Membaca kebijakan yang dibuat
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan diatas sangat mengejutkan . Apakah kebijakan itu telah mempertimbangkan dengan matang tentang tidak adanya naik kelas buat
anak SD? Sebagaimana sebuah kebijakan
tentu ada study kasus atau faktor-faktor yang mendasari landasan mengapa
kebijakan ini dibuat.
Ada hal yang menggelitik ketika membaca adanya kebijakan ini. Saya sedang membayangkan bagaimana peran guru, peran anak , peran orangtua menyikapi kebijakan yang demikian .
Membaca lebih lanjut tentang
tujuan atau alasan yang kuat yang mendasari dihapuskan Unas SD adalah adanya
sejumlah pihak yang menganggap pelaksanaan Unas SD tidak sejalan dengan amatan
Undang-
Undang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-undang itu ditegaskan, wajib belajar pendidikan dasar adalah sembilan tahun (SD hingga SMP). Lebih lanjut dijelaskan jika ada anak SD tidaklulus , maka anak SD itu berpotensi itu tak bisa meneruskan ke SMP berarti kegagalan untuk mencapai 9 tahun .
Undang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-undang itu ditegaskan, wajib belajar pendidikan dasar adalah sembilan tahun (SD hingga SMP). Lebih lanjut dijelaskan jika ada anak SD tidaklulus , maka anak SD itu berpotensi itu tak bisa meneruskan ke SMP berarti kegagalan untuk mencapai 9 tahun .
Bayangan saya segera melayang
kepada ketiga peran yang sangat terlibat dalam keputusan itu.
Peran Anak
Alangkah enaknya jadi anak yang
tak pernah belajar, malas, tak punya motivasi untuk bisa mengetahui atau
menyamaratakan dengan teman-temannya.
Ach, nanti pasti akan naik kelas, kok capai-capi belajar, apa gunanya. Enakan santai saja. Toch, nanti pasti naik kelas.
Sebaliknya, gimana rasanya anak
yang senang belajar. Aku sudah rajin
belajar, tapi temanku yang tak belajar kok bisa yach naik kelas. Kok enak yach dia bisa naik kelas. Lalu apa
gunanya aku belajar keras jika yang tak belajar pun bisa naik kelas.
Peran Guru
Guru yang biasanya harus
memberikan penilaian berdasarkan angka, sekarang diganti dengan narasi. Buat
guru, membuat penilaian angka adalah suatu hal absolut, sekarang harus membuat
narasi yang adalah suatu ungkapan tanpa pengertian yang lebih kearah suatu penilaian subjektif.
Guru sendiri bingung bagaimana menjaga anak didiknya mempunyai
motif belajar yang standar, tetap rajin belajar supaya naik kelas. Aku membayangkan guru yang bingung itu
terlihat dari suasana kelas yang tak lagi penuh dengan kompetisi , disiplin,
dan tanggung jawab dari anak-anak.
Guru juga bingung dengan
kurikulum yang baru yang harus dipelajarinya
tapi bertolak belakang dengan apa yang ingin dicapai tak seusai dengan kenyataan dilapangan.
Guru yang tahu bagaimana caranya mempelajari pedagogik
untuk memacu anak tetap rajin belajar meskipun mereka semuanya akan lulus, juga ikut dalam arus, “ach biarian aja,
semauku mengajar, toch anak semuanya harus lulus”.
Peran orangtua
Orangtua yang biasanya ikut stres
karena ada UAS, banyak pelajaran, test, segala macam, sekarang santai .
Tapi santainya orangtua itu tak
begitu lama, karena tambah bingung ketika anaknya bukannya belajar, sekarang
senang main game, bermain dengan teman-temannya.
Orangtua makin tak memahami akhir
dari perjalanan seorang anak SD kenapa bisa masuk SMP tapi belum memahami dasar-dasar dari pengetahuan anak SD karena
kualitasnya merosot tajam.
Sebelum bayangan itu menjadi
kenyataan yang menakutkan, saya hanya
berharap kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan agar mengkaji ulang tujuan
dari penghapusan tidak ada naiknya anak SD.
Jauh lebih baik, menggantikan suatu metode yang lain untuk menentukan
kelulusan bukan dengan UAS tetapi dengan ulangan-ulangan dari pihak sekolah
sehingga guru tak kehilangan pedoman untuk menentukan justifikasi apakah anak itu telah memahami
apa yang diajarkan.
Guru adalah ujung tombak dari
pendidikan. Jika persiapan untuk penghapusan hanya sekedar wacana untuk
berhasilnya tercapai pendidikan 9 tahun, saku takut kehancuran kualitas pendidikan
diperoleh alih-alih tujuan awal. Oleh karena itu tiap guru, bukan hanya sekedar
mempunyai pengetahuan ilmu, tetapi ilmu pedagogik, filsafat apa yang dibutuhkan
seorang murid untuk memahami dan mengerti apa yang diajarkan guru. Butuh waktu dan proses yang lama.
