Loading

Slide Bar

Share

Empat Tips untuk Membantu Anak dalam Penguatan (Afirmasi)

google.com

Ketika anak balita menanyakan sesuatu kepada orangtua, lalu orangtua menjawabnya.  Namun, seringkali anak yang masih berusia balita itu tak juga memahami dengan jawaban kita.   Dia masih membutuhkan penguatan atau afirmasi (affirmation) dari jawaban kita.  Sebagai contoh,  pulang dari sekolah seorang anak menangis.  Ibunya bertanya:  "Kenapa menangis, nak?"  Jawab anak itu:  "Tadi, aku dikatakan anak bodoh oleh teman-temanku karena aku tak bisa menangkap bola!"
Afirmasi yang dilakukan oleh ibunya :  "Kamu tidak bodoh, kamu hanya perlu berlatih main bola".   Dengan afirmasi dari ibu, anak akan merasakan peneguhan atau penguatan bahwa kata yang diucapkan teman-temannya itu salah.  Afirmasi dari seorang ibu yang merupakan orang yang paling dekat dan terpercaya baginya jadi kekuatan baginya.
Kebutuhan afirmasi menjadi mutlak karena mereka belum saatnya mengerti jawaban kita.   Kebutuhan itu harus kita sadari dan kita berikan.
Nach, inilah tips dari pemberian afirmasi kepada anak:

1. Selalu berikan  afirmasi yang bersifat  positif. 
Sebagai pengganti  mengatakan "Saya bukan seorang teman yang buruk".  Syang lebih baik jika  mengatakan "Saya adalah seorang teman baik." Mengatakan afirmasi bersifat negatif berfungsi sebagai pengingat atas perilaku yang bersifat negatif atau Anda mencoba mengubah sifatnya yang jelek itu.

2. Menuliskan afirmasi dengan kondisi saat ini. Bukan menuliskan afirmasi bahwa kejadian itu seolah-olah sudah terjadi.
"Saya mendapatkan nilai yang baik" lebih efektif daripada mengatakan "Aku akan mendapatkan nilai yang baik." Menyatakan afirmasi Anda dalam waktu sekarang memberikan inspirasi dan motivasi untuk bekerja atas keinginan Anda. Namun, ketika Anda menyatakan mereka dalam waktu tegang, ia cenderung untuk menciptakan kecemasan dan keraguan diri.

3. Afirmasi bersifat langsung dan jelas. 
Anak akan merasa lebih mudah mengingatnya kata atau kalimat yang pendek dan melatihnya afirmasi itu untuk kepentingan mereka.  Jika afirmasi terlalu panjang anak cenderung menghabiskan waktu terlalu lama untuk mencoba  menghafal afirmasi .  Mereka seharusnya  berfokus kepada internalisasi dan benar-benar mempercayai penegasan.

4. Biarkan anak-anak untuk memutuskan afirmasiyang mereka ingin membuat.
Anda pasti bisa membimbing mereka, tetapi pada akhirnya Anda ingin mereka untuk mengambil keputusana untuk memilih proses itu.  Hal ini  membuat mereka berlatih afirmasi/
Setelah anak Anda berhasil menciptakan afirmasinya, pastikan  mereka berlatih  setidaknya dua kali dalam sehari. Semakin konsisten mereka berlatih, semakin besar kemungkinan mereka terhindari dari afirmasi negatif.

Selamat berlatih!

Ibu dan Ayah harus Kompak di Depan Anak

google.com

Seringkali dijumpai sepasang suami-istri bertengkar di depan anaknya.  Barangkali soal yang sepele , tentang permintaan makanan anak yang sebenarnya tidak disetujui oleh ibunya karena makanan itu tidak bergizi dan membahayakan. Sedangkan, ayah berpendapat lain, biarkan anak tumbuh sehat dengan memakan segala macam makanan.   Nantinya, jika anak sakit karena memang makanan yang dikonsumsi oleh anak itu merupakan pemicu dari asmanya, ibu yang harus membereskan kesehatan anak, mulai dari ke dokter sampai tuntas pengobatannya.

Yang utama jika ayah dan ibu berselisih atau bertengkar soal anak, sebaiknya harus membuat kekompakan dulu .   Misalnya tentang permintaan anak untuk main gadget pada usia 2 tahun.  Menurut ibu tidak baik, karena pertumbuhan kembang  psikologis dari anak akan mempengaruhi jika dia bermain gadget.  Ayah pun mungkin punya argumentasi yang lain bahwa sekarang ini semua anak perlu mengetahui perkembangan teknologi.   

