Loading

Slide Bar

Share

Ujian Nasional, Ujian Penghabisan yang Tidak Perlu

Membaca pemikiran J. Drost pada tema diatas dengan suatu permintaan yang sangat besar yaitu Ujian Nasional tak perlu diadakan lagi merupakan suatu permintaan yang sangat penuh pertimbangan total dari seorang tokoh pendidik yang melihat pendidikan secara utuh.

 Siapa J. Drost: 


Drost lulus dari Inteitut Teknologi Bandung tahun 1957 sebagai saraja fisika. Beliau menerima pentabisan imamat sebagai pastor pada tahun 1960 di Jogjakarta. Dros pernah ditugaskan sebagai Kepala SMA Kanisiun di Jakarta 1976-1987. Selanjutnay sebagai Kepala SMA Ganozar Jakarta. Sebelumnya juga pernah menduduki jabatan lebih tinggi sebagai Rektor IKIP Sanata Dharma pada 1964-1967 di Jogyakarta. 

Alasan harus meninggalan Ujian akhir: Sorotan yang tajam untuk menganalisa ujian akhir di setiap jenjang mulai dari SD ,SMP dan SMA. Ternyata hasilnya hanya merupakan test hasil hafalan. Anak didik dipaksa menghafal dan yang pintar menghafal akan mendapatkan nilai yang baik. Usulnya agar ujian ini digantikan dengan test untuk meninggalkan jenajng sekolah. Materi ujiannya berupa tes psikologis untuk memberikan gambaran yang tepat untuk kemampuan belajar jenjang sekolah berikutnya. Sekarang Ujian Nasional berbasis komputer (UNBK) yang dimaksudkan Pemerintah untuk pencapaian standar pendidikan. Tetapi oleh Drost hal itu lebih baik ditinggalkan saja, untuk mencapai lebih dari standar justru dengan pemakaian tes untuk meninggalkan sekolah, hasilnya anak akan mencapai sebuah kematangan emosional dan intelktual ketika ingin mulai ke jenjang pendidkan berikutnya. 

Kurikulum di univesitas pun tak luput dari perhatiannya. Meskipun sebagaian dianggap cuup baik, teapi tetap tak cocok bagi mahasiswa. Mahasiswa tak memiliki kemampuan belajar yang baik di universtias, tetapi memaksakan diri sehingga lulusan yang tak bermutu pun sulit menapatkan keberhasilan. 

Kunci keberhasilan: Potensi belajar dengan kematangan emosional dan intelektual menjadi kunci keberhasilan anak didik di setiap jenjang. Ini yang tidak pernah disadari oleh orangtua maupun pendidik. Drost mengatakan lulusan univesitas tidak bermutu karena pada saat masuk univierstas tak punya kematangan emosional maupun intelektual pada saat belajar di SMA. Akhirnya ketika lulus pun anak itu menjadi lulusan yang tak bermutu. 

Tujuan pendidikan:


Tujuan pendidikan yang diharapkan oleh orangtua sangat salah, mereka hanya mementingkan nilai atau anak pandai dalam meraih nilai pelajaran. Seharunya orangtua membantu anaknya menjadi orang dewasa yang mandiri dalam kehidupan bermasyarakat.Orang dwasa mandiri sebagai orang yang mengetahui dirinya, baik keunggulan maupun kelemahannya., yang mampu bertanggung jawa serta penuh perhatian kepada sesamanya. Pemikiran ini tak pernah usang, karena prestasi semua yang dituangkan setelah hasil ujian nasional itu tak bernilai sama sekali dibandingkan dengan anak yang punya kematangan emosional.

Memilih Jurusan Kuliah

Ketika saya membaca di koran Kompas edisi 10 Mei 2016, ada 14 lembar halaman yang tertera nama dan nomer dari para calon mahasiswa dan mahasiswi SNMPTN 2016 se Jabotabek, Bandung, Denpasar, Makasar, Mataram. Yang terpikir oleh saya, wah pastinya harian kompas tanggal 10 Mei ini akan laris manis terjual. Mereka pasti akan berebut. Walaupun mereka dapat mengecek dari internet, tapi jika di harian Kompas lebih memastikan bahwa nomernya dan namanya tertulis dan tertera di pengumuman ini. Memilih jurusan sangat penting diketahui sebelum menentukan langkah berikutnya.

