Mungkin juga ada yang menganggap bahwa mengenali anak itu sudah sejak kecil, apa yang tidak dikenalinya lagi?
Pertanyaannya memang mudah tapi jawabannya sulit. Mengenali anak bukan hanya secara phisik saja. Sejak bayi, para ibu tentunya telah melihat, mendampingi bahkan mengurus sendiri proses dari anak itu tidak dapat berbuat apa-apa, sampai dia dapat mandiri untuk makan, tidur, belajar, bahkan menolong orang lain.
Persoalannya bukan hanya phisik yang dikenali oleh orangtua. Tetapi apakah anda cukup mengenali anak anda secara emosi dan spiritualnnya, kepribadiannya.
Dari sejak kecil hingga SMA, saya mempercayai diri saya sendiri bahwa saya cukup mengenal siapa anak saya. Bahkan jika raut muka anak saya berubah, saya akan tahu bahwa dia tak menyukai apa yang saya katakan atau tidak setuju dengan apa yang saya beritahukan.
Atau saya cukup tahu jika dia sedang sedih, marah, bahkan kesal kepada teman, keadaan, diri sendiri, karena hal itu memberikan signal-signal atau gesture tubuh yang saya kenali dengan baik.
Namun, suatu hari anak saya ingin mendapat jawaban pasti, untuk melanjutkan sekolah, bidang apa yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Lalu, saya datang ke seorang grafolog. Anak saya hanya disuruh menulis beberapa lima kalimat di suatu kertas putih. Demikian juga saya sebagai ibunya ikut menulis lima kalimat di selembar kertas putih. Setelah itu kedua lembar kertas putih itu diserahkan. Beberapa minggu kemudian, datang laporan analisa tulisan anak dan saya sendiri.
"Ibu sebenarnya cenderung menyelesaikan masalahnya sendiri, sedangkan bagi anak saya dukungan merupakan hal yang dbutuhkannya dalam bertindak dan memutuskannya. Bukan berarti anak saya kurang mandiri, namun dukungan selalu membuatnya merasa lebih nyaman, perbedaan ini harus saya sadari dengan baik, karena tidak semua individu mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Hal yang lain, kecepatan berpikir saya diatas rata-rata orang lainnya, saya cenderung menuntut "kesempurnaan"", kadangkala saya tidak sabar dalam menunggu orang lain berpikir dan memutuskan. Kecenderungan ini membuat saya lebih mudah cemas. Saya perlu berhenti sejak sebelum bertindak dan memutuskan, relax sebentar dan diharapkan kecemasapun berkurang dan keputusan yang diambil akan lebih cerdas.
Setelah membaca profile dari kepribadian saya dan anak saya, kami mulai mengenal lebih dalam dan dekat, baik itu emosi, pikiran dan tindakan. Mengenal ternyata jauh lebih bermakna bukan sekedar dari phisik, emosi, tapi kepribadiannya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar