenyataan yang menakutkan, saya  hanya berharap kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan agar mengkaji ulang tujuan dari penghapusan tidak ada naiknya anak SD.   Jauh lebih baik, menggantikan suatu metode yang lain untuk menentukan kelulusan bukan dengan UAS tetapi dengan ulangan-ulangan dari pihak sekolah sehingga guru tak kehilangan pedoman untuk menentukan  justifikasi apakah anak itu telah memahami apa yang diajarkan.
Guru adalah ujung tombak dari pendidikan. Jika persiapan untuk penghapusan hanya sekedar wacana untuk berhasilnya tercapai pendidikan 9 tahun, saku takut kehancuran kualitas pendidikan diperoleh alih-alih tujuan awal. Oleh karena itu tiap guru, bukan hanya sekedar mempunyai pengetahuan ilmu, tetapi ilmu pedagogik, filsafat apa yang dibutuhkan seorang murid untuk memahami dan mengerti apa yang diajarkan guru.  Butuh waktu dan proses yang lama.

BELAJAR TANPA GURU


Menyiapkan anak

Kehidupan makin kompleks dan serba tak jelas. Khususnya dunia pendidikan.
Dunia Pendidikan Indonesia masih perlu berbenah. Dengan jumlah penduduk peringkat keempat dunia.
Tidak bijak jika tidak dapat mengelola potensi perbaikan dunia pendidikan.

Dunia guru tidak mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang utuh.
Tidak juga diajarkan untuk memahami hubungan antar individu yang justru penting untuk menekan
konflik dan perpecahan. 
Materi ajar yang dipelajar di sekolah seakan terlepas dan tak terkait dengan kehidupan sehari-hari anak.

Pendidikan harus mampu membekali anak dengan masalah rii sehari-hari.
Anak tak paham kenapa ada ilmu yang dipisah-pisahkan. BElajar otak di biologi, belajar
alam pikiran manusia di Piskologi. Ini akan menimbulkan ketidakpedulian dan tidak kritis.


Belajar tanpa guru
Guru yang tak kreatif dan tak kritis , cukup memilih mengajar di depan kelas, menyampaikan
informasi sja tanpa membuka kesempatan diskusi dengan murid. Hanya hafalan dan materi
akan diuji setelah diberikan tanpa pengertian mendalam. 

GUru yang berkualitas dan profesional harus diikuti perbaikan sistem pendidikannya.
Bukan hanya S1,S2, S3 tetapi kemampuanya menjadi fasilitator. PRoses pembelajaran
yang behasil bisa dilihat dalam kelas yang dinamis,hidup dan penuh ide kreatif.

Keberhasilan Finlandia, Singapore dan Kanda

Profesi guru dianggap sebagai profesi bergengsi.  Perekrutan dan pelatihan yang dititik
beratkan pada pelatihan dari jumlah alokasi anggaran pendidikan setiap sekolah sama.
Tidak semua orang bisa jadi guru. Seleksinya sangat ketat, pendidikan minimal S2 dan
proses pelatihan butuh waktu minimal 7- 8 tahun.

Guru Finlandia tidak bisa diimpor ke Indonesia karena guru Finlandia tidak
dapat berhasil jika tidak didukung sistem pendikan yang benar. Harus ada
sistem dan sistem kurikulum yang benar dan signifikan.

Guru ibaratnya seperti pemain dalam tim sepak bola. Butuh kepemimpinan yang baik,
strategi yang tepat, kerja sama tim, sistem permainan kuat.

BEKAL ANAK MENGHADANG MASA DEPAN

Rasa bahagia dan bangga sebagai orangtua tentu tak harus menunggu prestasi besar dari sang buah hati lebih dulu. Pencapaian-pencapain sederhana yang terlihat sejak dini justru mampu menjadi pengingat orangtua bahwa setiap anak memiliki potensi diri yang masih bisa dikembangkan secara alami, tanpa ada pemaksaan.

