“Change the way you look at things and the things you look at change.”
― Wayne W. Dyer
“Change will not come if we wait for some other person, or if we wait for some other time. We are the ones we've been waiting for. We are the change that we seek.”
― Barack Obama
When I think for the past, it was so nice to have such a child that I can keep or take care of. But for the first time, I feel that changes always make me unhappy. The worse one was the feeling make me upset, loneliness always come when day come to night.
Once, I realize it, I should not keep such the feeling. Changing in the way I look make me a happy one. It should go what she has to pursue her study and her future. There was no worry and loneliness anymore. All the way, I have to understand what the changes I have to face .
Again, once more, I realize that now, the changes come to my first sight to what my child had come with. She had been fully independent. Totally, she does not need any help from me. Just a few advice that she need for help.
What shall I do now? She has been the change that I seek. Not what I expect.....
Again, all changes make me wait for some other time to understand it...."World so full of changes, what do you expect, If I do not change, I will not be what the world say"........
Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan
PILIH CERITA UNTUK BUAH HATI
Seorang perempuan paruh baya datang ke sebuah toko buku. Dia menghabiskan waktu berjam-jam di toko buku itu. Ia tak juga bergeming bahkan tak buru-buru pulang. Ternyata dia sedang mencari buku untuk keponakannya yang berumur 8 tahun. Beragam pilihan jenis buku cerita marak ada di toko buku.
Jika kita tak sabar seperti perempuan paruh baya itu , maka kita khawatir jika buku yang dipilih nantinya akan kurang tepat.
Ketua Indonesia Bercerita Bukik Setiawan mengatakan, sejumlah pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam memilih buku cerita anak:
Semoga ibu-ibu dapat turut serta dalam menunjang proses tumbuh kembang dan daya imajinasi anak menujuh arah yang lebih baik dengan pilihan buku cerita yang tepat.
Jika kita tak sabar seperti perempuan paruh baya itu , maka kita khawatir jika buku yang dipilih nantinya akan kurang tepat.
Ketua Indonesia Bercerita Bukik Setiawan mengatakan, sejumlah pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam memilih buku cerita anak:
- Sesuaikan dengan kemampuan si kecil. Anak-anak usia 2-4 tahun, cenderung lebih nyaman menikmati cerita yang lebih banyak memperlihatkan gambar (visual) ketimbang teks seta plot cerita yang maju dan simple (tanpa kilas balik). Semakin meningkatnya kemampuan sang anak,semakin kompleks pula cerita yang dicerna.
- Pilihkan cerita yang bervariasi. Semakin beragam, semakin besar kesempatan anak untuk explorasi minat.
- Pilihkan cerita yang digemari. Jika buah hati tidak menyukai komik, lebih baik belikan cerita yang ada teks.
- Pilihlah cerita dengan alur cerita yang konsisten. Hindari cerita yang menghadirkan peristiwa hanya untuk mempermudah cerita.
- Pilihlah cerita deskriptif dan tidak mengandung unsur judgemental. Jugdemental itu biasanya memutuskan hal yang dirasakan tokoh tanpa memberikan kesempatan pembaca untuk mengartikan sesuatu yang dirasakan oleh tokoh.
- Pilihlah cerita yang mengandung value yang sesuai.
Semoga ibu-ibu dapat turut serta dalam menunjang proses tumbuh kembang dan daya imajinasi anak menujuh arah yang lebih baik dengan pilihan buku cerita yang tepat.
KIAT MEMBERI PUJIAN KEPADA ANAK
Untuk membangkitkan semangat anak jika dia telah berhasil mengerjakan sesuatu, tentunya kita dapat memberikan pujian. Pujian memang lebih banyak positifnya daripada negatifnya. Namun ada beberapa hal yang harus dicermati agar pujian itu dapat berhasil mencapai tujuan dari apa yang diinginkan.
Berikut ini adalah tips bagaimana memberikan pujian yang benar kepada anak:
Spesifik:
Pujian yang efektif adalah pujian yang spesifik, contohnya ibu mengatakan : "Clara, kamu sudah menyelesaikan pekerjaan rumah berhitung secara bagus, kamu cermat, tak ada satu soal pun yang salah, dan tulisannmu rapi, padahal lumayan banyak ya tugasmu kali ini."" Ucapan ini mengreflesikan bagaimana anda telah mencermati anak anda selama mengerjakan tugasnya, dan ia layak mendapat pujian itu. Pujian bersifat umum tidak berarti biasanya diterima tanpa dampak apa pun. Contohnya: "Tini, kamu pekerja yang baik," tanpa penjelasan lebih lanjut.
Berikan alasan dan fakta:
Setelah anda mencermati sesuatu dan memberikan pujian, maka dapat dilanjutkan dengan menyampaikan alasannya. Dalam bentuk pertanyaan seperti apakah yang dipikirkannya dengan pujian itu , apakah ada kebenaran dan bagaimana dia menerimanya serta alasan dia menerimanya.
Hasil lebih dari harapan:
Memuji untuk sesuatu yang hasilnya lebih dari yang diharapkan, karena seseorang telah berhasil mencapai atau melebihi target. Jangan memberikan pujian untuk tercapainya kinerya yang memang telah diharapkan karena malah kalau demikian akan menimbulkan pertanyaan. Contoh anak terbiasa bangun tidur tepat waktu. Tak perlu memuji: "Bagus, Nak, kamu bangun pagi."
Pisahkan pujian dan kritik:
Pujian tidak bisa dicampur dengan kritik. Jika dilakukan bersamaan akan menimbulkan kecurgiaan. Relasi yang cucur dan berkembang, lebih baik ketika orang berbicara secara "lurus/langsung".
Saat ini dan di sini
Pujian diberikan persis terjadi pada saat ini dan kondisi saat ini. Bukan tujuan menjadi simpanan di masa depan. Artinya, dalam memuji kita tidak perlu mengharap sesuatu yang lebih bermanfaat akan terjadi nanti.
Layak dan pantas:
Pujian hendaknya diberikan kapan pun apabila memang seseorang pantas mendapatkannya, tidak hanya pada kondisi atau situasi yang khusus. Pujian akan menjadi tidak efektif jika diberikan secara boros ketika orang-orang senior hadir.
Berikut ini adalah tips bagaimana memberikan pujian yang benar kepada anak:
Spesifik:
Pujian yang efektif adalah pujian yang spesifik, contohnya ibu mengatakan : "Clara, kamu sudah menyelesaikan pekerjaan rumah berhitung secara bagus, kamu cermat, tak ada satu soal pun yang salah, dan tulisannmu rapi, padahal lumayan banyak ya tugasmu kali ini."" Ucapan ini mengreflesikan bagaimana anda telah mencermati anak anda selama mengerjakan tugasnya, dan ia layak mendapat pujian itu. Pujian bersifat umum tidak berarti biasanya diterima tanpa dampak apa pun. Contohnya: "Tini, kamu pekerja yang baik," tanpa penjelasan lebih lanjut.
Berikan alasan dan fakta:
Setelah anda mencermati sesuatu dan memberikan pujian, maka dapat dilanjutkan dengan menyampaikan alasannya. Dalam bentuk pertanyaan seperti apakah yang dipikirkannya dengan pujian itu , apakah ada kebenaran dan bagaimana dia menerimanya serta alasan dia menerimanya.
Hasil lebih dari harapan:
Memuji untuk sesuatu yang hasilnya lebih dari yang diharapkan, karena seseorang telah berhasil mencapai atau melebihi target. Jangan memberikan pujian untuk tercapainya kinerya yang memang telah diharapkan karena malah kalau demikian akan menimbulkan pertanyaan. Contoh anak terbiasa bangun tidur tepat waktu. Tak perlu memuji: "Bagus, Nak, kamu bangun pagi."
Pisahkan pujian dan kritik:
Pujian tidak bisa dicampur dengan kritik. Jika dilakukan bersamaan akan menimbulkan kecurgiaan. Relasi yang cucur dan berkembang, lebih baik ketika orang berbicara secara "lurus/langsung".
Saat ini dan di sini
Pujian diberikan persis terjadi pada saat ini dan kondisi saat ini. Bukan tujuan menjadi simpanan di masa depan. Artinya, dalam memuji kita tidak perlu mengharap sesuatu yang lebih bermanfaat akan terjadi nanti.
Layak dan pantas:
Pujian hendaknya diberikan kapan pun apabila memang seseorang pantas mendapatkannya, tidak hanya pada kondisi atau situasi yang khusus. Pujian akan menjadi tidak efektif jika diberikan secara boros ketika orang-orang senior hadir.
ANAKKU AKAN MENIKAH....
Melihat bagaimana anak bertumbuh dan berkembang menjadi sebuah kebahagiaan sekaligus kebanggan tersendiri bagi orangtua. Hingga pada saatnya anak kita semakin dewasa dan siap untuk memasuki hidup berumah tangga yang mandiri. Anakku akan menjadi seorang suami (istri), akan menjadi seorang ayah(ibu)!. Siapkah kita untuk memasuki saat-saat itu? Bagaimana kita seharusnya bersikap dan menempatkan diri? Bagaimana dengan perasaan kehilangan akan dia?
Anak akan meninggalkan ibu dan ayahnya.dalam arti sebuah kemandiiran. Kemandirian untuk mengambil keputusan bersama pasangannya. Kemandirian untuk membiayai hidup rumah tanggahnya. Kemandirian untuk mengelola kehidupan rumah tangganya. Kemandirian untuk mendidik anak-anaknya. Orangtua sebenarnya sedang dalam masa menuai hasil didikan yang telah ia berikan selama ini, kini akan berjalan berdasarkan segala didikan yang telah ia dapat. Tangan orangtua telah melepas dan mempercayai bahwa kehidupan akan membentuk dan membimbing dia menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri.
Peran orangtua dalam menolong anaknya untuk dapat mencapai kemandirian untuk menikah:
Anak akan meninggalkan ibu dan ayahnya.dalam arti sebuah kemandiiran. Kemandirian untuk mengambil keputusan bersama pasangannya. Kemandirian untuk membiayai hidup rumah tanggahnya. Kemandirian untuk mengelola kehidupan rumah tangganya. Kemandirian untuk mendidik anak-anaknya. Orangtua sebenarnya sedang dalam masa menuai hasil didikan yang telah ia berikan selama ini, kini akan berjalan berdasarkan segala didikan yang telah ia dapat. Tangan orangtua telah melepas dan mempercayai bahwa kehidupan akan membentuk dan membimbing dia menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri.
Peran orangtua dalam menolong anaknya untuk dapat mencapai kemandirian untuk menikah:
- Selalu menekankah kepada anak tentang tujuan pernikahan yang suci dan sakral.
- Memilih pasangan yang seimbang dan seiman.
- Apakah pada saat pacaran hubungan itu dilandasi oleh dua cinta yang sama? Jangan sampai satu sangat mencintai dan yang satu sangat bergantung kepada pasangannya. Tidak seimbang.
- Bersedia menikmati waktu luang bersama? Memang tidak ada pasangan yang mempunyai hobby atau keinginan yang sama. Tetapi apakah yang satu dapat memulai kebersamaan dan mencocokkan diri dalam perbedaan dan saling menghargai.
- Apakah teman kita dapat diterima oleh pasangan kita dan sebaliknya.
- Nilai moral: menjadi nilai yang paling esensial atau poros dari semua yang ada.
- Dapat menghargai menerima dan menghargai keluarga masing-masing.
- Perbedaan ekonomi yang mencolok
- Apakah dapat menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Konsep bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang bebas dari pertengkaran. Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang bebas dari pertengkaran, dan juga bukan yang sarat dengan pertengkaran. Keduanya tidak sehat. Indikasi hubungan sehat adalah kadang-kadang ada pertengkaran, tapi pasti bisa diselesaikan. Kuncinya adalah justru bisa diselesaikan bersama-sama, dituntaskan dengan pengampunan dan penerimaan.
Menghadapai sulitnya “anak remaja” yang bergejolak
Sering saya mendengar orangtua mengeluh: “Dulu anak saya sangat manis ketika masih
kecil, sekarang senang melawan, memberontak dan tak mau menurut”
Dunia remaja penuh dengan dinamika dan gejolak. Para remja ingin menunjukan identitas diri,
ingin diakui oleh orangtua maupun teman-temannya, ingin menonjol di antara
teman-temannya. Ingin les gitar, ingin
les piano, ingin les komputer, ketika diberikan, stop setengah jalan.. Tidak
dilanjutkan kembali. Sebagai orangtua
tentunya tak memahami apa sebenarnya keinginan dan kebutuhan anak ?
Definisi Penerimaan Sosial Bagi Remaja
Dunia remaja dituntut untuk menguasai berbagai macam
ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan
sekitarnya. Ketrampilan sosial dan
penyesuaian sosial ini sangat penting bagi anak masa remaja. Anak remaja memasuki dunia pergaulan yang
lebih luas dan dia dipengaruhi oleh teman dan lingkungan sosial dimana dia
bergaul. Inilah yang disebut
psikososial. Agar dia diterima, tentu dia
harus belajar ketrampilan sosial. Masa
adaptasi inilah yang paling sulit dialaminya.
Definisi pacaran
Remaja mulai dengan hubungan intim dan kental dengan
teman wanita bila anak itu pria , atau teman laki bila anak itu wanita. Pengetahuan tentang kapan anak dapat
berpacaran. Sebaiknya pada usia 20 tahun . Definisi pacaran adalah
mempersiapkan diri untuk memasuki jenjang ke perkawinan. Sebaiknya anak remaja harus mengetahui
persiapan mental, phisik, tanggung jawab sebuah perkawinan jika dia sudah mulai
pacaran.
Perkembangan Psikologi Remaja
Masa transisi dari anak-anak menjadi remaja, adalah
periode yang sering disebut “badai dan topan”, dimana ketegangan emosi yang
meninggi karena perubahan phisik dan kelenjar. Emosinya sering meledak-ledak
sulit dikendalikan, cepat depresi (putus asa, sedih), melawan,
memberontak. Emosi ini disebabkan
konflik peran yang sedang dialami remaja.
Perkembangan psikologis ini ditekankan pada keadaan emosi remaja
Menangani Remaja
- Memahami emosi dan perkembangan psikologis remaja
- Memberikan waktu untuk tenang jika ada masalah
- Memberikan dan menuangkan dalam komunikasi “Kamu sedih kamu tidak dapat mendapatkan apa yang kamu inginkan, meraih angka baik walaupun kamu sudah belajar”
- Memahami kekecewaannya: “Mamah dan papah memahami betapa kecewanya kamu, usahamu sudah maksimal tetapi tidak dapat angka seperti yang engkau harapkan”
- Memberikan harapan atau solusi sesuai dengan keinginan dan kebutuhan remaja: “Jika ada hal yang bisa mamah/papah bantu untuk lebih memaximalkan atau memperbaiki angkamu, dengan senang hati mamah/papah bersedia bantu”
MEMBANGKITKAN SELERA BELAJAR
Jika ditanyakan kepada anak apakah dia senang untuk belajar di sekolah?
Sebagian besar akan menjawab dengan absolut "tidak".
Mengapa anak tidak menyukai belajar di sekolah?
Ada banyak hal mengapa anak tak suka belajar:
yang diberikan anaknya. Pemahaman dan pengertian orangtua tentang belajar itu adalah keharusan. Keharusan karena hanya dengan belajar , masa depan anak akan jelas, sukses, berhasil.
Terjebak dengan pemahaman dengan berhasil atau sukses belajar akan menjadi sukses di masa depan.
Namun sebaliknya, bila anak memiliki selera belajar yang tinggi maka banyak benefit yang akan ia dan orangtua dapatkan.
Bagi orangtua diantaranya :
Bagi anak, benefitnya adalah :
Sebagian besar akan menjawab dengan absolut "tidak".
Mengapa anak tidak menyukai belajar di sekolah?
Ada banyak hal mengapa anak tak suka belajar:
- Pelajaran membosankan.
- Guru tidak dapat memberikan penjelasan atau bimbingan
- Mata pelajaran atau materi hanya bersifat teori saja
- Tak ada kaitan teori dengan dunia nyata.
- Tak memiliki tujuan atau motivasi belajar.
- Tak ada suasana belajar yang menyenangkan.
- Tak ada appresiasi baik dari guru maupun orangtua jika anak dapat melalui proses belajar dengan baik.
yang diberikan anaknya. Pemahaman dan pengertian orangtua tentang belajar itu adalah keharusan. Keharusan karena hanya dengan belajar , masa depan anak akan jelas, sukses, berhasil.
Terjebak dengan pemahaman dengan berhasil atau sukses belajar akan menjadi sukses di masa depan.
Namun sebaliknya, bila anak memiliki selera belajar yang tinggi maka banyak benefit yang akan ia dan orangtua dapatkan.
Bagi orangtua diantaranya :
- Merasa lebih bahagia melihat buah hatinya berprestasi
- Merasa lega karena mampu dengan baik memerankan peran sebagai orangtua yang ideal buat anak anaknya
- Merasa tenang karena melihat sikap dan prilaku anak yang positif
- Merasa lebih nyaman karena terjalin relasi yang harmonis dengan anak – anak
- Merasa lebih aman karena memiliki pondasi keluarga yang kokoh ( jauh dari konflik )
Bagi anak, benefitnya adalah :
- Mereka mempunyai kesempatan yang luas untuk mengembangkan passionnya ( minat + bakat )
- Mereka merasa berharga sebagai manusia karena dipahami atas keinginan / harapan masadepannya
- Mereka merasa ” eksis “, karena memiliki otoritas atas dirinya, atas jalan hidupnya
- Mereka merasa aman dan nyaman untuk berkreasi pada passionnya, sehingga berkesempatan mencapai puncak kesuksesan dirinya
- Mereka lebih kuat dan tahan terhadap tantangan, seberat apapun…karena yang mereka perjuangkan adalah pilihan hidupnya. Jadi tidak ada perasaan terpaksa melakukannya ( tidak seperti kalau hal itu adalah pilihan orangtua )
- Melatih anak untuk menemukan min. 10 hal yang menarik dari setiap mata pelajaran
- Melatih dan berdiskusi dengan anak, apa tujuan dan manfaat belajar dari setiap matapelajaran bila dikaitkan dengan kehidupan sehari – hari
- Menyediakan suasana belajar yang kondusif / playfulness / bebas dari tekanan
- Membantu anak untuk belajar menganalisa, “ Apa sebab / latarbelakang mereka tidak selera belajar ? Apakah masalahnya berkaitan dengan strategi belajar atau emosi ? “
- Memfasilitasi anak mengatasi masalahnya. Bila masalahnya strategi maka carikan profesional yang expert dalam hal strategi belajar ( mis. success coach ), bila masalahnya emosi maka carikan profesional yang expert dalam hal emosi ( mis. hipnoterapist )
SIKAP TEGUH ORANGTUA DALAM MENGHADAPI ANAK "NAKAL"
Ketika orangtua menghadapi seseorang anak yang dianggap "nakal" , tidak mau menurut, tidak mau belajar, seringkali bolos sekolah, orangtua mengambil sikap yang tak teguh. Orangtua merasa tidak sanggup mengatasi anak yang sangat nakal itu. Sikap yang diambil oleh orangtua dapat menjadi dua hal, sebagian merasa lebih baik bersikap acuh dan tidak peduli terhadap masalah anaknya. Atau sikap yang lain, orangtua menekan atau menghadapinya dengan kekerasan.
Jika orangtua memilih salah satu dari dua hal itu, maka terjadilah resiko yang akan menjadi buruk.
Berikut adalah resiko yang terjadi:
Relasi buruk antara orangtua dan anak
Sedang yang terjadi pada anaknya, yaitu : muncul keyakinan kalau dirinya tidak layak sukses, tidak memilik keyakinan pada diri sendiri, tidak punya harga diri, merasa terbuang / sendiri dll
Cara untuk tetap persistence/teguh :
Jika orangtua memilih salah satu dari dua hal itu, maka terjadilah resiko yang akan menjadi buruk.
Berikut adalah resiko yang terjadi:
Relasi buruk antara orangtua dan anak
- Akibat relasi buruk, komunikasi terputus ( tertutup pada orangtua )…sehingga anak semakin kehilangan figur yang sesungguhnya sangat mereka butuhkan untuk mengawal perjalanan hidupnya
- Terjadi persepsi yang merugikan antara orangtua dan anak. Akibatnya baik pihak orangtua maupun anak, muncul kecemasan, merasa kurang berharga dan hidupnya dalam kendali orang lain ( bukan dalam dirinya sendiri )
Sedang yang terjadi pada anaknya, yaitu : muncul keyakinan kalau dirinya tidak layak sukses, tidak memilik keyakinan pada diri sendiri, tidak punya harga diri, merasa terbuang / sendiri dll
Cara untuk tetap persistence/teguh :
- Ambil kertas dan ballpoint, tuliskan min. 20 hal positif yang ada di dalam diri anak. Kemudian mulai saat ini dan seterusnya, lihatlah anak dengan “ kaca mata 20 hal positifnya “ itu. Dan sadarilah satu fakta bahwa nilai hidup / masadepan anak jauh lebih bernilai dibanding masalah anak
- Lakukan self talk :
- -Kejadian apa yang membuat Anda mulai melebeli anak Anda “ super nakal “ ?
- Saat kejadian itu, perasaan apa yang Anda rasakan pada diri Anda ?
- Setelah mendapatkan apa perasaan Anda itu, tanyakan pada diri Anda… sebenarnya perasaan ini muncul karena Anda sendiri yang memutuskan untuk muncul atau anak Anda yang meminta Anda untuk memunculkan ?
- Kalau jawabannya adalah Anda sendiri yang memutuskan perasaan itu muncul, maka siapa sebenarnya yang bertanggungjawab atas perasaan itu ? Anda atau anak Anda ?
- Kalau jawabannya adalah Anda sendiri, maka siapa juga sebenarnya yang bisa memutuskan untuk melepaskan perasaan itu…Anda sendiri atau anak Anda ?
- alau jawabannya adalah Anda sendiri, maka…apa keputusan Anda, mau dilepas atau mau dibiarkan ?
- Kalau jawabannya mau dilepas, maka silahkan Anda tutup mata dan munculkan niat yang besar untuk melepaskan…selesai
- Lakukan afirmasi positif setiap pagi, mis : “ Saya adalah ayah / ibu yang berharga “ selama 21 hari tanpa putus. Katakan di depan cermin dengan suara yang ada tekanan nadanya, sambil menempelkan telapak tangan di dada ( jantung ) dan juga rasakan … perasaan menjadi ayah / ibu berharga
"KEMANDIRIAN UTUH"
Bukan hal yang mudah membuat “kemandirian” seorang anak. Utamanya banyak orangtua, baik ibu maupun ayah yang belum memahami secara utuh apa yang dimaksud dengan kemandirian total. Mungkin pemahaman mereka hanya sebatas “mandiri secara phisik”.
MITOS LAMA MENGENAI MANDIRI
Dengan membanggakan diri seorang ibu mengatakan bahwa anaknya telah dididik dari kecil untuk dapat makan, mandiri, belajar, membersihkan kamar , bahkan membantu ibunya untuk pekerjaan di dapur atau pekerjaan rumah tangga, menyapu, mengepel.
Kemandirian di atas adalah “Kemandirian phisik”. Anak-anak diajarkan sedari kecil untuk melakukan keperluan dirinya dengan sedikit arahan dari ibu/ayahnya. Kemandirian “Phisik” sangat berguna ketika nanti anak menghadapi dunia nyata, harus belajar di luar kota atau bekerja . Dengan kebiasaan mandiri phisik sejak kecil, anak dengan mudah melakukakannya. Tidak bagi mereka yang tidak biasa “Mandiri secara phisik”, mereka akan kaget, sulit adaptasi karena tidak terbiasa melakukan hal-hal yang mudah tetapi tidak pernah dilakukannya.
MANDIRI SECARA UTUH
Ketika seorang anak telah terbiasa dengan “Mandiri phisik”, terlebih orangtuanya bekerja , maka segala keperluan dirinya harus dilakukan sendiri.
Namun, suatu hari, anak itu, katakan namanya “Dina”, mengatakan kepada orangtuanya, ada 3-5 temannya yang nilai akademisnya lebih tinggi dan bertindak curang kepada dirinya. Dina tak merasa menerima jika ada orang lain yang lebih baik darinya. Lalu dengan alasan itu, dia merasa berhak marah dan merasa haknya dicurangi. Tentu saja, orangtuanya merasa tidak nyaman dengan sikap anak itu. Apakah pernyataan Dina memang benar atau itu hanya suatu ilusi dari keinginan yang tak terpenuhi?
Mandiri dalam arti luas atau utuh adalah mandiri yang dilakukan melalui kebebasan berpikir, kebebasan menenutkan perasaan , atau merasakan kebebasan untuk mengontrol atas dirinya sendiri, memiliki otoritas atas dirinya bukan dikontrol oleh orang lain.
Dalam kasus diatas, Dina sebagai seorang anak, ingin menguasai emosi dirinya yang belum stabil dengan mengintervensi perasaan orangtuanya. Dia belum dapat menguasai dirinya, apalagi mengontrolnya. Dipakainya alasan oranglina adalah bagian dari ilusi dari kelemahan dirinya yang belum mandiri.
PENGHAMBAT SEORANG ANAK UNTUK MANDIRI UTUH
Salah satu sebab utamanya adalah orangtua tidak memberi kesempatan pada anak – anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri.
Hal ini karena masih banyak orangtua :
• Tidak yakin dengan kemampuan anaknya
• Ada perasaan cemas / khawatir yang besar pada keselamatan anaknya
• Tidak mau tergesa – gesa memberi kepercayaan pada anak ( nanti anak saya “besar kepala” )
• Mau menunjukan sikap otoritas orangtua yang tinggi pada anaknya
• Mengabaikan kebutuhan emosi anak, yaitu perasaan diakui atas kemampuannya
CARA EFEKTIF MELATIH ANAK MENJADI MANDIRI
• Memenuhi kebutuhan emosi anak, yaitu ” Otoritas Diri ” . Agar anak merasa bisa / mampu
contoh : Beri kesempatan anak untuk ambil keputusan sendiri ( selama tidak membahayakan / merugikan dirinya dan orang lain )
• Dalam hal melatih anak untuk menguasai ketrampilan baru ( Agar anda yakin dengan kemampuan anak anda ), inilah langkahnya :
- Memberi gambaran yang jelas terlebih dulu, anak-anak hanya memperhatikan
- Memberi mereka kesempatan untuk terlibat, dibawah bimbingan orangtua
- Memberi mereka kesempatan untuk melakukannya sendiri
- Memberi mereka kepercayaan untuk melakukannya sendiri
MITOS LAMA MENGENAI MANDIRI
Dengan membanggakan diri seorang ibu mengatakan bahwa anaknya telah dididik dari kecil untuk dapat makan, mandiri, belajar, membersihkan kamar , bahkan membantu ibunya untuk pekerjaan di dapur atau pekerjaan rumah tangga, menyapu, mengepel.
Kemandirian di atas adalah “Kemandirian phisik”. Anak-anak diajarkan sedari kecil untuk melakukan keperluan dirinya dengan sedikit arahan dari ibu/ayahnya. Kemandirian “Phisik” sangat berguna ketika nanti anak menghadapi dunia nyata, harus belajar di luar kota atau bekerja . Dengan kebiasaan mandiri phisik sejak kecil, anak dengan mudah melakukakannya. Tidak bagi mereka yang tidak biasa “Mandiri secara phisik”, mereka akan kaget, sulit adaptasi karena tidak terbiasa melakukan hal-hal yang mudah tetapi tidak pernah dilakukannya.
MANDIRI SECARA UTUH
Ketika seorang anak telah terbiasa dengan “Mandiri phisik”, terlebih orangtuanya bekerja , maka segala keperluan dirinya harus dilakukan sendiri.
Namun, suatu hari, anak itu, katakan namanya “Dina”, mengatakan kepada orangtuanya, ada 3-5 temannya yang nilai akademisnya lebih tinggi dan bertindak curang kepada dirinya. Dina tak merasa menerima jika ada orang lain yang lebih baik darinya. Lalu dengan alasan itu, dia merasa berhak marah dan merasa haknya dicurangi. Tentu saja, orangtuanya merasa tidak nyaman dengan sikap anak itu. Apakah pernyataan Dina memang benar atau itu hanya suatu ilusi dari keinginan yang tak terpenuhi?
Mandiri dalam arti luas atau utuh adalah mandiri yang dilakukan melalui kebebasan berpikir, kebebasan menenutkan perasaan , atau merasakan kebebasan untuk mengontrol atas dirinya sendiri, memiliki otoritas atas dirinya bukan dikontrol oleh orang lain.
Dalam kasus diatas, Dina sebagai seorang anak, ingin menguasai emosi dirinya yang belum stabil dengan mengintervensi perasaan orangtuanya. Dia belum dapat menguasai dirinya, apalagi mengontrolnya. Dipakainya alasan oranglina adalah bagian dari ilusi dari kelemahan dirinya yang belum mandiri.
PENGHAMBAT SEORANG ANAK UNTUK MANDIRI UTUH
Salah satu sebab utamanya adalah orangtua tidak memberi kesempatan pada anak – anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri.
Hal ini karena masih banyak orangtua :
• Tidak yakin dengan kemampuan anaknya
• Ada perasaan cemas / khawatir yang besar pada keselamatan anaknya
• Tidak mau tergesa – gesa memberi kepercayaan pada anak ( nanti anak saya “besar kepala” )
• Mau menunjukan sikap otoritas orangtua yang tinggi pada anaknya
• Mengabaikan kebutuhan emosi anak, yaitu perasaan diakui atas kemampuannya
CARA EFEKTIF MELATIH ANAK MENJADI MANDIRI
• Memenuhi kebutuhan emosi anak, yaitu ” Otoritas Diri ” . Agar anak merasa bisa / mampu
contoh : Beri kesempatan anak untuk ambil keputusan sendiri ( selama tidak membahayakan / merugikan dirinya dan orang lain )
• Dalam hal melatih anak untuk menguasai ketrampilan baru ( Agar anda yakin dengan kemampuan anak anda ), inilah langkahnya :
- Memberi gambaran yang jelas terlebih dulu, anak-anak hanya memperhatikan
- Memberi mereka kesempatan untuk terlibat, dibawah bimbingan orangtua
- Memberi mereka kesempatan untuk melakukannya sendiri
- Memberi mereka kepercayaan untuk melakukannya sendiri
Langganan:
Postingan (Atom)







