Loading

Slide Bar

Share

CARA BENAR TENTANG "GENDONG"

Melihat anak balita yang usianya telah menginjak 3-5 tahun, masih sering digendong oleh baik ayah, ibu maupun perawatnya.   Seolah dengan menggendong anak itu, anak akan merasa aman dan nyaman dalam gendongan.
keren.com

Mari kita lihat cara yang benar tentang gendongan.  Berikut ini adalah cara gendong yang benar sesuai dengan usia anak:

 * Usia 0-3 bulan.
Bungkukkan badan ke arah bayi yang sedang telentang, selipkan satu tangan Anda ke bagian leher untuk menyangga kepala, letakkan tangan di bagian belakang tubuh bayi untuk menopang punggung dan bokongnya. Kemudian letakkan bagian kepala, leher, dan punggung bayi di lipatan siku tangan kiri/kanan. Sementara telapak tangan yang satunya menopang bokong, kemudian kakinya ditopang lengan. Posisikan bayi berada dekat dengan dada Anda sehingga ia merasa nyaman.

Anda juga bisa mengendong bayi dalam posisi tegak dengan kepala bayi di atas bahu menghadap ke belakang. Sandarkan dada bayi ke dada Anda, topang lehernya dengan satu tangan dan tangan lainnya menopang punggung dan bokong. Di atas satu bulan bisa diposisikan setengah duduk. Satu tangan meyangga bokongnya sementara tangan yang lain memegang dada. Pastikan kepalanya bersandar di dada.

* Usia 3-6 bulan.

Di usia ini biasanya bayi lebih senang digendong pada posisi duduk menghadap ke depan. Pasalnya, bayi sudah mampu duduk di pangkuan dan tidak betah dibaringkan. Di usia empat bulan, posisi bayi sudah lebih luwes, bisa digendong menghadap ke depan, belakang, atau berhadapan. Lalu di usia lima bulan, sebaiknya gunakan kain gendongan karena tubuhnya semakin berat. Posisinya bisa didudukkan di pinggang, di depan perut dengan posisi berhadapan, dengan ditopang salah satu lengan. Dengan begitu Anda tetap bisa melakukan aktivitas lebih mudah.

* Usia di atas enam bulan.
Bayi tidak terlalu ringkih lagi, tulang dan ototnya semakin kuat sehingga bisa menggendong dengan banyak posisi. Misalnya, didudukkan di depan dada dengan satu tangan menyangga bokong dan tangan lain melingkar di perutnya, posisi duduk dengan tubuh bayi setengah berhadapan dengan tubuh Anda serta kedua tangan menopang bokong dan pinggang bayi, bisa juga menggunakan alat gendong dengan posisi duduk.

Di usia delapan bulan ke atas, orangtua  cukup menggendong jika anak sakit,rewel. Meski begitu, anak juga perlu diberi kesempatan untuk bereksplorasi, entah di kasur atau lantai. Biarkan ia mengeksplorasi segenap kemampuannya, keingintahuannya, dan lingkungannya. Di usia ini bayi sudah bisa merangkak, berdiri, merambat, bahkan berjalan.

(Sumber : Tabloid Nakita/Irfan)




Stop Kecanduan Gadget!




Gadget cerdas Anda memang dapat menghubungkan Anda dengan teman-teman lama, berinteraksi dengan orang baru, bahkan dapat menemukan hubungan dengan kelompok yang lebih besar.

Meski begitu, gadget tak dapat menggantikan interaksi Anda dengan manusia riil yang ada di dekat Anda, terutama pasangan. Sebuah survei di Inggris yang dilakukan baru-baru ini menemukan bukti bahwa gadget ternyata dapat menjadi penghalang Anda untuk melakukan hubungan intim dengan pasangan.

Penelitian yang disponsori oleh salah satu produk kontrasepsi ini menemukan 40 persen responden yang mengaku telah mengesampingkan seks hanya demi panggilan telepon, mengirim pesan, atau sekadar browsing melalui gadget-nya. Bahkan, beberapa responden mengaku bahwa kadang mereka memilih melakukan quickie atau bercinta kilat agar bisa segera membalas pesan yang menumpuk pada gadget mereka.

Menanggapi hasil survei ini, Dr. Mark McCormack, peneliti yang melakukan wawancara mendalam dengan para responden, menyarankan agar para pasangan sebaiknya tidak membawa ponsel, laptop, ataupun tablet ke dalam kamar tidur. Chemistry  atau hubungan emosional yang sesungguhnya datang dari sebuah keintiman.

Memang, sih, kita semua membutuhkan yang namanya teknologi, tapi, bukan berarti harus mengorbankan waktu intim bersama pasangan, kan?

Sumber referensi:

"Parenting Indonesia"

Dasar-dasr Parenting

Diambil dari Dono Baswardono:

Mulailah pagi dengan berpelukan dengan pasangan. Sapalah ia dengan senyum. Tanyakan apakah semalam ia tidur nyenyak. Luangkan waktu 5-10 menit mengobrol hal-hal ringan.
Kesibukan dan kerepotan pagi hari? Ah itu takkan menjadi lebih berat hanya dengan Anda berdua mengobrol sepuluh menit. Malah akan terasa ringan dan membahagiakan sepanjang hari jika Anda mengawali hari dengan saling memberi dukungan emosional.

Sebaliknya, jika Anda langsung sibuk begitu bangun tidur, pekerjaan rasanya tidak ada habis-habisnya sementara energi mental terasa cepat terkuras. Dan ini, bakal terjadi sampai 5, 10, 20, bahkan 40 tahun mendatang. Maukah waktu perkawinan dan keluarga Anda lebih banyak dihabiskan untuk membereskan pekerjaan yang tak kunjung usai?

Sebaliknya, dengan saling mengasihi, saling peduli, hubungan Anda berdua akan menjadi pondasi positif bagi hubungan Anda pribadi dengan anak maupun hubungan orangtua dengan anak. Bagaimana mungkin Anda meminta anak-anak saling sayang dengan saudaranya jika Anda dan suami/istri seperti musuh?
Dengan sepuluh menit yang menyenangkan di pagi hari, tugas-tugas Anda di kantor akan terasa lebih mudah. Dengan sepuluh menit yang nyaman di pagi hari, tugas-tugas rumah tangga terasa lebih ringan. (Bahkan besar kemungkinan, "dia" yang selama ini tak bersedia membantu, pelan-pelan akan mulai bersedi bekerjasama.)

AJARI ANAK MANDIRI

Banyak orang tua yang ingin memanjakan anaknya agar anaknya merasa disayang. Adakah orang tua yang masih menyuapi anak Anda yang sudah hampir masuk SD? Atau masih harus mengumpulkan pakaian kotor di kamar si kakak yang sudah kelas 5 SD?

‘Melayani’ anak sebetulnya adalah hal yang baik, jika sesuai dengan aturannya. Jika anak sudah terlanjur dimanjakan oleh ‘pelayanan’ orang tua terhadapnya, maka Anda harus segera mengubah kebiasaan itu.

Tidak perlu terus memarahinya atau terlalu larut menyalahkan diri sendiri, Ma. “Tidak ada yang terlambat,” jelas Herdina. Ajak anak berbicara tentang apa yang sebaiknya diperbaiki dan sekarang adalah saatnya untuk memulai cara yang baru. Herdina menyarankan, “Ajari mereka dengan melibatkan pada aktivitas di area sekitarnya, misalnya menjemur handuk setelah digunakan, membereskan tempat tidurnya, mencuci peralatan makan sendiri, dsb.

Berikan konsekuensi negatif jika ia tidak mematuhi. Misalnya, jika ia tidak mencuci peralatan makannya sendiri, ia tidak akan menemukan piringnya karena masih kotor dan dan terongok di tempat cuci piring.

Diambil dari Parenting.co.id