Diskusikan jalan tengah untuk memenuhi permintaan anak karena hanya dengan satu suara dalam parenting,  anak tidak akan mencari kelemahan orangtua.  Apabila kedua orangtua itu tidak kompak, anak akan mencoba mencari siapa yang mendukung permintaannya, di sinilah dia mulai mendekatinya dan memohon agar permintaannya dipenuhi.  Seolah-olah kedua orangtua itu diadu oleh anak.  Sungguh ironis bukan.  

Tujuan parenting itu agar anak mengetahui sumber yang benar adalah orangtuanya. Jika kedua orangtuanya punya dua suara.  Dia akan jadi bingung.  Bukan hanya bingung dia juga menjadi kurang percaya diri.
Akibat dua suara itu tidak baik baik perkembangan psikologis anak.  Saya pun pernah diminta untuk mengatasi seorang anak yang berkembang di sebuah keluarga dengan orangtua yang selalu punya dua cara parenting yang berbeda.   Ketika anak itu tidak diizinkan untuk merokok oleh ibunya.   Ayahnya tidak menjadi role model, dan dia seolah memberikan isyarat bahwa dia akan membelikannya setelah ibunya pergi.  Akhirnya, benar, ayahnya mengizinkan anak itu untuk merokok dengan membelirokok.  Anak itu setelah dewasa, tidak punya memiliki kepercayaan diri .  Seringkali dalam pekerjaan tidak ada keseimbangan dan kepercayaan diri untuk memutuskan diri meskipun secara formal dia seorang insinyur. Tapi perkembangan psikisnya sangat labil sekali.

Seorang psikolog dari Universitas Muhamadiyah Malang, Iswinarti, menjelaskan orangtua yang tidak kompak akan menyebabkan anak menjadi pergu, pembangkang dan tidak taat aturan. Seperti dijelaskan di atas, ketidak kompakan membuat anak mendapat dukungan dari salah satu pihak, entah itu ayah atau ibunya.

Kunci dari kekompakan orangtua adalah dengan komunikasi terbuka, jika tidak mendapatkan solusi pun, salah satu harus mengalah, dan hanya seorang yang berbicara dan yang tidak setuju tidak diperkenankan memberikan komentar atau menyuarakan sesuatu yang tidak mendukung.

Mari ayah dan ibu saling kompak menghadapi anak agar anak tidak bingung mendapatkan perintah, pendapat yang berbeda dari orangtuanya.

Lima Kebiasaan Sederhana dan Super yang Dapat Mentransformasi Pola Pengasuhan Anda

www.thebettermom.com

Ada banyak buku dan blog yang mengajarkan kita bagaimana menjadi orangtua yang baik, tapi itu ini adalah benar-benar sangat sederhana. Menjadi orangtua yang baik dapat kita mulai dengan mengubah beberapa kebiasaan. Percayakan Anda pada hal ini? Ikutilah tes berikut ini. Cobalah salah satu dari kebiasaan sederhana setiap hari sepanjang lima hari ke depan, dan Anda akan melihat bagaimana hal itu mengubah keluarga Anda dan rumah Anda! Saya tantang anda!

1. Senyum
Ketika kita tersenyum kepada anak-anak kita itu. Hal ini menunjukkan bahwa kita mencintai dan menerima mereka. Senyum kita memudahkan kekhawatiran anak-anak kita. Senyum kita menenangkan mereka. Senyum kita membongkar penyekat hubungan kita yang tidak dekat sehingga mereka membuka diri kepada kita.
Tantangan Hari Pertama: Senyumlah dengan fokus ketika kita memandang dan berbicara kepadanya . Biarkan senyum Anda menyapa anak-anak Anda di awal hari, dan menemui mereka sepanjang itu.

2. Bicara lembut
Anda mungkin telah melihat fenomena ini sebelumnya. . .makin keras suara kita, maka makin keras pula suara anak kita. Atau sebaliknya mungkin suara anak-anak Anda sudah keras dan Anda harus meningkatkan suara Anda untuk berbicara kepada mereka. Lalu, apa yang harus dilakukan? Bicaralah dengan lembut. Baik itu ketika Anda meminta anak anda untuk sarapan atau meminta dia membersihkan ruangan tamu yang kotor karena kotoran yang dibawanya. Dekatilah,bersandarlah, berbicara merendahkan badan Anda dan berbicara dengan suara lembut. Pasti anak anda akan merespon jauh lebih baik dari hal yang pertama Anada lakukan.
Tantangan Hari Kedua: Setiap kali volume suara di rumah Anda naik, turunkan volume suara Anda. Juga,mintalah permintaan dengan suara lembut dan rendah.

3. Katakan apa yang Anda maksud
Banyak ibu-ibu atau perempuan yang berbicara berputar-putar atau "bertele-tele." Sering seorang ibu ketika menyuruh anaknya untuk membersihkan ruangan, ia mengatakan: "Ambil mainanmu! Siapa yang meninggalkan mainan itu di atas meja? Apakah engkau sengaja meninggalkannya?"
Lebih baik katakan sera lugas dengan cara yang baik: “Tolong bersihkan semua mainan Anda di kamar Anda. " Jika kita bicara secara berbelit-belit, anak Anda menganggap permintaan kita sebagai hal yang tidak serius.
Tantangan Hari Ketiga: Katakanlah apa yang Anda inginkan. Ketika berbicara dengan anak-anak Anda , berbicaralah dengan spesifik dan tidak bertele-tele.

4. Meminta bantuan.
Mengamati keluarga saya di sepanjang kehidupan berkeluarga, ketika saya sedang berada dalam kondisi banyak pekerjaan, mereka tidak menawarkan bantuan kepada saya.
Alasannya mungkin mereka juga sibuk dengan pekerjaan atau kegiatannya sendiri. Alasan kedua mereka tidak mengetahui apa yang saya butuhkan.
Lalu, mengapa saya tidak minta bantuan kepada anggota keluarga saat kita membutuhkan bantuannya. Minta bantuan secara spesifik dan jika diperlukan bantuan itu lebih dari satu, maka kita buat dalam bentuk list kepada anak-anak. Contohnya: 1. Beri makan anjing; 2 Bersihkan air di kamar mandi; 3. Mengepel kamar tidurmu.
Tantangan Hari Keempat: Mintalah bantuan jika diperlukan. Jangan ingin jadi pahlawan kesiangan. Mintalah bantuan secara spesifik dan jelas dan kapan untuk dilakukannya. Hal ini akan mudah dilakukan oleh anak-anak.
Harapan dan mimpi seorang ibu ketika anaknya belum lahir adalah anak seperti apa yang diinginkannya. Ketika anak telah lahir, maka anak-anak dipaksakan untuk menyesuaikan dirinya seperti harapan ibunya. Tentu hal ini sangat berat bagi seorang anak.
Menyesuaikan keinganan kita dengan apa yang ada dalam diri atau kepribadian anak, akan membuat hubungan atau relasi dengan anak menjadi jauh lebih baik. Anak merasa dihargai dengan baik ketika ibunya memahami apa yang diinginkannya dan melatih dan memberi motivasi sesuai dengan kepribadiannya.
Tantangan Hari Kelima: Duduklah dan tulislah kekuatan dan kelemahan masing-masing anak-anak Anda. Kemudian tuliskan apa yang dapat Anda lakukan untuk membantunya mengembangkan kekuatan dan apa yang dapat Anda lakukan untuk membantu memerangi nya kelemahan nya. Jika anak Anda sudah cukup besar, diskusikan dengan cara dia.

HARI PANGAN SEDUNIA: Pembangunan Pertanian dan Peternakan

Artikel Lomba Hari Pangan Sedunia 2015 diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia

Sumber : http://bkp.pertanian.go.id
Pembangunan Pertanian: 

Hari Pangan Sedunia adalah waktunya yang tepat untuk melihat kebijakan pembangunan negara di sektor pertanian.  Di Indonesia, pembangunan pertanian boleh dikatakan sangat minim. Lahan-lahan pertanian makin menghilang dan digantikan dengan lahan komersial. Mengapa kebijakan ini sangat minim. 

