Keluarga muda yang memiliki balita di Jakarta, suami istri harus bekerja meninggalkan buah hatinya untuk mencari nafkah, seringkali terpaksa menitipkan anaknya kepada orangtuanya.
Parenting ibu digantikan dengan parenting oma, itulah fenomena yang seringkali saya lihat. Terpaksa saya harus melihat secara detail apakah ada perbedaan antara parenting ibu dan oma.
Gaya parenting Ibu bisa saja ada 4 macam yang disebut dengan Otoritatif atau otoriter, mengercilkan, modern atau permisif. Keempat gaya ini memang membuat dampak yang berlainan. Tergantung gaya dominan dari orangtua atau ibu yang dianut.
Namun, sebagai oma, jika tak ada komunikasi yang jelas dengan anaknya untuk pola asuh/parenting cucu, maka sang Oma akan menggunakan parenting gaya lama atau konvesional yang menurutnya jauh lebih baik . Dengan sikap oma yang yang cenderung "sayang" yang berlebihan kepada cucu, maka pola asuhnya lebih kepada permisif.
Sifat parenting permisif adalah sebagai berikut
“modern” atau permissif . Cucu dapat memakai atau menghabiskan sumberdaya keluarga (waktu, uang,
energi) untuk hal-hal yang menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan kedekatan
emosional semacam itu, kecuali satu hal: oma juga lupa bahwa dari sejak
anaknya lahir, ia adalah oma yang pernah mendidik anak dengan gaya yang lain . Cucu-cucu yang diasuh dengan gaya ini
cenderung menjadi “konsumen” kehidupan, mudah patah semangat, berkemauan
lembek, gemar mengeluh, tak punya inisiatif, tidak produktif. Segala keinginan cucu dianggapnya harus dikasihani, dan selayaknya diberikan. Tak ada pengekangan atau faktor pendidikan. Akibatnya, cucu akan merasa lebih bebas, tanpa peduli dengan aturan dan bahkan berani kepada orangtuanya sendiri.
Anak bersikap Sportif Menerima Kekalahan
Semua orang pasti ingin menang, tapi dalam hidup
tak mungkin selalu menang. Kalah memang mengecewakan, tak heran kalau si
kecil tak suka kalah (bahkan orang dewasa pun demikian). Karena itu
anak sebaiknya belajar menerima kekalahan dengan sportif.
Salah
satu aspek terbesar dari sportivitas adalah bisa menerima kekalahan,
walaupun sebenarnya ada aspek lain dari sikap sportif, yaitu mampu
menghormati lawan, rekan satu tim, pelatih dan tim official.Anak-anak belajar bersikap sportif tentu saja dari orang dewasa yang berpengaruh dalam hidupnya, seperti orang tua dan pelatih. Kalau sehari-hari ia menyaksikan mama-papa dan orang dewasa lainnya bersikap sportif, perlahan-lahan ia akan memahami bahwa pemenang sejati dalam olahraga (dan dalam kehidupan) adalah mereka yang mempunyai kegigihan dan mampu bersikap penuh martabat serta menghormati orang lain – saat kalah maupun saat menang.
- Perlihatkan juga bahwa sikap sportif bisa dimulai dari ‘hal-hal kecil’ seperti saling bersalaman dengan lawan sebelum pertandingan, mengakui bahwa lawan dan rekan setim telah bertanding dengan baik dan mau menerima keputusan wasit atau official pertandingan.
- Saat anak kalah atau menang, tetaplah berkomentar positif, tak perlu menjelek-jelekkan lawan atau pihak lain. Hindari kebiasaan menyalahkan pihak lain atas kegagalan kita. Sekalipun wasit atau official memang tidak adil, tekankan bahwa yang terpenting adalah bagaimana kita menerima kekalahan dengan sikap terhormat.
- Anak menangis saat kalah? Nggak papa, itu wajar kok saat ia merasa kecewa. Tapi ingatkan ia untuk mengakui bahwa lawannya memang bertanding dengan baik. Tanyakan apa yang dirasa menjadi kelemahannya dan ajak ia berlatih meningkatkan kemampuan. Yakinkan si kecil bahwa lain waktu ia masih bisa menang.
- Beri contoh pada anak. Selalu salami anak yang menjadi lawan tanding si kecil serta orangtuanya. Kalau si kecil kalah, Anda harus memberi selamat pada lawannya dan kalau si kecil menang beri pujian pada kegigihan bertanding lawannya.
- Perhatikan juga sikap Anda sehari-hari. Apakah mama-papa berteriak-teriak kecewa dan menyalahkan wasit saat tim olahraga kesayangan kalah bertanding? Menyalahkan orang lain atau lawan tender saat proyek di kantor tidak sukses? Selalu mencerca dan menyalahkan pemerintah saat menonton berita politik? Hmmm, kalau begitu mungkin Anda bisa sama-sama belajar bersikap sportif bersama si kecil.
