Loading

Slide Bar

Share

KREASI BERGIZI UNTUK SI BUAH HATI

Ditengah gempuran makanan saji, makanan fast food yang sangat menggugah selera anak-anak, sebagai orangtua harus rajin untuk mencoba membuat makanan sehat bagi putra-putrinya.

Tentu, makanan sehat , bergizi ini perlu dicoba karena saya mengintip dan mengutipnya dari harian Kompas khusus dari Agus Herta, Vonny Luvy Nico dan Lily A. Margono sebagai pengirim#KicauKeluarga terpilih edisi Minggu 18Jan.

Dibawah ini adalah pilihan dari menu-menu yang dipilih dari mereka yang telah jadi pemenang:

AGUS HERTA

KUE KUKUS WORTEL KEJU

Bahan:
  • 250 gr tepung terigu
  • 250 gr gula merah kelapa
  • 200 ml air (1 gelas)
  • 1/2 sendok teh soda kue
  • 1 butir telur ayam
  • 4 sendok makan wortel parut
  • 5 sendok makan keju cheddar parut
  • 20 buah cetakkan bolu kukus


CARA MEMBUAT
1. Lelhkan gula merah dengan air 200 ml sampai larut dan mendidih dengan api sedang, kemudian tunggu sampai dingin.

2.Kocok 1 butir telur dengan soda kue sampai berbuih +/- 4 menti, selanjutnya masukkan gula merah yang sudah dicairkan, diaduk sampai rata. Kemudian masukan sedikit demi sedikit minyak goreng  sampai benar-benar tercmapur.Selanjutnya masukan sedikit demi sedikit terigu sampai habis, pastikan terigu tidak ada yang menggumpal.

3.Aduk terus adonan sampai benar tercampur rata dan kalis masukkan 3 sendok wortel parut sampai rata.
4. Siapkan dandang kukusan yang sudah panas dan beruap,masukan adonan cair ke cetakkan bolu kukus yang sampai hampir penuh diatas loyang cetakkan bolu yang sudah alasi kertas kue, taburi keju dan sisa paurtan wortel di atasnya.
4.Kukus adonon sampai matang +/- 15 menit sampai mengembang.
5.Angkat dan sajikan selagi hangat

VONNY LUVV NICO

YUMMY HEALTHY BALLS
Bahan:
  • 100 gr mentenga
  • 1 butir bawang bombay, cincang halus
  • 150 gr terigu
  • 100 gr wortel,potong kotak kecil,rebus
  • 1 ikat kecil bayam cincang kasar
  • 300 cc cucu cair
  • 205 gr daging cincang, disangrai sampai airnya habis
  • garam,pala, merica , gula pasir secukupnya
  • 105 gr tepung roti
  • 2 butir telur kocock lepas
  • minyak utk menggoreng
  • keju dan saos tomat utk hiasan

CARA MASAK
1.Panaskan menteng,tumis bawang bombay sampai baunya harum, masukkan tepung terigu kedalamnya,aduk sampai rata.
2.Tuangkan susu cair sedikit demi sedikit sambil diaduk terus sampai adonan rata.
3. Masukkan berturut daging cincang,wortel,bayam,merica,pala,garam, gula. Aduk sampai adonan betul rata, kemduian diamkan sampai mendingin.
4.Bentuk adonan buat sebesar bakso, gulingkan ke dalam tepung roti,celupkan kedalam telur kocok,gulingkan sekali lagi kedalam tepung roti.
5.Goreng dalam minyak panas sampai berwarna kuning kecokalatan, angkat hias dengan keju dan saos teomat,sajikan

LILY MARGONO
SARANG BURUNG ISI AYAM SAYUR
Bahan:
  • 250 gr daging ayam
  • 1 buah wortel
  • 2 butir telur
  • 100 gram kacang polong beku
  • 2 buah jamur hioko
  • 6 siung bawang merah 
  • 3 siung bawang putih
  • l/2 sdt lada
  • l/2 sdt garam
  • 1 sdt gula
  • 1 sdm tepung sagu
  • 300 gram misoa
  • Minyak utk menumis dan menggoreng

CARA MASAK
1.Daging ayam direbus, potong kotak2 kecil.Wortel dipotong kotak kecil, rebus sebentar. Telur dikocok,dadar dan iris.Kacang polong dirbus seentar.Jamur Hioko, direndam air panas, dan iris kotak kecil.

2.Bawang merah dan putih dirajang halus.Panaskan 3 sdm minyak goreng.Tumis bawang merah dan bawang putih sampai harum.Masukkan ayam, woartel,wortel,telur,kacang polong,jamur ,garam,lada,gula,adduk2. Tuangi sedikit air.Masak sampai semua matang dan hampir kering.Kentalkan dengan tepung sagu yang dicampur sedikit air.Sisihkan.
3.Cuci misoa dengan air dingin sebenar saja (jangan sampai lembek). Panaskan minyak goreng dalam panci kecil, siapkan cetakan kawat sarang burung, goreng misoa sedikit demi sedikit dengan cetak sarang burung.Goreng sampai sedikit kecoklatan dan garing. Sisihkan.
4.Penyajian isi setiap mangkung misoa dengan bahan isian, hias atasnya dengan irisan cae merah.

CARA TIDAK EFEKTIF MENGHUKUM ANAK

Suatu hari saya pernah bertemu dengan seorang teman yang mengeluhkan bahwa anaknya sangat bandel (anaknya seorang laki-laki) meskipun hukuman telah diberikan.

Ibunya berkata kepada saya:  "Saya sudah sangat marah karena dia tak pernah belajar. Inginnya pulang sekolah langsung main bola. Begitu disuruh belajar, yang dibuka adalah buku bola.  Ketika disuruh belajar di kamar, malah nonton bola.  Saya hukum semua barang kesenangannya saya sita. Tidak boleh memegang atau melihat tv bola, serta main bola sama sekali".

Saya: "Berhasilkah?"

Ibu A:  "Tidak!"

Saya:  "Mengapa?"

Ibu A:   "Anak saya berkata bahwa ibunya salah dalam menghukum. Emangnya dengan disita, saya akan makin kesal?  Itu hobby utama saya.  Kenapa mesti disita.  Saya bisa cari yang lain".

Saya:  "Apa tindakan ibu selanjutnya?"

Ibu A:   "Bingung"

Dari keterangan ibu A, saya mendapat kesimpulan bahwa si Ibu A menghukum anaknya karena :
1. Emosi yang meledak karena anak tidak mengindahkan perintahnya untuk belajar.
2. Hukuman yang diberikan tidak efektif karena anak justru makin tidak suka dengan cara ibu
    menghukumnya.
3. Berakhir hubungan Ibu A dan anaknya makin tegang tanpa penyelesaian.

Dalam kesempatan yang baik ini saya telah membaca di "Parenting  Indonesia" bahwa  cara menghukum itu ada tipsnya, agar hukuman yang diberikan bukan hanya jera saja tetapi anak dapat memahami mengapa hukuman itu pantas untuk dirinya.

Berikut adalah tips dari cara menghukum yang tidak efektif:

Menghukum dalam kondisi murka
Kalau Anda terbiasa membentak-bentak dan meneriaki anak-anak Anda saat memberikan hukuman, dikhawatirkan anak akan menganggap itu reaksi yang wajar kalau kita tidak senang sesuatu. Bisa jadi Ia akan berperilaku seperti itu saat kesal dengan teman-temannya.

Orang tua boleh membentak, tapi jangan membentak-bentak emosional alias murka. Kalau perlu membentak, bentaklah dengan nada keras, tegas, tapi tenang. Sebenarnya anak-anak akan lebih responsif terhadap perintah atau permintaan yang dikeluarkan dalam nada tegas tapi tenang.

Mama-Papa tidak kompak
Jangan pernah berdebat di depan anak-anak Anda mengenai penerapan disiplin atau hukuman. Dalam menerapkan hukuman buat anak, Mama-Papa harus kompak. Anak-anak itu cerdas lho, Ma. Mereka bisa segera ‘mencium’ perbedaan pendapat antara Mama dan Papa lalu ‘memecah belah serta menguasai’ orang tuanya.

