Loading

Slide Bar

Share

CUKUPKAH ORANGTUA MENGENAL DIRI ANAKMU??


Judul diatas tidak bermaksud  untuk memprovokasi bahwa orangtua tidak pernah kenal dengan anaknya.  Pasti ada yang merasa marah karena sejak melahirkan, anak berada dalam asuhannya, tidak ada oranglain, selain dirinya sendiri (ibu).

Mungkin juga ada yang menganggap bahwa mengenali anak itu sudah sejak kecil, apa yang tidak dikenalinya lagi?

Pertanyaannya memang mudah tapi jawabannya sulit. Mengenali anak bukan hanya secara phisik saja.  Sejak bayi,  para ibu tentunya telah melihat, mendampingi bahkan mengurus sendiri proses dari anak itu tidak dapat berbuat apa-apa, sampai dia dapat mandiri untuk makan, tidur, belajar, bahkan menolong orang lain.

Persoalannya bukan hanya phisik yang dikenali oleh orangtua. Tetapi apakah anda cukup mengenali anak anda secara emosi dan spiritualnnya, kepribadiannya.

Dari sejak kecil hingga SMA, saya mempercayai diri saya sendiri bahwa saya cukup mengenal siapa anak saya. Bahkan jika raut muka anak saya berubah, saya akan tahu bahwa dia tak menyukai apa yang saya katakan atau tidak setuju dengan apa yang saya beritahukan.

Atau saya cukup tahu jika dia sedang sedih, marah, bahkan kesal kepada teman, keadaan, diri sendiri, karena hal itu memberikan signal-signal atau gesture tubuh yang saya kenali dengan baik.

Namun, suatu hari anak saya ingin mendapat jawaban pasti, untuk melanjutkan sekolah, bidang apa yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.  Lalu, saya datang ke seorang grafolog.  Anak saya hanya disuruh menulis beberapa lima kalimat di suatu kertas putih.  Demikian juga saya sebagai ibunya ikut menulis lima  kalimat di selembar kertas putih. Setelah itu  kedua lembar kertas putih itu diserahkan.   Beberapa minggu kemudian, datang laporan analisa tulisan anak dan saya sendiri.

"Ibu sebenarnya cenderung menyelesaikan masalahnya sendiri, sedangkan bagi anak saya dukungan merupakan hal yang dbutuhkannya dalam bertindak dan memutuskannya. Bukan berarti anak saya kurang mandiri, namun dukungan selalu membuatnya merasa lebih nyaman, perbedaan ini harus saya sadari dengan baik, karena tidak semua individu mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Hal yang lain, kecepatan berpikir saya diatas rata-rata orang lainnya, saya cenderung menuntut "kesempurnaan"", kadangkala saya tidak sabar dalam menunggu orang lain berpikir dan memutuskan. Kecenderungan ini membuat saya lebih mudah cemas. Saya perlu berhenti sejak sebelum bertindak dan memutuskan, relax sebentar dan diharapkan kecemasapun berkurang dan keputusan yang diambil akan lebih cerdas.

Setelah membaca profile dari kepribadian saya dan anak saya, kami mulai mengenal lebih dalam dan dekat, baik itu emosi, pikiran dan tindakan.  Mengenal ternyata jauh lebih bermakna bukan sekedar dari phisik, emosi, tapi kepribadiannya.

BELAJAR MEMBACA SEJAK DINI


Saat umur anak balita kita telah menginjak umur 3-4 tahun, dan menemukannya belum dapat membaca dengan baik, maka hebohlah kita sebagai orangtua.

Sebenarnya membaca itu adalah suatu tanggung jawab orangtua atau oranglain (misalnya guru les, perawat, atau pembimbing atau guru play group).
Jawabannya yang pasti adalah tanggung jawab orangtua . Dalam lingkungan keluarga, nilai pendidikan berawal. Pendampingan orangtua kepada anak untuk mengenal kata, belajar membaca adalah bagian dari kehidupan itu.

Belajar membaca bagi anak, perlu kita ketahui karena satu anak dengan anak yang lain tidak sama. Ada anak yang terpicu belajar menulis ,menggambar daripada membaca.

Observasi orangtua untuk mengetahui kesukaan anak dapat membantu bagaimana dan apa kesukaan anak. Setelah itu gunakan kesukaan anak itu mendorong anak untuk membaca. Contohnya anak gembar bernyanyi, ajarkan membaca dengan lagu-lagu melalui kalimat yang benar dan jelas.

Suasana belajar yang menyenangkan sangat penting. Anak akan merasa belajar membaca bukan suatu paksaan, bahkan bukan ancaman dan menyebabkan "trauma" dan enggan belajar.

Ada beberapa cara kreatif yang dapat mendukung anak belajar membaca.  Dari tiga pemenang Kicau Keluarga Klasika yang memiliki cara kreatif menumbuhkan minat baca pada buah hati.

Idenya :
"Saya membuat perpusatakaan di rumah, mencontohkan budaya baca untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku".

"Minat baca manusia berbanding terbalik dengan pertambahan usia. Karena itu kebiasaan membaca harus dicanangkan/ditanamkan sejak dini.

Ada 3 tahap dalam membangun cara belajar anak:

1.Sebelum anak lahir:
Sebelum mendengarkan musik-musik klasik,bacakan cerita/dongeng secara menarik.

2.Sebelum anak mampu membaca:
Kenalkan buku secara fisik sedini mungkin, seiring kian matangnya idera penglihatannya. Lalu bacakan cerita atau dongeng secara menarik

3.Setelah anak mampu membaca:
Beri teladan membaca dari orangtua karena anak butuh role model.  Pada weekend, sering ajak ke toko buku.

4. Sesaat anak besar:
Setiap kali diajak ke toko buku, beri budget tertentu dan biarkan ia memilih. Namun, selesi terakhir di tangan orangtua .

Lima alasan anak wajib membaca buku:
  1. Membaca mengajak otak selalu bekerja dan melatih kemampuan berpikir.Pasalnya aktivitas ini lebih bersifat kompleks dalam memberi stimulus pada otak manusia.
  2. Membantu meningkatkan konsentrasi.Anak harus duduk diam dan fokus untuk dapat memahami konten bacaan dengan baik. Lama kelamaan, membaca secara rutin akan membantu kemampuan konsentarsi si kecil.
  3. Memperkaya hidup. Melalui buku anak dapat memahami seluruh proses kehidupan di bumi,termasuk ragam tipe karakter dan budaya masyarakat. Buku menjadi pintu untuk mengenali dunia luar lingkungan yang dikenalinya.
  4. Wawasan yang dimilikinya tersebut pun turut membentuk kemampuan sosial si kecil, misalnya dalam mengasah rasa simpati dan empati.
  5. Mengenali beragama karakter manusia, belajar nilai hidup tradisonal maupun universal, serta mengembangkan analisis kritis kala merespons buku yang telah dibacanya.
Selamat memberi cara membaca kepada anak anda!

ALAT PERKEMBANGAN MOTORIK UNTUK ANAK


Alat permainan yang baik adalah yang sesuai dengan usia perkembangan anak dan membantu perkembangan motorik kasar dan halus, koordinasi mata-tangan, emosional, sosial, daya imajinasi, serta kemampuan kognitif dan bahasa si buah hati. Berikut ini adalah jenis alat permainan berdasarkan fungsinya dalam perkembangan batita seperti ditulis di dalam buku Buku Pintar Mengasuh Batita.

1. Alat permainan yang membantu perkembangan motorik kasar
Rangsang pertumbuhan motoriknya dengan berlari, memanjat, lompat, melempar bola, menari, ataupun naik sepeda. Berikan dukungan dan kesempatan anak untuk bermain, baik di dalam maupun di luar rumah, karena semua kegiatan ini membantu meningkatkan kemampuan motorik kasarnya.
Alat permainan yang sesuai untuk membantu perkembangan motorik anak adalah mainan yang dapat ditarik dan didorong, mobil-mobilan/motor-motoran, sepeda, perosotan, ayunan, dan bola.
(Baca juga: Tips Membiasakan Anak Tidur di Kamarnya Sendiri)

2. Alat permainan yang membantu perkembangan motorik halus dan koordinasi mata-tangan
Banyak alat permainan  yang dapat melatih anak untuk meningkatkan kemampuan motorik halus dan koordinasi mata-tangan seperti puzzle (teka-teki gambar), balok konstruksi, menyusun gelas, memasukkan dan melepas sesuai bentuk (shape shorter), mengurutkan bentuk, membentuk lilin/malam, bermain dengan pensil/krayon atau mewarnai, permainan papan aktivitas, mainan alat musik seperti keyboard, dll.

3. Alat permainan yang membantuk perkembangan sosial dan emosional
Semua mainan yang dapat dimainkan bersama/dibagi dengan teman. Sesuai usianya sekarang ini anak biasanya senang bermain sendiri atau bermain di dekat anak lain walaupun tetap bermain sendiri-sendiri. anda dapat melihat anak akan bermain mengikuti pola anak lain, sehingga mereka seolah-olah memainkan satu permainan padahal sedang bermain sendiri-sendiri.
Ajarkan anak untuk berbagi mainan dengan anak lain sehingga kemampuan sosialnya terasah dan dia juga belajar menunggu giliran bermain.
Mainan seperti boneka dapat membantu mengembangkan kemampuannya emosi anak. Bermainlah bersama anak dan tirukan suara-suara lucu. Ajaklah anak berbicara, memeluk, dan mencium bonekanya. Biasanya anak mempunyai boneka kesayangan yang dapat membantu menenangkannya.
(Baca juga: Kiat Agar Anak Tidak Cemburu Pada Adiknya)

4. Alat permainan yang membantu perkembangan bahasa
Seluruh alat permainan dapat membantu meningkatkan kemampuan berbahasa anak namun semua tergantung kepada Anda atau pengasuh utama anak. Saat bermain bersama selalu libatkan anak ke dalam pembicaraan. Ajaklah anak untuk main rumah-rumahan boneka, menirukan suara bintang, dan lain-lain.
Hal termudah untuk mengembangkan kemampuan bahasa adalah dengan membacakan buku cerita secara rutin untuk anak sehingga minat baca anak akan terangsang dan kemampuan bahasanya pun meningkat.
Nah, itu tadi beberapa jenis alat permainan berdasarkan fungsinya dalam perkembangan batita.

Semoga bermanfaat!.

Sumber: Intisari.com