Loading

Slide Bar

Share

Jadilah Ibu Hebat



Kebahagiaan yang luar biasa bagi seorang perempuan saat dirinya beranjak menjadi seorang istri, lalu menjadi seorang ibu.  Kebahagiaan ini pun terasa semakin bertambah jika dapat memenuhi kebutuhan yang terbaik bagi sang suami dan anak-anak.

Ibu memegang peranan yang sangat penting sebagai penentu keputusan bagi keluarga, terutama dalam menyediakan kebutuhan rumah tangga. Salah satu contohnya membeli segala macam kebutuhan keluarga ketika berbelanja bulanan.

Segala daya kreatif diupayakan ibu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Terlebih lagi jika dana yang ada terbatas. Sedangkan kebutuhan rumah tangga dan keluarga semakin meningkat harganya.

Salah satu daya kreatif yang dilakukan oleh ibu untuk menghadapi tantangan itu adalah menacari produk-produk kebutuhan keluarga yang memiliki nilai (Value for money) dengan manfaat yang tepat.
Menerapkan prinsip value for money berarti ibu telah dapat melakukan efisiensi dan efektivitas dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Penghematan begitu pengertian sederhananya. Meski hemat, bukan berarti kebutuhan yang ada menjadi minim manfaat. Ibu selalu memikirkan secara saksama ketika akn membeli sebuah produk.Berharap ibu tetapi bisa mendapatkan produk yang berkualitas tetapi dengan harga yang lebih terjangkau dan nilai-nilai lebih lainnya.

Harus dipikirkan terlebih matang bahwa kebutuhan gizi dan nutrisi anak setiap bulan harus diutamakan. Terutama khususnya bagi balita, karena susu berperan penting dalam membantu proses tumbuh kembang mereka.

Jadilah ibu terhebat dan terkreatif dalam menciptakan pemenuhan keluarga yang mementingkan nutrisi dan gizi bagi anak tercinta.

PUASA TEKNOLOGI DEMI MENUMBUHKAN DAHAGA MEMBACA

teknonet33.blogspot.com

Sebagian besar dari kegiatan kita dikendalikan oleh gadget,internet, televisi.  Hampir setiap menit,detik dalam genggaman kita, baik itu anak, orangtua maupun siapa pun saja, tak pernah lepas dari apa yang dinamakan gadget. Ketergantungan anak terhadap teknologi gadget,internet,televisi ini memang ada baik dan buruknya.

Setelah diteliti dan dievaluasi, ternyata kita ketingalan lebih dari 64 tahun dari negara lain dalam hal membaca.  Minat baca anak Indonesia jauh lebih rendah.  Bahkan kini siswa SMA di Indonesia tak punya kewajiban membaca buku alias 0 buku.

Di Negara lain, siswa SMA wajib membaca buku sastra minimal 5 judul (Kompas, 3 Juni 2014).

Puasa Teknologi
Berilah waktu jeda tanpa teknologi, baik televisi, radio, ponsel maupun internet.
Jadwalkan rutin, baik harian maupun mingguan. Hal ini penting agar anak tak kecanduan teknologi, terlebih untuk mengakses informasi.

1-2 jam per hari
Luangkan waktu 1-2 jam per hari untuk membaca buku.Sesuaikan tahap usia anak.Jika belum bica membaca, buku cerita bergambar menarik cara efektif memperkenalkan buku.

Storytelling
Bacakan buku cerita atau dongeng pada anak prasekolah.Bercerita bisa menjadi kegiatan hiburan bersama anak maupun aktivitas relaks menjelang tidur. Ragam pengalaman mendegnarkan cerita tersebut dapat menumbuhkan mina baca dalam diri anak.

Ciptakan lingkungan mendukung
Caranya tak lain dengan mebmeri asupan berama buku.Tak perlu berbiaya tinggi.Selain pinjam ke perpustakaan, manfaatkan ajang pesta buku yang menyediakan diskon besar, biasa diselenggarakan toko buku besar.

Beri contoh:
Rumus klasik, terbukti paling efektif menanamkan nilai pada anak.Kegiataan membaca bersama pun bisa menjadi kegiatan seru untuk melakukan bersama seluruh anggoa keluarga.

CARA EFEKTIF HUBUNGAN ANTARA ORANGTUA DAN REMAJA

google.com

Saat saya berada di dokter gigi, perawat dokter gigi bertanya kepada saya:  "Bu, apakah anak ibu  lebih suka bermalam ke rumah temannya pada waktu remaja.  Saya sudah memberitahukan tidak boleh terlalu sering."

Percakapan itu terhenti karena saya ingin menanyakan lebih lanjut kepadanya apakah hubungan anak ini dengan ibunya dekat atau tidak.   Perawat itu menjawab:  "Dekat, bu.  Tetapi setelah remaja, dia lebih suka bersikapbahwa dia begitu suka jika tak diizinkan untuk menginap di rumah temannya."

Hubungan dekat atau tidak, memang hanya bisa dievaluasi oleh mereka sendiri.  Pada awalnya remaja ingin menunjukkan bahwa dia ingin mandiri dan bisa mengatasi segala seuatu.

Tetapi harus dicari penyebabnya dari suatu hubungan remaja dengan orangtua dari berbagai aspek.  Latar belakang, interaksi dengan orangtua dan keluarga, pengaruh teman sebaya atau pihak lain yang menjadikan remaja sebagai korban, sistem pendidikan di sekolah, situasi sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat luas.

Kehidupan antara remaja dan orangtua dianggap sulit karena masing-masing mempunyai nilai dan paradigma yang berubah seusai dengan perjalanan hidup yang dilakoni dalam zaman yang dilaluinya. Jika pengasuhan remaja itu diibaratkan seperti melakukan perjalanan tetapi ini dijalani sepanjang kehidupan kita.

Tiga hal yang patut kita kembangkan sebagai orangtua dalam berinteraksi dengan remaja agar hubungan atau relasi tetap baik.

Tiga ranah:
1.Keterhubungan:
Rasa keterhubungan antara remaja dan orangtua memberikan landakan terjadinya interaksi dengan orang lain.   Apabila hubungan orangtua dan anak itu hangat, konsisten, positif, ditandai dengan cinta, dan stabilitas, remaja akan berkembang secara sosial.

Tanggapan remaja terhadap sosial akan lebih positif dan lebih kooperatif dengan orang lain, tak mudah depresi jika harus berjuang keras dalam kehidupannya serta memiliki harga diri yang tinggi.  Hubungan yang ditandai dengan kebikan tanpa kata-kata ataupun tindakan yang kasar tampaknya penting untuk perkembangan remaja yang sehat.

2.Pemantauan
Pemantauan bukan diartikan bahwa orangtua tidak mempercayai remaja. TEtapi diinformasikan bahwa pemantauan dilakukan karena cinta, ketulusan dan menolongnya.   Jika remaja mengetahui dasar dari permantauan itu, maka dia akan menyadarinya dan menerimannya dengan hangat tanpa kecurigaan.
KEtimbang jika orangtua melakukan secara diam-diam, maka remaja akan berbalik arah, berbohong, mencuri,menipu, menggunakan obat-obatan terlarang.

3. Otonomi psikologis:
Otonomi psikologis terjadi apabila orangtua menghargai ide-ide yang disarankan atau diberikan oleh remaja walalupun hal itu bertentangan dengan keinginan orangtua.  Pertentangan itu bukan berarti itu penolakan remaja.  Tetapi hal itu harus disadari oleh orangtua bahwa ide itu mendorong munculnya pemikiran mandiri dan mengexpresikan ide0ide berbagai perasaan anak dan menampilkan cinta tanpa syarat . Inilah syarat untuk otonomi psikologis.

Orangtua tak boleh mengatakan bahwa melawan orangtua adalah durhaka. Remaja akan menujukkan rasa depresi atau menunjukkan perilaku antisosial apabila orangtua menggunkan kontrol psikologis.

Sebaliknya gunakan kombinasi dari keterhubungan,pemantau dan otonomi psikologis. Orangtua jangan merasa frustrai apabila perannya sebagai pengemdui tiba-tiba hilang karena perannya hilang. Menerjemahkan ide umum kedalam perilaku spesifik dan kemudia jadi pola menetap dalam berinteraksi bisa menjadi suatu tantangan.

Menyediakan waktu:
Sediakan waktu yang cukup untuk berbincang dengan remaja,s elain memberikan manfaat komunikasi yang baik, tetapi juga menjalin lebih baik . Buatlah serilex dan sesantai mungkin.  Komunikasi yang terjalin bisa mengembangkan kejujuran dan menyenangkan kedua belah pihak.

KREASI BERGIZI UNTUK SI BUAH HATI

Ditengah gempuran makanan saji, makanan fast food yang sangat menggugah selera anak-anak, sebagai orangtua harus rajin untuk mencoba membuat makanan sehat bagi putra-putrinya.

Tentu, makanan sehat , bergizi ini perlu dicoba karena saya mengintip dan mengutipnya dari harian Kompas khusus dari Agus Herta, Vonny Luvy Nico dan Lily A. Margono sebagai pengirim#KicauKeluarga terpilih edisi Minggu 18Jan.

Dibawah ini adalah pilihan dari menu-menu yang dipilih dari mereka yang telah jadi pemenang:

AGUS HERTA

KUE KUKUS WORTEL KEJU

Bahan:
  • 250 gr tepung terigu
  • 250 gr gula merah kelapa
  • 200 ml air (1 gelas)
  • 1/2 sendok teh soda kue
  • 1 butir telur ayam
  • 4 sendok makan wortel parut
  • 5 sendok makan keju cheddar parut
  • 20 buah cetakkan bolu kukus


CARA MEMBUAT
1. Lelhkan gula merah dengan air 200 ml sampai larut dan mendidih dengan api sedang, kemudian tunggu sampai dingin.

2.Kocok 1 butir telur dengan soda kue sampai berbuih +/- 4 menti, selanjutnya masukkan gula merah yang sudah dicairkan, diaduk sampai rata. Kemudian masukan sedikit demi sedikit minyak goreng  sampai benar-benar tercmapur.Selanjutnya masukan sedikit demi sedikit terigu sampai habis, pastikan terigu tidak ada yang menggumpal.

3.Aduk terus adonan sampai benar tercampur rata dan kalis masukkan 3 sendok wortel parut sampai rata.
4. Siapkan dandang kukusan yang sudah panas dan beruap,masukan adonan cair ke cetakkan bolu kukus yang sampai hampir penuh diatas loyang cetakkan bolu yang sudah alasi kertas kue, taburi keju dan sisa paurtan wortel di atasnya.
4.Kukus adonon sampai matang +/- 15 menit sampai mengembang.
5.Angkat dan sajikan selagi hangat

VONNY LUVV NICO

YUMMY HEALTHY BALLS
Bahan:
  • 100 gr mentenga
  • 1 butir bawang bombay, cincang halus
  • 150 gr terigu
  • 100 gr wortel,potong kotak kecil,rebus
  • 1 ikat kecil bayam cincang kasar
  • 300 cc cucu cair
  • 205 gr daging cincang, disangrai sampai airnya habis
  • garam,pala, merica , gula pasir secukupnya
  • 105 gr tepung roti
  • 2 butir telur kocock lepas
  • minyak utk menggoreng
  • keju dan saos tomat utk hiasan

CARA MASAK
1.Panaskan menteng,tumis bawang bombay sampai baunya harum, masukkan tepung terigu kedalamnya,aduk sampai rata.
2.Tuangkan susu cair sedikit demi sedikit sambil diaduk terus sampai adonan rata.
3. Masukkan berturut daging cincang,wortel,bayam,merica,pala,garam, gula. Aduk sampai adonan betul rata, kemduian diamkan sampai mendingin.
4.Bentuk adonan buat sebesar bakso, gulingkan ke dalam tepung roti,celupkan kedalam telur kocok,gulingkan sekali lagi kedalam tepung roti.
5.Goreng dalam minyak panas sampai berwarna kuning kecokalatan, angkat hias dengan keju dan saos teomat,sajikan

LILY MARGONO
SARANG BURUNG ISI AYAM SAYUR
Bahan:
  • 250 gr daging ayam
  • 1 buah wortel
  • 2 butir telur
  • 100 gram kacang polong beku
  • 2 buah jamur hioko
  • 6 siung bawang merah 
  • 3 siung bawang putih
  • l/2 sdt lada
  • l/2 sdt garam
  • 1 sdt gula
  • 1 sdm tepung sagu
  • 300 gram misoa
  • Minyak utk menumis dan menggoreng

CARA MASAK
1.Daging ayam direbus, potong kotak2 kecil.Wortel dipotong kotak kecil, rebus sebentar. Telur dikocok,dadar dan iris.Kacang polong dirbus seentar.Jamur Hioko, direndam air panas, dan iris kotak kecil.

2.Bawang merah dan putih dirajang halus.Panaskan 3 sdm minyak goreng.Tumis bawang merah dan bawang putih sampai harum.Masukkan ayam, woartel,wortel,telur,kacang polong,jamur ,garam,lada,gula,adduk2. Tuangi sedikit air.Masak sampai semua matang dan hampir kering.Kentalkan dengan tepung sagu yang dicampur sedikit air.Sisihkan.
3.Cuci misoa dengan air dingin sebenar saja (jangan sampai lembek). Panaskan minyak goreng dalam panci kecil, siapkan cetakan kawat sarang burung, goreng misoa sedikit demi sedikit dengan cetak sarang burung.Goreng sampai sedikit kecoklatan dan garing. Sisihkan.
4.Penyajian isi setiap mangkung misoa dengan bahan isian, hias atasnya dengan irisan cae merah.

CARA TIDAK EFEKTIF MENGHUKUM ANAK

Suatu hari saya pernah bertemu dengan seorang teman yang mengeluhkan bahwa anaknya sangat bandel (anaknya seorang laki-laki) meskipun hukuman telah diberikan.

Ibunya berkata kepada saya:  "Saya sudah sangat marah karena dia tak pernah belajar. Inginnya pulang sekolah langsung main bola. Begitu disuruh belajar, yang dibuka adalah buku bola.  Ketika disuruh belajar di kamar, malah nonton bola.  Saya hukum semua barang kesenangannya saya sita. Tidak boleh memegang atau melihat tv bola, serta main bola sama sekali".

Saya: "Berhasilkah?"

Ibu A:  "Tidak!"

Saya:  "Mengapa?"

Ibu A:   "Anak saya berkata bahwa ibunya salah dalam menghukum. Emangnya dengan disita, saya akan makin kesal?  Itu hobby utama saya.  Kenapa mesti disita.  Saya bisa cari yang lain".

Saya:  "Apa tindakan ibu selanjutnya?"

Ibu A:   "Bingung"

Dari keterangan ibu A, saya mendapat kesimpulan bahwa si Ibu A menghukum anaknya karena :
1. Emosi yang meledak karena anak tidak mengindahkan perintahnya untuk belajar.
2. Hukuman yang diberikan tidak efektif karena anak justru makin tidak suka dengan cara ibu
    menghukumnya.
3. Berakhir hubungan Ibu A dan anaknya makin tegang tanpa penyelesaian.

Dalam kesempatan yang baik ini saya telah membaca di "Parenting  Indonesia" bahwa  cara menghukum itu ada tipsnya, agar hukuman yang diberikan bukan hanya jera saja tetapi anak dapat memahami mengapa hukuman itu pantas untuk dirinya.

Berikut adalah tips dari cara menghukum yang tidak efektif:

Menghukum dalam kondisi murka
Kalau Anda terbiasa membentak-bentak dan meneriaki anak-anak Anda saat memberikan hukuman, dikhawatirkan anak akan menganggap itu reaksi yang wajar kalau kita tidak senang sesuatu. Bisa jadi Ia akan berperilaku seperti itu saat kesal dengan teman-temannya.

Orang tua boleh membentak, tapi jangan membentak-bentak emosional alias murka. Kalau perlu membentak, bentaklah dengan nada keras, tegas, tapi tenang. Sebenarnya anak-anak akan lebih responsif terhadap perintah atau permintaan yang dikeluarkan dalam nada tegas tapi tenang.

Mama-Papa tidak kompak
Jangan pernah berdebat di depan anak-anak Anda mengenai penerapan disiplin atau hukuman. Dalam menerapkan hukuman buat anak, Mama-Papa harus kompak. Anak-anak itu cerdas lho, Ma. Mereka bisa segera ‘mencium’ perbedaan pendapat antara Mama dan Papa lalu ‘memecah belah serta menguasai’ orang tuanya.

Menganggap anak orang dewasa kecil
Meski Anda ingin anak-anak mendapatkan hak mereka untuk didengar, bukan berarti mereka punya hak yang sama dengan Anda soal aturan dalam rumah tangga dan boleh seenaknya mendebat. Ingat, ini adalah hubungan orangtua dan anak, bukan demokrasi di mana semua orang punya hak yang sama. Tapi Anda bisa menjelaskan kepada anak, kenapa Anda menerapkan aturan dan hukuman tersebut.

Hukuman yang tidak sepadan

Hukuman sebaiknya merupakan konsekuensi natural atau konsekuensi logis dari perilaku anak. Jika hukuman yang Anda berikan tidak pantas atau tidak adil, Anda justru kehilangan kesempatan mengajarkan nilai-nilai yang ingin Anda terapkan karena anak malah berfokus pada hukuman yang dirasanya tidak adil itu. Yang terburuk, anak mendendam dan berperilaku lebih buruk untuk membalas ‘ketidakadilan’ yang diterimanya.

Jangan pernah memberikan hukuman yang mempermalukan anak, menghinanya atau merendahkan dirinya. Jika Anda tetap bisa menghormati harga diri anak, bahkan saat menghukumnya, anak akan belajar untuk tetap menghormati Anda – dan orang lain- meski Ia sedang marah atau kesal. Saat hukuman sudah usai dijalani, tak perlu memaksa anak minta maaf atau kembali menceramahinya soal perilaku buruknya. Yang sudah ya sudah. Sebaiknya segera dorong anak untuk berperilaku sesuai aturan Anda.



Sumber: Parenting Indonesia

KEJUJURAN


Ukuran kejujuran itu sebenarnya gampang dan sulit parameternya.  Jika seseorang  diuji kejujurannya dengan pengawasan ketat, kemungkinan orang itu akan berbuat sebaik mungkin untuk jujur. Contohnya,  Ibu memberikan uang  Rp.100 kepada anak untuk beli beras seharga Rp.75.  Lalu uang kembali Rp.25 itu biasanya dikembalikan oleh anak untuk mengatakan bahwa anak itu jujur. 

Tetapi beda halnya jika seseorang itu diuji kejujuran dengan tidak diawasi oleh pihak lain.  Tentunya dia akan bertindak dua hal, bisa jujur atau bisa tidak .Tergantung dari kekuataan iman untuk suatu kejujuran.
Nach, pengalaman saya dengan anak saya.  Tiba-tiba dia bercerita bahwa jika dia naik tram  (semacam bus).  Begitu naik bus,  kartu yang disebut dengan “Micky” itu harus ditempelkan di suatu alat untuk mengosok nilai dari kartu akan berkurang seharga dari biaya rute dari bus, misalnya AUD 15.  Tentunya tidak ada seorang pun yang menjaga alat penggosok itu.  Diharapkan setiap orang yang naik, langsung menggosok kartunya, baru duduk.  Tapi tanpa adanya pengawasan dari siapa pun, baik itu orang maupun CCTV, maka anak saya berpikir, “Ach, tak ada yang melihat!”.   Jadi tak menggosok pun tak mengapa.

Kejujuran diuji saat dia menggangap bahwa “tidak apa-apa”, itu sebagai hal yang biasa.  Hal kecil untuk membayar yang seharusnya dibayar, tetapi tak dilakukan.  
Lalu, saya bertanya kepadanya:  “apakah sama sekali tidak ada sanksi dari sekian banyak penumpang yang tak bayar?”.   
“Ada!”, katanya.

Sesekali, ada petugas yang membawa suatu alat yang datang ke tram.  Dengan alat itu petugas dapat mengecek apakah ada bukti bahwa kartu itu sudah terpotong dengan harga  yang seharusnya dibayar pada saat naik. Kecanggihan alat itu dapat diketahui, kapan terakhir pemiliknya membayar, jika tak membayar pada saat naik, maka ada sanksi yaitu penalti.

Penalti, tentunya sangat memalukan . Bukan karena nilai uangnya, tetapi telah menunjukkan bahwa kita tak berbuat jujur.  Seharusnya hal itu memicu kita untuk tidak melakukannya.

Hal kecil memang tak berarti, tetapi hal kecil menjadi besar ketika tidak dilakukan.  Oleh sebab itu saya sebagai orangtua minta kepada anak agar tak melakukannya lagi.  Bukan rasa malu, tetapi lebih kepada mengajarkan kepada anak nilai sebuah kejujuran itu mahal nilainya.
Lakukan dan berikan sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan.

BEDA RESOLUSI ANTARA ANAK DAN ORANGTUA

Di awal tahun setiap orang berlomba-lomba membuat komitmen baru atau dikenal sebagai resolusi.  Resolusi bukan dimiliki oleh orangtua saja atau dewasa muda, tetapi juga penting bagi sebuah keluarga. Dimulai dari ayah, ibu hingga buah hati mereka.

Secara historis membuat resolisi itu sebenarnya sudah ada sejak masa lampau.  Dalam sejarah hal itu telah terjadi sejak bangsa Romawi menjadi pelopor.

Nenek moyangnya membuat resolusi tahun baru dengan saling memaafkan dan bertukar kado untuk memperoleh keberuntungan di masa depan. Tradisi ini sekaligus menjadi penghormatan kepada Janus, Dewa Romawi bermuka dua, did epan dan belakang. Dengan memiliki dua wajah itu, Janus memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu dan masa depan.

Sekarang tradisi membuat resolusi ini telah menjadi tradisi universal. Semua demi meraih masa depan , asa dan kehidupan yang lebih baik.

Untuk menularkan tradisi ini kepada putra-putri anda, sebuah American Academy Petriatics merekomendasikan unutk membedakan pembuatan resolusi awal tahun sesuai usia anak.

  • Usia anak pra-sekolah:   resolusinya dibuat sederhana. Contohnya :  sudah dapat menyikat gigi, mencuci tangan, dan membereskan mainan sendiri , bersikap baik terhadap hewan peliharaan.
  • Usia balita :   belajar mendengarkan nasehat orangtua, melatih ketrampilan, belajar tanpa harus didampingi oleh orangtua, membereskan alat-alat sekolah sendiri.
  • Usia lima hingga 12 tahun:   memahami apa arti resolusi, aktif dalam membantu orangtua membersihkan rumah, pekerjaan rumah tangga, ikut berkontribusi dalam kegiatan sosial dalam lingkungan, membantu teman yang membutuhkan pertolongan
Tentu saja orangtua tidak boleh banyak berharap bahwa resolusi yang dibuat oleh anak itu harus dicapai.  Harapan yang tidak muluk adalah cukup satu dari sekian banyak resolusi itu menjadi pilihan dan tercapai.

AAP bahkan menyarankan bahwa resolusi anak dalam usia 12 tahun dapat rajin mengonsumsi sayur dan buah, belajar lebih tekun, bersikap baik kepada semua teman, hormat kepada guru dan orang yang lebih tua.

Untuk remaja, ditekankan agark mereka lebih fokus mengambil tanggung jawab terhadap setiap tindakannya. Merawat tubuh, mengatasi stres dengan cara sehat, menolak obat-obatan terlarang dan alkohol, peduli kepada yang membutuhkan.

Tugas orangtua adalah jadi role model, bersikap positif dan menjadi panutan baik untuk perkembangan masa depan dari anak-anaknya.