![]() |
| google.com |
Seringkali dijumpai sepasang suami-istri bertengkar di depan anaknya. Barangkali soal yang sepele , tentang permintaan makanan anak yang sebenarnya tidak disetujui oleh ibunya karena makanan itu tidak bergizi dan membahayakan. Sedangkan, ayah berpendapat lain, biarkan anak tumbuh sehat dengan memakan segala macam makanan. Nantinya, jika anak sakit karena memang makanan yang dikonsumsi oleh anak itu merupakan pemicu dari asmanya, ibu yang harus membereskan kesehatan anak, mulai dari ke dokter sampai tuntas pengobatannya.
Yang
utama jika ayah dan ibu berselisih atau bertengkar soal anak, sebaiknya
harus membuat kekompakan dulu . Misalnya tentang permintaan anak
untuk main gadget pada usia 2 tahun. Menurut ibu tidak baik, karena
pertumbuhan kembang psikologis dari anak akan mempengaruhi jika dia
bermain gadget. Ayah pun mungkin punya argumentasi yang lain bahwa
sekarang ini semua anak perlu mengetahui perkembangan teknologi.
Diskusikan
jalan tengah untuk memenuhi permintaan anak karena hanya dengan satu
suara dalam parenting, anak tidak akan mencari kelemahan orangtua.
Apabila kedua orangtua itu tidak kompak, anak akan mencoba mencari siapa
yang mendukung permintaannya, di sinilah dia mulai mendekatinya dan
memohon agar permintaannya dipenuhi. Seolah-olah kedua orangtua itu
diadu oleh anak. Sungguh ironis bukan.
Tujuan parenting itu agar anak
mengetahui sumber yang benar adalah orangtuanya. Jika kedua orangtuanya
punya dua suara. Dia akan jadi bingung. Bukan hanya bingung dia juga
menjadi kurang percaya diri.
Akibat
dua suara itu tidak baik baik perkembangan psikologis anak. Saya pun
pernah diminta untuk mengatasi seorang anak yang berkembang di sebuah
keluarga dengan orangtua yang selalu punya dua cara parenting yang
berbeda. Ketika anak itu tidak diizinkan untuk merokok oleh ibunya.
Ayahnya tidak menjadi role model, dan dia seolah memberikan isyarat
bahwa dia akan membelikannya setelah ibunya pergi. Akhirnya, benar,
ayahnya mengizinkan anak itu untuk merokok dengan membelirokok. Anak
itu setelah dewasa, tidak punya memiliki kepercayaan diri . Seringkali
dalam pekerjaan tidak ada keseimbangan dan kepercayaan diri untuk
memutuskan diri meskipun secara formal dia seorang insinyur. Tapi
perkembangan psikisnya sangat labil sekali.
Seorang
psikolog dari Universitas Muhamadiyah Malang, Iswinarti, menjelaskan
orangtua yang tidak kompak akan menyebabkan anak menjadi pergu,
pembangkang dan tidak taat aturan. Seperti dijelaskan di atas, ketidak
kompakan membuat anak mendapat dukungan dari salah satu pihak, entah itu
ayah atau ibunya.
Kunci
dari kekompakan orangtua adalah dengan komunikasi terbuka, jika tidak
mendapatkan solusi pun, salah satu harus mengalah, dan hanya seorang
yang berbicara dan yang tidak setuju tidak diperkenankan memberikan
komentar atau menyuarakan sesuatu yang tidak mendukung.
Mari
ayah dan ibu saling kompak menghadapi anak agar anak tidak bingung
mendapatkan perintah, pendapat yang berbeda dari orangtuanya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar