Loading

Slide Bar

Share

4 Gaya Parenting:



Tulisan ini adalah intisari dari tulisan yang dibuat oleh Bapak Dono Baswardono:

Peran orangtua memiliki dua dimensi, kekuasaan dan hubungan.  Berdasarkan kepada dua dimensi itu,peran orangtua dibagi menjadi empat:

Yang pertama, gaya otoritatif atau  authoritative adalah orangtua memiliki kedekatan emosional dengan anak-anaknya.  Orangtua menerima anak-anaknya sebagai bagian dirinya, bagian yang tidak terpisahkan dari perubahan siklus kehidupannya.  Menerima perasaan dan perilaku serta sifat-sifat anaknya, apa perbedaannya, integritas anak dianggap unik,beda dengan dirinya.

 Orangtua bergaya otoritatif ini tidak menerapkan kekuasaan karena statusnya sebagai orangtua, tetapi melalui tindakan-tindakannya dalam memenuhi peran-peran sebagai orangtua, seperti peran protektor, motivator, dinamisator, pelayan, pemimpin, dsb. Mereka berkuasa melalui aturan-aturan dan batasan-batasan yang jelas. Mereka mengendalikan kehidupan anaknya dari manajemen antara ganjaran dan hukuman yang efektif. Kontrol dijalankan dari aturan yang jelas dan konsistensi menegakkan aturan tersebut.


Kedua, gaya otoriter atau authorian. Sangat menekankan pada status sebagai orangtua. Kekuasaan sepenuhnya berada di tangan orangtua. Bahkan masa depan dan bagaimana realisasi dari potensi-potensi intrinsik anak ditentukan oleh orangtua. Orangtua berperan mengambil keputusan dan anak tinggal mengikuti saja. Orangtua semacam ini tak memiliki ikatan emosional dengan anak-anaknya. Anak merasa tidak adanya kehadiran orangtua dalam kehidupannya. Anak merasa diabaikan dan tidak diakui, akibatnya mereka menjadi pemberontak, dan mengalami kecanduan. Ya, gaya ini hanya melahirkan “perebutan kekuasaan” sepanjang kehidupan keluarga tersebut. 

Ketiga, gaya mengabaikan. Orangtua dengan gaya yang neglecting adalah orangtua yang tak memiliki peran,status sebagai Orangtua.  Kekaburan peran, tugas sebagai orangtua mengakibatkan anak tidak dapat percaya dirinya sendiri, bahkan anak sering bertindak sebagai orangtua, contohnya lewat tantrum, dan suasana hati yang mudah berubah.  Anak mudah berubah dan berbalik mengontrol karena orangtua tak memiliki aturan yang jelas dan tegas.  

Tidak ada kedekatan emosional di antara anggota keluarga. Hubungan ayah dan ibu sangat jauh; ini membuat anak-anak juga jauh dari kedua orangtuanya maupun antarsaudara. Semua orang saling mengabaikan perasaan dan kehadiran masing-masing angota keluarga. Alhasil anak-anak ini mengalami krisis terbesar dalam hidup: krisis integritas diri. Krisis ini melahirkan banyak problem dalam hidup; bahkan gangguan kepribadian berat, termasuk gangguan identitas diri. 

Keempat, gaya yang kerap dipelesetkan sebagai sikap “modern” atau  permissif oleh orangtua muda, khususnya yang terpapar oleh pengaruh media (psikologi) populer  Mitos yang mereka angkat dalam keluarga adalah demokrasi.  Anak dapat memanggil nama orangtuanya dengan nama kecilnya.  Anak dapat memakai atau menghabiskan sumberdaya keluarga (waktu, uang, energi) untuk hal-hal yang menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan kedekatan emosional semacam itu, kecuali satu hal: orangtua juga lupa bahwa dari sejak anaknya lahir, ia adalah orangtua. Anak-anak yang diasuh dengan gaya ini cenderung menjadi “konsumen” kehidupan, mudah patah semangat, berkemauan lembek, gemar mengeluh, tak punya inisiatif, tidak produktif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...