Membiarkan potensi anak berkembang  secara alami bukan berarti orangtua melepaskan peran sebagai pendamping. Si kecil tetap membutuhkan penuntun dan pemberi bekal agar semakin siap dalam menghadapi masa depan.

BUKAN INSTAN

Kecerdasan dan perilaku bukanlah kemampuan anak yang terbentuk secara instan. Seribu hari pertama kehidupan yang berjalan sejak di dalam kandungan hingga usia dua tahun merupakan periode kritis yang menjadi " masa awal yang menentukan" tumbuh kembang otak anak.

Kecerdasan dan perilaku si kecil membutuhkan proses bertahap dan berkesinambungan. Ini dimulai dari sejak buah hati mengalami perkembangan otak di dalam kandungan atau disebut 1.000 hari pertama. Masa 1.000 hari pertama adalah rentang waktu 280 hari sebelum kelahiran hingga 720 hari atau 2 tahun usia anak.

Pembentukan sirkuit otak sejak dari dalam kandungan akan menjadi penentu perkembangan otak di kemudian hari. Pemberian Gizi dalam kandungan , otak pun dapat berkembang menjadi lebih sempurna.  Selain gizi , stimulasi dan pemberian pola asuh turut ambil andil bagi perkembangan si kecil.

Pola asuh anak melingkupi proses merawat anak, mengajarkan sosialisasi, komunni asi. Pola asuh dapat dibagi menjadi involved , authroritive, authoritarian.

Orangtua tidak diharapkan mempunyai pola asuh yang dominan. Pola asuh yang lindulgent menjadi sang anak manja, kurang dewasa, kurang teratur, egois,mudah menyerah dan tidak disiplin. Hindarilah memaksakan kehendak pada anak, sebaliknya  ajarkan berbagai hal dan kembangkan dialog dengan si kecil.

Berawal dari potensi genetik, asupan nutrisi berkualitas, serta stimulasi yang seimbang akan menjadi kunci keberhasilan pada masa periode kritis anak yang menentukan masa depan. Dengan demikian, anak menjadi lebih mandiri,percaya diri, multitalenta, dan tangguh menghadapi kompetisi.

Sosok inilah yang disebut Generasi Plantinum.  Mereka yang siap menghadapi masa depan dengan bekal fisik sehat dan kecerdasan intelektual, emosi dan spiritual.

GURU KAKU TAK LAKU


Menyiapkan anak
Kehidupan makin kompleks dan serba tak jelas. Khususnya dunia pendidikan.
Dunia Pendidikan Indonesia masih perlu berbenah. Dengan jumlah penduduk peringkat keempat dunia.
Tidak bijak jika tidak dapat mengelola potensi perbaikan dunia pendidikan.

Dunia guru tidak mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang utuh.
Tidak juga diajarkan untuk memahami hubungan antar individu yang justru penting untuk menekan
konflik dan perpecahan. 
Materi ajar yang dipelajar di sekolah seakan terlepas dan tak terkait dengan kehidupan sehari-hari anak.

Pendidikan harus mampu membekali anak dengan masalah rii sehari-hari.
Anak tak paham kenapa ada ilmu yang dipisah-pisahkan. BElajar otak di biologi, belajar
alam pikiran manusia di Piskologi. Ini akan menimbulkan ketidakpedulian dan tidak kritis.


Belajar tanpa guru
Guru yang tak kreatif dan tak kritis , cukup memilih mengajar di depan kelas, menyampaikan
informasi sja tanpa membuka kesempatan diskusi dengan murid. Hanya hafalan dan materi
akan diuji setelah diberikan tanpa pengertian mendalam. 

GUru yang berkualitas dan profesional harus diikuti perbaikan sistem pendidikannya.
Bukan hanya S1,S2, S3 tetapi kemampuanya menjadi fasilitator. PRoses pembelajaran
yang behasil bisa dilihat dalam kelas yang dinamis,hidup dan penuh ide kreatif.

Keberhasilan Finlandia, Singapore dan Kanada

Profesi guru dianggap sebagai profesi bergengsi.  Perekrutan dan pelatihan yang dititik
beratkan pada pelatihan dari jumlah alokasi anggaran pendidikan setiap sekolah sama.
Tidak semua orang bisa jadi guru. Seleksinya sangat ketat, pendidikan minimal S2 dan
proses pelatihan butuh waktu minimal 7- 8 tahun.

Guru Finlandia tidak bisa diimpor ke Indonesia karena guru Finlandia tidak
dapat berhasil jika tidak didukung sistem pendikan yang benar. Harus ada
sistem dan sistem kurikulum yang benar dan signifikan.

Guru ibaratnya seperti pemain dalam tim sepak bola. Butuh kepemimpinan yang baik,
strategi yang tepat, kerja sama tim, sistem permainan kuat.

PERCAYA DIRI

 Optimism is the faith that leads to achievement. Nothing can be done without hope and confidence "
Helen Keller


" Self-confidence is the first requisite to great undertakings "
Samuel Johnson


ANAK BUNUH DIRI ???
Pastinya sebagai orangtua, itu adalah hal yang tidak ingin kita pikirkan atau bayangkan...apalagi terjadi pada anak sendiri, betul ?
Tapi sebuah fakta yang sangat mengerikan menunjukan bahwa ternyata kasus bunuh diri dikalangan remaja sangat besar  dan anak yang telah jadi orangtua semakin banyak.

Apa penyebabnya ?
Salah satu yang paling tinggi adalah sikap tidak mampu mengatasi tekanan, apakah tekanan dari lingkungan rumah, sekolah atau teman. dan itu DIAWALI DARI SIKAP TIDAK PERCAYA DIRI / MERASA TIDAK BERHARGA yang tidak segera diatasi ( dianggap remeh )
Juga ada alasannya sebenarnya hanya sepele. Anak yang ingin bunuh diri karena dia tak mendapatkan apa yang diinginkan dari orangtua, misalnya HP model terakhir atau Ipad terbaru.   Sedangkan kasus orangtua yang bunuh diri karena adanya tekanan kerja yang tak bisa dilepaskannya.

Sahabat orangtua, saya ingin mengajak Anda untuk lebih aware dan peduli dengan kondisi anak - anak, terutama kebutuhan emosinya ( terutama ketika mereka mengalami masalah tidak percaya diri ) daripada menyesal dikemudian hari, kita berharap yang terbaik untuk hidup / masa depan mereka.

Membangun Rasa Percaya Diri
  • Tidak membandingkan dengan anak lain:  Tiap anak adalah unik. Masing-masing mempunyai kemampuan, kelemahan berbeda. Kita tak bisa membandingkannya.  Jangan sampai terjadi kata-kata yang dilontarkan:  “Kamu tidak sebaik kakak/adikmu”.  Hal ini akan mengembangkan rasa rendah diri dan tak percaya diri.
  • Tidak dihukum karena kesalahnnya:  Membuat kesalahan adalah suatu bagian proses pembelajaran anak. Jangan sampai terjadi salah paham mengenai anak yang melakukan kesalahan.  Jika dia belum mampu merapikan mainannya yang tersebar dimana-mana, latihlah dan berikan contoh . Perlu waktu yang cukup lama untuk dapat melakukan latihan.
Dibiarkan Menyelesaikan tugas sendiri.
Tidak perlu membantu tugas-tugas keperluan dirinya seperti makan, meleaps baju, memakai sepatu, meletakkan sepatu, membersihkan tempat tidur,belajar, tidur. Jika anak dapat melakukan tugas rutin, maka akan terbangun rasa percaya diri.  Kuncinya adalah memberikan tugas dan kesempatan tanpa bantuan.

Dipuji sesuai dengan pencapaian yang lebih dari standar
Jika anak berhasil melakukan sesuatu dengan baik di luar kebiasaan sehari, pujilah dan berikan tanda penghargaan atas  hasilnya yang melebihi dari normal.   Pujian itu menjadi suatu tanda bahwa dia telah melakukan sesuatu yang lebih baik dari standar.  Kemampuan untuk meraih yang lebih baik akan terpacu terus.

Strategi yang tepat dalam membangun kekuatan dan kelemahan anak
Memahami kekuataan dan kelemahan anak dengan melakukan pengamatan yang teliti. Contohnya adalah
Kekuatan:
  • Mandiri
  • Belajar dengan semangat
  • Konsisten
  • Senang dengan musik

Kelemahan:
  • Tak lancar berbicara didepan orang
  • Ragu-ragu untuk melakukan hal yang baru
  • Tak mudah bergaul dengan orang yang baru

Menetapkan batasan yang jelas
Batasan tidak hanya sekedar definisi apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Tetapi juga sesuatu yang lebih sesuatu yang seimbangan antara disiplin ketat dan flexibeL
Tuntutan yang tidak realistis dan hukuman tak sepadan membuat anak tak berdaya
Konsisten dalam memberikan aturan yang harus dijalani oleh anak. Aturan yang tak konsisten membuatnya bingung
Kedisiplinan, tak berarti orangtua berhak menilai. Jangan menyerang pribadinya, tetapi kepada kelakuannya.

Dengarkan Anak
Menatap matanya ketika abicara. Bahasa tubuh memberikan apakah anda memang perhatikan apa yang dibicarakan. Perhatian sangat penting untuk membangun rasa percaya diri.  Kesibukan kita membuat kita tak sulit mendengarkan apa yang dibicarakan.  Jangan sekali-kali membicarakan yang penting hanya melalui mobile. Lebih baik melalui pembicaraan yang singkat tapi penuh dengan perhatian dan pengertian

Memaklumi Kesalahan Anak.
Biarkan anak berbuat kesalahan. Dengan adanya kesalahan dia akan belajar apa resiko yang telah diputuskannya.  Resiko itu adalah pilihannya. Dengan demikian dia akan lebih bijak untuk memperbaiki kesalahan pada masa datang dan mampu mengatasi kesalahan dengan membuat keputusan yang lebih baik.   Anak akan percaya diri dan bahagia.

Changes that made me upset

 “Change the way you look at things and the things you look at change.” ― Wayne W. Dyer

 “Change will not come if we wait for some other person, or if we wait for some other time. We are the ones we've been waiting for. We are the change that we seek.” ― Barack Obama

When I think for the past, it was so nice to have such a child that I can keep or take care of. But for the first time, I  feel that changes always make me unhappy. The worse one  was the feeling make me upset, loneliness always come when day come to night.

Once, I realize it, I should not keep such the feeling. Changing in the way I look make me a happy one. It should go what she has to pursue her study and her  future. There was no worry and loneliness anymore. All the way, I have  to understand  what the changes I have to face .

Again, once more, I realize that now, the changes come to my first sight to what my child had come with. She had been fully independent.  Totally, she does not need any help from me.   Just a few advice  that she need for help. What shall I do now? She has been the change that I seek. Not what I expect..... Again, all changes make me wait for some other time to understand it...."World so full of changes, what do you expect,  If I do not change, I will not be what the world say"........


PILIH CERITA UNTUK BUAH HATI

Seorang perempuan paruh baya datang ke sebuah toko buku.  Dia menghabiskan waktu berjam-jam di toko buku itu.  Ia tak juga bergeming bahkan tak buru-buru pulang.  Ternyata dia sedang mencari buku untuk keponakannya yang berumur 8 tahun.  Beragam pilihan jenis buku cerita marak ada di toko buku.

Jika kita tak sabar seperti perempuan paruh baya itu , maka kita khawatir jika buku yang dipilih nantinya akan kurang tepat.

Ketua Indonesia Bercerita Bukik Setiawan mengatakan, sejumlah pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam memilih buku cerita anak:

  • Sesuaikan dengan kemampuan si kecil.  Anak-anak usia 2-4 tahun, cenderung lebih nyaman menikmati cerita yang lebih banyak memperlihatkan gambar (visual) ketimbang teks seta plot cerita yang maju dan simple (tanpa kilas balik). Semakin meningkatnya kemampuan sang anak,semakin kompleks pula cerita yang dicerna.

  • Pilihkan cerita yang bervariasi.  Semakin beragam, semakin besar kesempatan anak untuk explorasi minat.

  • Pilihkan cerita yang digemari.  Jika buah hati tidak menyukai komik, lebih baik belikan cerita yang ada teks.

  • Pilihlah cerita dengan alur cerita yang konsisten. Hindari cerita yang menghadirkan peristiwa hanya untuk mempermudah cerita.

  • Pilihlah cerita deskriptif dan tidak mengandung unsur judgemental. Jugdemental itu biasanya memutuskan hal yang dirasakan tokoh tanpa memberikan kesempatan pembaca untuk mengartikan sesuatu yang dirasakan oleh tokoh.

  • Pilihlah cerita yang mengandung value yang sesuai.

Semoga ibu-ibu dapat turut serta dalam menunjang proses tumbuh kembang dan daya imajinasi anak menujuh arah yang lebih baik dengan pilihan buku cerita yang tepat.

KIAT MEMBERI PUJIAN KEPADA ANAK

Untuk membangkitkan semangat anak jika dia telah berhasil mengerjakan sesuatu, tentunya kita dapat memberikan pujian.  Pujian memang lebih banyak positifnya daripada negatifnya.   Namun ada beberapa hal yang harus dicermati agar pujian itu dapat berhasil mencapai tujuan dari apa yang diinginkan.

Berikut ini adalah tips bagaimana memberikan pujian yang benar kepada anak:

Spesifik:
Pujian yang efektif adalah pujian yang spesifik, contohnya ibu mengatakan : "Clara, kamu sudah menyelesaikan pekerjaan rumah berhitung secara bagus, kamu cermat, tak ada satu soal pun yang salah, dan tulisannmu rapi, padahal lumayan banyak ya tugasmu kali ini.""   Ucapan ini mengreflesikan bagaimana anda telah mencermati anak anda selama mengerjakan tugasnya, dan ia layak mendapat pujian itu. Pujian bersifat umum tidak berarti biasanya diterima tanpa dampak apa pun. Contohnya:  "Tini, kamu pekerja yang baik," tanpa penjelasan lebih lanjut.

Berikan alasan dan fakta:
Setelah anda mencermati sesuatu dan memberikan pujian, maka dapat dilanjutkan dengan menyampaikan alasannya.  Dalam bentuk pertanyaan seperti apakah yang dipikirkannya dengan pujian itu , apakah ada kebenaran dan bagaimana dia menerimanya serta alasan dia menerimanya.

Hasil lebih dari harapan:
Memuji untuk sesuatu yang hasilnya lebih dari yang diharapkan, karena seseorang telah berhasil mencapai atau melebihi target.  Jangan memberikan pujian untuk tercapainya kinerya yang memang telah diharapkan karena malah kalau demikian akan menimbulkan pertanyaan. Contoh anak terbiasa bangun tidur tepat waktu. Tak perlu memuji:  "Bagus, Nak, kamu bangun pagi."

Pisahkan pujian dan kritik:
Pujian tidak bisa dicampur dengan kritik. Jika dilakukan bersamaan akan menimbulkan kecurgiaan.  Relasi yang cucur dan berkembang, lebih baik ketika orang berbicara secara "lurus/langsung".

Saat ini dan di sini
Pujian diberikan persis terjadi pada saat ini dan kondisi saat ini.  Bukan tujuan menjadi simpanan di masa depan.  Artinya, dalam memuji kita tidak perlu mengharap sesuatu yang lebih bermanfaat akan terjadi nanti.

Layak dan pantas:
Pujian hendaknya diberikan kapan pun apabila memang seseorang pantas mendapatkannya, tidak hanya pada kondisi atau situasi yang khusus.  Pujian akan menjadi tidak efektif jika diberikan secara boros ketika orang-orang senior hadir.