Bukan hal yang mudah membuat “kemandirian” seorang anak. Utamanya banyak orangtua, baik ibu maupun ayah yang belum memahami secara utuh apa yang dimaksud dengan kemandirian total. Mungkin pemahaman mereka hanya sebatas “mandiri secara phisik”.
MITOS LAMA MENGENAI MANDIRI
Dengan membanggakan diri seorang ibu mengatakan bahwa anaknya telah dididik dari kecil untuk dapat makan, mandiri, belajar, membersihkan kamar , bahkan membantu ibunya untuk pekerjaan di dapur atau pekerjaan rumah tangga, menyapu, mengepel.
Kemandirian di atas adalah “Kemandirian phisik”. Anak-anak diajarkan sedari kecil untuk melakukan keperluan dirinya dengan sedikit arahan dari ibu/ayahnya. Kemandirian “Phisik” sangat berguna ketika nanti anak menghadapi dunia nyata, harus belajar di luar kota atau bekerja . Dengan kebiasaan mandiri phisik sejak kecil, anak dengan mudah melakukakannya. Tidak bagi mereka yang tidak biasa “Mandiri secara phisik”, mereka akan kaget, sulit adaptasi karena tidak terbiasa melakukan hal-hal yang mudah tetapi tidak pernah dilakukannya.
MANDIRI SECARA UTUH
Ketika seorang anak telah terbiasa dengan “Mandiri phisik”, terlebih orangtuanya bekerja , maka segala keperluan dirinya harus dilakukan sendiri.
Namun, suatu hari, anak itu, katakan namanya “Dina”, mengatakan kepada orangtuanya, ada 3-5 temannya yang nilai akademisnya lebih tinggi dan bertindak curang kepada dirinya. Dina tak merasa menerima jika ada orang lain yang lebih baik darinya. Lalu dengan alasan itu, dia merasa berhak marah dan merasa haknya dicurangi. Tentu saja, orangtuanya merasa tidak nyaman dengan sikap anak itu. Apakah pernyataan Dina memang benar atau itu hanya suatu ilusi dari keinginan yang tak terpenuhi?
Mandiri dalam arti luas atau utuh adalah mandiri yang dilakukan melalui kebebasan berpikir, kebebasan menenutkan perasaan , atau merasakan kebebasan untuk mengontrol atas dirinya sendiri, memiliki otoritas atas dirinya bukan dikontrol oleh orang lain.
Dalam kasus diatas, Dina sebagai seorang anak, ingin menguasai emosi dirinya yang belum stabil dengan mengintervensi perasaan orangtuanya. Dia belum dapat menguasai dirinya, apalagi mengontrolnya. Dipakainya alasan oranglina adalah bagian dari ilusi dari kelemahan dirinya yang belum mandiri.
PENGHAMBAT SEORANG ANAK UNTUK MANDIRI UTUH
Salah satu sebab utamanya adalah orangtua tidak memberi kesempatan pada anak – anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri.
Hal ini karena masih banyak orangtua :
• Tidak yakin dengan kemampuan anaknya
• Ada perasaan cemas / khawatir yang besar pada keselamatan anaknya
• Tidak mau tergesa – gesa memberi kepercayaan pada anak ( nanti anak saya “besar kepala” )
• Mau menunjukan sikap otoritas orangtua yang tinggi pada anaknya
• Mengabaikan kebutuhan emosi anak, yaitu perasaan diakui atas kemampuannya
CARA EFEKTIF MELATIH ANAK MENJADI MANDIRI
• Memenuhi kebutuhan emosi anak, yaitu ” Otoritas Diri ” . Agar anak merasa bisa / mampu
contoh : Beri kesempatan anak untuk ambil keputusan sendiri ( selama tidak membahayakan / merugikan dirinya dan orang lain )
• Dalam hal melatih anak untuk menguasai ketrampilan baru ( Agar anda yakin dengan kemampuan anak anda ), inilah langkahnya :
- Memberi gambaran yang jelas terlebih dulu, anak-anak hanya memperhatikan
- Memberi mereka kesempatan untuk terlibat, dibawah bimbingan orangtua
- Memberi mereka kesempatan untuk melakukannya sendiri
- Memberi mereka kepercayaan untuk melakukannya sendiri


Tidak ada komentar:
Posting Komentar