Loading

Slide Bar

Share

Orangtua Frustrasi, Anak Berbohong

www.pinterest.com

Orang tua cukup frustrasi jika menemukan anak mereka ternyata berbohong. Orangtua khawatir karena jika anak-anak tidak mengatakan kebenaran, atau kejujuran tentang apa yang mereka lakukan, pikirkan dan rasakan, terutama saat kita sendiri sudah berbuat jujur kepada mereka. Orangtua seringkali juga tidak suka melihat anak-anak melakukan perbuatan buruk dengan tidak mengatakan kejujuran.
Anak-anak berbohong untuk alasan yang berbeda pada usia yang berbeda. Memahami mengapa anak Anda mungkin berbohong bisa sangat membantu untuk mereka untuk membedakan apakah mereka berbohong atau tidak.. Memang hal ini tidak sesederhana minta kepada  anak untuk berbuat jujur atau "mengatakan kebenaran".

Untuk Semua Usia:
  • Menetapkan contoh yang baik.
  • Konsisten dengan harapan Anda.
  • Membangun konsekuensi sesuai usia, dengan mempertimbangkan penyebab kebohongan anak Anda dan tahap  perkembangan usia anak Anda.
Balita
Anak-anak berusia dini 2-3 tahun mulai dengan cara melakukan "kebohongan".Sangat penting untuk diingat, meskipun, bahwa pada usia ini, anak Anda tidak berbohong rasional dan tidak memiliki niat untuk menipu. Anak-anak ini tak paham bahwa apa yang dikatakannya itu sebenarnya menipu. Pada usia ini, anak-anak baru mengenali pola-pola tertentu - sebab dan akibat. Anak-anak berbuat "kebohongan" untuk menghindari efek negatif. Mereka tidak sepenuhnya menyadari bahwa mereka menyangkal realitas; apa yang mereka katakan sebenarnya ingin mengatakan supaya Anda tidak marah.

Bagaimana Anda dapat membantu?
Menegur atau menghukum anak Anda untuk "diam di suatu tempat" pada usia ini tidak efektif - mereka benar-benar tidak mengerti atau paham tentang pelanggaran. Anda dapat membantu mereka dari "kebohongan" dengan cara mengulangi tentang kebenaran kepada mereka . Usia meeka belum paham tentang apa itu kebenaran dan apa itu kebohongan. Yang paling penting adalah tunjukkan kepada untuk berbuat kebenaran. Setelah usia mereka lebih dewasa, mereka baru memahami tentang apa itu kebenaran dan apa itu kebohongan. Jadi saat usia mereka itu belum paham tentang kebenaran, mereka itu sebenarnya hanya takut jika mereka bercerita tentang kebenaran, Anda akan marah.

Anak-anak muda (3-5)
Dunia Anak-anak usia ini memiliki imajinasi yang sangat aktif . Dunia dimana mereka menghabiskan waktunya.. Jika anak Anda usia ini, mereka mungkin menghabiskan banyak waktu mereka dalam bermain imajinatif, atau bahkan mengembangkan teman imajiner. Konsep pemahaman tentang realita/fakta dan fantasi, belum dapat ditemukan atau masih kabur. Ketika anak menceritakan tentang sesuatu hal yang dilakukannya berkali-kali, ini menunjukkan kepada Anda sebuah indikasi betapa kuat imajinasi mereka.
Anak-anak juga kadang-kadang berbohong untuk mengeksplorasi reaksi orang. Mereka menjadi lebih sadar tentang perbedaan antara dirinya dan orang lain dan mulai menyadari bahwa apa yang mereka katakan dan lakukan dapat membuat perbedaan bagaimana orang lain bereaksi. Mungkin mereka dapat mengubah ceritanya untuk melihat bagaimana hal itu mempengaruhi Anda.

Bagaimana Anda dapat membantu?
Pertama-tama, ingat bahwa ini adalah fase normal perkembangan anak usia. Anak Anda harus pergi melalui periode eksplorasi untuk memperkuat pemahaman mereka tentang perbedaan antara realitas dan imajinasi, dan untuk memahami dampak kata-kata mereka pada orang lain.
Itu TIDAK berarti bahwa Anda harus mendorong mereka berbohong, tetapi tidak berarti Anda dapat membantu mereka dengan:

Bicarakan tentang perbedaan antara realitas dan imajinasi dan tunjukkan contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Bicarakan dengan anak Anda, secara mendasar, apa itu kebenaran, mengapa jujur itu sangat penting . Bagaimana kebohongan itu dapat menyakiti diri kita sendiri dan orang lain.

Anak-anak (6 dan atas)
Pada usia ini, anak Anda telah mampu memahami perbedaan antara mengatakan yang sebenarnya dan berbohong. Mereka memahami apa realitas. Mereka sengaja berbohong untuk memanipulasi bagaimana orang lain pikirkan atau rasakan. Hal ini biasanya dilakukan anak-anak dalam usia sekitar enam atau tujuh.
Beberapa alasan umum anak berbohong:
Untuk menghindari konsekuensi negatif. Jika anak Anda takut hukuman, mereka mungkin ingin menghindari hukuman yang nantinya akan dilakukan oleh orangtua.

Bagaimana Anda dapat membantu?
Fokuskan dan pastikan bahwa anak Anda mengalami sendiri manfaat mengatakan apa yang sebenarnya. Pergumulan anak untuk berterus-terang atau mengatakan yang sebenarnya, kadang-kadang akan membuatnya dihukum karena perbuatannya yang tak baik atau tak sesuai dengan yang seharusnya.
Mengatakan yang sebenarnya tidak menyelesaikan semuanya bagi anak Anda. Dia akan memiliki konsekuensi logis untuk menghadapi beberapa hal seperti berikut ini:
1) Mengatakan sebenarnya adalahlangkah pertama untuk memecahkan kesulitan mereka apapun keburukan yang telah mereka lakukan; 2) Anda sebagai orangtua bangga kepada anak yang telah mengatakan yang sebenarnya dan 3) setelah mendengar, Anda dapat membantu mereka memberikan solusinya.

MELINDUNGI ORANG LAIN
Jika anak Anda berbohong untuk melindungi orang lain yang "dalam kesulitan"
Bagaimana Anda dapat membantu?

Beritahukanlah kepada anak Anda bahwa niat mereka untuk berbohong itu baik, tetapi kebohongan itu justru merupakan kesetiaan palsu kepada teman. Beritahukan cara membantu teman dengan benar tanpa berbohong. Fokus untuk membantu anak Anda memahami arti sebenarnya dari persahabatan dan loyalitas sehingga mereka mencari cara untuk mendukung orang lain tanpa berbohong.

UNTUK BERSAING.
"Ayahku lebih kuat dari ayahmu." Biasanya anak ini ingin membanggakan diri keluarganya. Anak-anak ingin mengjadi superior dan tidak ingin merasa rendah diri, bahkan kesan lebih dari yang lain.

Bagaimana Anda dapat membantu?
Bantulah anak Anda menemukan nilai diri mereka sendiri dan tumbuh dalam kepercayaan diri yang sehat. Bantulah untuk mencintai orang lain dengan bakat dan kekuatannya sendiri, tidak perlu membual dengan menujukkan kekuataan di luar dirinya.Mereka mengenal dirinya sendiri dibandingkan orang lain mengenal dirinya.

Usia ini adalah usia krtis. Pada usia ini, anak Anda dalam perkembangan mental, fisik dan emosional. Krisis identitas menjadi hal yang mungkin terjadi.
Mereka berbohong tanpa mengatakan secara rinci apa yang dilakukannya untuk menghindari rasa malu. Mereka berbohong untuk menghindari Anda sebagai orangtua menemukan sesuatu yang mereka katakan atau lakukan karena mereka sangat tidak setuju dengan Anda tentang sesuatu masalah.
Inilah yang dinamakan fase perkembangan yang terfokus kekpada identitas nilai. Mereka telah menentukan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mereka setuju atau tidak setuju.. Mereka tidak ingin melakukan sesuatu karena "Ayah atau Ibu berkata begitu", tetapi karena mereka percaya percaya dengan nilai yang ada. Selama ini, remaja kadang-kadang menyimpang dari nilai-nilai keluarga mereka karena mereka ingin mengeksplorasi sendiri tanpa ingin membahas atau mengatakan kepada orang tua mereka bahkan mereka berbohong apa yang telah dilakukannya.

Bagaimana Anda dapat membantu?
Atasi masalah yang sebenarnya. Buat kesepakatan bersama apa yang Anda pahami sebagai  kebenaran dan apa contohnya. Jika anak Anda tetap tidak setuju dengan nilai-nilai keluarga yang ditetapkan, berikan kesempatan kepadanya untuk memberikan masukan. Diskusikan dan berikan pemahaman untuk  menyelesaikan.
Kita sebagai orangtua tidak boleh menyerah dengan “kebohongan” remaja. Pemahaman kita harus meliputi : 1) Jelaskan alasan yang melandasi harapan Anda tentang suatu nilai; 2) Minta kepada anak Anda untuk mengimplementasikan yang hal-hal yang penting selama ia masih dalam tanggung jawab kita ; 3) Bersedia menerima masukan anak Anda, mendiskusikan dan mengkompromikan untuk hal yang terbaik bagi keluarga Anda.

6 Tips untuk Menetapkan Goal /Tujuan Hidup untuk Anak

Dalam setiap kehidupan manusia, selalu ada tujuan atau goal yang ingin dicapai.  Untuk mengarahkan apa yang dicapai, pasti ada goal atau tujuan hidup yang perlu diatur.
Goal atau tujuan hidup bukan ditujukan hanya untuk orang dewasa saja.  Tetapi setiap anak perlu punya goal atau tujuan hidup agar sejak kecil mereka diajarkan untuk selalu menapak langkah hidupnya sesuai dengan tujuan hidupnya.

Mengatur goal/tujuan hidup merupakan ketrampilan (lifeskill) yang sangat penting dan makin dini diajarkan makin baik anak dapat mengembangkan dirinya.   Anak belajar untuk menetapkan sendiri apa goal/ tujuan hidupnya.  Mengambil tanggung jawab mereka sendiri. Mereka juga belajar mengambil tindakan atau langkah jika mereka gagal atau berhasil.  Pengaturan goal/tujuan hidup juga membangun rasa percaya diri saat anak berhasil mencapai goal/tujuan hidup.  Mereka belajar dengan percaya diri apa yang jadi goal/tujuan hidup dan meraihnay untuk masa depannya.

1. Bekerja-sama  dengan anak untuk menentukan  goaltujuan hidupnya. Cobalah untuk tidak mendikte apa goal/tujuan hidupnya yang harus ditentukannya. Untuk anak yang masih belum mampu menentukan, coba bantu dengan memberikan gambaran apa yang jadi goal /tujuan hidupnya dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah ditentukan. Untuk anak yang sudah lebih besar,  mereka dapat menentukan sendiri tanpa campur tangan orangtua.

2. Mulailah dengan  goal/tujuan hidup yang kecil.  Memulai sesuatu yang kecil agar mudah untuk mencapai goal/tujuan hidup. Memastikan bahwa anak mengalami beberapa keberhasilan awal dalam proses penetapan tujuan. Begitu mereka mengalami keberhasilan yang sesungguhnya, tentu mereka akan memiliki kepercayaan diri dan bahkan berani menentukan goal/tujuan hidupyang lebih menantang di masa mendatang.

3. Pastikan goal/tujuan hidup sesuai dengan usia.  Untuk anak  TK sampai  kelas tiga SD dapat menentukan goal/tujuan hidup dengan berbagi dengan teman-teman, membaca buku secara mandiri, dll .  Untuk anak  kelas empat SD, anak-anak dapat menetapkan goal/tujuan yang lebih kompleks seperti berlatih sepakbola dalam tim, atau membentuk tim untuk menggalang dana.

4. Tujuan hidup harus realistis dan dapat dicapai. Anak-anak perlu menetapkan goal/tujuan bahwa mereka memiliki keterampilan untuk mencapai. Sebagai contoh, sangat tidak realistis bagi anak yang berusia lima tahun memiliki goal/tujuan hidup dengan membaca buku Harry Potter  secara independen karena mereka belum mampu mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk melakukannya. Goal/Tujuan yang lebih besar akan dicapai jika anak itu berusia lebih besar.

5. Buatlah goal/tujuan yang spesifik.  Terlalu banyak goal/tujuan membuat anak kebingunhan.  Buat tujuan hidup dengan sangat jelas.   Jangan mengatakan 'saya akan melakukan yang lebih baik di sekolah' atau saya akan berbuat yang baik buat negara.

6.  Memutuskan bagaimana cara memonitor kemajuan anak.  Anak akan bersemangat jika mereka melihat ada kemajuan atas apa yang mereka tentukan. Cara melacak kemajuan mereka dengan menggunakan grafik stiker, grafik, tanda yang jelas di kertas kerja.
Buatlah papan visi dengan anak-anak
[caption caption="http://www.kiddiematters.com/teaching-children-how-to-set-goals-and-use-a-vision-board/"][/caption]
Sebuah papan visi merupakan alat visual yang menggambarkan apa yang ingin anak kita capai.  Papan visi juga untuk pengingat dari apa yang akan kita tuju. Sebuah papan visi adalah alat yang sangat hebat untuk mengajar anak-anak cara mencapai tujuan/goal. Anak-anak dapat menggunakan papan visi agar mereka tetap termotivasi dan fokus karena mereka sedang dalam perjalanan menuju tujuan/goal.

Harta yang Berharga adalah Keluarga

www.briliantbusinessmoms.com

Di zaman modern ini, agaknya tidak setiap orang setuju pemahaman bahwa “Harta yang berharga adalah keluarga”. Kenapa? Di satu sisi, kehadiran keluarga memang didambakan oleh setiap orang. Namun, bukan berarti keluarga adalah harta yang berharga. Itulah yang sering diungkapan banyak orang. Sekarang ini banyak yang lebih berharga seperti handphone, rumah, uang dan sebagainya.

Pergeseran nilai sebuah keluarga adalah yang berharga memang telah digantikan dengan nilai yang lain. Materialisme memang tertanam di zaman modern ini. Jika tidak ada uang tidak bisa membeli apa pun.
Kondisi demikian membuat setiap keluarga mengejar karir sampai lupa kepada waktu atau keluarga yang ditinggalkan.

Sebuah ilustrasi yang sangat menarik untuk di simak di bawah ini:
Seorang ayah dari seorang putra, Bagus (bukan nama yang sebenarnya). Dia memiliki karir yang cemerlang sebagai branch manager dari suatu perusahaan . Memiliki seorang putra yang bernama Michael dia berusia 5 tahun. Setiap hari Bagus pulang kerja dari Senin hingga Jumat sekitar jam 21.00 dan berangkat kerja pukul 6.00. Pulang ketika anaknya Michael sudah tertidur lelap di tempat tidurnya, dan berangkat kerja ketika anaknya baru saja terbangun untuk sekolah.
Komunikasinya hanya dilakukan setiap sabtu dan Minggu. Itu pun jika tidak acara kantor yang tiba-tiba harus dihadirinya.

Hari Jumat malam, setelah selesai meeting dengan klien, Bagus sampai di rumah pukul 21.00. Tubuhnya lelah dan ingin cepat istirahat. Namun, apa yang terjadi? Ketika dia mengetok pintu rumahnya, yang membukakan pintu adalah putranya Michael .
“Loh, Michael kok belum tidur?” tanya heran.
“Aku memang sengaja tunggu papah!” tanyanya manja”
“Papah sibuk di kantor. Nanti jika tidak bekerja keras, ngga dapat gaji”, katanya
“Papah, boleh tanya berapa gaji papah di kantor?” tanyanya dengan polos.
“Begini, papah bekerja selama 10 jam sehari digaji Rp.500,000”, kata Bagus.
“Kalo gitu, saya mau pinjam uang kepada papah Rp.5,000”, kata Michael.
“Kamu pengin beli apa sich? Nanti kita ke mall hari Sabtu . Sekarang papah mau istirahat”, katanya.

Lalu, Michael pun beranjak ke kamar tidurnya. Dia tidak tidur. Dicarinya sesuatu . Tiba-tiba suara perca yang dipecahkan terdengar. Dia memecahkan “celengan” atau tabungan yang terbuat dari tanah liat dengan bentuk bebek kesukaannya.
Mendengar suara keras , Bagus mengetuk pintu kamar Michael. Begitu melihat ada celengan yang dipecah, Bagus jadi heran.
“Kok malam-malam pecahkan “celengan”? kata Bagus.
“Iya ini ada uang Rp45,000 , Michael mau pinjam uang Rp.5,000 dari papah”, katanya.
“Untuk apa? Kata Bagus.
“Untuk beli gaji papah 1 jam!” kata Michael sambil menyodorkan secarik kertas hasil hitungan Rp.500,000 dibagi dengan 10 jam.
Bagus terdiam dan tersentak, tersekat tanpa dapat mengatakan apa pun.
Diusapnya kepala Michael dan dikecupnya pipinya. Didekapnya dengan sangat hangat, dekapan yang sudah lama didambakan oleh Michael yang sudah lama tidak didapatkan oleh Michael. Kerinduan untuk bermain sepakbola bersama ayahnya menyebabkannya ia ingin  membeli waktu ayahnya.

Kesuksesan Anak dengan Persiapkan "Lifeskill"

www.google.com


Kebahagiaan orangtua jika melihat anaknya sukses baik itu dalam karir, pekerjaan di masa mendatang.  Kesuksesan anak tidak serta merta datang begitu saja.  Melalui persiapan yang matang untuk  "lifeskill", anak akan mampu menghadapi tantangan.
Berikut adalah tips untuk persiapkan "Lifeskill" anak sesuai dengan tahapan usianya.

Usia 2-3: Tugas-tugas Kecil dan Basic Grooming
________________________________________
Pada  usiaini, anak Anda akan mulai belajar keterampilan hidup dasar. Pada usia tiga, anak Anda harus dapat:
• Bantuan menyimpan kembali mainannya
• Mengenakan baju sendiri (dengan bantuan dari Anda).
• Masukan pakaiannya ke dalam keranjang ketika ia melepaskan pakainanya.
• Bersihkan piring setelah makan.
• Membantu dalam menyiapkan meja.
• Sikat gigi dan mencuci muka dengan bantuan.

Usia 4-5: Nama dan Nomor Penting
________________________________________
Ketika anak mencapai  usia ini, keterampilan keselamatan yang tinggi pada daftar. Dia harus tahu:
• Nama lengkapnya, alamat, dan nomor telepon.
• Bagaimana membuat panggilan darurat.
Anak Anda juga harus belajar bagaimana untuk:
• Lakukan pembersihan tugas-tugas sederhana seperti debu di tempat-tempat yang mudah dijangkau dan membersihkan meja setelah makan.
• Memberi makann kepada hewan peliharaan
• Mengidentifikasi denominasi moneter, dan memahami konsep yang sangat dasar tentang bagaimana uang digunakan.
• Sikat gigi, menyisir rambutnya, dan mencuci wajahnya tanpa bantuan.
• Membantu dengan tugas-tugas laundry , seperti meletakkan pakaiannyauntuk pergi, dan membawa pakaian kotor nya untuk area cuci.
• Pilih pakaiannya sendiri untuk dipakai.

Berikutnya: Abad 6-7: Teknik Dasar Memasak
Usia 6-7: Teknik Dasar Memasak
________________________________________
Anak pada usia ini dapat mulai untuk membantu dengan memasak makanan, dan dapat belajar untuk:
• Mencampur, mengaduk, dan memotong dengan pisau tumpul.
• Membuat makanan dasar, seperti sandwich.
• Membantu menempatkan belanjaan pergi.
• Mencuci piring.
Anak Anda juga harus belajar bagaimana untuk:
• Gunakan pembersih rumah tangga yang aman
• Bersihkankamar mandi setelah menggunakannya.
• Bersihkan tempat tidurnya tanpa bantuan.
• Mandi tanpa pengawasan.

Usia 8-9: Merawat  Barang Pribadi
________________________________________
Pada usia  ini, anak Anda harus dapat merawat barang-barang pribadi dengan benar.
Ini termasuk kemampuan untuk:
• Lipat pakaiannya.
• Belajar menjahit sederhana.
• Perawatan untuk mainan outdoor seperti sepeda atau roller skate nya.
Anak Anda juga harus belajar bagaimana untuk:
• Jaga kebersihan pribadi tanpa diberitahu untuk melakukannya.
• Gunakan sapu dan pengki benar.
• Baca resep dan menyiapkan makanan sederhana.
• Membantu membuat daftar belanjaan.
• Hitung dan melakukan perubahan.
• Ambil pesan telepon yang ditulis.
• Membantu dengan tugas rumput sederhana seperti penyiraman dan penyiangan tempat tidur bunga.
• Mengambil sampah.

Usia 10-13:  Mendapatkan Kebebasan
________________________________________
Ketika usia anak Anda menginjak 10-13,anak harus memiliki  keterampilan independen.
Dia harus tahu bagaimana untuk:
• Tetap di rumah sendirian.
• Pergi ke toko dan melakukan pembelian sendiri.
• Mengubah seprai sendiri.
• Gunakan mesin cuci dan pengering.
• Merencanakan dan menyiapkan makanan dengan beberapa bahan.
• Gunakan oven untuk memanggang atau memanggang makanan.
Anak Anda juga harus belajar bagaimana untuk:
• Membaca label.
• Menyetrika pakaiannya.
• Belajar  cara menggunakan peralatan "tukang"
• Memotong rumput.
• Jaga adik atau tetangga.

Usia 14-18: KEtrampilan Lebih Lanjut
________________________________________
Pada usia 14, anak Anda harus memiliki penguasaan yang sangat baik dari semua keterampilan sebelumnya.
Selain itu, dia juga harus mampu:
• Lakukan pembersihan dan pemeliharaan pekerjaan yang lebih canggih, seperti mengubah tas vacuum cleaner, membersihkan kompor, dan penyumbatan saluran air.
• Isi mobil dengan gas, menambah pesawat ke dan mengganti ban.
• Membaca dan memahami label obat dan dosis.
• Wawancara dan mendapatkan pekerjaan.
• Menyiapkan dan memasak makanan jika diperlukan. Cobalah resep mudah dan sehat

Selamat menyiapkan anak Anda dengan "Lifeskills" yang mumpuni.

Empat Tips untuk Membantu Anak dalam Penguatan (Afirmasi)

google.com

Ketika anak balita menanyakan sesuatu kepada orangtua, lalu orangtua menjawabnya.  Namun, seringkali anak yang masih berusia balita itu tak juga memahami dengan jawaban kita.   Dia masih membutuhkan penguatan atau afirmasi (affirmation) dari jawaban kita.  Sebagai contoh,  pulang dari sekolah seorang anak menangis.  Ibunya bertanya:  "Kenapa menangis, nak?"  Jawab anak itu:  "Tadi, aku dikatakan anak bodoh oleh teman-temanku karena aku tak bisa menangkap bola!"
Afirmasi yang dilakukan oleh ibunya :  "Kamu tidak bodoh, kamu hanya perlu berlatih main bola".   Dengan afirmasi dari ibu, anak akan merasakan peneguhan atau penguatan bahwa kata yang diucapkan teman-temannya itu salah.  Afirmasi dari seorang ibu yang merupakan orang yang paling dekat dan terpercaya baginya jadi kekuatan baginya.
Kebutuhan afirmasi menjadi mutlak karena mereka belum saatnya mengerti jawaban kita.   Kebutuhan itu harus kita sadari dan kita berikan.
Nach, inilah tips dari pemberian afirmasi kepada anak:

1. Selalu berikan  afirmasi yang bersifat  positif. 
Sebagai pengganti  mengatakan "Saya bukan seorang teman yang buruk".  Syang lebih baik jika  mengatakan "Saya adalah seorang teman baik." Mengatakan afirmasi bersifat negatif berfungsi sebagai pengingat atas perilaku yang bersifat negatif atau Anda mencoba mengubah sifatnya yang jelek itu.

2. Menuliskan afirmasi dengan kondisi saat ini. Bukan menuliskan afirmasi bahwa kejadian itu seolah-olah sudah terjadi.
"Saya mendapatkan nilai yang baik" lebih efektif daripada mengatakan "Aku akan mendapatkan nilai yang baik." Menyatakan afirmasi Anda dalam waktu sekarang memberikan inspirasi dan motivasi untuk bekerja atas keinginan Anda. Namun, ketika Anda menyatakan mereka dalam waktu tegang, ia cenderung untuk menciptakan kecemasan dan keraguan diri.

3. Afirmasi bersifat langsung dan jelas. 
Anak akan merasa lebih mudah mengingatnya kata atau kalimat yang pendek dan melatihnya afirmasi itu untuk kepentingan mereka.  Jika afirmasi terlalu panjang anak cenderung menghabiskan waktu terlalu lama untuk mencoba  menghafal afirmasi .  Mereka seharusnya  berfokus kepada internalisasi dan benar-benar mempercayai penegasan.

4. Biarkan anak-anak untuk memutuskan afirmasiyang mereka ingin membuat.
Anda pasti bisa membimbing mereka, tetapi pada akhirnya Anda ingin mereka untuk mengambil keputusana untuk memilih proses itu.  Hal ini  membuat mereka berlatih afirmasi/
Setelah anak Anda berhasil menciptakan afirmasinya, pastikan  mereka berlatih  setidaknya dua kali dalam sehari. Semakin konsisten mereka berlatih, semakin besar kemungkinan mereka terhindari dari afirmasi negatif.

Selamat berlatih!

Ibu dan Ayah harus Kompak di Depan Anak

google.com

Seringkali dijumpai sepasang suami-istri bertengkar di depan anaknya.  Barangkali soal yang sepele , tentang permintaan makanan anak yang sebenarnya tidak disetujui oleh ibunya karena makanan itu tidak bergizi dan membahayakan. Sedangkan, ayah berpendapat lain, biarkan anak tumbuh sehat dengan memakan segala macam makanan.   Nantinya, jika anak sakit karena memang makanan yang dikonsumsi oleh anak itu merupakan pemicu dari asmanya, ibu yang harus membereskan kesehatan anak, mulai dari ke dokter sampai tuntas pengobatannya.

Yang utama jika ayah dan ibu berselisih atau bertengkar soal anak, sebaiknya harus membuat kekompakan dulu .   Misalnya tentang permintaan anak untuk main gadget pada usia 2 tahun.  Menurut ibu tidak baik, karena pertumbuhan kembang  psikologis dari anak akan mempengaruhi jika dia bermain gadget.  Ayah pun mungkin punya argumentasi yang lain bahwa sekarang ini semua anak perlu mengetahui perkembangan teknologi.   

Diskusikan jalan tengah untuk memenuhi permintaan anak karena hanya dengan satu suara dalam parenting,  anak tidak akan mencari kelemahan orangtua.  Apabila kedua orangtua itu tidak kompak, anak akan mencoba mencari siapa yang mendukung permintaannya, di sinilah dia mulai mendekatinya dan memohon agar permintaannya dipenuhi.  Seolah-olah kedua orangtua itu diadu oleh anak.  Sungguh ironis bukan.  

Tujuan parenting itu agar anak mengetahui sumber yang benar adalah orangtuanya. Jika kedua orangtuanya punya dua suara.  Dia akan jadi bingung.  Bukan hanya bingung dia juga menjadi kurang percaya diri.
Akibat dua suara itu tidak baik baik perkembangan psikologis anak.  Saya pun pernah diminta untuk mengatasi seorang anak yang berkembang di sebuah keluarga dengan orangtua yang selalu punya dua cara parenting yang berbeda.   Ketika anak itu tidak diizinkan untuk merokok oleh ibunya.   Ayahnya tidak menjadi role model, dan dia seolah memberikan isyarat bahwa dia akan membelikannya setelah ibunya pergi.  Akhirnya, benar, ayahnya mengizinkan anak itu untuk merokok dengan membelirokok.  Anak itu setelah dewasa, tidak punya memiliki kepercayaan diri .  Seringkali dalam pekerjaan tidak ada keseimbangan dan kepercayaan diri untuk memutuskan diri meskipun secara formal dia seorang insinyur. Tapi perkembangan psikisnya sangat labil sekali.

Seorang psikolog dari Universitas Muhamadiyah Malang, Iswinarti, menjelaskan orangtua yang tidak kompak akan menyebabkan anak menjadi pergu, pembangkang dan tidak taat aturan. Seperti dijelaskan di atas, ketidak kompakan membuat anak mendapat dukungan dari salah satu pihak, entah itu ayah atau ibunya.

Kunci dari kekompakan orangtua adalah dengan komunikasi terbuka, jika tidak mendapatkan solusi pun, salah satu harus mengalah, dan hanya seorang yang berbicara dan yang tidak setuju tidak diperkenankan memberikan komentar atau menyuarakan sesuatu yang tidak mendukung.

Mari ayah dan ibu saling kompak menghadapi anak agar anak tidak bingung mendapatkan perintah, pendapat yang berbeda dari orangtuanya.

Lima Kebiasaan Sederhana dan Super yang Dapat Mentransformasi Pola Pengasuhan Anda

www.thebettermom.com

Ada banyak buku dan blog yang mengajarkan kita bagaimana menjadi orangtua yang baik, tapi itu ini adalah benar-benar sangat sederhana. Menjadi orangtua yang baik dapat kita mulai dengan mengubah beberapa kebiasaan. Percayakan Anda pada hal ini? Ikutilah tes berikut ini. Cobalah salah satu dari kebiasaan sederhana setiap hari sepanjang lima hari ke depan, dan Anda akan melihat bagaimana hal itu mengubah keluarga Anda dan rumah Anda! Saya tantang anda!

1. Senyum
Ketika kita tersenyum kepada anak-anak kita itu. Hal ini menunjukkan bahwa kita mencintai dan menerima mereka. Senyum kita memudahkan kekhawatiran anak-anak kita. Senyum kita menenangkan mereka. Senyum kita membongkar penyekat hubungan kita yang tidak dekat sehingga mereka membuka diri kepada kita.
Tantangan Hari Pertama: Senyumlah dengan fokus ketika kita memandang dan berbicara kepadanya . Biarkan senyum Anda menyapa anak-anak Anda di awal hari, dan menemui mereka sepanjang itu.

2. Bicara lembut
Anda mungkin telah melihat fenomena ini sebelumnya. . .makin keras suara kita, maka makin keras pula suara anak kita. Atau sebaliknya mungkin suara anak-anak Anda sudah keras dan Anda harus meningkatkan suara Anda untuk berbicara kepada mereka. Lalu, apa yang harus dilakukan? Bicaralah dengan lembut. Baik itu ketika Anda meminta anak anda untuk sarapan atau meminta dia membersihkan ruangan tamu yang kotor karena kotoran yang dibawanya. Dekatilah,bersandarlah, berbicara merendahkan badan Anda dan berbicara dengan suara lembut. Pasti anak anda akan merespon jauh lebih baik dari hal yang pertama Anada lakukan.
Tantangan Hari Kedua: Setiap kali volume suara di rumah Anda naik, turunkan volume suara Anda. Juga,mintalah permintaan dengan suara lembut dan rendah.

3. Katakan apa yang Anda maksud
Banyak ibu-ibu atau perempuan yang berbicara berputar-putar atau "bertele-tele." Sering seorang ibu ketika menyuruh anaknya untuk membersihkan ruangan, ia mengatakan: "Ambil mainanmu! Siapa yang meninggalkan mainan itu di atas meja? Apakah engkau sengaja meninggalkannya?"
Lebih baik katakan sera lugas dengan cara yang baik: “Tolong bersihkan semua mainan Anda di kamar Anda. " Jika kita bicara secara berbelit-belit, anak Anda menganggap permintaan kita sebagai hal yang tidak serius.
Tantangan Hari Ketiga: Katakanlah apa yang Anda inginkan. Ketika berbicara dengan anak-anak Anda , berbicaralah dengan spesifik dan tidak bertele-tele.

4. Meminta bantuan.
Mengamati keluarga saya di sepanjang kehidupan berkeluarga, ketika saya sedang berada dalam kondisi banyak pekerjaan, mereka tidak menawarkan bantuan kepada saya.
Alasannya mungkin mereka juga sibuk dengan pekerjaan atau kegiatannya sendiri. Alasan kedua mereka tidak mengetahui apa yang saya butuhkan.
Lalu, mengapa saya tidak minta bantuan kepada anggota keluarga saat kita membutuhkan bantuannya. Minta bantuan secara spesifik dan jika diperlukan bantuan itu lebih dari satu, maka kita buat dalam bentuk list kepada anak-anak. Contohnya: 1. Beri makan anjing; 2 Bersihkan air di kamar mandi; 3. Mengepel kamar tidurmu.
Tantangan Hari Keempat: Mintalah bantuan jika diperlukan. Jangan ingin jadi pahlawan kesiangan. Mintalah bantuan secara spesifik dan jelas dan kapan untuk dilakukannya. Hal ini akan mudah dilakukan oleh anak-anak.
Harapan dan mimpi seorang ibu ketika anaknya belum lahir adalah anak seperti apa yang diinginkannya. Ketika anak telah lahir, maka anak-anak dipaksakan untuk menyesuaikan dirinya seperti harapan ibunya. Tentu hal ini sangat berat bagi seorang anak.
Menyesuaikan keinganan kita dengan apa yang ada dalam diri atau kepribadian anak, akan membuat hubungan atau relasi dengan anak menjadi jauh lebih baik. Anak merasa dihargai dengan baik ketika ibunya memahami apa yang diinginkannya dan melatih dan memberi motivasi sesuai dengan kepribadiannya.
Tantangan Hari Kelima: Duduklah dan tulislah kekuatan dan kelemahan masing-masing anak-anak Anda. Kemudian tuliskan apa yang dapat Anda lakukan untuk membantunya mengembangkan kekuatan dan apa yang dapat Anda lakukan untuk membantu memerangi nya kelemahan nya. Jika anak Anda sudah cukup besar, diskusikan dengan cara dia.