Loading

Slide Bar

Share

Kebiasaan Buruk Anak Membuang Handuk di Tempat Tidur

Menemukan beberapa orangtua yang komplain anaknya selalu mempunyai kebiasaan buruk  dengan membuang handuk selesai kamar mandi di tempat tidur . Padahal sudah sering diajarkan untuk menempatkan di tempat yang tepat, digantung di tempat handuk.

kebiasaan sehabis mandi, handuk yang basah jika dibiarkan diletakkan di kamar mandi akan bau dan pengap.  Ini disebabkan udara kamar mandi lembab.  Oleh sebab itu, kebiasaan buruk anak untuk meletakkan handuk yang dipakai selesai mandi, dibuang atau diletakkan sembarangan, sebaiknya dihindari.

Bagaimana caranya orangtua mengajarkan anak untuk meletakkan handuk di tempat gantungan handuk:
1. Berikan teladan kepada orangtua setiap kali habis mandi, kita selalu meletakkan handuk di luar dan mengantunggkannya di tempat gantungan handuk.

2. Berikan nasehat apabila dia masih juga belum bisa melakukan bahwa tempat yang selayaknya untuk handuk adalah gantungan handuk bukan tempat tidur.

3. Berikan penjelasan apa akibatnya jika handuk basah diletakkan di atas kasur.

4. Untuk anak yang sulit sekali diatur, berikan reward atas nasehat yang dikerjakan olehnya.

Selamat Mencoba!

"Why Asians are Less Creative Than Westerners"

google.com
Sebuah buku yang ditulis oleh Prof.Ng Aik Kwang dari University of Queensland, berjudul "Why Asians are Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontaversial tapi ternyata menjadi best seller (www.idearesort.com/trainers) mengemukakan beberapa hal tentang bangsa Asia yang telah membukakan banyak orang:

1.Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya bidan kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seseorang untuk memiliki kekayaan banyak.

2.Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita novel,sinetron atau film yang bertema miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Asia,pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban""  bukan pada pengertian.Ujian Nasional, test masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4.Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah Asia dijelali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of Trades, but master of none"" (tahu sedikit tentang banyak hal tetapi tidak menguasai apappun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika & Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU).Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil risiko kurang dihargai.

7.Kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8.Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop,peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Sumber:  
"Why Asians are Less Creative Than Westerners"