Loading

Slide Bar

Share

MANDIRI, MENEMPA ANAK BERMENTAL UNGGUL

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life's longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.-  Kahlil Gibran



Terngiang dan terdengar  terus menerus apa yang dikatakan oleh Kahlil Gibran.  Rasanya sangat tidak mungkin, tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh seorang ibu.  Berpijak pada puisi Kahlil Gibran yang terkenal itu, memandirikan anak dalam kehidupannya adalah bagian hidup dari seorang ibu yang harus ditempuh.

Sulit bagiku ketika keputusan harus diambil.  Saat-saat harus menghadapi perpisahan untuk melepaskan anak perempuan semata wayang itu  luar biasa penuh dengan pergumulan batin.  Anak ini tidak pernah ke luar dari pangkuanku, jangkauanku, pandanganku.  Namun, jika kubiarkan dia terus kudekap, apa yang akan terjadi. Kedewasaan untuk mandiri harus dimulai.  Jika tidak, kemungkinan anak ini akan menjadi manja, tidak mandiri. Tujuan utamanya adalah menjadi individu bermental  baja dan unggul di kemudian hari menghadapi berbagai tantangan dunia yang semakin tajam.

Medio June tahun 2012, adalah paling berat, setelah mengantarkan anak saya ke Melbourne. Saya hanya punya waktu seminggu untuk mengajarnya  lifeskill.

Dia tak pernah memasak .  Bahkan yang paling sederhana pun, masak nasi.  Mengajarinya masak nasi dengan rice cooker . Sederhana buat saya, tapi bukan sederhana baginya. Dia bertanya:  “Berapa airnya, bagaimana mengetahui  nasi sudah matang?”.    Apalagi belajar memasak. Baginya suatu pengalaman besar dan tidak menyenangkan.  

Dia terpaksa belajar memasak dari internet dan segala macam media.  Bumbu-bumbu pun ikut dipelajarinya.    Guru yang paling besar adalah pengalaman.  Dia pernah salah memanaskan makanan dengan microwave memakai mangkuk  yang bukan untuk micro-wave. Hasilnya  makanan  tidak bisa dimakan karena semuanya meleleh...

Dia tak pernah pergi ke tempat asing dan baru sendirian, selalu ada supir. Sekarang, belajar berjalan dengan kaki sendiri, belajar “map”, belajar orientasi jalan, belajar  cari tram atau train sesuai rutenya. Hari pertama ke kuliah harus tersesat, naik taxi untuk datang ke kampus, padahal tempatnya tidak jauh dari tempat apartemennya.

Dia tak pernah mengatur keuangannya sendiri. Segala sesuatu yang diperlukan disediakan. Sekarang budget disiapkan, tapi pengaturan keuangan harus dilakukan sendiri. Setiap pengeluaran harus dicatat dan diingat, apakah sesuai dengan anggaran.

Dia tak pernah mengurus  administrasi tentang  kontrak apartemen, kontrak  internet, kontrak  gas. Sekarang harus dilakukan tanpa ada yang membantunya.  Berpikir dan mengambil keputusan sendiri.

Dia tak pernah mengurus keperluan dirinya seperti  laundry karena di rumah pembantu melakukannya.  Sekarang harus dilakukan sendiri  dengan  bantuan mesin cuci.

Dia tak pernah mengalami kesulitan untuk mengurus kerusakan “frame dari  ranjangnya”.  Tapi harus dilakukannya karena ranjangnya roboh, terpaksa tidur di atas karpet yang dingin dan keras. Di negara kangguru , semua orang harus pandai untuk memperbaiki  segala sesuatu sendiri  atau disebut “handyman”.  Kecuali bagi yang kaya, bisa menyewa atau memanggil  “handyman”. Tiga minggu harus menunggu keputusan untuk mengganti frame dan ranjang.

Dia tak pernah mengalami bekerja sama dengan teman-teman yang mempunyai karakter dan perilaku enggan untuk menyelesaikan projek bersama.   Sekarang dia harus beradaptasi belajar kreatif, kritis dan mengambil keputusan untuk bisa mengatasi kesulitan bersosialisasi dengan orang asing .

Dia tak pernah mengalami kesulitan resiko yang harus diambil jika harus menanda-tangani  kontrak “internship” yang sangat melemahkan dirinya sebagai seorang mahasiswi.   Sekarang, dia harus berkonsultasi  dengan berbagai macam orang termasuk dosennya untuk menentukan pilihan pengambil keputusan.

Perubahan mentalitas dari  penumpang menjadi mentalitas pengemudi.  Mentalitas penumpang yang biasanya cenderung pasif, enggan mengambil  resiko.  Sebaliknya mentalitas penuh inisiatif, kreatif, kritis dan berani mengambil keputusan.

Perjalanan kemandirian bukan mudah bagi anak maupun saya sendiri. Anak harus menghadapi tantangan itu sendirian . Sementara saya sebagai orangtua pun penuh dengan kekhawatiran, kecemasan,  kasihan, ketakutan  pada saat anak sedang menghadapi kesulitannya.  Hanya dukungan mental dan doa saja yang dapat diberikan.

Mendidik anak menjadi mandiri adalah keputusan yang tak bisa diganggu gugat.   Bermental unggul dan baja adalah tujuannya, semoga engkau dapat mengerti dan memahami bahwa  dalam kesulitan saat ini, ada kemenangan di kemudian hari.



Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Every Mom Has A Story#Stopmomwar



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...