Loading

Slide Bar

Share
Tampilkan postingan dengan label kejujuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kejujuran. Tampilkan semua postingan

KEJUJURAN


Ukuran kejujuran itu sebenarnya gampang dan sulit parameternya.  Jika seseorang  diuji kejujurannya dengan pengawasan ketat, kemungkinan orang itu akan berbuat sebaik mungkin untuk jujur. Contohnya,  Ibu memberikan uang  Rp.100 kepada anak untuk beli beras seharga Rp.75.  Lalu uang kembali Rp.25 itu biasanya dikembalikan oleh anak untuk mengatakan bahwa anak itu jujur. 

Tetapi beda halnya jika seseorang itu diuji kejujuran dengan tidak diawasi oleh pihak lain.  Tentunya dia akan bertindak dua hal, bisa jujur atau bisa tidak .Tergantung dari kekuataan iman untuk suatu kejujuran.
Nach, pengalaman saya dengan anak saya.  Tiba-tiba dia bercerita bahwa jika dia naik tram  (semacam bus).  Begitu naik bus,  kartu yang disebut dengan “Micky” itu harus ditempelkan di suatu alat untuk mengosok nilai dari kartu akan berkurang seharga dari biaya rute dari bus, misalnya AUD 15.  Tentunya tidak ada seorang pun yang menjaga alat penggosok itu.  Diharapkan setiap orang yang naik, langsung menggosok kartunya, baru duduk.  Tapi tanpa adanya pengawasan dari siapa pun, baik itu orang maupun CCTV, maka anak saya berpikir, “Ach, tak ada yang melihat!”.   Jadi tak menggosok pun tak mengapa.

Kejujuran diuji saat dia menggangap bahwa “tidak apa-apa”, itu sebagai hal yang biasa.  Hal kecil untuk membayar yang seharusnya dibayar, tetapi tak dilakukan.  
Lalu, saya bertanya kepadanya:  “apakah sama sekali tidak ada sanksi dari sekian banyak penumpang yang tak bayar?”.   
“Ada!”, katanya.

Sesekali, ada petugas yang membawa suatu alat yang datang ke tram.  Dengan alat itu petugas dapat mengecek apakah ada bukti bahwa kartu itu sudah terpotong dengan harga  yang seharusnya dibayar pada saat naik. Kecanggihan alat itu dapat diketahui, kapan terakhir pemiliknya membayar, jika tak membayar pada saat naik, maka ada sanksi yaitu penalti.

Penalti, tentunya sangat memalukan . Bukan karena nilai uangnya, tetapi telah menunjukkan bahwa kita tak berbuat jujur.  Seharusnya hal itu memicu kita untuk tidak melakukannya.

Hal kecil memang tak berarti, tetapi hal kecil menjadi besar ketika tidak dilakukan.  Oleh sebab itu saya sebagai orangtua minta kepada anak agar tak melakukannya lagi.  Bukan rasa malu, tetapi lebih kepada mengajarkan kepada anak nilai sebuah kejujuran itu mahal nilainya.
Lakukan dan berikan sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan.