Loading

Slide Bar

Share

Jangan ada lagi kekerasan pada anak kecil seperti Angeline



Beberapa kali diketahui bahwa kekerasan pada anak dibawah umur biasanya dilakukan oleh orang yang sangat dekat kepadanya.  Kenapa anak kecil itu rentan untuk dibully atau dibunuh oleh orang terdekatnya sendiri?

Tidak berdaya, tidak memiliki power menjadi suatu alasan , anak dapat dengan mudah menjadi bulan-bulanan.   Ketika anak tak berdaya, orang yang dewasa menganggap mereka mudah sekali mengendalikan anak itu sesuai dengan keinginan mereka.

Bayangkan, jika kekerasan anak itu tidak dihindari dan dibiarkan sehingga adanya korban seperti Angeline,  alangkah mengerikan negeri ini.  
Membayangkan bahwa korban yang mati atau korban trauma itu adalah generasi yang akan mendatang.   

Apabila demikian negara ini nantinya akan dipenuhi dengan generasi kekerasan.  Karena orang yang trauma itu ada dua hal yang bisa dia lakukan pada saat dewasa.  Yang pertama dia menjadi penakut sekali untuk bertindak atau a sosial, tidak mau bergaul dan menyendiri.  Yang kedua , dia akan membalas dendam dengan berbuat kekerasan atas kekerasan yang dialaminya di masa kecil.

Lalu, bagaimana kita sebagai orangtua dapat menghindari  agar tidak terjadi lagi kekerasan pada anak itu terjadi.

Berikut adalah beberapa tips yang dapat dijadikan petunjuk apabila  kita sebagai orang luar menjumpai kekerasan di tetangga atau lingkungan kita;


4 Gaya Parenting:



Tulisan ini adalah intisari dari tulisan yang dibuat oleh Bapak Dono Baswardono:

Peran orangtua memiliki dua dimensi, kekuasaan dan hubungan.  Berdasarkan kepada dua dimensi itu,peran orangtua dibagi menjadi empat:

Yang pertama, gaya otoritatif atau  authoritative adalah orangtua memiliki kedekatan emosional dengan anak-anaknya.  Orangtua menerima anak-anaknya sebagai bagian dirinya, bagian yang tidak terpisahkan dari perubahan siklus kehidupannya.  Menerima perasaan dan perilaku serta sifat-sifat anaknya, apa perbedaannya, integritas anak dianggap unik,beda dengan dirinya.

 Orangtua bergaya otoritatif ini tidak menerapkan kekuasaan karena statusnya sebagai orangtua, tetapi melalui tindakan-tindakannya dalam memenuhi peran-peran sebagai orangtua, seperti peran protektor, motivator, dinamisator, pelayan, pemimpin, dsb. Mereka berkuasa melalui aturan-aturan dan batasan-batasan yang jelas. Mereka mengendalikan kehidupan anaknya dari manajemen antara ganjaran dan hukuman yang efektif. Kontrol dijalankan dari aturan yang jelas dan konsistensi menegakkan aturan tersebut.


Kedua, gaya otoriter atau authorian. Sangat menekankan pada status sebagai orangtua. Kekuasaan sepenuhnya berada di tangan orangtua. Bahkan masa depan dan bagaimana realisasi dari potensi-potensi intrinsik anak ditentukan oleh orangtua. Orangtua berperan mengambil keputusan dan anak tinggal mengikuti saja. Orangtua semacam ini tak memiliki ikatan emosional dengan anak-anaknya. Anak merasa tidak adanya kehadiran orangtua dalam kehidupannya. Anak merasa diabaikan dan tidak diakui, akibatnya mereka menjadi pemberontak, dan mengalami kecanduan. Ya, gaya ini hanya melahirkan “perebutan kekuasaan” sepanjang kehidupan keluarga tersebut. 

Ketiga, gaya mengabaikan. Orangtua dengan gaya yang neglecting adalah orangtua yang tak memiliki peran,status sebagai Orangtua.  Kekaburan peran, tugas sebagai orangtua mengakibatkan anak tidak dapat percaya dirinya sendiri, bahkan anak sering bertindak sebagai orangtua, contohnya lewat tantrum, dan suasana hati yang mudah berubah.  Anak mudah berubah dan berbalik mengontrol karena orangtua tak memiliki aturan yang jelas dan tegas.  

Tidak ada kedekatan emosional di antara anggota keluarga. Hubungan ayah dan ibu sangat jauh; ini membuat anak-anak juga jauh dari kedua orangtuanya maupun antarsaudara. Semua orang saling mengabaikan perasaan dan kehadiran masing-masing angota keluarga. Alhasil anak-anak ini mengalami krisis terbesar dalam hidup: krisis integritas diri. Krisis ini melahirkan banyak problem dalam hidup; bahkan gangguan kepribadian berat, termasuk gangguan identitas diri. 

Keempat, gaya yang kerap dipelesetkan sebagai sikap “modern” atau  permissif oleh orangtua muda, khususnya yang terpapar oleh pengaruh media (psikologi) populer  Mitos yang mereka angkat dalam keluarga adalah demokrasi.  Anak dapat memanggil nama orangtuanya dengan nama kecilnya.  Anak dapat memakai atau menghabiskan sumberdaya keluarga (waktu, uang, energi) untuk hal-hal yang menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan kedekatan emosional semacam itu, kecuali satu hal: orangtua juga lupa bahwa dari sejak anaknya lahir, ia adalah orangtua. Anak-anak yang diasuh dengan gaya ini cenderung menjadi “konsumen” kehidupan, mudah patah semangat, berkemauan lembek, gemar mengeluh, tak punya inisiatif, tidak produktif.

Cara Mudah Ajak Anak Makan Sehat



Melihat pemandangan seorang  perawat atau orangtua membawa anaknya jalan ke luar rumah hanya untuk makan. Rupanya anak ini memiliki kebiasaan untuk ke luar rumah jika makan.  Apakah kebiasaan ini memang dari kebiasaan anak atau orangtuanya?
Selain kebiasaan untuk ke luar rumah, rupanya ada kendala yang cukup serius tentang makanan yang disukai anak.  Anak seringkali tidak mau makan hanya merasa tidak suka dengan makanan yang disajikan.

Nah, tip kali ini datang dari ahli nutrisi, Annabel Karmel, yang juga telah menerbitkan beberapa buku tentang anak dan makanan. Berikut sarannya tentang cara yang bisa dilakukan untuk mendorong anak
makan sayuran:

1. Daripada membeli makanan cepat saji, cobalah membuat makanan cepat saji versi sehat sendiri. Gunakan kualitas bahan
makanan yang baik, segar, dan alami. Misalnya, nugget ayam dicampur bayam, bakso ikan tuna dicampur wortel, dsb.

2. Ceritakan pada anak fakta-fakta menarik dan manfaat dari sayur dan buah yang Anda sajikan. Jangan sekadar memaksanya mengonsumsinya, tapi ceritakan bahwa wortel yang segar dan berwarna orange akan membuat matanya cemerlang dan terhindar memakai kacamata sampai tua. Anak pasti lebih tertarik untuk mencobanya.

3. Ketertarikan anak pada makanan bukan hanya dari rasanya yang lezat, tapi juga penampilannya yang menarik. Buatlah versi mini dari makanan biasa – bisa juga bentuk lucu yang disukainya - agar anak lebih berselera.

4. Anak-anak suka membuat makanannya sendiri. Jadi, cobalah bereksperimen membuat resep makanan bersamanya.

5. Sekali-kali, libatkan anak saat Anda memasak. Minta bantuannya untuk melakukan hal-hal mudah seperti mengocok telur atau memeras jeruk. Anak-anak akan lebih terstimulisasi untuk makan ketika ikut andil dalam proses pembuatannya

Sumber:  Parenting Indonesia

CARA BENAR TENTANG "GENDONG"

Melihat anak balita yang usianya telah menginjak 3-5 tahun, masih sering digendong oleh baik ayah, ibu maupun perawatnya.   Seolah dengan menggendong anak itu, anak akan merasa aman dan nyaman dalam gendongan.
keren.com

Mari kita lihat cara yang benar tentang gendongan.  Berikut ini adalah cara gendong yang benar sesuai dengan usia anak:

 * Usia 0-3 bulan.
Bungkukkan badan ke arah bayi yang sedang telentang, selipkan satu tangan Anda ke bagian leher untuk menyangga kepala, letakkan tangan di bagian belakang tubuh bayi untuk menopang punggung dan bokongnya. Kemudian letakkan bagian kepala, leher, dan punggung bayi di lipatan siku tangan kiri/kanan. Sementara telapak tangan yang satunya menopang bokong, kemudian kakinya ditopang lengan. Posisikan bayi berada dekat dengan dada Anda sehingga ia merasa nyaman.

Anda juga bisa mengendong bayi dalam posisi tegak dengan kepala bayi di atas bahu menghadap ke belakang. Sandarkan dada bayi ke dada Anda, topang lehernya dengan satu tangan dan tangan lainnya menopang punggung dan bokong. Di atas satu bulan bisa diposisikan setengah duduk. Satu tangan meyangga bokongnya sementara tangan yang lain memegang dada. Pastikan kepalanya bersandar di dada.

* Usia 3-6 bulan.

Di usia ini biasanya bayi lebih senang digendong pada posisi duduk menghadap ke depan. Pasalnya, bayi sudah mampu duduk di pangkuan dan tidak betah dibaringkan. Di usia empat bulan, posisi bayi sudah lebih luwes, bisa digendong menghadap ke depan, belakang, atau berhadapan. Lalu di usia lima bulan, sebaiknya gunakan kain gendongan karena tubuhnya semakin berat. Posisinya bisa didudukkan di pinggang, di depan perut dengan posisi berhadapan, dengan ditopang salah satu lengan. Dengan begitu Anda tetap bisa melakukan aktivitas lebih mudah.

* Usia di atas enam bulan.
Bayi tidak terlalu ringkih lagi, tulang dan ototnya semakin kuat sehingga bisa menggendong dengan banyak posisi. Misalnya, didudukkan di depan dada dengan satu tangan menyangga bokong dan tangan lain melingkar di perutnya, posisi duduk dengan tubuh bayi setengah berhadapan dengan tubuh Anda serta kedua tangan menopang bokong dan pinggang bayi, bisa juga menggunakan alat gendong dengan posisi duduk.

Di usia delapan bulan ke atas, orangtua  cukup menggendong jika anak sakit,rewel. Meski begitu, anak juga perlu diberi kesempatan untuk bereksplorasi, entah di kasur atau lantai. Biarkan ia mengeksplorasi segenap kemampuannya, keingintahuannya, dan lingkungannya. Di usia ini bayi sudah bisa merangkak, berdiri, merambat, bahkan berjalan.

(Sumber : Tabloid Nakita/Irfan)




Stop Kecanduan Gadget!




Gadget cerdas Anda memang dapat menghubungkan Anda dengan teman-teman lama, berinteraksi dengan orang baru, bahkan dapat menemukan hubungan dengan kelompok yang lebih besar.

Meski begitu, gadget tak dapat menggantikan interaksi Anda dengan manusia riil yang ada di dekat Anda, terutama pasangan. Sebuah survei di Inggris yang dilakukan baru-baru ini menemukan bukti bahwa gadget ternyata dapat menjadi penghalang Anda untuk melakukan hubungan intim dengan pasangan.

Penelitian yang disponsori oleh salah satu produk kontrasepsi ini menemukan 40 persen responden yang mengaku telah mengesampingkan seks hanya demi panggilan telepon, mengirim pesan, atau sekadar browsing melalui gadget-nya. Bahkan, beberapa responden mengaku bahwa kadang mereka memilih melakukan quickie atau bercinta kilat agar bisa segera membalas pesan yang menumpuk pada gadget mereka.

Menanggapi hasil survei ini, Dr. Mark McCormack, peneliti yang melakukan wawancara mendalam dengan para responden, menyarankan agar para pasangan sebaiknya tidak membawa ponsel, laptop, ataupun tablet ke dalam kamar tidur. Chemistry  atau hubungan emosional yang sesungguhnya datang dari sebuah keintiman.

Memang, sih, kita semua membutuhkan yang namanya teknologi, tapi, bukan berarti harus mengorbankan waktu intim bersama pasangan, kan?

Sumber referensi:

"Parenting Indonesia"

Dasar-dasr Parenting

Diambil dari Dono Baswardono:

Mulailah pagi dengan berpelukan dengan pasangan. Sapalah ia dengan senyum. Tanyakan apakah semalam ia tidur nyenyak. Luangkan waktu 5-10 menit mengobrol hal-hal ringan.
Kesibukan dan kerepotan pagi hari? Ah itu takkan menjadi lebih berat hanya dengan Anda berdua mengobrol sepuluh menit. Malah akan terasa ringan dan membahagiakan sepanjang hari jika Anda mengawali hari dengan saling memberi dukungan emosional.

Sebaliknya, jika Anda langsung sibuk begitu bangun tidur, pekerjaan rasanya tidak ada habis-habisnya sementara energi mental terasa cepat terkuras. Dan ini, bakal terjadi sampai 5, 10, 20, bahkan 40 tahun mendatang. Maukah waktu perkawinan dan keluarga Anda lebih banyak dihabiskan untuk membereskan pekerjaan yang tak kunjung usai?

Sebaliknya, dengan saling mengasihi, saling peduli, hubungan Anda berdua akan menjadi pondasi positif bagi hubungan Anda pribadi dengan anak maupun hubungan orangtua dengan anak. Bagaimana mungkin Anda meminta anak-anak saling sayang dengan saudaranya jika Anda dan suami/istri seperti musuh?
Dengan sepuluh menit yang menyenangkan di pagi hari, tugas-tugas Anda di kantor akan terasa lebih mudah. Dengan sepuluh menit yang nyaman di pagi hari, tugas-tugas rumah tangga terasa lebih ringan. (Bahkan besar kemungkinan, "dia" yang selama ini tak bersedia membantu, pelan-pelan akan mulai bersedi bekerjasama.)

AJARI ANAK MANDIRI

Banyak orang tua yang ingin memanjakan anaknya agar anaknya merasa disayang. Adakah orang tua yang masih menyuapi anak Anda yang sudah hampir masuk SD? Atau masih harus mengumpulkan pakaian kotor di kamar si kakak yang sudah kelas 5 SD?

‘Melayani’ anak sebetulnya adalah hal yang baik, jika sesuai dengan aturannya. Jika anak sudah terlanjur dimanjakan oleh ‘pelayanan’ orang tua terhadapnya, maka Anda harus segera mengubah kebiasaan itu.

Tidak perlu terus memarahinya atau terlalu larut menyalahkan diri sendiri, Ma. “Tidak ada yang terlambat,” jelas Herdina. Ajak anak berbicara tentang apa yang sebaiknya diperbaiki dan sekarang adalah saatnya untuk memulai cara yang baru. Herdina menyarankan, “Ajari mereka dengan melibatkan pada aktivitas di area sekitarnya, misalnya menjemur handuk setelah digunakan, membereskan tempat tidurnya, mencuci peralatan makan sendiri, dsb.

Berikan konsekuensi negatif jika ia tidak mematuhi. Misalnya, jika ia tidak mencuci peralatan makannya sendiri, ia tidak akan menemukan piringnya karena masih kotor dan dan terongok di tempat cuci piring.

Diambil dari Parenting.co.id