Loading

Slide Bar

Share

Stop Kecanduan Gadget!




Gadget cerdas Anda memang dapat menghubungkan Anda dengan teman-teman lama, berinteraksi dengan orang baru, bahkan dapat menemukan hubungan dengan kelompok yang lebih besar.

Meski begitu, gadget tak dapat menggantikan interaksi Anda dengan manusia riil yang ada di dekat Anda, terutama pasangan. Sebuah survei di Inggris yang dilakukan baru-baru ini menemukan bukti bahwa gadget ternyata dapat menjadi penghalang Anda untuk melakukan hubungan intim dengan pasangan.

Penelitian yang disponsori oleh salah satu produk kontrasepsi ini menemukan 40 persen responden yang mengaku telah mengesampingkan seks hanya demi panggilan telepon, mengirim pesan, atau sekadar browsing melalui gadget-nya. Bahkan, beberapa responden mengaku bahwa kadang mereka memilih melakukan quickie atau bercinta kilat agar bisa segera membalas pesan yang menumpuk pada gadget mereka.

Menanggapi hasil survei ini, Dr. Mark McCormack, peneliti yang melakukan wawancara mendalam dengan para responden, menyarankan agar para pasangan sebaiknya tidak membawa ponsel, laptop, ataupun tablet ke dalam kamar tidur. Chemistry  atau hubungan emosional yang sesungguhnya datang dari sebuah keintiman.

Memang, sih, kita semua membutuhkan yang namanya teknologi, tapi, bukan berarti harus mengorbankan waktu intim bersama pasangan, kan?

Sumber referensi:

"Parenting Indonesia"

Dasar-dasr Parenting

Diambil dari Dono Baswardono:

Mulailah pagi dengan berpelukan dengan pasangan. Sapalah ia dengan senyum. Tanyakan apakah semalam ia tidur nyenyak. Luangkan waktu 5-10 menit mengobrol hal-hal ringan.
Kesibukan dan kerepotan pagi hari? Ah itu takkan menjadi lebih berat hanya dengan Anda berdua mengobrol sepuluh menit. Malah akan terasa ringan dan membahagiakan sepanjang hari jika Anda mengawali hari dengan saling memberi dukungan emosional.

Sebaliknya, jika Anda langsung sibuk begitu bangun tidur, pekerjaan rasanya tidak ada habis-habisnya sementara energi mental terasa cepat terkuras. Dan ini, bakal terjadi sampai 5, 10, 20, bahkan 40 tahun mendatang. Maukah waktu perkawinan dan keluarga Anda lebih banyak dihabiskan untuk membereskan pekerjaan yang tak kunjung usai?

Sebaliknya, dengan saling mengasihi, saling peduli, hubungan Anda berdua akan menjadi pondasi positif bagi hubungan Anda pribadi dengan anak maupun hubungan orangtua dengan anak. Bagaimana mungkin Anda meminta anak-anak saling sayang dengan saudaranya jika Anda dan suami/istri seperti musuh?
Dengan sepuluh menit yang menyenangkan di pagi hari, tugas-tugas Anda di kantor akan terasa lebih mudah. Dengan sepuluh menit yang nyaman di pagi hari, tugas-tugas rumah tangga terasa lebih ringan. (Bahkan besar kemungkinan, "dia" yang selama ini tak bersedia membantu, pelan-pelan akan mulai bersedi bekerjasama.)

AJARI ANAK MANDIRI

Banyak orang tua yang ingin memanjakan anaknya agar anaknya merasa disayang. Adakah orang tua yang masih menyuapi anak Anda yang sudah hampir masuk SD? Atau masih harus mengumpulkan pakaian kotor di kamar si kakak yang sudah kelas 5 SD?

‘Melayani’ anak sebetulnya adalah hal yang baik, jika sesuai dengan aturannya. Jika anak sudah terlanjur dimanjakan oleh ‘pelayanan’ orang tua terhadapnya, maka Anda harus segera mengubah kebiasaan itu.

Tidak perlu terus memarahinya atau terlalu larut menyalahkan diri sendiri, Ma. “Tidak ada yang terlambat,” jelas Herdina. Ajak anak berbicara tentang apa yang sebaiknya diperbaiki dan sekarang adalah saatnya untuk memulai cara yang baru. Herdina menyarankan, “Ajari mereka dengan melibatkan pada aktivitas di area sekitarnya, misalnya menjemur handuk setelah digunakan, membereskan tempat tidurnya, mencuci peralatan makan sendiri, dsb.

Berikan konsekuensi negatif jika ia tidak mematuhi. Misalnya, jika ia tidak mencuci peralatan makannya sendiri, ia tidak akan menemukan piringnya karena masih kotor dan dan terongok di tempat cuci piring.

Diambil dari Parenting.co.id

MENGATASI KONFLIK DALAM KELUARGA

edukasi kompasiana.com

Di keluarga tak pernah lepas dari konflik. Baik itu antar anggota keluarga sendiri atau antar antar individu di luar keluarga. Sebenarnya sumber dari konflik adalah komunikasi yang tak lancar, efektif , salah persepsi dan salah paham dari masing-masing individu.

Pembahasan kali ini dibatasi dengan konflik dalam keluarga. Konflik dalam keluarga yang biasanya bisa terjadi antar ayah-ibu, ayah/ibu dengan anak-anak, atau antar anak.

Apakah konflik itu tidak baik?
Selama dalam hidup, manusia selalu hidup dalam konflik.  Awal mulanya konflik dengan dirinya sendiri, lalu dengan orang lain.  Tetapi sebagai bagian dari keluarga, tentu kita tak bisa melawan atau mengelak dari apa yang namanya konlfik.  Konflik itu alami karena manusia itu saling berbeda watak,karakter, kepribadiannya. 

Contoh konkrit dari seorang istri yang introver, senang kepada kesunyian dan ketenangan. Namun, ketiga anaknya adalah seorang ekstrovert dan sangat senang  berbicara.  Rumahnya menjadi sarang bagi teman-teman anaknya.  Ketika mereka datang, rumah ramai sekali. Ketika teman-teman anaknya pulang, rumah sunyi senyap, ibu harus membereskan rumah sendiri tanpa dibantu oleh anaknya.  Akhirnya, terjadi konflik antara ibu dan anak-anaknya.  Jika masing-masing mementingkan egonya, tak pernah menyesuaikan diri dan mengerti , memahami karakternya dan membuat suasana lebih cair agar konflik itu dapat diselesaikan dengan baik, maka yang terjadi konflik berkepanjangan.

Konflik juga dapat disebut Netral:
Artinya tidak baik dan tidak buruk.   Jangan memandang suatu konflik adalah suatu hal yang buruk atau negatif.  Apabila konflik muncul dalam pikiran kita, maka kita harus menelaah dulu apakah itu karena :  frustrasi yang terjadi berulang kali

  • Orangtua yang sulit diajak bicara
  •  Kemarahan yang tak terkendali
  •  Harapan yang tidak realistis
  •  Pertengkaran
  •  Perdebatan
  •  Kepahitan
  •  Perang dingin

Menghindari konflik bukan jalan keluar untuk tidak berkonflik.  Lebih baik berkonflik dengan cara netral.  Artinya  berdampak positif pada diri anda sendiri dan hasil positif dari konflik:
Pemahaman yang lebih baik akan diri Anda dan orang lain
Ide-ide baru
Hubungan yang leibh sehatg
Saling Menghormati
Perspektif yang baur
Kesadaran diri yang lebih besar
Komunikasi yang lebih baik
Membantu kita lebih kuat secara emosi
Jangan takut menghadari konflik. Menghadapinya dengan tidak menghancurkan hbuungan . Kegagalan kita untuk menangani konflik justru akan menghancurkan. Sambut dengan cara belajar menanangani konflik dan memulihkan diri.



Penyebab Konflik
Masalah konflik dalam keluarga biasanya dapat diidentifikasi secara garis besar dan hal itu akan berulang terjadi dalam kisaran penyebab yang sama.
Isu-isu yang muncul dalam konflik adalah:
  • Kebiasaan vs kontrol
  • Kebersihan kamar
  • Tuntutan untuk rajin belajar
  • Pemakaian handphone
  • Penggunaan komputer
  • Memperoleh ranking yang tinggi
  • Jalan-jalan dengan teman
  • Berselisih pendapat dengan orangtua

Solusi dari konflik dengan isue yang sama.

Pada saat konflik terjadi, kita harus mundur sampai emosi kuat mereda
Seiring waktu kita dapat berkomunikasi lebih rasional
Bersikap kreatif untuk menangani konflik dengan hal yang sama


Pemulihan konflik:

Ketika terjadi konflik, hati orang yang berkonflik akan luka. Kedua belah pihak merasakan pahit hatinya.  Apabila itu terjadi perang dingin, berpikir bahwa itu akhir dari relasi.  Yang penting perdamaian terjadi .  Perasaan harus dibukakan dengan permintaan maaf terlebih dahulu, keangkuhan dihilangkan, dan menerima bahwa  tidak ada lagi kemarahan,kebencian,kekecewaan.

Untuk pemulihan konflik, berikut adalah hal yang perlu dipulihkan terlebih dahulu:

Menyimpan kepahitan dan kebencian , akan berakibat relasi tidak sehat di masa mendatang.
Menderita kelelahan emosional pribadi, bahkan depresi.
Memiliki pandangan hidup yang berpusatkan diri sendiri, kepentingan diri dalam pengambilan keputusan.
Mengkritisi  satu sama lain secara tidak produktif.
Merosot dalam kejiwaan karena sini sinis terhadap hidup orang lain.

Pemulihan terdari dari tiga tahap:
  • Pemulihan  diri sendiri
  • Pemulihan hubungan
  • Pemulihan Keluarga

Pemulihan diri sendiri:

Proses memulihkan penghargaan diri, kehormatan orangtua dan anak. Meningkatkan pertumbuhan diri untuk memperdalam hubungan orangtua anak dan menangani masalah konflik mendatang secara efektif.

Pemuliahn hubungan dapat terjadi saat ketika orangtua dan anak mulai proses memupuk keinginan akan hubungan yang terus sehat, memulihkan keinginan  hubungan yang sehat, membangun hubungan  baru dan menjadi individu yang produktif.

Pemulihan keluarga dengan membangun kembali kepercayaan keluarga dengan mengatasi kejatuhan, pertikaian , sinisme,membawa sukacita dalam keluarga.

Siapa yang dapat membantu memecahkan konflik?
Para profesional seperti psikolog, pendeta, ustaz
Bantuan pihak ketiga sangat penting karena mereka akan lebih objektif menilai dari dasar konflik dan menengahi serta bantu memulihkannya.

Pengungakapan yang sehat:

Tidak perlu bersikap pura-pura, menyembunyikan bahwa dalam keluarga sedang ada dalam konflik.  Apbila ini terjadi maka sumber konflik itu akan meletus bagaikan bom besar dan akan menerjang seluruh sendi-sendi keluarga.
Lebih baik sedini mungkin diungkapkan dengan cara menangani konflik dengan efektif.

Manajemen pemulihan konflik secara efektif:
Faktor 1: Nilai yang bertentangan dan bertolak belakang:
Orangmuda lebih menyukai dan menghargai  nilai kebebasan, persahabatan, kesenangan.
Orangtua lebih menghargai ,kerja keras, kejujuran, kehormatan. 
Apabila nilai-nilai itu tak dihormati atau dipahami satu sama lain, terjadi gesekan satu sama lain terus menerus, akibatnya masing-masing pihak menjadi “duri” dalam daging pihak lain.

Faktor 2: Kebiasaan yang mengganggu dan menjengkelkan
Disebut juga fenomena “”kamar berantakan”.
Anak suka membuang bajunya sembarangan, sementara orangtua senang merapikan baju. Terjadilah adu argumentasi yang membawa masing-masing kepada keteguhannya.  Bersikaplah untuk tidak saling berteguh, tetapi saling memberikan jalan keluarnya.

Faktor 3: Harapan yang tesembunyi tidak realistis
Ketika anak menghadapi tekanan dari orangtua yang mengharapkan yang tidak realistis.
Harapan  orangtua:
Ranking tinggi
Bertanggung jawab dengan budget
Bagaimana mengatur waktu main dan belajar
Berpakain sopan
Masuk sekolah top

Harapan anak:
Orangtua mengerti bahwa anak suka didengarkan pada saat berbicara
Memberikan izin untuk pergi bersama teman-teman kapan pun
Memperbolehkan untuk bermain game
Mengaru waktu , nonton tv
Membiarkan berpakain, rambut, gaya yang sedang tren


Faktor 4: Pola komunikasi tidak efektif dan negatif
Masalah utama dalam komunikasi tidak efektif dan negafit adalah orang banyak bicara seidkit berpikir. Mereka bertindak secara impulsif tanpa berpikir. Saya selalu coba untuk berpikir sebelum bicara.


Faktor 5:  Kepentingan berbeda dan berkonflik:
Perbeidaan yang jujur seringkali tanda yang sehat dari kemajuan.  Anak suka clubbing, sedangkan orangtua takut anak kecanduan pesta dan pengaruh godaan seksual di tempat tersebut.   Hanya dengan memeriksa diri secara jujur, ktia dapat mengaku  dan mengoreksi diri menjadi lebih berpusat kepada orang lain.

Fkto 6: Bias dan berprasangka negatif
Berprasangka adalah gembok-gmbok ata spintu kebijasanaan.
Bias tribusi mendasar
Bias konsesus salah
Bias kesan negatif


Faktor 7:  Imajinasi  tidak kompeten dan buruk dalam pikiran  para orangtua

Peran Keterlibatan Ayah pada Anak di Negara Asia

Diambil dari buku:  ""The Difference a Dad Makes" from Ministry of Social and Family Development:




Bagian kedua:

Penelitian di Singapore menunjukkan bahwa ayah relatif kurang terlibat ketimbang ibu dalam beragam aspek parenting.

  • Penelitian pada 2006 menunjukkan bahwa para ibu tetap menjadi pemberi perhatian kepada anak-anak sepanjang masa kanak-kanak.
  • Penelitian ini menguatkan dengan penelitian terdahulu, pada tahun 1999 yang menyatakan ayah relatif tak terlibat dengan anak-anak, dan menyerahkan tanggung jawab pengasuhan anak-anak kepada ibu.
  • Penelitian 2001 menunjukkan, 748 murid sekolah menanggap ayah mereka kurang hangat dibanding para ibu.

Siapa yang diuntungkan oleh Para Ayah yang Aktif:
 Bukti substansial berbobot dari penelitian internasional menunjukkan bahwa para ayah aktif memberikan  perbedaan yang unik dan krusial:
  • bagi anak dalam aspek sosial, emosional, dan perkembangan kognitif;
  • bagi para ibu sebagai rekan dalam hubungan co-parenting
  • bagi para ayah sendiri dalam perkembangan menuju kedewasaan mereka

Jumlah Waktu yang dihabiskan bersama ayah itu Penting:
Para bayi yang ayahnya terlibay mengayomi, bermain bersama anaknya, hal ini akan mengembangkan IQ anak lebih tinggi, sama halnya dengan kemampuan liguistik dan kognitifnya.

Para bayi yang ayahnya sering terlibat, cenderung merasa leibh aman dan melekat kepada yahnya. Mereka lebih memupnyai rasa ingin tahu, keberanian, percaya diri untuk mengeksplorasi lingkungan dan lebih kompeten breaksi terhadap stimuli baru dan kompleks.

Para balita yang ayahnya terlibat, pada saat bersekolah memiliki kesiapan akademis yang lebih tinggi. Mereka juga lebih sabar, lebih bisa menangani stres, frustrasi terkait urusan sekolah.

Anak-anak yang ayahnya terlibat dalam fase awal kehidupannya (sebelum usia 7 tahun), memiliki prestasi pendidikan yang lebih tinggi pada usia 20 tahun.

Anak-anak yang ayahnya sering terlibat dalam beragam aktivitas seperti makan bersama, menemani mengerjakan pekerjaan rumah, bertamasya bersama keluarga, menunjukkan tingkah laku lebih sedikit dan mempunyai tingkat sosialisasi lebih tinggi, prestasi akademis yang lebih baik.

Kualitas Ikatan Ayah-Anak Merupakan Faktor kunci:
  • Baik anak laki maupun perempuan yang memiliki ayah yang mengayomi, maka mereka lebih punya kepekaan sosial dan tingah laku moral yang positif.
  •  Kaum muda yang merasakan kedekatan dengan ayahnya, menghabiskan lebih banyak waktu untuk mendiskusikan masalah pribadi bergantung nasihat dan tuntunan ayahnya, menerima lebih banyak pujian dan dorongan, tak terjebak dalam penggunaan narkoba.
  • Kaum remaja yang merasakan kedekatan dengan ayahnya, cenderung jarang terjerumus dalam tingkah laku menyimpang dan pengalaman stres secara emosional.
  • Remaja yang mendapatkan dukungan kuat dari para ayahnya jarang mengalami stres secara psikologis. Dukungan, pengasuhan,dan perilaku penuh kasih dari seorang ayah diyakini membantu perkembangan harga diri anak dan meningkatkan kemampuan untuk menangani situasi sulit, sehingga mengurangi dampak kegelisahan dan depresi yang kelak dihadapinya.

Peran Keterlibatan Ayah pada Anak

Diambil dari buku aslinya "The Difference a Dad Makes", MInistry of Social and Family Development


Bagian I:

Pengaruh positif atau keterlibatan seorang ayah dalam kehidupan seorang anak sering dipandang mata. Sama halnya, kita pun tahu bahwa seberapa ayah bisa berpengaruh buruk pada anak dan hal itu sering disepelekan.

Padahal pada akhirnya, pengaruh seorang ayah terhadap anak-anaknya itu sungguh nyata, substansial dan berpengaruh dalam jangka panjang.  Sama halnya ibu, ayah juga sangat berpengaruh.

Manfaat keterlibatan seorang ayah dalam kehidupan anaknya telah dikuatkan dalam sebuah penelitian ilmiah.  Banyak ayah, baik itu sebagai orangtua, berjuang melakukan yang terbaik di tengah situasi sulit.  Beberapa tips agar pengalaman dari beberapa keluarga, menjadikan seorang ayah sebagai teman,sahabat dan bahkan hero bagi anaknya.

Apa yang dimaksud dengan keterlibatan ayah?

1. Hubungan, termasuk interaksi langsung seorang ayah dengan anaknya lewat memberi perhatian dan melakukan kegiatan bersama.

2.Aksebilitas,terkait dengan tersedianya ayah untuk berinteraksi ,apa benar atau tidak interaksi langsung sungguh terjadi; dan

3.Tanggung jawab, yakni peran seorang ayah memenuhi kebutuhan anak akan perlindungan dan pengasuhan.

Dalam setiap kategori tersebut, penelitian fokus pada pemisahan antara jumlah dan kualitas keterlibatan ayah, dan untuk mengukur keterlibatan mutlak seorang ayah sama halnya dengan indikator relatif dalam hubungan dengan seorang ibu.

Memposisikan Para Ayah dalam Kehidupan Keluarga Selalu Berubah:

Kehidupan keluarga telah berubah secara signifikan dalam tiga dasawarsa terakhir. Saat ini,beragam bentuk keluarga telah menggantikan skenario tradisional yang melibatkan ayah sebagai pencari nafkah dan ibu yang berdiam di rumah. Sementara itu, keterlibatan ayah terus tertinggal di belakang para ibu.  Parenting oleh ayah dalam rumah tangga lengkap telah berkembang secara pesat, baik dalam pengertian absolut atau dalam hubungan dengan para ibu.

  • Sebuah penelitian di AMerika Serikat dari keluarga lengkap,ditemuka bahwa pada tahun 1960an sampai 1980an,para ibu berinteraksi 3 kali lebih banyak ketimbang para ayah dengan anak-anaknya, dan 2 kali lebih tersedia ketimbang para ayah bagi anak-anaknya.
  • Sepanjang pertengahan 1980an sampai 1990an, para ibu berinteraksi 2,5 lebih banyak ketimbang ayah dan 1,5 kali lebih banyak waktunya ketimbang para ayah.
  • Pada akhir tahun 1990an para ibu lebih tersedia bagi anak-anaknya 1,3 kali lebih banyak ketimbang para ayah, berinteraksi pada hari biasa 1,5 kali lebih banyak, tapi 1,25 lebih tersedia pada akhir pekan.
  • Perbandingan waktu para ibu dengan anak-anaknya antara 1965-1998 ditemukan cenderung konstan, ini menunjukkan peningkatan keterlibatan para ayah sebagai alasan utama mempersempit gap antara keterlibatan para ibu dibandingkan para ayah.
  • Peran ayah tradisional masih tampak bertahan dalam rumah tangga dan dalam tipe hubungan yang dimiliki sebagian besar anak-anak dengan ayah mereka. Penelitian di Amerika Serikat , rumah tangga yang lengkap menunjukkan bahwa porsi terbesar dari waktu hubungan langsung antara para ayah dan anak ialah saat bermain, aktivitas waktu senggang, termasuk olahraga dan kegiatan di luar ruangan, game elektronik,televisi, aneka hobi lainnya.
  • Para ayah paling sedikit meluangkan porsi waktunya untuk pendidikan dan kegiatan yang ada kaitannya dengan prestasi misalnya membantu mengerjakan pekerjaan rumah dan membacakan buku untuk mereka
  • Kesempatan untuk ikatan ayah-anak dan intimasi juga tampak berkurang seiring anak berkembang lebih dewasa.
  • Total waktu absolut yang dihabiskan oleh seorang ayah dengan anaknya berkurang seiring usia anak bertambah, begitu pula dengan tipe aktivitas hubungan juga berubah. Contohnya, waktu yang dihabiskan dalam permainan aktif seperti kegiatan di luar ruangan dan olahraga berkurang ketika anak bertumbh dewasa, sedangkan waktu yang dihabiskan untuk aktivitas pasif seperti menonton televiis dan video bertambah.

Jadilah Ibu Hebat



Kebahagiaan yang luar biasa bagi seorang perempuan saat dirinya beranjak menjadi seorang istri, lalu menjadi seorang ibu.  Kebahagiaan ini pun terasa semakin bertambah jika dapat memenuhi kebutuhan yang terbaik bagi sang suami dan anak-anak.

Ibu memegang peranan yang sangat penting sebagai penentu keputusan bagi keluarga, terutama dalam menyediakan kebutuhan rumah tangga. Salah satu contohnya membeli segala macam kebutuhan keluarga ketika berbelanja bulanan.

Segala daya kreatif diupayakan ibu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Terlebih lagi jika dana yang ada terbatas. Sedangkan kebutuhan rumah tangga dan keluarga semakin meningkat harganya.

Salah satu daya kreatif yang dilakukan oleh ibu untuk menghadapi tantangan itu adalah menacari produk-produk kebutuhan keluarga yang memiliki nilai (Value for money) dengan manfaat yang tepat.
Menerapkan prinsip value for money berarti ibu telah dapat melakukan efisiensi dan efektivitas dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Penghematan begitu pengertian sederhananya. Meski hemat, bukan berarti kebutuhan yang ada menjadi minim manfaat. Ibu selalu memikirkan secara saksama ketika akn membeli sebuah produk.Berharap ibu tetapi bisa mendapatkan produk yang berkualitas tetapi dengan harga yang lebih terjangkau dan nilai-nilai lebih lainnya.

Harus dipikirkan terlebih matang bahwa kebutuhan gizi dan nutrisi anak setiap bulan harus diutamakan. Terutama khususnya bagi balita, karena susu berperan penting dalam membantu proses tumbuh kembang mereka.

Jadilah ibu terhebat dan terkreatif dalam menciptakan pemenuhan keluarga yang mementingkan nutrisi dan gizi bagi anak tercinta.