Menganggap anak orang dewasa kecil
Meski Anda ingin anak-anak mendapatkan hak mereka untuk didengar, bukan berarti mereka punya hak yang sama dengan Anda soal aturan dalam rumah tangga dan boleh seenaknya mendebat. Ingat, ini adalah hubungan orangtua dan anak, bukan demokrasi di mana semua orang punya hak yang sama. Tapi Anda bisa menjelaskan kepada anak, kenapa Anda menerapkan aturan dan hukuman tersebut.

Hukuman yang tidak sepadan

Hukuman sebaiknya merupakan konsekuensi natural atau konsekuensi logis dari perilaku anak. Jika hukuman yang Anda berikan tidak pantas atau tidak adil, Anda justru kehilangan kesempatan mengajarkan nilai-nilai yang ingin Anda terapkan karena anak malah berfokus pada hukuman yang dirasanya tidak adil itu. Yang terburuk, anak mendendam dan berperilaku lebih buruk untuk membalas ‘ketidakadilan’ yang diterimanya.

Jangan pernah memberikan hukuman yang mempermalukan anak, menghinanya atau merendahkan dirinya. Jika Anda tetap bisa menghormati harga diri anak, bahkan saat menghukumnya, anak akan belajar untuk tetap menghormati Anda – dan orang lain- meski Ia sedang marah atau kesal. Saat hukuman sudah usai dijalani, tak perlu memaksa anak minta maaf atau kembali menceramahinya soal perilaku buruknya. Yang sudah ya sudah. Sebaiknya segera dorong anak untuk berperilaku sesuai aturan Anda.



Sumber: Parenting Indonesia

KEJUJURAN


Ukuran kejujuran itu sebenarnya gampang dan sulit parameternya.  Jika seseorang  diuji kejujurannya dengan pengawasan ketat, kemungkinan orang itu akan berbuat sebaik mungkin untuk jujur. Contohnya,  Ibu memberikan uang  Rp.100 kepada anak untuk beli beras seharga Rp.75.  Lalu uang kembali Rp.25 itu biasanya dikembalikan oleh anak untuk mengatakan bahwa anak itu jujur. 

Tetapi beda halnya jika seseorang itu diuji kejujuran dengan tidak diawasi oleh pihak lain.  Tentunya dia akan bertindak dua hal, bisa jujur atau bisa tidak .Tergantung dari kekuataan iman untuk suatu kejujuran.
Nach, pengalaman saya dengan anak saya.  Tiba-tiba dia bercerita bahwa jika dia naik tram  (semacam bus).  Begitu naik bus,  kartu yang disebut dengan “Micky” itu harus ditempelkan di suatu alat untuk mengosok nilai dari kartu akan berkurang seharga dari biaya rute dari bus, misalnya AUD 15.  Tentunya tidak ada seorang pun yang menjaga alat penggosok itu.  Diharapkan setiap orang yang naik, langsung menggosok kartunya, baru duduk.  Tapi tanpa adanya pengawasan dari siapa pun, baik itu orang maupun CCTV, maka anak saya berpikir, “Ach, tak ada yang melihat!”.   Jadi tak menggosok pun tak mengapa.

Kejujuran diuji saat dia menggangap bahwa “tidak apa-apa”, itu sebagai hal yang biasa.  Hal kecil untuk membayar yang seharusnya dibayar, tetapi tak dilakukan.  
Lalu, saya bertanya kepadanya:  “apakah sama sekali tidak ada sanksi dari sekian banyak penumpang yang tak bayar?”.   
“Ada!”, katanya.

Sesekali, ada petugas yang membawa suatu alat yang datang ke tram.  Dengan alat itu petugas dapat mengecek apakah ada bukti bahwa kartu itu sudah terpotong dengan harga  yang seharusnya dibayar pada saat naik. Kecanggihan alat itu dapat diketahui, kapan terakhir pemiliknya membayar, jika tak membayar pada saat naik, maka ada sanksi yaitu penalti.

Penalti, tentunya sangat memalukan . Bukan karena nilai uangnya, tetapi telah menunjukkan bahwa kita tak berbuat jujur.  Seharusnya hal itu memicu kita untuk tidak melakukannya.

Hal kecil memang tak berarti, tetapi hal kecil menjadi besar ketika tidak dilakukan.  Oleh sebab itu saya sebagai orangtua minta kepada anak agar tak melakukannya lagi.  Bukan rasa malu, tetapi lebih kepada mengajarkan kepada anak nilai sebuah kejujuran itu mahal nilainya.
Lakukan dan berikan sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan.