Aturan Pakai Gadget di Rumah
Psikolog Anna Surti Ariani berbagi tip berikut bagi orang tua yang mendampingi anak-anak menggunakan gadget di rumah.
- Batasi pemakaian gadget di rumah! Aturan jam pemakaian adalah sebagai berikut:
Anak-anak usia 2 – 5 tahun: 1 jam per hari
Anak-anak usia lebih dari 6 tahun: maksimal 2 jam per hari
-Waspadai konten aplikasi atau situs yang dikunjungi. Cek rating aplikasi atau situs tersebut.
-Pastikan anak menggunakan gadget di tempat umum atau terbuka. Misalnya: ruang tamu atau ruang kerja. Tidak disarankan menggunakan gadget di kamar tidur.
-Pastikan anti virus pada gadget selalu terkini.
-Ajari anak untuk menutup iklan pop-up atau promosi yang muncul secara mendadak di situs.
Apa yang penting?
-Bukan gadget-nya, tetapi pengetahuan tentang aplikasi!
-Lakukan eksplorasi berbagai aplikasi yang tepat usia dan tepat konten untuk anak.
-Bagi guru, pahami aplikasi yang tepat untuk digunakan di kelas, sesuai dengan materi yang akan diberikan.
-Disarankan untuk menggunakan tablet karena ukuran layar yang cukup besar, serta mudah dibawa.
Sumber: Parenting Indonesia
Jangan ada lagi kekerasan pada anak kecil seperti Angeline
Beberapa kali diketahui bahwa kekerasan pada anak dibawah
umur biasanya dilakukan oleh orang yang sangat dekat kepadanya. Kenapa anak kecil itu rentan untuk dibully
atau dibunuh oleh orang terdekatnya sendiri?
Tidak berdaya, tidak memiliki power menjadi suatu alasan ,
anak dapat dengan mudah menjadi bulan-bulanan.
Ketika anak tak berdaya, orang yang dewasa menganggap mereka mudah
sekali mengendalikan anak itu sesuai dengan keinginan mereka.
Bayangkan, jika kekerasan anak itu tidak dihindari dan
dibiarkan sehingga adanya korban seperti Angeline, alangkah mengerikan negeri ini.
Membayangkan bahwa korban yang mati atau korban trauma itu
adalah generasi yang akan mendatang.
Apabila demikian negara ini nantinya akan dipenuhi dengan generasi
kekerasan. Karena orang yang trauma itu
ada dua hal yang bisa dia lakukan pada saat dewasa. Yang pertama dia menjadi penakut sekali untuk
bertindak atau a sosial, tidak mau bergaul dan menyendiri. Yang kedua , dia akan membalas dendam dengan
berbuat kekerasan atas kekerasan yang dialaminya di masa kecil.
Lalu, bagaimana kita sebagai orangtua dapat menghindari agar tidak terjadi lagi kekerasan pada anak itu terjadi.
Berikut adalah beberapa tips yang dapat dijadikan petunjuk
apabila kita sebagai orang luar
menjumpai kekerasan di tetangga atau lingkungan kita;
4 Gaya Parenting:
Tulisan ini adalah intisari dari tulisan yang dibuat oleh Bapak Dono Baswardono:
Peran orangtua memiliki dua dimensi, kekuasaan dan hubungan. Berdasarkan kepada dua dimensi itu,peran
orangtua dibagi menjadi empat:
Yang pertama, gaya otoritatif atau authoritative adalah orangtua memiliki kedekatan emosional dengan anak-anaknya. Orangtua menerima anak-anaknya sebagai bagian dirinya, bagian yang tidak terpisahkan dari perubahan siklus kehidupannya. Menerima perasaan dan perilaku serta sifat-sifat anaknya, apa perbedaannya, integritas anak dianggap unik,beda dengan dirinya.
Orangtua bergaya otoritatif ini tidak menerapkan kekuasaan karena statusnya sebagai orangtua, tetapi melalui tindakan-tindakannya dalam memenuhi peran-peran sebagai orangtua, seperti peran protektor, motivator, dinamisator, pelayan, pemimpin, dsb. Mereka berkuasa melalui aturan-aturan dan batasan-batasan yang jelas. Mereka mengendalikan kehidupan anaknya dari manajemen antara ganjaran dan hukuman yang efektif. Kontrol dijalankan dari aturan yang jelas dan konsistensi menegakkan aturan tersebut.
Kedua, gaya otoriter atau authorian. Sangat menekankan pada status sebagai orangtua. Kekuasaan sepenuhnya berada di tangan orangtua. Bahkan masa depan dan bagaimana realisasi dari potensi-potensi intrinsik anak ditentukan oleh orangtua. Orangtua berperan mengambil keputusan dan anak tinggal mengikuti saja. Orangtua semacam ini tak memiliki ikatan emosional dengan anak-anaknya. Anak merasa tidak adanya kehadiran orangtua dalam kehidupannya. Anak merasa diabaikan dan tidak diakui, akibatnya mereka menjadi pemberontak, dan mengalami kecanduan. Ya, gaya ini hanya melahirkan “perebutan kekuasaan” sepanjang kehidupan keluarga tersebut.
Ketiga, gaya mengabaikan. Orangtua dengan gaya yang neglecting adalah orangtua yang tak memiliki peran,status sebagai Orangtua. Kekaburan peran, tugas sebagai orangtua mengakibatkan anak tidak dapat percaya dirinya sendiri, bahkan anak sering bertindak sebagai orangtua, contohnya lewat tantrum, dan suasana hati yang mudah berubah. Anak mudah berubah dan berbalik mengontrol karena orangtua tak memiliki aturan yang jelas dan tegas.
Tidak ada kedekatan emosional di antara anggota keluarga. Hubungan ayah dan ibu sangat jauh; ini membuat anak-anak juga jauh dari kedua orangtuanya maupun antarsaudara. Semua orang saling mengabaikan perasaan dan kehadiran masing-masing angota keluarga. Alhasil anak-anak ini mengalami krisis terbesar dalam hidup: krisis integritas diri. Krisis ini melahirkan banyak problem dalam hidup; bahkan gangguan kepribadian berat, termasuk gangguan identitas diri.
Keempat, gaya yang kerap dipelesetkan sebagai sikap “modern” atau permissif oleh orangtua muda, khususnya yang terpapar oleh pengaruh media (psikologi) populer Mitos yang mereka angkat dalam keluarga adalah demokrasi. Anak dapat memanggil nama orangtuanya dengan nama kecilnya. Anak dapat memakai atau menghabiskan sumberdaya keluarga (waktu, uang, energi) untuk hal-hal yang menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan kedekatan emosional semacam itu, kecuali satu hal: orangtua juga lupa bahwa dari sejak anaknya lahir, ia adalah orangtua. Anak-anak yang diasuh dengan gaya ini cenderung menjadi “konsumen” kehidupan, mudah patah semangat, berkemauan lembek, gemar mengeluh, tak punya inisiatif, tidak produktif.
Cara Mudah Ajak Anak Makan Sehat
Melihat pemandangan seorang perawat atau orangtua membawa anaknya jalan ke luar rumah hanya untuk makan. Rupanya anak ini memiliki kebiasaan untuk ke luar rumah jika makan. Apakah kebiasaan ini memang dari kebiasaan anak atau orangtuanya?
Selain kebiasaan untuk ke luar rumah, rupanya ada kendala yang cukup serius tentang makanan yang disukai anak. Anak seringkali tidak mau makan hanya merasa tidak suka dengan makanan yang disajikan.
Nah, tip kali ini datang dari ahli nutrisi, Annabel Karmel, yang juga telah menerbitkan beberapa buku tentang anak dan makanan. Berikut sarannya tentang cara yang bisa dilakukan untuk mendorong anak makan sayuran:
1. Daripada membeli makanan cepat saji, cobalah membuat makanan cepat saji versi sehat sendiri. Gunakan kualitas bahan makanan yang baik, segar, dan alami. Misalnya, nugget ayam dicampur bayam, bakso ikan tuna dicampur wortel, dsb.
2. Ceritakan pada anak fakta-fakta menarik dan manfaat dari sayur dan buah yang Anda sajikan. Jangan sekadar memaksanya mengonsumsinya, tapi ceritakan bahwa wortel yang segar dan berwarna orange akan membuat matanya cemerlang dan terhindar memakai kacamata sampai tua. Anak pasti lebih tertarik untuk mencobanya.
3. Ketertarikan anak pada makanan bukan hanya dari rasanya yang lezat, tapi juga penampilannya yang menarik. Buatlah versi mini dari makanan biasa – bisa juga bentuk lucu yang disukainya - agar anak lebih berselera.
4. Anak-anak suka membuat makanannya sendiri. Jadi, cobalah bereksperimen membuat resep makanan bersamanya.
5. Sekali-kali, libatkan anak saat Anda memasak. Minta bantuannya untuk melakukan hal-hal mudah seperti mengocok telur atau memeras jeruk. Anak-anak akan lebih terstimulisasi untuk makan ketika ikut andil dalam proses pembuatannya
Sumber: Parenting Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)


