Loading

Slide Bar

Share

MANDIRI, MENEMPA ANAK BERMENTAL UNGGUL

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life's longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.-  Kahlil Gibran



Terngiang dan terdengar  terus menerus apa yang dikatakan oleh Kahlil Gibran.  Rasanya sangat tidak mungkin, tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh seorang ibu.  Berpijak pada puisi Kahlil Gibran yang terkenal itu, memandirikan anak dalam kehidupannya adalah bagian hidup dari seorang ibu yang harus ditempuh.

Sulit bagiku ketika keputusan harus diambil.  Saat-saat harus menghadapi perpisahan untuk melepaskan anak perempuan semata wayang itu  luar biasa penuh dengan pergumulan batin.  Anak ini tidak pernah ke luar dari pangkuanku, jangkauanku, pandanganku.  Namun, jika kubiarkan dia terus kudekap, apa yang akan terjadi. Kedewasaan untuk mandiri harus dimulai.  Jika tidak, kemungkinan anak ini akan menjadi manja, tidak mandiri. Tujuan utamanya adalah menjadi individu bermental  baja dan unggul di kemudian hari menghadapi berbagai tantangan dunia yang semakin tajam.

Medio June tahun 2012, adalah paling berat, setelah mengantarkan anak saya ke Melbourne. Saya hanya punya waktu seminggu untuk mengajarnya  lifeskill.

Dia tak pernah memasak .  Bahkan yang paling sederhana pun, masak nasi.  Mengajarinya masak nasi dengan rice cooker . Sederhana buat saya, tapi bukan sederhana baginya. Dia bertanya:  “Berapa airnya, bagaimana mengetahui  nasi sudah matang?”.    Apalagi belajar memasak. Baginya suatu pengalaman besar dan tidak menyenangkan.  

Dia terpaksa belajar memasak dari internet dan segala macam media.  Bumbu-bumbu pun ikut dipelajarinya.    Guru yang paling besar adalah pengalaman.  Dia pernah salah memanaskan makanan dengan microwave memakai mangkuk  yang bukan untuk micro-wave. Hasilnya  makanan  tidak bisa dimakan karena semuanya meleleh...

Dia tak pernah pergi ke tempat asing dan baru sendirian, selalu ada supir. Sekarang, belajar berjalan dengan kaki sendiri, belajar “map”, belajar orientasi jalan, belajar  cari tram atau train sesuai rutenya. Hari pertama ke kuliah harus tersesat, naik taxi untuk datang ke kampus, padahal tempatnya tidak jauh dari tempat apartemennya.

Dia tak pernah mengatur keuangannya sendiri. Segala sesuatu yang diperlukan disediakan. Sekarang budget disiapkan, tapi pengaturan keuangan harus dilakukan sendiri. Setiap pengeluaran harus dicatat dan diingat, apakah sesuai dengan anggaran.

Dia tak pernah mengurus  administrasi tentang  kontrak apartemen, kontrak  internet, kontrak  gas. Sekarang harus dilakukan tanpa ada yang membantunya.  Berpikir dan mengambil keputusan sendiri.

Dia tak pernah mengurus keperluan dirinya seperti  laundry karena di rumah pembantu melakukannya.  Sekarang harus dilakukan sendiri  dengan  bantuan mesin cuci.

Dia tak pernah mengalami kesulitan untuk mengurus kerusakan “frame dari  ranjangnya”.  Tapi harus dilakukannya karena ranjangnya roboh, terpaksa tidur di atas karpet yang dingin dan keras. Di negara kangguru , semua orang harus pandai untuk memperbaiki  segala sesuatu sendiri  atau disebut “handyman”.  Kecuali bagi yang kaya, bisa menyewa atau memanggil  “handyman”. Tiga minggu harus menunggu keputusan untuk mengganti frame dan ranjang.

Dia tak pernah mengalami bekerja sama dengan teman-teman yang mempunyai karakter dan perilaku enggan untuk menyelesaikan projek bersama.   Sekarang dia harus beradaptasi belajar kreatif, kritis dan mengambil keputusan untuk bisa mengatasi kesulitan bersosialisasi dengan orang asing .

Dia tak pernah mengalami kesulitan resiko yang harus diambil jika harus menanda-tangani  kontrak “internship” yang sangat melemahkan dirinya sebagai seorang mahasiswi.   Sekarang, dia harus berkonsultasi  dengan berbagai macam orang termasuk dosennya untuk menentukan pilihan pengambil keputusan.

Perubahan mentalitas dari  penumpang menjadi mentalitas pengemudi.  Mentalitas penumpang yang biasanya cenderung pasif, enggan mengambil  resiko.  Sebaliknya mentalitas penuh inisiatif, kreatif, kritis dan berani mengambil keputusan.

Perjalanan kemandirian bukan mudah bagi anak maupun saya sendiri. Anak harus menghadapi tantangan itu sendirian . Sementara saya sebagai orangtua pun penuh dengan kekhawatiran, kecemasan,  kasihan, ketakutan  pada saat anak sedang menghadapi kesulitannya.  Hanya dukungan mental dan doa saja yang dapat diberikan.

Mendidik anak menjadi mandiri adalah keputusan yang tak bisa diganggu gugat.   Bermental unggul dan baja adalah tujuannya, semoga engkau dapat mengerti dan memahami bahwa  dalam kesulitan saat ini, ada kemenangan di kemudian hari.



Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Every Mom Has A Story#Stopmomwar



KETIDAK HADIRAN


Dilematisnya sebagai ibu yang bekerja meninggalkan anakku kepada seorang  tante yang menjaganya.    Saat  itu anakku berumur 8 tahun, kelas III SD, rasanya pagi itu semuanya sudah beres.  Malam harinya sebelumnya , aku telah  menyiapkan segala peralatan sekolah anak,  pagi harinya mengecek kembali semua yang harus dibawanya, tak lupa menyiapkan sarapan.

Di sekolah anakku dilarang membawa handphone sama sekali.  Bahkan di rumah pun tak ada handphone karena pada saat itu handphone belum populer.  Yang ada hanya telpon rumah saja.
Saya bekerja dengan tenang dari pagi hingga sore . Apalagi saat siang menjelang sore hari, ada meeting yang tak bisa ditinggalkan.   Walaupun suara handphone telah di “silent” terdengar getarannya.  Sempat saya mengintip sebentar.   Dari rumah.   Wah, tak mungkin rasanya menjawab karena meeting itu tak boleh terganggu oleh persoalan pribadi.

Pulang dari kantor, saya dengan rasa cape masuk ke rumah.  Melihat muka anak saya yang sangat cemberut, asam, saya segera  curiga apa yang terjadi dengan dirinya.
Terjadilah komunikasi yang membuatku sangat  “surprise” mendengarnya.

 “Nak, apa yang terjadi  dengan dirimu hari ini?” tanya saya.
“Mamah, apakah tadi tidak mendengar suara telponku?” setengah berbisik suaranya kepadaku.
“Dengar. Tapi mamah tidak bisa menjawab karena mamah ada di ruang meeting. Tak boleh ke luar sama sekali!”, kataku.
“Tapi kenapa tidak telpon ke rumah setelah itu?” tanyanya lebih lanjut.
“Maaf lupa”, jawabku singkat.
“Coba ceritakan apa yang ingin diceritakan kepada mamah”, kataku.
“Tidak, percuma.   Ketika aku sedang  butuh mamah, selalu mamah bilang sibuk, meeting lah, lupalah.  Sekarang tidak butuh lagi.  Mamah egois!” katanya menangis.

Begitu mendengar kalimat itu,serasa mendengar halilintar yang menggelegar.  Saya terpekur, terkejut dan kaget sekali.   Kehadiranku ketika dibutuhkan sungguh suatu hal yang sangat penting baginya.   Aku merasakan kegetiran, ketidaknyaman serta  kegelisahan dimukanya.  

Sadar bahwa arti “kehadiranku” pada waktu dan momen yang tepat sangat penting baginya telah kulewatkan . Hanya kekecewaan yang ada saat bertemu dengannya.   Aku tak mendapatkan kesempatan kedua kalinya.  

Akhirnya, saya mulai instropeksi, aku berjanji kepada diriku dan kepadanya “mamah akan selalu hadir di setiap saat engkau butuh”.   Komitmenku ini kupegang dan kubuktikan .   Dengan adanya komitmen itu dia merasakan kenyaman kembali. Hidupnya bersinar kembali dan ada rasa dukungan yang memang nyata kuberikan kepadanya setiap waktu diperlukannya.

Aku belajar ada lima macam “ketidakhadiran” ayah atau ibu atau kedua orangtua. Yang pertama orangtua yang lebih sering “meremehkan” atau tidak setuju terhadap pilihan anaknya daripada memberi kesempatan anaknya untuk mandiri dan bertanggung jawab.  Yang kedua anak merasa hanya boleh mengikuti jalan yang sudah ditentukan orangtuanya sehingga mereka merasa tak dianggap.
Yang ketiga orangtua yang sibuk mengumbar suasana hatinya, entah itu sering marah-marah atau terus bersedih dan bersikap negatif terhadap berbagai hal, juga akan membuat anak-anaknya memilih untuk mengubur dalam-dalam perasaan mereka; mereka merasa tidak didengarkan orangtuanya.
Yang keempat, jenis ketidakhadiran adalah orangtua yang mengalami kecanduan. Bukan hanya kecanduan obat, tetapi bentuk lain seperti menonton sinetron,  supersibuk bekerja. Yang kelima adalah  ketidak-adiran terbanyak adalah lewat gaya parenting yang serba membolehkan atau yang tidak konsisten dan tidak membiarkan anak menanggung konsekuensi atas perbuatannya sendiri.

Melalui “kehadiranku”,  anak akan merasa bertanggung jawab, dan percaya diri.  Oleh karena itu, berikan  hadiah terbaik lewat kehadiran  kita sebagai orangtua, lewat cinta tak bersyarat dan kelekatan emosional.








Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Every Mom Has A Story #Stopmomwar


CUKUPKAH ORANGTUA MENGENAL DIRI ANAKMU??


Judul diatas tidak bermaksud  untuk memprovokasi bahwa orangtua tidak pernah kenal dengan anaknya.  Pasti ada yang merasa marah karena sejak melahirkan, anak berada dalam asuhannya, tidak ada oranglain, selain dirinya sendiri (ibu).

Mungkin juga ada yang menganggap bahwa mengenali anak itu sudah sejak kecil, apa yang tidak dikenalinya lagi?

Pertanyaannya memang mudah tapi jawabannya sulit. Mengenali anak bukan hanya secara phisik saja.  Sejak bayi,  para ibu tentunya telah melihat, mendampingi bahkan mengurus sendiri proses dari anak itu tidak dapat berbuat apa-apa, sampai dia dapat mandiri untuk makan, tidur, belajar, bahkan menolong orang lain.

Persoalannya bukan hanya phisik yang dikenali oleh orangtua. Tetapi apakah anda cukup mengenali anak anda secara emosi dan spiritualnnya, kepribadiannya.

Dari sejak kecil hingga SMA, saya mempercayai diri saya sendiri bahwa saya cukup mengenal siapa anak saya. Bahkan jika raut muka anak saya berubah, saya akan tahu bahwa dia tak menyukai apa yang saya katakan atau tidak setuju dengan apa yang saya beritahukan.

Atau saya cukup tahu jika dia sedang sedih, marah, bahkan kesal kepada teman, keadaan, diri sendiri, karena hal itu memberikan signal-signal atau gesture tubuh yang saya kenali dengan baik.

Namun, suatu hari anak saya ingin mendapat jawaban pasti, untuk melanjutkan sekolah, bidang apa yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.  Lalu, saya datang ke seorang grafolog.  Anak saya hanya disuruh menulis beberapa lima kalimat di suatu kertas putih.  Demikian juga saya sebagai ibunya ikut menulis lima  kalimat di selembar kertas putih. Setelah itu  kedua lembar kertas putih itu diserahkan.   Beberapa minggu kemudian, datang laporan analisa tulisan anak dan saya sendiri.

"Ibu sebenarnya cenderung menyelesaikan masalahnya sendiri, sedangkan bagi anak saya dukungan merupakan hal yang dbutuhkannya dalam bertindak dan memutuskannya. Bukan berarti anak saya kurang mandiri, namun dukungan selalu membuatnya merasa lebih nyaman, perbedaan ini harus saya sadari dengan baik, karena tidak semua individu mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Hal yang lain, kecepatan berpikir saya diatas rata-rata orang lainnya, saya cenderung menuntut "kesempurnaan"", kadangkala saya tidak sabar dalam menunggu orang lain berpikir dan memutuskan. Kecenderungan ini membuat saya lebih mudah cemas. Saya perlu berhenti sejak sebelum bertindak dan memutuskan, relax sebentar dan diharapkan kecemasapun berkurang dan keputusan yang diambil akan lebih cerdas.

Setelah membaca profile dari kepribadian saya dan anak saya, kami mulai mengenal lebih dalam dan dekat, baik itu emosi, pikiran dan tindakan.  Mengenal ternyata jauh lebih bermakna bukan sekedar dari phisik, emosi, tapi kepribadiannya.

BELAJAR MEMBACA SEJAK DINI


Saat umur anak balita kita telah menginjak umur 3-4 tahun, dan menemukannya belum dapat membaca dengan baik, maka hebohlah kita sebagai orangtua.

Sebenarnya membaca itu adalah suatu tanggung jawab orangtua atau oranglain (misalnya guru les, perawat, atau pembimbing atau guru play group).
Jawabannya yang pasti adalah tanggung jawab orangtua . Dalam lingkungan keluarga, nilai pendidikan berawal. Pendampingan orangtua kepada anak untuk mengenal kata, belajar membaca adalah bagian dari kehidupan itu.

Belajar membaca bagi anak, perlu kita ketahui karena satu anak dengan anak yang lain tidak sama. Ada anak yang terpicu belajar menulis ,menggambar daripada membaca.

Observasi orangtua untuk mengetahui kesukaan anak dapat membantu bagaimana dan apa kesukaan anak. Setelah itu gunakan kesukaan anak itu mendorong anak untuk membaca. Contohnya anak gembar bernyanyi, ajarkan membaca dengan lagu-lagu melalui kalimat yang benar dan jelas.

Suasana belajar yang menyenangkan sangat penting. Anak akan merasa belajar membaca bukan suatu paksaan, bahkan bukan ancaman dan menyebabkan "trauma" dan enggan belajar.

Ada beberapa cara kreatif yang dapat mendukung anak belajar membaca.  Dari tiga pemenang Kicau Keluarga Klasika yang memiliki cara kreatif menumbuhkan minat baca pada buah hati.

Idenya :
"Saya membuat perpusatakaan di rumah, mencontohkan budaya baca untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku".

"Minat baca manusia berbanding terbalik dengan pertambahan usia. Karena itu kebiasaan membaca harus dicanangkan/ditanamkan sejak dini.

Ada 3 tahap dalam membangun cara belajar anak:

1.Sebelum anak lahir:
Sebelum mendengarkan musik-musik klasik,bacakan cerita/dongeng secara menarik.

2.Sebelum anak mampu membaca:
Kenalkan buku secara fisik sedini mungkin, seiring kian matangnya idera penglihatannya. Lalu bacakan cerita atau dongeng secara menarik

3.Setelah anak mampu membaca:
Beri teladan membaca dari orangtua karena anak butuh role model.  Pada weekend, sering ajak ke toko buku.

4. Sesaat anak besar:
Setiap kali diajak ke toko buku, beri budget tertentu dan biarkan ia memilih. Namun, selesi terakhir di tangan orangtua .

Lima alasan anak wajib membaca buku:
  1. Membaca mengajak otak selalu bekerja dan melatih kemampuan berpikir.Pasalnya aktivitas ini lebih bersifat kompleks dalam memberi stimulus pada otak manusia.
  2. Membantu meningkatkan konsentrasi.Anak harus duduk diam dan fokus untuk dapat memahami konten bacaan dengan baik. Lama kelamaan, membaca secara rutin akan membantu kemampuan konsentarsi si kecil.
  3. Memperkaya hidup. Melalui buku anak dapat memahami seluruh proses kehidupan di bumi,termasuk ragam tipe karakter dan budaya masyarakat. Buku menjadi pintu untuk mengenali dunia luar lingkungan yang dikenalinya.
  4. Wawasan yang dimilikinya tersebut pun turut membentuk kemampuan sosial si kecil, misalnya dalam mengasah rasa simpati dan empati.
  5. Mengenali beragama karakter manusia, belajar nilai hidup tradisonal maupun universal, serta mengembangkan analisis kritis kala merespons buku yang telah dibacanya.
Selamat memberi cara membaca kepada anak anda!