BEDA RESOLUSI ANTARA ANAK DAN ORANGTUA

Di awal tahun setiap orang berlomba-lomba membuat komitmen baru atau dikenal sebagai resolusi.  Resolusi bukan dimiliki oleh orangtua saja atau dewasa muda, tetapi juga penting bagi sebuah keluarga. Dimulai dari ayah, ibu hingga buah hati mereka.

Secara historis membuat resolisi itu sebenarnya sudah ada sejak masa lampau.  Dalam sejarah hal itu telah terjadi sejak bangsa Romawi menjadi pelopor.

Nenek moyangnya membuat resolusi tahun baru dengan saling memaafkan dan bertukar kado untuk memperoleh keberuntungan di masa depan. Tradisi ini sekaligus menjadi penghormatan kepada Janus, Dewa Romawi bermuka dua, did epan dan belakang. Dengan memiliki dua wajah itu, Janus memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu dan masa depan.

Sekarang tradisi membuat resolusi ini telah menjadi tradisi universal. Semua demi meraih masa depan , asa dan kehidupan yang lebih baik.

Untuk menularkan tradisi ini kepada putra-putri anda, sebuah American Academy Petriatics merekomendasikan unutk membedakan pembuatan resolusi awal tahun sesuai usia anak.

  • Usia anak pra-sekolah:   resolusinya dibuat sederhana. Contohnya :  sudah dapat menyikat gigi, mencuci tangan, dan membereskan mainan sendiri , bersikap baik terhadap hewan peliharaan.
  • Usia balita :   belajar mendengarkan nasehat orangtua, melatih ketrampilan, belajar tanpa harus didampingi oleh orangtua, membereskan alat-alat sekolah sendiri.
  • Usia lima hingga 12 tahun:   memahami apa arti resolusi, aktif dalam membantu orangtua membersihkan rumah, pekerjaan rumah tangga, ikut berkontribusi dalam kegiatan sosial dalam lingkungan, membantu teman yang membutuhkan pertolongan
Tentu saja orangtua tidak boleh banyak berharap bahwa resolusi yang dibuat oleh anak itu harus dicapai.  Harapan yang tidak muluk adalah cukup satu dari sekian banyak resolusi itu menjadi pilihan dan tercapai.

AAP bahkan menyarankan bahwa resolusi anak dalam usia 12 tahun dapat rajin mengonsumsi sayur dan buah, belajar lebih tekun, bersikap baik kepada semua teman, hormat kepada guru dan orang yang lebih tua.

Untuk remaja, ditekankan agark mereka lebih fokus mengambil tanggung jawab terhadap setiap tindakannya. Merawat tubuh, mengatasi stres dengan cara sehat, menolak obat-obatan terlarang dan alkohol, peduli kepada yang membutuhkan.

Tugas orangtua adalah jadi role model, bersikap positif dan menjadi panutan baik untuk perkembangan masa depan dari anak-anaknya.

ATASI “POST HOLIDAY SYNDROME” PADA ANAK

google.com

Liburan telah usai.  Begitu banyak acara liburan yang sangat fantastis, menyenangkan, sudah berlalu. Pergi ke luar kota, ke luar negeri, jalan-jalan melihat tempat-tempat yang sangat indah, hiburan seperti ice skating, merasakan sensasi es di negeri panas, pergi ke rumah nenek, berbelanja, pergi ke mall.

Selesai libur, semua alat transportasi, darat, laut, udara, penuh sesak. Para orangtua yang ikut berlibur dengan anaknya, harus berusaha agar anak dapat pulang ke rumah sebelum sekolah dimulai.
Namun, setelah satu atau dua hari di rumah, ternyata apa yang dialami selama liburan itu masih terasa enak bagi anak.  Biasanya anak-anak yang bangun pukul 5 pagi untuk bisa berangkat ke sekolah pukul 6 pagi, ternyata masih tertidur menjelang pukul 7.00-8.00.

