Suatu hari saya pernah bertemu dengan seorang teman yang mengeluhkan bahwa anaknya sangat bandel (anaknya seorang laki-laki) meskipun hukuman telah diberikan.
Ibunya berkata kepada saya: "Saya sudah sangat marah karena dia tak pernah belajar. Inginnya pulang sekolah langsung main bola. Begitu disuruh belajar, yang dibuka adalah buku bola. Ketika disuruh belajar di kamar, malah nonton bola. Saya hukum semua barang kesenangannya saya sita. Tidak boleh memegang atau melihat tv bola, serta main bola sama sekali".
Saya: "Berhasilkah?"
Ibu A: "Tidak!"
Saya: "Mengapa?"
Ibu A: "Anak saya berkata bahwa ibunya salah dalam menghukum. Emangnya dengan disita, saya akan makin kesal? Itu hobby utama saya. Kenapa mesti disita. Saya bisa cari yang lain".
Saya: "Apa tindakan ibu selanjutnya?"
Ibu A: "Bingung"
Dari keterangan ibu A, saya mendapat kesimpulan bahwa si Ibu A menghukum anaknya karena :
1. Emosi yang meledak karena anak tidak mengindahkan perintahnya untuk belajar.
2. Hukuman yang diberikan tidak efektif karena anak justru makin tidak suka dengan cara ibu
menghukumnya.
3. Berakhir hubungan Ibu A dan anaknya makin tegang tanpa penyelesaian.
Dalam kesempatan yang baik ini saya telah membaca di "Parenting Indonesia" bahwa cara menghukum itu ada tipsnya, agar hukuman yang diberikan bukan hanya jera saja tetapi anak dapat memahami mengapa hukuman itu pantas untuk dirinya.
Berikut adalah tips dari cara menghukum yang tidak efektif:
Menghukum dalam kondisi murka
Kalau Anda terbiasa membentak-bentak dan meneriaki anak-anak Anda saat memberikan hukuman, dikhawatirkan anak
akan menganggap itu reaksi yang wajar kalau kita tidak senang sesuatu.
Bisa jadi Ia akan berperilaku seperti itu saat kesal dengan
teman-temannya.
Orang tua boleh membentak, tapi jangan
membentak-bentak emosional alias murka. Kalau perlu membentak, bentaklah
dengan nada keras, tegas, tapi tenang. Sebenarnya anak-anak akan lebih
responsif terhadap perintah atau permintaan yang dikeluarkan dalam nada
tegas tapi tenang.
Mama-Papa tidak kompak
Jangan pernah
berdebat di depan anak-anak Anda mengenai penerapan disiplin atau
hukuman. Dalam menerapkan hukuman buat anak, Mama-Papa harus kompak.
Anak-anak itu cerdas lho, Ma. Mereka bisa segera ‘mencium’ perbedaan
pendapat antara Mama dan Papa lalu ‘memecah belah serta menguasai’ orang
tuanya.
Menganggap anak orang dewasa kecil
Meski
Anda ingin anak-anak mendapatkan hak mereka untuk didengar, bukan
berarti mereka punya hak yang sama dengan Anda soal aturan dalam rumah
tangga dan boleh seenaknya mendebat. Ingat, ini adalah hubungan orangtua
dan anak, bukan demokrasi di mana semua orang punya hak yang sama. Tapi
Anda bisa menjelaskan kepada anak, kenapa Anda menerapkan aturan dan
hukuman tersebut.
Hukuman yang tidak sepadan
Hukuman sebaiknya merupakan konsekuensi natural atau konsekuensi logis dari perilaku anak. Jika hukuman yang Anda berikan tidak pantas atau tidak adil, Anda justru kehilangan kesempatan mengajarkan nilai-nilai yang ingin Anda terapkan karena anak malah berfokus pada hukuman yang dirasanya tidak adil itu. Yang terburuk, anak mendendam dan berperilaku lebih buruk untuk membalas ‘ketidakadilan’ yang diterimanya.
Jangan
pernah memberikan hukuman yang mempermalukan anak, menghinanya atau
merendahkan dirinya. Jika Anda tetap bisa menghormati harga diri anak,
bahkan saat menghukumnya, anak akan belajar untuk tetap
menghormati Anda – dan orang lain- meski Ia sedang marah atau kesal.
Saat hukuman sudah usai dijalani, tak perlu memaksa anak minta maaf atau kembali menceramahinya soal perilaku buruknya. Yang sudah ya sudah. Sebaiknya segera dorong anak untuk berperilaku sesuai aturan Anda.
Sumber: Parenting Indonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar