Loading

Slide Bar

Share

ANAKKU AKAN MENIKAH....

Melihat bagaimana anak bertumbuh dan berkembang menjadi sebuah kebahagiaan sekaligus kebanggan tersendiri bagi orangtua.  Hingga pada saatnya anak kita semakin dewasa dan siap untuk memasuki hidup berumah tangga yang mandiri. Anakku akan menjadi seorang suami (istri), akan menjadi seorang ayah(ibu)!. Siapkah kita untuk memasuki saat-saat itu? Bagaimana kita seharusnya bersikap dan menempatkan diri? Bagaimana dengan perasaan kehilangan akan dia?

Anak akan meninggalkan ibu dan ayahnya.dalam arti sebuah kemandiiran. Kemandirian untuk mengambil keputusan bersama pasangannya. Kemandirian untuk membiayai hidup rumah tanggahnya. Kemandirian untuk mengelola kehidupan rumah tangganya. Kemandirian untuk mendidik anak-anaknya. Orangtua sebenarnya sedang dalam masa menuai hasil didikan yang telah ia berikan selama ini, kini akan berjalan berdasarkan segala didikan yang telah ia dapat. Tangan orangtua telah melepas dan mempercayai bahwa kehidupan akan membentuk dan membimbing dia menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri.

Peran orangtua dalam menolong anaknya untuk dapat mencapai kemandirian untuk menikah:

  1.  Selalu menekankah kepada anak tentang tujuan pernikahan yang suci dan sakral.
  2.  Memilih pasangan yang seimbang dan seiman.
  3. Apakah pada saat pacaran hubungan itu dilandasi oleh dua cinta yang sama?  Jangan sampai           satu sangat mencintai dan yang satu sangat bergantung kepada pasangannya. Tidak seimbang.
  4.  Bersedia menikmati waktu luang bersama?  Memang tidak ada pasangan yang mempunyai  hobby atau keinginan yang sama. Tetapi apakah yang satu dapat memulai kebersamaan dan  mencocokkan diri dalam perbedaan dan saling menghargai.
  5.  Apakah teman kita dapat diterima oleh pasangan kita dan sebaliknya.
  6.  Nilai moral: menjadi nilai yang paling esensial atau poros dari semua yang ada.
  7.  Dapat menghargai menerima dan menghargai keluarga masing-masing.
  8.  Perbedaan ekonomi yang mencolok
  9.  Apakah dapat menyelesaikan masalah secara bersama-sama.  Konsep bahwa hubungan yang sehat    adalah hubungan yang bebas dari pertengkaran. Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang bebas    dari pertengkaran, dan juga bukan yang sarat dengan pertengkaran. Keduanya tidak sehat.    Indikasi hubungan sehat adalah kadang-kadang ada pertengkaran, tapi pasti bisa diselesaikan.    Kuncinya adalah justru bisa diselesaikan bersama-sama, dituntaskan dengan pengampunan dan    penerimaan.

SIAPKAN ANAK HADAPI DUNIA DENGAN MAINAN

Pergeseran fungsi ,bentuk dan tujuan dibuatnya mainan  sungguh terus bergulir dari tahun ke tahun.Zaman bergerak maka wujud mainan pun terus berubah.

Jika boleh kembali ke masa kecil saya, seingat saya mainan itu sangat primitif.  Terbuat dari kayu, seperti dakon, kelereng, boneka ,  parcel pun bentuknya masih sangat sederhana. Bahan-bahan serta bentuknya sangat sederhana dan boleh dikatakan tak menarik.  Bagi saya adalah senang karena dapat berkumpul, bersosialisasi dengan teman-teman sebaya ketika saya bermain dengan mainan itu.

Zaman telah makin maju.  Produsen mainan tidak lagi menciptakan mainan sekedar untuk dijual agar laku. Tapi di suatu industri mainan anak telah melakukan riset pengembangan mainan di Play Lab Fisher Price, di Amerika Serikat.

Pengembangan sangat mengedepankan apakah mainan itu aman dibawa kemana pun, apakah mainan itu dapat mengedukasi dengan belajar bermain dengan mainan dan belajar bermain itu mempunyai dampak dan sangat penting di masa depan.  Ada tiga elemen penting dalam pembuatan atau design mainan mampu membuat  imajinasi, berbahasa, motorik dan kemampuan  motorik. Aspek yang paling penting adalah pendidikan dan keamanan.

Sangat serius adalah keamanan dari mainan yang akan dijual sangat dikedepankan .   Bahkan untuk dapat membuktikan keamanannya, maka model-model mainan itu seperti "disiksa" beragam alat.  Tombol pada mainan ditarik berkali-kali bahkan berkuatan tenaga bayi dan tidak ada bagian yang lepas sehingga rawan ditelan oleh anak kecil. Unsur-unsur yang menjadi pertimbangan untuk keamanan adalah tekstur, ukuran produk tidak boleh terlalu kecil, warna.

Fungsi mainan dapat tercapai  sesuai tujuannya jika peran orangtua dalam menentukan jenis mainan bagi anaknya.  Orangtua Indonesia  semakin melek gadget dan terdesak serta terintimidasi oleh anaknya untuk membelikan anaknya mainan  gadget atau mainan yang membawa kekerasan bagi anak, seperti mainan pistol, pedang, bahkan lebih suka membelikan gadget Ipad, game dan lain-lain.

Selain pentingnya orangtua dalam memilih mainan, ada lagi tips yang penting bagi orangtua untuk ikut bermain bersama anak, tidak cukup menghadiahkan mainan lalu membiarkan anaknya asyik main sendiri.

Mari orangtua menyiapkan mainan yang dapat merangsang tumbuh kembang anak dan sediakan ruang yang aman dan waktu untuk bermain bersama anak.... Tempat dan waktu bermain adalah waktu yang menyenangkan..Selamat bermain.

Menghadapai sulitnya “anak remaja” yang bergejolak



Sering saya mendengar orangtua mengeluh:  “Dulu anak saya sangat manis ketika masih kecil, sekarang senang melawan, memberontak dan tak mau menurut”
Dunia remaja penuh dengan dinamika dan gejolak.  Para remja ingin menunjukan identitas diri, ingin diakui oleh orangtua maupun teman-temannya, ingin menonjol di antara teman-temannya.  Ingin les gitar, ingin les piano, ingin les komputer, ketika diberikan, stop setengah jalan.. Tidak dilanjutkan kembali.   Sebagai orangtua tentunya tak memahami apa sebenarnya keinginan dan kebutuhan anak ?

Definisi Penerimaan Sosial Bagi Remaja
Dunia remaja dituntut untuk menguasai berbagai macam ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya.  Ketrampilan sosial dan penyesuaian sosial ini sangat penting bagi anak masa remaja.  Anak remaja memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dan dia dipengaruhi oleh teman dan lingkungan sosial dimana dia bergaul.   Inilah yang disebut psikososial.  Agar dia diterima, tentu dia harus belajar ketrampilan sosial.  Masa adaptasi inilah yang paling sulit dialaminya.

Definisi pacaran
Remaja mulai dengan hubungan intim dan kental dengan teman wanita bila anak itu pria , atau teman laki bila anak itu wanita.  Pengetahuan tentang kapan anak dapat berpacaran. Sebaiknya pada usia 20 tahun . Definisi pacaran adalah mempersiapkan diri untuk memasuki jenjang ke perkawinan.  Sebaiknya anak remaja harus mengetahui persiapan mental, phisik, tanggung jawab sebuah perkawinan jika dia sudah mulai pacaran.

Perkembangan Psikologi Remaja
Masa transisi dari anak-anak menjadi remaja, adalah periode yang sering disebut “badai dan topan”, dimana ketegangan emosi yang meninggi karena perubahan phisik dan kelenjar. Emosinya sering meledak-ledak sulit dikendalikan, cepat depresi (putus asa, sedih), melawan, memberontak.  Emosi ini disebabkan konflik peran yang sedang dialami remaja.  Perkembangan psikologis ini ditekankan pada keadaan emosi remaja

Menangani Remaja

  • Memahami emosi dan perkembangan psikologis remaja

  • Memberikan waktu untuk tenang jika ada masalah

  • Memberikan dan menuangkan dalam komunikasi  “Kamu sedih kamu tidak dapat mendapatkan apa yang kamu inginkan, meraih angka baik walaupun kamu sudah belajar”

  •  Memahami kekecewaannya:  “Mamah dan papah memahami betapa kecewanya kamu, usahamu sudah maksimal tetapi tidak dapat angka seperti yang engkau harapkan”

  • Memberikan harapan atau solusi sesuai dengan keinginan dan kebutuhan remaja: “Jika ada hal yang bisa mamah/papah bantu untuk lebih memaximalkan atau memperbaiki angkamu, dengan senang hati mamah/papah bersedia bantu” 





MEMBANGKITKAN SELERA BELAJAR

Jika ditanyakan kepada anak apakah dia senang untuk belajar di sekolah?
Sebagian besar akan menjawab dengan absolut "tidak".

Mengapa anak tidak menyukai belajar di sekolah?
Ada banyak hal mengapa anak tak suka belajar:

  • Pelajaran membosankan.

  • Guru tidak dapat memberikan penjelasan atau bimbingan

  • Mata pelajaran atau materi  hanya bersifat teori saja

  • Tak ada kaitan teori dengan dunia nyata.

  • Tak memiliki tujuan atau motivasi belajar.

  • Tak ada suasana belajar yang menyenangkan.

  • Tak ada appresiasi baik dari guru maupun orangtua jika anak dapat melalui proses belajar dengan baik.
Begitu banyak alasan mengapa anak tak mau belajar. Tetapi seringkali orangtua tak punya memahami alasan
yang diberikan anaknya.  Pemahaman dan pengertian orangtua tentang belajar itu adalah keharusan.  Keharusan karena hanya dengan belajar , masa depan anak akan jelas, sukses, berhasil.


Terjebak dengan pemahaman dengan berhasil atau sukses belajar akan menjadi sukses di masa depan.

Namun sebaliknya, bila anak memiliki selera belajar yang tinggi maka banyak benefit yang akan ia dan orangtua dapatkan.
Bagi orangtua diantaranya :
  •  Merasa lebih bahagia melihat buah hatinya berprestasi
  •  Merasa lega karena mampu dengan baik memerankan peran sebagai orangtua yang ideal buat anak  anaknya
  •  Merasa tenang karena melihat sikap dan prilaku anak yang positif
  •  Merasa lebih nyaman karena terjalin relasi yang harmonis dengan anak – anak
  •   Merasa lebih aman karena memiliki pondasi keluarga yang kokoh ( jauh dari konflik )

Bagi anak, benefitnya adalah :
  •  Mereka mempunyai kesempatan yang luas untuk mengembangkan passionnya ( minat + bakat )
  •  Mereka merasa berharga sebagai manusia karena dipahami atas keinginan / harapan masadepannya
  •  Mereka merasa ” eksis “, karena memiliki otoritas atas dirinya, atas jalan hidupnya
  •  Mereka merasa aman dan nyaman untuk berkreasi pada passionnya, sehingga berkesempatan mencapai puncak kesuksesan dirinya
  • Mereka lebih kuat dan tahan terhadap tantangan, seberat apapun…karena yang mereka perjuangkan adalah pilihan hidupnya. Jadi tidak ada perasaan terpaksa melakukannya ( tidak seperti kalau hal itu adalah pilihan orangtua )
Cara meningkatkan selera belajar anak adalah:
  •  Melatih anak untuk menemukan min. 10 hal yang menarik dari setiap mata pelajaran
  •  Melatih dan berdiskusi dengan anak, apa tujuan dan manfaat belajar dari setiap matapelajaran bila  dikaitkan dengan kehidupan sehari – hari
  •  Menyediakan suasana belajar yang kondusif / playfulness / bebas dari tekanan
  •  Membantu anak untuk belajar menganalisa, “ Apa sebab / latarbelakang mereka tidak selera belajar ? Apakah masalahnya berkaitan dengan strategi belajar atau emosi ? “
  • Memfasilitasi anak mengatasi masalahnya. Bila masalahnya strategi maka carikan profesional yang  expert dalam hal strategi belajar ( mis. success coach ), bila masalahnya emosi maka carikan profesional yang expert  dalam hal emosi ( mis. hipnoterapist )

SIKAP TEGUH ORANGTUA DALAM MENGHADAPI ANAK "NAKAL"

Ketika orangtua menghadapi seseorang anak yang dianggap "nakal" , tidak mau menurut, tidak mau belajar, seringkali bolos sekolah, orangtua mengambil sikap yang tak teguh.   Orangtua merasa tidak sanggup  mengatasi anak yang sangat nakal itu. Sikap yang diambil oleh orangtua dapat menjadi dua hal, sebagian merasa lebih baik bersikap acuh dan tidak peduli terhadap masalah anaknya. Atau sikap yang lain, orangtua menekan atau menghadapinya dengan kekerasan.

Jika orangtua memilih salah satu dari dua hal itu, maka terjadilah resiko yang akan menjadi buruk.


Berikut adalah resiko yang terjadi:
 Relasi buruk antara orangtua dan anak
  •  Akibat relasi buruk, komunikasi terputus ( tertutup pada orangtua )…sehingga anak semakin  kehilangan figur yang sesungguhnya sangat mereka butuhkan untuk mengawal perjalanan hidupnya
  •  Terjadi persepsi yang merugikan antara orangtua dan anak. Akibatnya baik pihak orangtua maupun anak, muncul kecemasan, merasa kurang berharga dan hidupnya dalam kendali orang lain ( bukan dalam dirinya sendiri )
Akibat hal-hal diatas, orangtua merasa hidupnya tidak bahagia, karir maupun kesehatan terganggu dan kesulitan dalam bersosialisasi

Sedang yang terjadi pada anaknya, yaitu : muncul keyakinan kalau dirinya tidak layak sukses, tidak memilik keyakinan pada diri sendiri, tidak punya harga diri, merasa terbuang / sendiri dll

Cara untuk tetap persistence/teguh :
  1. Ambil kertas dan ballpoint, tuliskan min. 20 hal positif yang ada di dalam diri anak. Kemudian mulai saat ini dan seterusnya, lihatlah anak dengan “ kaca mata 20 hal positifnya “ itu. Dan sadarilah satu fakta bahwa nilai hidup / masadepan anak jauh lebih bernilai dibanding masalah anak
  2.  Lakukan self talk : 
  • -Kejadian apa yang membuat Anda mulai melebeli anak Anda “ super nakal “ ?
  •  Saat kejadian itu, perasaan apa yang Anda rasakan pada diri Anda ?
  •  Setelah mendapatkan apa perasaan Anda itu, tanyakan pada diri Anda…                                       sebenarnya perasaan ini muncul karena Anda sendiri yang memutuskan untuk muncul atau anak     Anda yang meminta Anda untuk memunculkan ?
  •  Kalau jawabannya adalah Anda sendiri yang memutuskan perasaan itu muncul, maka siapa             sebenarnya yang bertanggungjawab atas perasaan itu ? Anda atau anak Anda ?
  •  Kalau jawabannya adalah Anda sendiri, maka siapa juga sebenarnya yang bisa memutuskan           untuk melepaskan perasaan itu…Anda sendiri atau anak Anda ?
  •   alau jawabannya adalah Anda sendiri, maka…apa keputusan Anda, mau dilepas atau mau           dibiarkan ?
  •  Kalau jawabannya mau dilepas, maka silahkan Anda tutup mata dan munculkan niat yang besar     untuk melepaskan…selesai
  •  Lakukan afirmasi positif setiap pagi, mis : “ Saya adalah ayah / ibu yang berharga “ selama 21 hari tanpa putus. Katakan di depan cermin dengan suara yang ada tekanan nadanya, sambil menempelkan telapak tangan di dada ( jantung ) dan juga rasakan … perasaan menjadi ayah / ibu berharga

"KEMANDIRIAN UTUH"

Bukan hal yang mudah membuat  “kemandirian” seorang anak.   Utamanya banyak orangtua, baik ibu maupun ayah yang belum memahami secara utuh apa yang dimaksud dengan kemandirian total. Mungkin pemahaman mereka hanya sebatas “mandiri secara phisik”.

MITOS LAMA MENGENAI MANDIRI
Dengan membanggakan diri seorang ibu mengatakan bahwa anaknya telah dididik dari kecil untuk dapat  makan, mandiri, belajar, membersihkan kamar ,  bahkan membantu ibunya untuk pekerjaan di dapur atau pekerjaan rumah tangga, menyapu, mengepel.
Kemandirian di atas adalah “Kemandirian phisik”.   Anak-anak diajarkan  sedari kecil untuk melakukan keperluan dirinya dengan sedikit arahan dari ibu/ayahnya.   Kemandirian “Phisik” sangat berguna ketika nanti anak menghadapi  dunia nyata, harus belajar di luar kota atau bekerja .  Dengan kebiasaan mandiri phisik sejak kecil, anak dengan mudah melakukakannya.  Tidak bagi mereka yang tidak biasa “Mandiri secara phisik”, mereka akan kaget, sulit adaptasi karena tidak terbiasa melakukan hal-hal yang mudah tetapi tidak pernah dilakukannya.

MANDIRI SECARA UTUH
Ketika seorang anak  telah terbiasa dengan “Mandiri phisik”,  terlebih orangtuanya bekerja  , maka segala keperluan dirinya harus dilakukan sendiri.
Namun, suatu hari, anak itu, katakan namanya “Dina”, mengatakan kepada orangtuanya, ada 3-5 temannya yang nilai akademisnya lebih tinggi dan bertindak curang kepada dirinya.  Dina tak merasa menerima jika ada orang lain yang lebih baik darinya.   Lalu dengan alasan itu, dia merasa berhak marah dan merasa haknya dicurangi.  Tentu saja, orangtuanya merasa tidak nyaman dengan sikap anak itu.  Apakah pernyataan Dina memang benar atau itu hanya suatu  ilusi dari keinginan yang tak terpenuhi?
Mandiri dalam arti luas atau utuh adalah mandiri yang dilakukan melalui kebebasan berpikir, kebebasan menenutkan perasaan , atau merasakan kebebasan untuk mengontrol atas dirinya sendiri, memiliki otoritas atas dirinya bukan dikontrol oleh orang lain.
Dalam kasus diatas,  Dina sebagai seorang anak, ingin menguasai emosi dirinya yang belum stabil dengan mengintervensi  perasaan orangtuanya.   Dia belum dapat menguasai dirinya, apalagi mengontrolnya.   Dipakainya alasan oranglina adalah bagian dari ilusi dari kelemahan dirinya yang belum mandiri.

PENGHAMBAT SEORANG ANAK UNTUK MANDIRI UTUH
Salah satu sebab utamanya adalah orangtua tidak memberi kesempatan pada anak – anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri.
Hal ini karena masih banyak orangtua :
• Tidak yakin dengan kemampuan anaknya
• Ada perasaan cemas / khawatir yang besar pada keselamatan anaknya
• Tidak mau tergesa – gesa memberi kepercayaan pada anak ( nanti anak saya “besar kepala” )
• Mau menunjukan sikap otoritas orangtua yang tinggi pada anaknya
• Mengabaikan kebutuhan emosi anak, yaitu perasaan diakui atas kemampuannya


CARA EFEKTIF MELATIH ANAK MENJADI MANDIRI
• Memenuhi kebutuhan emosi anak, yaitu ” Otoritas Diri ” . Agar anak merasa bisa / mampu
contoh : Beri kesempatan anak untuk ambil keputusan sendiri ( selama tidak membahayakan / merugikan dirinya dan orang lain )
• Dalam hal melatih anak untuk menguasai ketrampilan baru ( Agar anda yakin dengan kemampuan anak anda ), inilah langkahnya :
- Memberi gambaran yang jelas terlebih dulu, anak-anak hanya memperhatikan
- Memberi mereka kesempatan untuk terlibat, dibawah bimbingan orangtua
- Memberi mereka kesempatan untuk melakukannya sendiri
- Memberi mereka kepercayaan untuk melakukannya sendiri



PERCAYA DIRI



Suatu ketika seorang balita, sangat cerdas, berbakat  tenis sejak kecil.  Tiba-tiba dia tak lagi mau berlatih tenis, prestasi sekolahnya pun menurun.   Sang ibu sangat gusar dan mencoba mencari apa penyebab sang buah hati menjadi demikian. Penyebabnya  hampir tak dimengerti oleh ibu tersebut .   Tanpa disadarinya dia sering memarahi dan menuntut serta memberi kritikan yang pedas  ketika hasil atau latihan tenis anak tidak baik. Bahkan ketika guru les memberikan laporan kepada ibunya bahwa sang anak mulai tidak mempunyai perhatian untuk belajar, ibu segera bereaksi untuk memarahi anak.

  Bukan kritik yang membangun yang diberikan. Tapi kritik pedas dan makian serta marah yang diberikan oleh ibu membuat anak tak punya percaya diri kepada kemampuan yang dia miliki.  Sayang bukan?