![]() |
| www.inatanaya.com |
Sementara bundanya mungkin spontan berteriak karena kaget dan kesal, mungkin juga mengomel sambil membersihkan keping-keping kaca yang berantakan, sembari menyuruh anak pergi dari TKP dengan dalih khawatir luka kena pecahan kaca.
Banyak orangtua mengeluhkan perilaku anak-anak yang kurang sesuai dengan harapan,sehingga menjadi pemicu kemarahan terhadap anak.
Padahal luapan emosi orangtua dalam bentuk amarah, seringkali justru memperburuk keadaan, karena anak akan merekam dan menirukan reaksi orangtuanya saat mengalami hal yang sama di lain waktu.Jadi kemampuan pengendalian emosi saat menghadapi perilaku anak yang dianggap salah sangat penting bari orangtua.
Berikut adalah tips yang mudah dilakukan sehari-hari:
Hal pertama yang sebaiknya dilakukan adalah DIAM:
Biasanya kata yang keluar dari seseorang yagn sedang emosi marah sangat tidak terkontrol.Kalaupun sudah terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat kebaikan seperti , "Ya Tuhan...!" atau "Masya Allah!" intonasi yang muncul tetap beraura negatif.Karenanya memilih diam akan leibh efektif untuk mengendalikan rasa marah.
Segeralah menarik nafas panjang,tahan panjang, tahan antara 5-10 detik
,keluarkan lewat mulut, ulangi setidaknya 3-5 kali. Ketika marah, biasanya terjadi tekanan sehingga darah terpacu mengalir ke atas, pada saat kita menarik napas, oksigen akan ikut dalam aliran darah menuju ruang otak.Keadaan ini akan membuat lebih rileks.
Munculkan dalam ingatan:
Kejadian paling menyenangkan yang pernah dialami bersama anak, kenangan manis terbuat akan bisa membuat Anda mampu memberi senyuman tanda damai.Untuk Memudahkan Anda mengingat kejadian menyenangkan bersama anak,sebaiknya di waktu luang sempatkan untuk menuliskan aktivitas-aktivitas seru berdua.
Berpikir positif terhadap perilaku anak yang sempat memancing kemarahan Anda.
Misalkan mungkin dia bermaksud membersihkan meja lalu tak sengaja menyenggol vas hingga jatuh dan pecah, atau jika anak mendapat nilai pelajaran yang rendah, berpikirlah bahwa mungkin ia sedang tak enak badan saat mengerjakan ulangan.
Komunikasikan dengan anak tentang perilakunya yang memancing kemarahan Anda pada waktu yang berbeda.
Artinya jika tidak langsung pada saat terjadi, tapi berikan jeda.Menjelang tidur biasanya adalah waktu paling efektif. Hal ini merupakan langkah penyelesaian secara damai, anak tetap mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan alasan sekaligus menceritakan kronologi dari perbuatannya sedangkan orangtua bisa menyampaikan penjelasan untuk mengoreksi kesalahan dan menyepakati bersama tentang apa yang harus dilakukan agar tak terulang kesalahan yang sama.
Orangtua adalah figur terdekat bagi anak, karena jika orangtua mampu mengendalikan emosinya dihadapan anak, maka sebenarnya, anakpun akan belajar mengendalikan emosi dirinya saat merasa marah atau jengkel pada perilaku orang-orang sekitarnya melalui cara yang dicontohkan orangtuanya.
Sumber: www.pondokparentingharum.com dan Tabloid Nova

