Loading

Slide Bar

Share

Harta yang Berharga adalah Keluarga

www.briliantbusinessmoms.com

Di zaman modern ini, agaknya tidak setiap orang setuju pemahaman bahwa “Harta yang berharga adalah keluarga”. Kenapa? Di satu sisi, kehadiran keluarga memang didambakan oleh setiap orang. Namun, bukan berarti keluarga adalah harta yang berharga. Itulah yang sering diungkapan banyak orang. Sekarang ini banyak yang lebih berharga seperti handphone, rumah, uang dan sebagainya.

Pergeseran nilai sebuah keluarga adalah yang berharga memang telah digantikan dengan nilai yang lain. Materialisme memang tertanam di zaman modern ini. Jika tidak ada uang tidak bisa membeli apa pun.
Kondisi demikian membuat setiap keluarga mengejar karir sampai lupa kepada waktu atau keluarga yang ditinggalkan.

Sebuah ilustrasi yang sangat menarik untuk di simak di bawah ini:
Seorang ayah dari seorang putra, Bagus (bukan nama yang sebenarnya). Dia memiliki karir yang cemerlang sebagai branch manager dari suatu perusahaan . Memiliki seorang putra yang bernama Michael dia berusia 5 tahun. Setiap hari Bagus pulang kerja dari Senin hingga Jumat sekitar jam 21.00 dan berangkat kerja pukul 6.00. Pulang ketika anaknya Michael sudah tertidur lelap di tempat tidurnya, dan berangkat kerja ketika anaknya baru saja terbangun untuk sekolah.
Komunikasinya hanya dilakukan setiap sabtu dan Minggu. Itu pun jika tidak acara kantor yang tiba-tiba harus dihadirinya.

Hari Jumat malam, setelah selesai meeting dengan klien, Bagus sampai di rumah pukul 21.00. Tubuhnya lelah dan ingin cepat istirahat. Namun, apa yang terjadi? Ketika dia mengetok pintu rumahnya, yang membukakan pintu adalah putranya Michael .
“Loh, Michael kok belum tidur?” tanya heran.
“Aku memang sengaja tunggu papah!” tanyanya manja”
“Papah sibuk di kantor. Nanti jika tidak bekerja keras, ngga dapat gaji”, katanya
“Papah, boleh tanya berapa gaji papah di kantor?” tanyanya dengan polos.
“Begini, papah bekerja selama 10 jam sehari digaji Rp.500,000”, kata Bagus.
“Kalo gitu, saya mau pinjam uang kepada papah Rp.5,000”, kata Michael.
“Kamu pengin beli apa sich? Nanti kita ke mall hari Sabtu . Sekarang papah mau istirahat”, katanya.

Lalu, Michael pun beranjak ke kamar tidurnya. Dia tidak tidur. Dicarinya sesuatu . Tiba-tiba suara perca yang dipecahkan terdengar. Dia memecahkan “celengan” atau tabungan yang terbuat dari tanah liat dengan bentuk bebek kesukaannya.
Mendengar suara keras , Bagus mengetuk pintu kamar Michael. Begitu melihat ada celengan yang dipecah, Bagus jadi heran.
“Kok malam-malam pecahkan “celengan”? kata Bagus.
“Iya ini ada uang Rp45,000 , Michael mau pinjam uang Rp.5,000 dari papah”, katanya.
“Untuk apa? Kata Bagus.
“Untuk beli gaji papah 1 jam!” kata Michael sambil menyodorkan secarik kertas hasil hitungan Rp.500,000 dibagi dengan 10 jam.
Bagus terdiam dan tersentak, tersekat tanpa dapat mengatakan apa pun.
Diusapnya kepala Michael dan dikecupnya pipinya. Didekapnya dengan sangat hangat, dekapan yang sudah lama didambakan oleh Michael yang sudah lama tidak didapatkan oleh Michael. Kerinduan untuk bermain sepakbola bersama ayahnya menyebabkannya ia ingin  membeli waktu ayahnya.

Kesuksesan Anak dengan Persiapkan "Lifeskill"

www.google.com


Kebahagiaan orangtua jika melihat anaknya sukses baik itu dalam karir, pekerjaan di masa mendatang.  Kesuksesan anak tidak serta merta datang begitu saja.  Melalui persiapan yang matang untuk  "lifeskill", anak akan mampu menghadapi tantangan.
Berikut adalah tips untuk persiapkan "Lifeskill" anak sesuai dengan tahapan usianya.

Usia 2-3: Tugas-tugas Kecil dan Basic Grooming
________________________________________
Pada  usiaini, anak Anda akan mulai belajar keterampilan hidup dasar. Pada usia tiga, anak Anda harus dapat:
• Bantuan menyimpan kembali mainannya
• Mengenakan baju sendiri (dengan bantuan dari Anda).
• Masukan pakaiannya ke dalam keranjang ketika ia melepaskan pakainanya.
• Bersihkan piring setelah makan.
• Membantu dalam menyiapkan meja.
• Sikat gigi dan mencuci muka dengan bantuan.

Usia 4-5: Nama dan Nomor Penting
________________________________________
Ketika anak mencapai  usia ini, keterampilan keselamatan yang tinggi pada daftar. Dia harus tahu:
• Nama lengkapnya, alamat, dan nomor telepon.
• Bagaimana membuat panggilan darurat.
Anak Anda juga harus belajar bagaimana untuk:
• Lakukan pembersihan tugas-tugas sederhana seperti debu di tempat-tempat yang mudah dijangkau dan membersihkan meja setelah makan.
• Memberi makann kepada hewan peliharaan
• Mengidentifikasi denominasi moneter, dan memahami konsep yang sangat dasar tentang bagaimana uang digunakan.
• Sikat gigi, menyisir rambutnya, dan mencuci wajahnya tanpa bantuan.
• Membantu dengan tugas-tugas laundry , seperti meletakkan pakaiannyauntuk pergi, dan membawa pakaian kotor nya untuk area cuci.
• Pilih pakaiannya sendiri untuk dipakai.

Berikutnya: Abad 6-7: Teknik Dasar Memasak
Usia 6-7: Teknik Dasar Memasak
________________________________________
Anak pada usia ini dapat mulai untuk membantu dengan memasak makanan, dan dapat belajar untuk:
• Mencampur, mengaduk, dan memotong dengan pisau tumpul.
• Membuat makanan dasar, seperti sandwich.
• Membantu menempatkan belanjaan pergi.
• Mencuci piring.
Anak Anda juga harus belajar bagaimana untuk:
• Gunakan pembersih rumah tangga yang aman
• Bersihkankamar mandi setelah menggunakannya.
• Bersihkan tempat tidurnya tanpa bantuan.
• Mandi tanpa pengawasan.

Usia 8-9: Merawat  Barang Pribadi
________________________________________
Pada usia  ini, anak Anda harus dapat merawat barang-barang pribadi dengan benar.
Ini termasuk kemampuan untuk:
• Lipat pakaiannya.
• Belajar menjahit sederhana.
• Perawatan untuk mainan outdoor seperti sepeda atau roller skate nya.
Anak Anda juga harus belajar bagaimana untuk:
• Jaga kebersihan pribadi tanpa diberitahu untuk melakukannya.
• Gunakan sapu dan pengki benar.
• Baca resep dan menyiapkan makanan sederhana.
• Membantu membuat daftar belanjaan.
• Hitung dan melakukan perubahan.
• Ambil pesan telepon yang ditulis.
• Membantu dengan tugas rumput sederhana seperti penyiraman dan penyiangan tempat tidur bunga.
• Mengambil sampah.

Usia 10-13:  Mendapatkan Kebebasan
________________________________________
Ketika usia anak Anda menginjak 10-13,anak harus memiliki  keterampilan independen.
Dia harus tahu bagaimana untuk:
• Tetap di rumah sendirian.
• Pergi ke toko dan melakukan pembelian sendiri.
• Mengubah seprai sendiri.
• Gunakan mesin cuci dan pengering.
• Merencanakan dan menyiapkan makanan dengan beberapa bahan.
• Gunakan oven untuk memanggang atau memanggang makanan.
Anak Anda juga harus belajar bagaimana untuk:
• Membaca label.
• Menyetrika pakaiannya.
• Belajar  cara menggunakan peralatan "tukang"
• Memotong rumput.
• Jaga adik atau tetangga.

Usia 14-18: KEtrampilan Lebih Lanjut
________________________________________
Pada usia 14, anak Anda harus memiliki penguasaan yang sangat baik dari semua keterampilan sebelumnya.
Selain itu, dia juga harus mampu:
• Lakukan pembersihan dan pemeliharaan pekerjaan yang lebih canggih, seperti mengubah tas vacuum cleaner, membersihkan kompor, dan penyumbatan saluran air.
• Isi mobil dengan gas, menambah pesawat ke dan mengganti ban.
• Membaca dan memahami label obat dan dosis.
• Wawancara dan mendapatkan pekerjaan.
• Menyiapkan dan memasak makanan jika diperlukan. Cobalah resep mudah dan sehat

Selamat menyiapkan anak Anda dengan "Lifeskills" yang mumpuni.

Empat Tips untuk Membantu Anak dalam Penguatan (Afirmasi)

google.com

Ketika anak balita menanyakan sesuatu kepada orangtua, lalu orangtua menjawabnya.  Namun, seringkali anak yang masih berusia balita itu tak juga memahami dengan jawaban kita.   Dia masih membutuhkan penguatan atau afirmasi (affirmation) dari jawaban kita.  Sebagai contoh,  pulang dari sekolah seorang anak menangis.  Ibunya bertanya:  "Kenapa menangis, nak?"  Jawab anak itu:  "Tadi, aku dikatakan anak bodoh oleh teman-temanku karena aku tak bisa menangkap bola!"
Afirmasi yang dilakukan oleh ibunya :  "Kamu tidak bodoh, kamu hanya perlu berlatih main bola".   Dengan afirmasi dari ibu, anak akan merasakan peneguhan atau penguatan bahwa kata yang diucapkan teman-temannya itu salah.  Afirmasi dari seorang ibu yang merupakan orang yang paling dekat dan terpercaya baginya jadi kekuatan baginya.
Kebutuhan afirmasi menjadi mutlak karena mereka belum saatnya mengerti jawaban kita.   Kebutuhan itu harus kita sadari dan kita berikan.
Nach, inilah tips dari pemberian afirmasi kepada anak:

1. Selalu berikan  afirmasi yang bersifat  positif. 
Sebagai pengganti  mengatakan "Saya bukan seorang teman yang buruk".  Syang lebih baik jika  mengatakan "Saya adalah seorang teman baik." Mengatakan afirmasi bersifat negatif berfungsi sebagai pengingat atas perilaku yang bersifat negatif atau Anda mencoba mengubah sifatnya yang jelek itu.

2. Menuliskan afirmasi dengan kondisi saat ini. Bukan menuliskan afirmasi bahwa kejadian itu seolah-olah sudah terjadi.
"Saya mendapatkan nilai yang baik" lebih efektif daripada mengatakan "Aku akan mendapatkan nilai yang baik." Menyatakan afirmasi Anda dalam waktu sekarang memberikan inspirasi dan motivasi untuk bekerja atas keinginan Anda. Namun, ketika Anda menyatakan mereka dalam waktu tegang, ia cenderung untuk menciptakan kecemasan dan keraguan diri.

3. Afirmasi bersifat langsung dan jelas. 
Anak akan merasa lebih mudah mengingatnya kata atau kalimat yang pendek dan melatihnya afirmasi itu untuk kepentingan mereka.  Jika afirmasi terlalu panjang anak cenderung menghabiskan waktu terlalu lama untuk mencoba  menghafal afirmasi .  Mereka seharusnya  berfokus kepada internalisasi dan benar-benar mempercayai penegasan.

4. Biarkan anak-anak untuk memutuskan afirmasiyang mereka ingin membuat.
Anda pasti bisa membimbing mereka, tetapi pada akhirnya Anda ingin mereka untuk mengambil keputusana untuk memilih proses itu.  Hal ini  membuat mereka berlatih afirmasi/
Setelah anak Anda berhasil menciptakan afirmasinya, pastikan  mereka berlatih  setidaknya dua kali dalam sehari. Semakin konsisten mereka berlatih, semakin besar kemungkinan mereka terhindari dari afirmasi negatif.

Selamat berlatih!

Ibu dan Ayah harus Kompak di Depan Anak

google.com

Seringkali dijumpai sepasang suami-istri bertengkar di depan anaknya.  Barangkali soal yang sepele , tentang permintaan makanan anak yang sebenarnya tidak disetujui oleh ibunya karena makanan itu tidak bergizi dan membahayakan. Sedangkan, ayah berpendapat lain, biarkan anak tumbuh sehat dengan memakan segala macam makanan.   Nantinya, jika anak sakit karena memang makanan yang dikonsumsi oleh anak itu merupakan pemicu dari asmanya, ibu yang harus membereskan kesehatan anak, mulai dari ke dokter sampai tuntas pengobatannya.

Yang utama jika ayah dan ibu berselisih atau bertengkar soal anak, sebaiknya harus membuat kekompakan dulu .   Misalnya tentang permintaan anak untuk main gadget pada usia 2 tahun.  Menurut ibu tidak baik, karena pertumbuhan kembang  psikologis dari anak akan mempengaruhi jika dia bermain gadget.  Ayah pun mungkin punya argumentasi yang lain bahwa sekarang ini semua anak perlu mengetahui perkembangan teknologi.   

Diskusikan jalan tengah untuk memenuhi permintaan anak karena hanya dengan satu suara dalam parenting,  anak tidak akan mencari kelemahan orangtua.  Apabila kedua orangtua itu tidak kompak, anak akan mencoba mencari siapa yang mendukung permintaannya, di sinilah dia mulai mendekatinya dan memohon agar permintaannya dipenuhi.  Seolah-olah kedua orangtua itu diadu oleh anak.  Sungguh ironis bukan.  

Tujuan parenting itu agar anak mengetahui sumber yang benar adalah orangtuanya. Jika kedua orangtuanya punya dua suara.  Dia akan jadi bingung.  Bukan hanya bingung dia juga menjadi kurang percaya diri.
Akibat dua suara itu tidak baik baik perkembangan psikologis anak.  Saya pun pernah diminta untuk mengatasi seorang anak yang berkembang di sebuah keluarga dengan orangtua yang selalu punya dua cara parenting yang berbeda.   Ketika anak itu tidak diizinkan untuk merokok oleh ibunya.   Ayahnya tidak menjadi role model, dan dia seolah memberikan isyarat bahwa dia akan membelikannya setelah ibunya pergi.  Akhirnya, benar, ayahnya mengizinkan anak itu untuk merokok dengan membelirokok.  Anak itu setelah dewasa, tidak punya memiliki kepercayaan diri .  Seringkali dalam pekerjaan tidak ada keseimbangan dan kepercayaan diri untuk memutuskan diri meskipun secara formal dia seorang insinyur. Tapi perkembangan psikisnya sangat labil sekali.

Seorang psikolog dari Universitas Muhamadiyah Malang, Iswinarti, menjelaskan orangtua yang tidak kompak akan menyebabkan anak menjadi pergu, pembangkang dan tidak taat aturan. Seperti dijelaskan di atas, ketidak kompakan membuat anak mendapat dukungan dari salah satu pihak, entah itu ayah atau ibunya.

Kunci dari kekompakan orangtua adalah dengan komunikasi terbuka, jika tidak mendapatkan solusi pun, salah satu harus mengalah, dan hanya seorang yang berbicara dan yang tidak setuju tidak diperkenankan memberikan komentar atau menyuarakan sesuatu yang tidak mendukung.

Mari ayah dan ibu saling kompak menghadapi anak agar anak tidak bingung mendapatkan perintah, pendapat yang berbeda dari orangtuanya.

Lima Kebiasaan Sederhana dan Super yang Dapat Mentransformasi Pola Pengasuhan Anda

www.thebettermom.com

Ada banyak buku dan blog yang mengajarkan kita bagaimana menjadi orangtua yang baik, tapi itu ini adalah benar-benar sangat sederhana. Menjadi orangtua yang baik dapat kita mulai dengan mengubah beberapa kebiasaan. Percayakan Anda pada hal ini? Ikutilah tes berikut ini. Cobalah salah satu dari kebiasaan sederhana setiap hari sepanjang lima hari ke depan, dan Anda akan melihat bagaimana hal itu mengubah keluarga Anda dan rumah Anda! Saya tantang anda!

1. Senyum
Ketika kita tersenyum kepada anak-anak kita itu. Hal ini menunjukkan bahwa kita mencintai dan menerima mereka. Senyum kita memudahkan kekhawatiran anak-anak kita. Senyum kita menenangkan mereka. Senyum kita membongkar penyekat hubungan kita yang tidak dekat sehingga mereka membuka diri kepada kita.
Tantangan Hari Pertama: Senyumlah dengan fokus ketika kita memandang dan berbicara kepadanya . Biarkan senyum Anda menyapa anak-anak Anda di awal hari, dan menemui mereka sepanjang itu.

2. Bicara lembut
Anda mungkin telah melihat fenomena ini sebelumnya. . .makin keras suara kita, maka makin keras pula suara anak kita. Atau sebaliknya mungkin suara anak-anak Anda sudah keras dan Anda harus meningkatkan suara Anda untuk berbicara kepada mereka. Lalu, apa yang harus dilakukan? Bicaralah dengan lembut. Baik itu ketika Anda meminta anak anda untuk sarapan atau meminta dia membersihkan ruangan tamu yang kotor karena kotoran yang dibawanya. Dekatilah,bersandarlah, berbicara merendahkan badan Anda dan berbicara dengan suara lembut. Pasti anak anda akan merespon jauh lebih baik dari hal yang pertama Anada lakukan.
Tantangan Hari Kedua: Setiap kali volume suara di rumah Anda naik, turunkan volume suara Anda. Juga,mintalah permintaan dengan suara lembut dan rendah.

3. Katakan apa yang Anda maksud
Banyak ibu-ibu atau perempuan yang berbicara berputar-putar atau "bertele-tele." Sering seorang ibu ketika menyuruh anaknya untuk membersihkan ruangan, ia mengatakan: "Ambil mainanmu! Siapa yang meninggalkan mainan itu di atas meja? Apakah engkau sengaja meninggalkannya?"
Lebih baik katakan sera lugas dengan cara yang baik: “Tolong bersihkan semua mainan Anda di kamar Anda. " Jika kita bicara secara berbelit-belit, anak Anda menganggap permintaan kita sebagai hal yang tidak serius.
Tantangan Hari Ketiga: Katakanlah apa yang Anda inginkan. Ketika berbicara dengan anak-anak Anda , berbicaralah dengan spesifik dan tidak bertele-tele.

4. Meminta bantuan.
Mengamati keluarga saya di sepanjang kehidupan berkeluarga, ketika saya sedang berada dalam kondisi banyak pekerjaan, mereka tidak menawarkan bantuan kepada saya.
Alasannya mungkin mereka juga sibuk dengan pekerjaan atau kegiatannya sendiri. Alasan kedua mereka tidak mengetahui apa yang saya butuhkan.
Lalu, mengapa saya tidak minta bantuan kepada anggota keluarga saat kita membutuhkan bantuannya. Minta bantuan secara spesifik dan jika diperlukan bantuan itu lebih dari satu, maka kita buat dalam bentuk list kepada anak-anak. Contohnya: 1. Beri makan anjing; 2 Bersihkan air di kamar mandi; 3. Mengepel kamar tidurmu.
Tantangan Hari Keempat: Mintalah bantuan jika diperlukan. Jangan ingin jadi pahlawan kesiangan. Mintalah bantuan secara spesifik dan jelas dan kapan untuk dilakukannya. Hal ini akan mudah dilakukan oleh anak-anak.
Harapan dan mimpi seorang ibu ketika anaknya belum lahir adalah anak seperti apa yang diinginkannya. Ketika anak telah lahir, maka anak-anak dipaksakan untuk menyesuaikan dirinya seperti harapan ibunya. Tentu hal ini sangat berat bagi seorang anak.
Menyesuaikan keinganan kita dengan apa yang ada dalam diri atau kepribadian anak, akan membuat hubungan atau relasi dengan anak menjadi jauh lebih baik. Anak merasa dihargai dengan baik ketika ibunya memahami apa yang diinginkannya dan melatih dan memberi motivasi sesuai dengan kepribadiannya.
Tantangan Hari Kelima: Duduklah dan tulislah kekuatan dan kelemahan masing-masing anak-anak Anda. Kemudian tuliskan apa yang dapat Anda lakukan untuk membantunya mengembangkan kekuatan dan apa yang dapat Anda lakukan untuk membantu memerangi nya kelemahan nya. Jika anak Anda sudah cukup besar, diskusikan dengan cara dia.

HARI PANGAN SEDUNIA: Pembangunan Pertanian dan Peternakan

Artikel Lomba Hari Pangan Sedunia 2015 diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia

Sumber : http://bkp.pertanian.go.id
Pembangunan Pertanian: 

Hari Pangan Sedunia adalah waktunya yang tepat untuk melihat kebijakan pembangunan negara di sektor pertanian.  Di Indonesia, pembangunan pertanian boleh dikatakan sangat minim. Lahan-lahan pertanian makin menghilang dan digantikan dengan lahan komersial. Mengapa kebijakan ini sangat minim. 

Diibaratkan bahwa pembangunan di sektor pertanian ini seperti kisah seorang anak yang berada di dalam rimba belantara. Di rimba ini, anak itu bertemu dengan binatang buas. Menyadari bahwa dirinya tidak berdaya menghadapi bintang itu, si anak memilih lari menjauh . Ayunan kakinya mendadak terhenti saat di melihat sungai di depannya. Karena takut tenggelam si anak memilih jalan lain, tetapi alam berkata lain. Hutan itu rupanya dikelilingi dengan sungai dan tidak ada satu pun jalan menyeberang. 

Pilihan hanya dua. Membiarkan tubuhnya dimangsa binatang atau secepatnya mencari cara menyeberangi sungai dengan berbagai resiko. Perdagangan bebas tak ubahnya hutan belantara. Agar pasar Indonesia tidak dimangsa oleh negara lain, komoditas dan produk pertanian Indonesia harus memiliki daya saing yang tinggi. 

Oleh karena itu setiap produk yang dihasilkan harus efisien dan berkualitas. Komoditas pertanian seperti produksi pangan (beras, jagung, dan kedelai), hortikultura (buah,sayur, dan tanaman hias), dan peternakan (ayam, telur,sapi) tidak semua untuk dikonsumsi secara langsung. Komoditas tersebut juga harus mampu memasok bahan baku bagi industri olahan yang produknya bisa bersaing dengan produk sama dari negara lain. 

Jika produk olahan Indonesia tidak memiliki kualitas dan murah, mustahil produk olahan itu mampu bersaing di pasar domestik maupon ekspor. Untuk mendapatkan daya saing yang baik, maka produk olahan yang dihasilkan dari sistem budidaya pertanian yang efisien. Biaya produksinya harus rendah, tetapi produktivitasnya tinggi. Agar biaya produksi renda, skala usaha harus besar dan produktivitas harus tinggi. 

Faktanya, produktivitas tanaman pertanian Indonesia pada umumnya lebih baik ketimbang negara lain. Untuk beberapa jenis komoditas memang kita kalah, misalnya kedelai dan sebagian hortikultura yang merupakan pangan dan gizi. Menambah skala dan budidaya pertanian tidak mudah. Seperti yang dialami anak kecil yang diibaratkan petani tulang punggung pangan dan gizi bangsaku terjepit memilih jalan lain. Banyak komoditas impor yang membanjiri  membuat petani pejuang pangan dan gizi bangsaku, atau petani hidup dan mati bangsaku dan petani tulang punggung pangan dan gizi bangsaku harus bertempur dari gempuran itu. Reformasi agaria menjadi jembatan tercapainya peningkatan skala usaha pertanian yang tak kunjung dilaksanakan. Petani berteriak pendapatannya turun dan hidupnya makin berat akibat skala usaha yang terus menyempit. Gejolak harga berulang kali terjadi. Kebijakan Pembangunan pertanian harus secepatnya dirubah.

Pembangunan Peternakan:

Tantangan terberat dari pembangunan peternakan di Indonesia adalah tidak adanya regenerasi peternak.  Ketika salah seorang peternak sapi di daerah Ramsdonk, Belanda memberikan keterangan kepada peternak Indonesia mengapa mereka tak tertarik agar ada generasi muda untuk menjadi peternak. Jawabannya beberapa anak muda masih menganggap peternakan adalah sektor yang belum modern. Mereka tidak mau kotor untuk menangani usaha peternakan.  Akibatnya mereka memilih pekerjaan lain.

Ketika harga komoditas peternakan seperti susu turun, hal ini mendorong anak muda tidak mau bekerja di peternakan sapi. Insentif usaha di peternakan berkurang.  Walaupun uniknya banyak anak muda yang studi peternakan meningkat.  Para peternak di Indonesia menunggu sampai di antara anak mereka untuk jadi penerus usaha peternakan. Jika ada, mereka menyekolahkan anak untuk studi peternakan.

Memang peternakan di Belanda sangat modern.  Tentu hal ini tidak mungkin segera diadopsi oleh peternak Indonesia. Selain investasinya mahal, seperti untuk robot pemerah susu sekitar Rp.1.6 miliar. Tetapi dari sisi pengelolaan ia memiliki 150 ekor sapi yang mengaku hal ini sulit diterapkan.

Yang dapat dilakukan atau diadopsi dari pelajaran peternakan di Belanda adalah soal pengamatan perilaku hewan. Peternak Belanda mengamati secara detail kondisi fisik sapi, dari mata,gerak,hingga perubahan kebiasaan sapi.

Ini dapat memberikan informasi tentang kesehatan sapi.  Peternak sering rugi karena kesehatan sapi berkurang.  Mereka terlambat mengetahuinya, dan biayanya lebih besar.

Tulisan ini dibuat dalam rangka Hari Pangan Sedunia:
Pergizi Pangan Indonesia

Sumber informasi:

  • Regenerasi Peternak Jadi Tantangan - Kompas
  • Minimnya Skala Usaha  - Kompas

Menjawab Tantangan Anak yang Ingin Serba Tahu



Masih ingatkah Anda ketika anak masih bayi, dia hanya bisa tidur, makan, menangis, dan minum susu.  Berkembang menjadi lebih besar , adalah kepandaian yang mengikutinya.  Mulai belajar melihat dunia sekililingnya, bertanya dengan bermacam-macam pertanyaan.

Pertanyaan yang kadang-kadang tidak pernah terpikirkan datang dari seorang anak. Contohnya:  mamah dari mana aku datang?    Atau yang juga sulit untuk dijawab:  Jika aku dilahirkan dari mamah, kenapa anak lelaki tidak bisa melahirkan?

Tentu sebagai orangtua yang baik dan benar, perlu jawaban yang jujur dan benar.  Pastinya harus mengingat tingkat umur atau usia anak. Jawabannya dapat dengan memberikan contoh gambar tentang reproduksi dari seorang anak. Bahasanya disesuaikan dengan umur anak, sederhana, tetapi jelas.

Ada kalanya, anak tidak puas dengan satu pertanyaan yang seringkali diulang lagi.  Ada dua hal yang perlu dicermati, apakah anak itu hanya perlu perhatian saja atau apakah anak itu memang anak yang kritis. Jika anak itu hanya perlu perhatian, tentunya kita bisa balik bertanya kepadanya:  Menurut Dita bagaimana jika anak itu dilahirkan oleh mamah.  Di sini anak ditantang untuk mengingat dan menjawab sendiri tentang apa yang sudah dipahaminya.

Jika anak itu memang kritis dan terus bertanya mulai dari apakah manusia itu harus makan?  Makannya untuk apa?  Jika tidak makan dan mati, bagaimana dengan teman-temannya?   Tentu itu butuh perjuangan untuk menjawab satu persatu dan mengingat konsep tentang kehidupan manusia.

Jujurlah pada saat kita sebagai orangtua tidak bisa menjawab pertanyaan anak.  Orangtua yang jujur akan mengatakan:” Mamah belum tahu tentang hal ini, mamah harus mencarinya di buku atau google. Nanti kalau sudah ketemu, mamah akan beritahukan lagi”.

Beberapa orangtua yang tak menyadari bahwa anak itu butuh jawaban dan membiarkan anak itu tanpa ada jawaban, akan menyulitkan anak itu sendiri.   Anak akan berusaha keras untuk mendapat cari jawaban baik dari orang lain maupun dari buku yang dibacanya . Tentu yang mengkhawatirkan jawaban dari orang lain belum tentu benar, bahkan mungkin merupakan jawaban yang salah.  Apalagi jika anak mencari jawaban sendiri tanpa bimbingan, tentunya dia akan mendapat konsep yang belum tentu benar. 
Luangkan waktu dengan anak untuk memberikan jawaban yang memuaskan dan memberikan pengetahuan baru baginya.