Bahkan ada yang setelah siang bangunnya, masih cenderung ingin bermalas-malasan seperti liburan.  Saat liburan panjang orangtua memang memberikan toleransi kepada anak untuk bangun lebih siang dari pada waktu sekolah.  Demikian juga orangtua mengizinkan anak untuk tidur lebih larut malam dibandingkan jika masuk sekolah. 

Bagaimana sekarang mengatasi anak yang masih malas dan belum mengembalikan semangat libur untuk kembali kepada aktivitas awal?

Disiplin:
Orangtua harus memaksakan anak tetap pada jam normal untuk tidur. Tidak boleh larut malam, setelah belajar selesai, persiapan sekolah (buku, pakaian dan alat-alat sekolah) besok harinya, anak harus segera tidur. Diharapkan dengan cepat tidur, anak akan merasa segar besok untuk bisa belajar.

Kebiasaan bangun pagi:
Pola kebiasaan bangun pagi harus dikembalikan. Orangtua memberikan contoh untuk bangun pagi. Anak juga bangun pada jam yang telah ditetapkan. Kebiasaan ini harus dimulai sejak seminggu sebelum sekolah dimulai. Jangan terlalu mepet hanya sehari sebelum sekolah.  Badan mudah beradaptasi. Hanya kemauan saja yang sulit diatasi.  Oleh karena itu berikan motivasi kuat untuk bangun pagi , tidak “kaget” ketika bangun pagi untuk berangkat ke sekolah.

Persiapan perlengkapan sekolah:
Menyiapkan perlengkapan sekolah yang baru dapat memberikan semangat anak untuk pergi ke sekolah. Tidak perlu semuanya baru. Hanya perlengkapan yang memang perlu diganti karena sudah usang, sudah jebol dan tak bisa dipakai lagi. Contohnya adalah sepatu, tas.  Mengenakan sepatu dan tas baru ,membuat semangat anak untuk kembali bersekolah.

AYO, KEMBALIKAN SEMANGAT UNTUK BERSEKOLAH!

KENAPA ANAK REMAJA LEBIH SUKA KUMPUL DENGAN TEMAN DARIPADA KELUARGA?

konsultasipsikologi.kbc.-indonesia.com


Celoteh seorang perawat dokter gigi: “Bu, pusing ngga waktu anak ibu minta izin menginap di rumah teman?” tanyanya ketika saya sedang menunggu kedatangan dokter gigi di ruang prakteknya.  Saya tak bisa jawab langsung karena otak saya berputar ke masa lalu hampir 6 tahun yang lalu.

Sebelum memberikan jawaban, saya masih bertanya kepadanya:  “Loh, emangnya anak itu khan sudah minta izin, terserah kepada ibunya dong?”    Dia beragumentasi, “Bu, dia sudah pernah diberikan izin sebelumnya, sekarang dia pengin kumpul-kumpul dengan temannya justru pada hari natal!”, setengah kesal dia menjelaskannya.

Dalam hati, saya langsung teringat dua atau tiga hari yang lalu, anak saya yang sudah berusia 21 tahun (bukan remaja lagi),  juga pamit kepada saya untuk menginap di rumah temannya pada malam tahun baru.
Barangkali, masalah “menginap” di rumah teman itu tidak jadi masalah serius seandainya ini tidak terjadi pada hari yang penting, seperti Natal atau Tahun Baru.   

Sebagai orangtua , ketika anak minta izin untuk menginap di rumah teman, yang terpikir adalah kenapa anak ini lebih mementingkan teman dari orangtuanya sendiri.   Apakah relasi selama ini yang telah dibangun demikian dekat, tidak membuatnya nyaman lagi.
Masalah emosi sedikit terganggu karena  anak mengganggap hubungan dengan orangtua tak begitu penting dibandingkan dengan teman.   Untungnya emosi ini tak menjadikan saya sebagai orangtua marah atau sakit hati.

Saya coba mencari tahu apa penyebabnya anak remaja, menjelang dewasa,   justru lebih dekat kepada teman daripada orangtua.

Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Pengaruh Hubungan dengan Teman Sebaya dan Perkembangan Sosial Remaja”,  saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu.  Justru saya  masalah orangtua yang tidak mengerti perkembangan kedewasaan anak, akan membuat hubungan orangtua dan anak jadi makin runcing.