Lalu apa yang terjadi, setelah lulus dari SNMPTN 2016? Pastinya mereka sangat bangga, gembira, senang dan sgera mendaftar ulang dengan membayar uang pendaftaran dan mengirimkan persyaratan kepada masing-masing fakultas di Universitas yang terpilih. Bangga karena masuk di perguruan PTN itu bertarung dengan beratus ribu lawan yang demikian banyaknya. Dari jumlah ratusan ribu, hanya sekian ribu yang diterima

Namun, apakah para calon mahasiswa/i yang akan masuk ke perguruan tinggi ini memang benar sudah menyiapkan diri secara mental dan secara psikologis bahwa apa yang dipilihnya itu memang benar-benar sesuai dengan karakter dan passionnya. Jangan-jangan pemilihan jurusan ini hanya karena pilihan orangtua, pilihan teman, atau pilihan dari bisnis tren yang sedang menjamur. 

Ketika sudah masuk kuliah, barulah terasa berat bercampur aduk dengan cape karena apa yang diperkirakan ternyata tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Kuliah di Indonesia tak semudah telapak tangan , jika tidak cocok dengan mata kuliah suatu bidang katakan bisnis terus ingin pindah ke psikologi, bisa transfer. Tidak ada transfer di Indonesia. Yang ada adalah mengulang lagi dari 0. Oleh karena itu supaya tak terjebak dengan memilih jurusan yang salah tak sesuai dengan karakter, kita baiknya teliti kembali apakah jurusan yang dipilih sudah sesuai. 

Berikut ini adalah guideline untuk pilihan 8 jurusan kuliah yang bisa dipilih sesuai dengan jurusan: 

Jurusan Pendidikan: 


Jurusan ini cocok bagi mereka yang berkarakter peduli dan suka membantu. Karakter lainnya yaitu ceria,ramah,dan suka mengetahui hal-hal yang baru.Jika semasa sekolah kamu suka bantu teman ketika mengerjakan soal sulit atau sedang mendekorasi papan buletin sekolah, silahkan pilih jurusan ini. 

Jurusan teknik:


Karakter yang cocok dengan jurusan teknik cukup menarik. Mereka yang cocok kuliah di jurusan ini rata-rata memilih karakter kreatif dan analitis.Selain itu, mereka senang melihat bagaimana cara kerja sesuatu hal untuk kemudian dibongkar dan mampu dibangun kembali.

Jurusan bisnis: 


Jurusan bisnis semakin diminati banyak orang.Namun, tak semua orang yang memiliki karakter yang pas untuk kuliah di jurusan ini. Mereka yang cocok kuliah di jurusan bisnis memiliki kecenderungan karakter cerdas secara sosial. Mereka bukan tipikal orang yang duduk menunggu peluang datang.Mereka lebih senang keluar "menjemput bola",membuat koneksi,dan berani mengambil risiko.

 Jurusan ilmu politik:


 Karakater yang cocok dengan jurusan ini tak dimiliki semua orang .Salah satunya yaitu mengetahui banyak peristiwa penting yang sedang terjadi sejak usia muda.Selain itu mereka cenderung gemar melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan menemukan solusi.Mereka juga gemar berdiskusi dan berdebat tentang isu-isi kebijakan selama berjam-jam. 

Jurusan kedokteran:


Banyak orang tua berharap anaknya untuk kuliah di jurusan kedokteran.Mereka yang kuliah di jurusan kedokteran cenderung memiliki karakater terencana. Artinya, mereka biasa menetapkan tujuan jangka panjang, dan bekerja keras untuk mencapainya. Mereka juga menikmati ilmu pengetahuan sekaligus tertarik dengan hubungan kemanusiaan. 

Jurusan Sejarah: 


Suka cerita tentang dunia dan belajar budaya yang berbeda? Bisa jadi kamu cocok kuliah di jurusan sejarah.Karakter orang yang kuliah di jurusan ini cenderung suka mendalami sesuatu hal.Mereka juga memiliki imajinasi aktif yang memungkinanmelihat dunia di masa lalu. 

Jurusan bahasa asing:

 

 Indonesia sudah memasuki era Masyarakat EKonomi Asean (MEA). Ke depannya, arus barang,jasa, dan tenaga kerja sama antarnegara Asean akan semakin gencar. Hal ini menuntut kemampuan bahasa asing yang kompeten.Jika kamu tertarik kuliah di jurusan ini,kamu pasti suka bertualang dan gemar belajar dengan orang-orang baru.

 

 Jurusan psikologi:


Kamu merasakan tak hal yang lebih menarik dibandingkan alam pikiran manusia? Bisa jadi itu penanda karater kamu cocok untuk kuliah di jurusan psikologi.Selain itu, orang yang cocok kuliah di jurusan ini cenderung suka menganalisis diri sendiri hingga orang di sekitar. Karakter lain yang biasa menyertai yaitu sensitif dan mudah berempati dengan orang lain. 

Sumber : Kompas MuDaKuliah

Tips Pengendalian Emosi Menghadapi Anak


www.inatanaya.com
Ketika si Kecil memecahkan vas bunga kesayangan Anda, kira-kira apa ya reaksi spontan yang muncul? Mungkin, anak sangat terkejut hingga menangis, mungkin juga gemetar ketakutan, atau malah pura-pura cuek seolah tidak terjadi apa-apa. 

Sementara bundanya mungkin spontan berteriak karena kaget dan kesal, mungkin juga mengomel sambil membersihkan keping-keping kaca yang berantakan, sembari menyuruh anak pergi dari TKP dengan dalih khawatir luka kena pecahan kaca. 

Banyak orangtua mengeluhkan perilaku anak-anak yang kurang sesuai dengan harapan,sehingga menjadi pemicu kemarahan terhadap anak.

 Padahal luapan emosi orangtua dalam bentuk amarah, seringkali justru memperburuk keadaan, karena anak akan merekam dan menirukan reaksi orangtuanya saat mengalami hal yang sama di lain waktu.Jadi kemampuan pengendalian emosi saat menghadapi perilaku anak yang dianggap salah sangat penting bari orangtua. 

Berikut adalah tips yang mudah dilakukan sehari-hari: 


Hal pertama yang sebaiknya dilakukan adalah DIAM: 

Biasanya kata yang keluar dari seseorang yagn sedang emosi marah sangat tidak terkontrol.Kalaupun sudah terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat kebaikan seperti , "Ya Tuhan...!" atau "Masya Allah!" intonasi yang muncul tetap beraura negatif.Karenanya memilih diam akan leibh efektif untuk mengendalikan rasa marah. 

Segeralah menarik nafas panjang,tahan panjang, tahan antara 5-10 detik


,keluarkan lewat mulut, ulangi setidaknya 3-5 kali. Ketika marah, biasanya terjadi tekanan sehingga darah terpacu mengalir ke atas, pada saat kita menarik napas, oksigen akan ikut dalam aliran darah menuju ruang otak.Keadaan ini akan membuat lebih rileks. 

Munculkan dalam ingatan:

 Kejadian paling menyenangkan yang pernah dialami bersama anak, kenangan manis terbuat akan bisa membuat Anda mampu memberi senyuman tanda damai.Untuk Memudahkan Anda mengingat kejadian menyenangkan bersama anak,sebaiknya di waktu luang sempatkan untuk menuliskan aktivitas-aktivitas seru berdua. 

 Berpikir positif terhadap perilaku anak yang sempat memancing kemarahan Anda.


 Misalkan mungkin dia bermaksud membersihkan meja lalu tak sengaja menyenggol vas hingga jatuh dan pecah, atau jika anak mendapat nilai pelajaran yang rendah, berpikirlah bahwa mungkin ia sedang tak enak badan saat mengerjakan ulangan.

 Komunikasikan dengan anak tentang perilakunya yang memancing kemarahan Anda pada waktu yang berbeda.

 Artinya jika tidak langsung pada saat terjadi, tapi berikan jeda.Menjelang tidur biasanya adalah waktu paling efektif. Hal ini merupakan langkah penyelesaian secara damai, anak tetap mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan alasan sekaligus menceritakan kronologi dari perbuatannya sedangkan orangtua bisa menyampaikan penjelasan untuk mengoreksi kesalahan dan menyepakati bersama tentang apa yang harus dilakukan agar tak terulang kesalahan yang sama.

 Orangtua adalah figur terdekat bagi anak, karena jika orangtua mampu mengendalikan emosinya dihadapan anak, maka sebenarnya, anakpun akan belajar mengendalikan emosi dirinya saat merasa marah atau jengkel pada perilaku orang-orang sekitarnya melalui cara yang dicontohkan orangtuanya.


 Sumber: www.pondokparentingharum.com dan Tabloid Nova