ALAT PERKEMBANGAN MOTORIK UNTUK ANAK


Alat permainan yang baik adalah yang sesuai dengan usia perkembangan anak dan membantu perkembangan motorik kasar dan halus, koordinasi mata-tangan, emosional, sosial, daya imajinasi, serta kemampuan kognitif dan bahasa si buah hati. Berikut ini adalah jenis alat permainan berdasarkan fungsinya dalam perkembangan batita seperti ditulis di dalam buku Buku Pintar Mengasuh Batita.

1. Alat permainan yang membantu perkembangan motorik kasar
Rangsang pertumbuhan motoriknya dengan berlari, memanjat, lompat, melempar bola, menari, ataupun naik sepeda. Berikan dukungan dan kesempatan anak untuk bermain, baik di dalam maupun di luar rumah, karena semua kegiatan ini membantu meningkatkan kemampuan motorik kasarnya.
Alat permainan yang sesuai untuk membantu perkembangan motorik anak adalah mainan yang dapat ditarik dan didorong, mobil-mobilan/motor-motoran, sepeda, perosotan, ayunan, dan bola.
(Baca juga: Tips Membiasakan Anak Tidur di Kamarnya Sendiri)

2. Alat permainan yang membantu perkembangan motorik halus dan koordinasi mata-tangan
Banyak alat permainan  yang dapat melatih anak untuk meningkatkan kemampuan motorik halus dan koordinasi mata-tangan seperti puzzle (teka-teki gambar), balok konstruksi, menyusun gelas, memasukkan dan melepas sesuai bentuk (shape shorter), mengurutkan bentuk, membentuk lilin/malam, bermain dengan pensil/krayon atau mewarnai, permainan papan aktivitas, mainan alat musik seperti keyboard, dll.

3. Alat permainan yang membantuk perkembangan sosial dan emosional
Semua mainan yang dapat dimainkan bersama/dibagi dengan teman. Sesuai usianya sekarang ini anak biasanya senang bermain sendiri atau bermain di dekat anak lain walaupun tetap bermain sendiri-sendiri. anda dapat melihat anak akan bermain mengikuti pola anak lain, sehingga mereka seolah-olah memainkan satu permainan padahal sedang bermain sendiri-sendiri.
Ajarkan anak untuk berbagi mainan dengan anak lain sehingga kemampuan sosialnya terasah dan dia juga belajar menunggu giliran bermain.
Mainan seperti boneka dapat membantu mengembangkan kemampuannya emosi anak. Bermainlah bersama anak dan tirukan suara-suara lucu. Ajaklah anak berbicara, memeluk, dan mencium bonekanya. Biasanya anak mempunyai boneka kesayangan yang dapat membantu menenangkannya.
(Baca juga: Kiat Agar Anak Tidak Cemburu Pada Adiknya)

4. Alat permainan yang membantu perkembangan bahasa
Seluruh alat permainan dapat membantu meningkatkan kemampuan berbahasa anak namun semua tergantung kepada Anda atau pengasuh utama anak. Saat bermain bersama selalu libatkan anak ke dalam pembicaraan. Ajaklah anak untuk main rumah-rumahan boneka, menirukan suara bintang, dan lain-lain.
Hal termudah untuk mengembangkan kemampuan bahasa adalah dengan membacakan buku cerita secara rutin untuk anak sehingga minat baca anak akan terangsang dan kemampuan bahasanya pun meningkat.
Nah, itu tadi beberapa jenis alat permainan berdasarkan fungsinya dalam perkembangan batita.

Semoga bermanfaat!.

Sumber: Intisari.com

KENALKAN NILAI UANG PADA BALITA TERSAYANG

Ibarat spon, balita cepat menyerap apa pun yang dilakukan dan diajarkan kepada anak. Satu pelajaran yang berharga yang perlu diperkenalkan kepada anak adalah menanamkan nilai uang. Tentu agar proses edukasi ini terserap baik, pengelain niali uang perlu dilakukan dengan cara tepat.

BErikut ini adalah beberapa nilai yang dapat dikenalkan pada balita anda:

1.Manfaat uang untuk membeli barang
Awali pengelana uang dengan "bermain". Caranya siapkan sejumlah uang logam yang terdiri atas nilai RP.100 Rp.500 dan Rp.1.000. Ajak anak untuk mengindentifikasi dan mengelompokkan uagn sesuai nominalnya. Sambil bermain, utarakan bahwa fungsi uang adalah untuk membeli barang kegemaran anak, seperti es krim, pakaian, dan mainan.

2.Mendapatkan uang dengan bekerja. 
Bekerja adalah hal wajib dilakukan setiap orang untuk mendapatkan uang. Awali pengenalan ini dengan menceriterakan pekerjaan Anda. Cara lain, ketika berkeliling di jalan bersama anak dan berjumpa dengan orang dewasa yang sedang bekerja seperti polisi lalu lintas, supir bus, pengantar surat, informasikan dengan jelas nama profesi dan pekerjaan mereka.

3.Berjualan sembari bermain.
Setiap anak senang diajak bermain. Nah sambil bermain, sebagai contoh coba libatkan anak untuk membantu Anda berjualan jus segar did epan rumah ketika acara 17 Agustus di kompleks ruma.Hobi pun bisa mendatangkan uang. Jika si kecil senang menggambar, sebagai langkah perdana, dia bisa menjual karyanya kepada Anda atau anggota keluarga lain.

4.Ada proses untuk mendapatkan hal yang diinginkan.
Proses ini dikenal dengan istilan menabung. Mumpung masih kecil, ajak anak untuk menyisihkan uang jajan atau yang didapatkan sebagai hadiah ke dalam celengan. Jelaskan bahwa bila celengen itu sudah penuh, bisa dipakai untuk membeli barang kesukaan anak.

5.Perbedaan antara yang disukai dengan yang dibutuhkan.
Ajaklah anak pergi berbelanja. Misalnya sedang berada di supermarket. Libatkan anak dalam proses menyeleksi makanan. Tanyakan mana yang lebih dibuthkan dengan perbandingan misalnya menanyakan ""Adek, mau makan pasta atau ingin coklat?"  Bimbing si kecil untuk menikmati proses ini.

DISIPLIN BELAJAR



Sulitkah mengajarkan anak disiplin belajar.  Ada anak yang dengan mudah akan segera menurut apa yang diinginkan oleh ibunya jika si ibu minta dia belajar.  Tetapi anak yang lain, hanya bilang "ya" kenyataannya dia bermain ,nonton televisi, main gadget.

Belajar adalah tanggung kewajiban dan tanggung jawab kita sehingga ibu tak perlu lagi mengingatkan apalagi memarahi.  Untuk itu perlu kedisiplinan.

Agar kita disiplin:

  1.  Mempunyai target. Tanpa target, misalnya masuk peringkat, tentu kita tidak bersemangat saat belajar. Pasanglah target prestasi atau nilai dan miliki niat yang besar untuk meraihnya.
  2. Matikan ponsel, televisi, komputer dan berhentilah bermain game saat waktu belajar tiba. Suara televisi,game, pesan dan bunyi telepon yang masuk hanya akan membuyarkan konsentrasi belajar kita.
  3. Buatlah daftar tugas sekolah dan pr yang harus dikerjakan agar kita tahu mana yang bisa dikerjakan nanti dan yang harus dikerjakan secepatnya. Dengan daftar ini, kita bisa mengatur waktu dengan baik untuk menyelesaikan satu per satu.
  4. Jangan mencari alasaan untuk menunda mengerjakan tugas sekolah atau pr. Jika kita tunda, akan semakin banyak tugas atau pr yang menumpuk.
  5.  Jangan menganggap belajar sebagai beban atau tekanan. Kita membuat suasana belajar yang menyenangkan, misalnya dengan berpindah ruangan atau ikut dalam kelompok belajar.
  6. Jika waktu belajar satu hingga dua jam cukup dan melelahkan, kita bisa mengambil waktu istirahat sejenak. Cobalah berdiri untuk mengambil minum dan makanan, atau ngobrol sebentar dengan ayah atau ibu. Kemduian kita bisa kembali belajar.
  7. Agar disiplin belajar kita tidak menurun, sebaiknya mulai belajar pada mata pelajaran yang jadi favorit,kemudia mengerjakan pelajaran yang sulit.