Ciri sosial dari seorang anak yang mendewasakan diri di lingkungan sosial adalah dia mulai bergeser dari lingkungan rumah menuju ke lingkungan teman-teman.  Pergeseran itu adalah untuk menyamakan persepsi anak itu dengan teman-temannya yang punya pola pikir dan pola nilai yang sama dengannya.

Diterimanya anak di suatu lingkungan membuatnya nyaman. Lalu, dia akan mengaktualisasikan dalam bentuk hubungan baru dengan temannya.  Dia ingin dikatakan mandiri bukan lagi tergantung pada orangtua.  Sedikit demi sedikit dia melihat bahwa kemandirian itu adalah suatu hal yang harus dilakukannya tanpa harus ikut campur dari orangtua.

Kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial, mandiri, jadi acuannya.  Perkembangan ini harus diikuti oleh orangtua .  Disini peran orangtua sangat penting.  Jangan Orangtua tidak menyalahkan anaknya yang tak tahu etika, tak mencintainya lagi atau ingin lari dari orangtua.  Bahkan saya melihat slogan di sebuah angkot “ABG Labil”.   Benarkah?

Menghindari pertikaian antar anak dan orangtua untuk masalah yang sebenarnnya tidak kompleks bila orangtua memahami kebutuhan perkembangan sosialisasi dan juga memberikan pengarahan  atau batasan apa yang harus dilakukan jika dia memilih untuk menginap di rumah temannya.

Begitulah memahami perkembangan psikologi anak sesuai dengan perkembangan usianya memang butuh pengetahuan dan pengertian yang dalam.  Tak mudah menjadi seorang ibu yang bijak jika kita mendalami perkembangan psikologi anak.   Sulit awalnya, tapi setelah membaca dan memahami dan menempatkan diri kita di posisi anak, barulah kita jelas apa yang harus dilakukan apabila kita menjadi anak itu.
Berikut ini intisari dari pengaruh hubungan anak dengan teman sebaya dan perkembangan sosial:
  • · Perkembangan Sosial
  •  Merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial.
  •  Sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi dan juga untuk meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.
  •  Pada dasarnya Anak dilahirkan belum bersifat sosial. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkunganya, baik orang tua, saudara, teman sebaya atau orang dewasa lainnya.
  • Menurut Hurlock (1996) ada tiga proses dalam perkembangan sosial yaitu:

1. Berperilaku dapat diterima secara sosial

2. Memainkan peran di lingkungan sosialnya.

3. Memiliki sikap yang positif terhadap kelompok sosialnya
  • · Perkembangan Sosial pada Masa Remaja
Perkembangan sosial pada masa remaja dapat dilihat dari dua ciri khas yaitu :
  1. Mulai terbentuknya kelompok dengan teman sebaya baik dengan jenis kelamin yang sama ataupun dengan jenis kelamin yang berbeda.
  2. Dan mulai memisahkan diri dari orang tuanya.

  • · Peranan Kelompok Sebaya dalam Kehidupan Remaja
·                    
1. Kelompok sebaya mempunyai peran penting dalam penyesuaian diri remaja, dan persiapan bagi kehidupan di masa mendatang,

2. Berperan pula terhadap pandangan dan perilakunya.

3. Kelompok teman sebaya berperan pada saat remaja mengahadapi konflik antara ingin bebas dan mandiri serta ingin merasa aman, pengganti yang hilang dan dorongan kepada rasa bebas yang dirindukannya.

4. Berperan dalam memberikan persepsi agar ia tidak merasa kerdil diantara orang-orang dewasa umumnya.

5. Remaja itu bergabung dengan kelompok teman sebaya, karena kebutuhan akan rasa bebas dari orang dewasa dan rasa terikat antara sesama anggota.

6. Pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan remaja sangatlah dominan dalam kehidupannya


Semoga dengan adanya pengetahuan tentang hubungan remaja dengan temannya dan perkembangan sosial , orangtua makin jelas bagaimana menghadapi dan menyikapi  remaja dan anak dewasa yang lebih mementingkan hubungannya dengan teman dekatnya.
Akhir kata, sebuah perkembangan harus dapat dimaknai dengan kesadaran pola perkembangan itu sesuai dengan apa yang dipolakan , tidak ada penyimpangan .

Sumber: