Loading

Slide Bar

Share
Tampilkan postingan dengan label Mengatasi Konflik Dalam Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengatasi Konflik Dalam Keluarga. Tampilkan semua postingan

MENGATASI KONFLIK DALAM KELUARGA

edukasi kompasiana.com

Di keluarga tak pernah lepas dari konflik. Baik itu antar anggota keluarga sendiri atau antar antar individu di luar keluarga. Sebenarnya sumber dari konflik adalah komunikasi yang tak lancar, efektif , salah persepsi dan salah paham dari masing-masing individu.

Pembahasan kali ini dibatasi dengan konflik dalam keluarga. Konflik dalam keluarga yang biasanya bisa terjadi antar ayah-ibu, ayah/ibu dengan anak-anak, atau antar anak.

Apakah konflik itu tidak baik?
Selama dalam hidup, manusia selalu hidup dalam konflik.  Awal mulanya konflik dengan dirinya sendiri, lalu dengan orang lain.  Tetapi sebagai bagian dari keluarga, tentu kita tak bisa melawan atau mengelak dari apa yang namanya konlfik.  Konflik itu alami karena manusia itu saling berbeda watak,karakter, kepribadiannya. 

Contoh konkrit dari seorang istri yang introver, senang kepada kesunyian dan ketenangan. Namun, ketiga anaknya adalah seorang ekstrovert dan sangat senang  berbicara.  Rumahnya menjadi sarang bagi teman-teman anaknya.  Ketika mereka datang, rumah ramai sekali. Ketika teman-teman anaknya pulang, rumah sunyi senyap, ibu harus membereskan rumah sendiri tanpa dibantu oleh anaknya.  Akhirnya, terjadi konflik antara ibu dan anak-anaknya.  Jika masing-masing mementingkan egonya, tak pernah menyesuaikan diri dan mengerti , memahami karakternya dan membuat suasana lebih cair agar konflik itu dapat diselesaikan dengan baik, maka yang terjadi konflik berkepanjangan.

Konflik juga dapat disebut Netral:
Artinya tidak baik dan tidak buruk.   Jangan memandang suatu konflik adalah suatu hal yang buruk atau negatif.  Apabila konflik muncul dalam pikiran kita, maka kita harus menelaah dulu apakah itu karena :  frustrasi yang terjadi berulang kali

  • Orangtua yang sulit diajak bicara
  •  Kemarahan yang tak terkendali
  •  Harapan yang tidak realistis
  •  Pertengkaran
  •  Perdebatan
  •  Kepahitan
  •  Perang dingin

Menghindari konflik bukan jalan keluar untuk tidak berkonflik.  Lebih baik berkonflik dengan cara netral.  Artinya  berdampak positif pada diri anda sendiri dan hasil positif dari konflik:
Pemahaman yang lebih baik akan diri Anda dan orang lain
Ide-ide baru
Hubungan yang leibh sehatg
Saling Menghormati
Perspektif yang baur
Kesadaran diri yang lebih besar
Komunikasi yang lebih baik
Membantu kita lebih kuat secara emosi
Jangan takut menghadari konflik. Menghadapinya dengan tidak menghancurkan hbuungan . Kegagalan kita untuk menangani konflik justru akan menghancurkan. Sambut dengan cara belajar menanangani konflik dan memulihkan diri.



Penyebab Konflik
Masalah konflik dalam keluarga biasanya dapat diidentifikasi secara garis besar dan hal itu akan berulang terjadi dalam kisaran penyebab yang sama.
Isu-isu yang muncul dalam konflik adalah:
  • Kebiasaan vs kontrol
  • Kebersihan kamar
  • Tuntutan untuk rajin belajar
  • Pemakaian handphone
  • Penggunaan komputer
  • Memperoleh ranking yang tinggi
  • Jalan-jalan dengan teman
  • Berselisih pendapat dengan orangtua

Solusi dari konflik dengan isue yang sama.

Pada saat konflik terjadi, kita harus mundur sampai emosi kuat mereda
Seiring waktu kita dapat berkomunikasi lebih rasional
Bersikap kreatif untuk menangani konflik dengan hal yang sama


Pemulihan konflik:

Ketika terjadi konflik, hati orang yang berkonflik akan luka. Kedua belah pihak merasakan pahit hatinya.  Apabila itu terjadi perang dingin, berpikir bahwa itu akhir dari relasi.  Yang penting perdamaian terjadi .  Perasaan harus dibukakan dengan permintaan maaf terlebih dahulu, keangkuhan dihilangkan, dan menerima bahwa  tidak ada lagi kemarahan,kebencian,kekecewaan.

Untuk pemulihan konflik, berikut adalah hal yang perlu dipulihkan terlebih dahulu:

Menyimpan kepahitan dan kebencian , akan berakibat relasi tidak sehat di masa mendatang.
Menderita kelelahan emosional pribadi, bahkan depresi.
Memiliki pandangan hidup yang berpusatkan diri sendiri, kepentingan diri dalam pengambilan keputusan.
Mengkritisi  satu sama lain secara tidak produktif.
Merosot dalam kejiwaan karena sini sinis terhadap hidup orang lain.

Pemulihan terdari dari tiga tahap:
  • Pemulihan  diri sendiri
  • Pemulihan hubungan
  • Pemulihan Keluarga

Pemulihan diri sendiri:

Proses memulihkan penghargaan diri, kehormatan orangtua dan anak. Meningkatkan pertumbuhan diri untuk memperdalam hubungan orangtua anak dan menangani masalah konflik mendatang secara efektif.

Pemuliahn hubungan dapat terjadi saat ketika orangtua dan anak mulai proses memupuk keinginan akan hubungan yang terus sehat, memulihkan keinginan  hubungan yang sehat, membangun hubungan  baru dan menjadi individu yang produktif.

Pemulihan keluarga dengan membangun kembali kepercayaan keluarga dengan mengatasi kejatuhan, pertikaian , sinisme,membawa sukacita dalam keluarga.

Siapa yang dapat membantu memecahkan konflik?
Para profesional seperti psikolog, pendeta, ustaz
Bantuan pihak ketiga sangat penting karena mereka akan lebih objektif menilai dari dasar konflik dan menengahi serta bantu memulihkannya.

Pengungakapan yang sehat:

Tidak perlu bersikap pura-pura, menyembunyikan bahwa dalam keluarga sedang ada dalam konflik.  Apbila ini terjadi maka sumber konflik itu akan meletus bagaikan bom besar dan akan menerjang seluruh sendi-sendi keluarga.
Lebih baik sedini mungkin diungkapkan dengan cara menangani konflik dengan efektif.

Manajemen pemulihan konflik secara efektif:
Faktor 1: Nilai yang bertentangan dan bertolak belakang:
Orangmuda lebih menyukai dan menghargai  nilai kebebasan, persahabatan, kesenangan.
Orangtua lebih menghargai ,kerja keras, kejujuran, kehormatan. 
Apabila nilai-nilai itu tak dihormati atau dipahami satu sama lain, terjadi gesekan satu sama lain terus menerus, akibatnya masing-masing pihak menjadi “duri” dalam daging pihak lain.

Faktor 2: Kebiasaan yang mengganggu dan menjengkelkan
Disebut juga fenomena “”kamar berantakan”.
Anak suka membuang bajunya sembarangan, sementara orangtua senang merapikan baju. Terjadilah adu argumentasi yang membawa masing-masing kepada keteguhannya.  Bersikaplah untuk tidak saling berteguh, tetapi saling memberikan jalan keluarnya.

Faktor 3: Harapan yang tesembunyi tidak realistis
Ketika anak menghadapi tekanan dari orangtua yang mengharapkan yang tidak realistis.
Harapan  orangtua:
Ranking tinggi
Bertanggung jawab dengan budget
Bagaimana mengatur waktu main dan belajar
Berpakain sopan
Masuk sekolah top

Harapan anak:
Orangtua mengerti bahwa anak suka didengarkan pada saat berbicara
Memberikan izin untuk pergi bersama teman-teman kapan pun
Memperbolehkan untuk bermain game
Mengaru waktu , nonton tv
Membiarkan berpakain, rambut, gaya yang sedang tren


Faktor 4: Pola komunikasi tidak efektif dan negatif
Masalah utama dalam komunikasi tidak efektif dan negafit adalah orang banyak bicara seidkit berpikir. Mereka bertindak secara impulsif tanpa berpikir. Saya selalu coba untuk berpikir sebelum bicara.


Faktor 5:  Kepentingan berbeda dan berkonflik:
Perbeidaan yang jujur seringkali tanda yang sehat dari kemajuan.  Anak suka clubbing, sedangkan orangtua takut anak kecanduan pesta dan pengaruh godaan seksual di tempat tersebut.   Hanya dengan memeriksa diri secara jujur, ktia dapat mengaku  dan mengoreksi diri menjadi lebih berpusat kepada orang lain.

Fkto 6: Bias dan berprasangka negatif
Berprasangka adalah gembok-gmbok ata spintu kebijasanaan.
Bias tribusi mendasar
Bias konsesus salah
Bias kesan negatif


Faktor 7:  Imajinasi  tidak kompeten dan buruk dalam pikiran  para orangtua