 |
| google.com |
Saat saya berada di dokter gigi, perawat dokter gigi bertanya kepada saya: "Bu, apakah anak ibu lebih suka bermalam ke rumah temannya pada waktu remaja. Saya sudah memberitahukan tidak boleh terlalu sering."
Percakapan itu terhenti karena saya ingin menanyakan lebih lanjut kepadanya apakah hubungan anak ini dengan ibunya dekat atau tidak. Perawat itu menjawab: "Dekat, bu. Tetapi setelah remaja, dia lebih suka bersikapbahwa dia begitu suka jika tak diizinkan untuk menginap di rumah temannya."
Hubungan dekat atau tidak, memang hanya bisa dievaluasi oleh mereka sendiri. Pada awalnya remaja ingin menunjukkan bahwa dia ingin mandiri dan bisa mengatasi segala seuatu.
Tetapi harus dicari penyebabnya dari suatu hubungan remaja dengan orangtua dari berbagai aspek. Latar belakang, interaksi dengan orangtua dan keluarga, pengaruh teman sebaya atau pihak lain yang menjadikan remaja sebagai korban, sistem pendidikan di sekolah, situasi sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat luas.
Kehidupan antara remaja dan orangtua dianggap sulit karena masing-masing mempunyai nilai dan paradigma yang berubah seusai dengan perjalanan hidup yang dilakoni dalam zaman yang dilaluinya. Jika pengasuhan remaja itu diibaratkan seperti melakukan perjalanan tetapi ini dijalani sepanjang kehidupan kita.
Tiga hal yang patut kita kembangkan sebagai orangtua dalam berinteraksi dengan remaja agar hubungan atau relasi tetap baik.
Tiga ranah:
1.Keterhubungan:
Rasa keterhubungan antara remaja dan orangtua memberikan landakan terjadinya interaksi dengan orang lain. Apabila hubungan orangtua dan anak itu hangat, konsisten, positif, ditandai dengan cinta, dan stabilitas, remaja akan berkembang secara sosial.
Tanggapan remaja terhadap sosial akan lebih positif dan lebih kooperatif dengan orang lain, tak mudah depresi jika harus berjuang keras dalam kehidupannya serta memiliki harga diri yang tinggi. Hubungan yang ditandai dengan kebikan tanpa kata-kata ataupun tindakan yang kasar tampaknya penting untuk perkembangan remaja yang sehat.
2.Pemantauan
Pemantauan bukan diartikan bahwa orangtua tidak mempercayai remaja. TEtapi diinformasikan bahwa pemantauan dilakukan karena cinta, ketulusan dan menolongnya. Jika remaja mengetahui dasar dari permantauan itu, maka dia akan menyadarinya dan menerimannya dengan hangat tanpa kecurigaan.
KEtimbang jika orangtua melakukan secara diam-diam, maka remaja akan berbalik arah, berbohong, mencuri,menipu, menggunakan obat-obatan terlarang.
3. Otonomi psikologis:
Otonomi psikologis terjadi apabila orangtua menghargai ide-ide yang disarankan atau diberikan oleh remaja walalupun hal itu bertentangan dengan keinginan orangtua. Pertentangan itu bukan berarti itu penolakan remaja. Tetapi hal itu harus disadari oleh orangtua bahwa ide itu mendorong munculnya pemikiran mandiri dan mengexpresikan ide0ide berbagai perasaan anak dan menampilkan cinta tanpa syarat . Inilah syarat untuk otonomi psikologis.
Orangtua tak boleh mengatakan bahwa melawan orangtua adalah durhaka. Remaja akan menujukkan rasa depresi atau menunjukkan perilaku antisosial apabila orangtua menggunkan kontrol psikologis.
Sebaliknya gunakan kombinasi dari keterhubungan,pemantau dan otonomi psikologis. Orangtua jangan merasa frustrai apabila perannya sebagai pengemdui tiba-tiba hilang karena perannya hilang. Menerjemahkan ide umum kedalam perilaku spesifik dan kemudia jadi pola menetap dalam berinteraksi bisa menjadi suatu tantangan.
Menyediakan waktu:
Sediakan waktu yang cukup untuk berbincang dengan remaja,s elain memberikan manfaat komunikasi yang baik, tetapi juga menjalin lebih baik . Buatlah serilex dan sesantai mungkin. Komunikasi yang terjalin bisa mengembangkan kejujuran dan menyenangkan kedua belah pihak.