Loading

Slide Bar

Share

Parenting "Oma" vs parenting "ibu sendiri"

Keluarga muda yang memiliki balita di Jakarta, suami istri harus bekerja meninggalkan buah hatinya untuk mencari nafkah, seringkali terpaksa menitipkan anaknya kepada orangtuanya.

Parenting ibu digantikan dengan parenting oma, itulah fenomena yang seringkali saya lihat.   Terpaksa saya harus melihat secara detail apakah ada perbedaan antara parenting ibu dan oma.

Gaya parenting Ibu bisa saja ada 4 macam yang disebut dengan Otoritatif atau otoriter,  mengercilkan, modern atau permisif.   Keempat gaya ini memang membuat dampak yang berlainan. Tergantung gaya dominan dari orangtua atau ibu yang dianut.

Namun, sebagai oma, jika tak ada komunikasi yang jelas dengan anaknya untuk pola asuh/parenting cucu, maka sang Oma akan menggunakan parenting gaya lama atau konvesional yang menurutnya jauh lebih baik .  Dengan sikap oma yang yang cenderung  "sayang" yang berlebihan kepada cucu, maka pola asuhnya lebih kepada permisif.

Sifat parenting permisif adalah sebagai berikut modern” atau  permissif . Cucu  dapat memakai atau menghabiskan sumberdaya keluarga (waktu, uang, energi) untuk hal-hal yang menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan kedekatan emosional semacam itu, kecuali satu hal: oma  juga lupa bahwa dari sejak anaknya lahir, ia adalah oma yang pernah mendidik anak dengan gaya yang lain . Cucu-cucu yang diasuh dengan gaya ini cenderung menjadi “konsumen” kehidupan, mudah patah semangat, berkemauan lembek, gemar mengeluh, tak punya inisiatif, tidak produktif. Segala keinginan cucu dianggapnya harus dikasihani, dan selayaknya diberikan.  Tak ada pengekangan atau faktor pendidikan.  Akibatnya, cucu akan merasa lebih bebas, tanpa peduli dengan aturan dan bahkan berani kepada orangtuanya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...