Diibaratkan bahwa pembangunan di sektor pertanian ini seperti kisah seorang anak yang berada di dalam rimba belantara. Di rimba ini, anak itu bertemu dengan binatang buas. Menyadari bahwa dirinya tidak berdaya menghadapi bintang itu, si anak memilih lari menjauh . Ayunan kakinya mendadak terhenti saat di melihat sungai di depannya. Karena takut tenggelam si anak memilih jalan lain, tetapi alam berkata lain. Hutan itu rupanya dikelilingi dengan sungai dan tidak ada satu pun jalan menyeberang. 

Pilihan hanya dua. Membiarkan tubuhnya dimangsa binatang atau secepatnya mencari cara menyeberangi sungai dengan berbagai resiko. Perdagangan bebas tak ubahnya hutan belantara. Agar pasar Indonesia tidak dimangsa oleh negara lain, komoditas dan produk pertanian Indonesia harus memiliki daya saing yang tinggi. 

Oleh karena itu setiap produk yang dihasilkan harus efisien dan berkualitas. Komoditas pertanian seperti produksi pangan (beras, jagung, dan kedelai), hortikultura (buah,sayur, dan tanaman hias), dan peternakan (ayam, telur,sapi) tidak semua untuk dikonsumsi secara langsung. Komoditas tersebut juga harus mampu memasok bahan baku bagi industri olahan yang produknya bisa bersaing dengan produk sama dari negara lain. 

Jika produk olahan Indonesia tidak memiliki kualitas dan murah, mustahil produk olahan itu mampu bersaing di pasar domestik maupon ekspor. Untuk mendapatkan daya saing yang baik, maka produk olahan yang dihasilkan dari sistem budidaya pertanian yang efisien. Biaya produksinya harus rendah, tetapi produktivitasnya tinggi. Agar biaya produksi renda, skala usaha harus besar dan produktivitas harus tinggi. 

Faktanya, produktivitas tanaman pertanian Indonesia pada umumnya lebih baik ketimbang negara lain. Untuk beberapa jenis komoditas memang kita kalah, misalnya kedelai dan sebagian hortikultura yang merupakan pangan dan gizi. Menambah skala dan budidaya pertanian tidak mudah. Seperti yang dialami anak kecil yang diibaratkan petani tulang punggung pangan dan gizi bangsaku terjepit memilih jalan lain. Banyak komoditas impor yang membanjiri  membuat petani pejuang pangan dan gizi bangsaku, atau petani hidup dan mati bangsaku dan petani tulang punggung pangan dan gizi bangsaku harus bertempur dari gempuran itu. Reformasi agaria menjadi jembatan tercapainya peningkatan skala usaha pertanian yang tak kunjung dilaksanakan. Petani berteriak pendapatannya turun dan hidupnya makin berat akibat skala usaha yang terus menyempit. Gejolak harga berulang kali terjadi. Kebijakan Pembangunan pertanian harus secepatnya dirubah.

Pembangunan Peternakan:

Tantangan terberat dari pembangunan peternakan di Indonesia adalah tidak adanya regenerasi peternak.  Ketika salah seorang peternak sapi di daerah Ramsdonk, Belanda memberikan keterangan kepada peternak Indonesia mengapa mereka tak tertarik agar ada generasi muda untuk menjadi peternak. Jawabannya beberapa anak muda masih menganggap peternakan adalah sektor yang belum modern. Mereka tidak mau kotor untuk menangani usaha peternakan.  Akibatnya mereka memilih pekerjaan lain.

Ketika harga komoditas peternakan seperti susu turun, hal ini mendorong anak muda tidak mau bekerja di peternakan sapi. Insentif usaha di peternakan berkurang.  Walaupun uniknya banyak anak muda yang studi peternakan meningkat.  Para peternak di Indonesia menunggu sampai di antara anak mereka untuk jadi penerus usaha peternakan. Jika ada, mereka menyekolahkan anak untuk studi peternakan.

Memang peternakan di Belanda sangat modern.  Tentu hal ini tidak mungkin segera diadopsi oleh peternak Indonesia. Selain investasinya mahal, seperti untuk robot pemerah susu sekitar Rp.1.6 miliar. Tetapi dari sisi pengelolaan ia memiliki 150 ekor sapi yang mengaku hal ini sulit diterapkan.

Yang dapat dilakukan atau diadopsi dari pelajaran peternakan di Belanda adalah soal pengamatan perilaku hewan. Peternak Belanda mengamati secara detail kondisi fisik sapi, dari mata,gerak,hingga perubahan kebiasaan sapi.

Ini dapat memberikan informasi tentang kesehatan sapi.  Peternak sering rugi karena kesehatan sapi berkurang.  Mereka terlambat mengetahuinya, dan biayanya lebih besar.

Tulisan ini dibuat dalam rangka Hari Pangan Sedunia:
Pergizi Pangan Indonesia

Sumber informasi:

  • Regenerasi Peternak Jadi Tantangan - Kompas
  • Minimnya Skala Usaha  - Kompas

Menjawab Tantangan Anak yang Ingin Serba Tahu



Masih ingatkah Anda ketika anak masih bayi, dia hanya bisa tidur, makan, menangis, dan minum susu.  Berkembang menjadi lebih besar , adalah kepandaian yang mengikutinya.  Mulai belajar melihat dunia sekililingnya, bertanya dengan bermacam-macam pertanyaan.

Pertanyaan yang kadang-kadang tidak pernah terpikirkan datang dari seorang anak. Contohnya:  mamah dari mana aku datang?    Atau yang juga sulit untuk dijawab:  Jika aku dilahirkan dari mamah, kenapa anak lelaki tidak bisa melahirkan?

Tentu sebagai orangtua yang baik dan benar, perlu jawaban yang jujur dan benar.  Pastinya harus mengingat tingkat umur atau usia anak. Jawabannya dapat dengan memberikan contoh gambar tentang reproduksi dari seorang anak. Bahasanya disesuaikan dengan umur anak, sederhana, tetapi jelas.

Ada kalanya, anak tidak puas dengan satu pertanyaan yang seringkali diulang lagi.  Ada dua hal yang perlu dicermati, apakah anak itu hanya perlu perhatian saja atau apakah anak itu memang anak yang kritis. Jika anak itu hanya perlu perhatian, tentunya kita bisa balik bertanya kepadanya:  Menurut Dita bagaimana jika anak itu dilahirkan oleh mamah.  Di sini anak ditantang untuk mengingat dan menjawab sendiri tentang apa yang sudah dipahaminya.

Jika anak itu memang kritis dan terus bertanya mulai dari apakah manusia itu harus makan?  Makannya untuk apa?  Jika tidak makan dan mati, bagaimana dengan teman-temannya?   Tentu itu butuh perjuangan untuk menjawab satu persatu dan mengingat konsep tentang kehidupan manusia.

Jujurlah pada saat kita sebagai orangtua tidak bisa menjawab pertanyaan anak.  Orangtua yang jujur akan mengatakan:” Mamah belum tahu tentang hal ini, mamah harus mencarinya di buku atau google. Nanti kalau sudah ketemu, mamah akan beritahukan lagi”.

Beberapa orangtua yang tak menyadari bahwa anak itu butuh jawaban dan membiarkan anak itu tanpa ada jawaban, akan menyulitkan anak itu sendiri.   Anak akan berusaha keras untuk mendapat cari jawaban baik dari orang lain maupun dari buku yang dibacanya . Tentu yang mengkhawatirkan jawaban dari orang lain belum tentu benar, bahkan mungkin merupakan jawaban yang salah.  Apalagi jika anak mencari jawaban sendiri tanpa bimbingan, tentunya dia akan mendapat konsep yang belum tentu benar. 
Luangkan waktu dengan anak untuk memberikan jawaban yang memuaskan dan memberikan pengetahuan baru baginya.

Kebiasaan Buruk Anak Membuang Handuk di Tempat Tidur

Menemukan beberapa orangtua yang komplain anaknya selalu mempunyai kebiasaan buruk  dengan membuang handuk selesai kamar mandi di tempat tidur . Padahal sudah sering diajarkan untuk menempatkan di tempat yang tepat, digantung di tempat handuk.

kebiasaan sehabis mandi, handuk yang basah jika dibiarkan diletakkan di kamar mandi akan bau dan pengap.  Ini disebabkan udara kamar mandi lembab.  Oleh sebab itu, kebiasaan buruk anak untuk meletakkan handuk yang dipakai selesai mandi, dibuang atau diletakkan sembarangan, sebaiknya dihindari.

Bagaimana caranya orangtua mengajarkan anak untuk meletakkan handuk di tempat gantungan handuk:
1. Berikan teladan kepada orangtua setiap kali habis mandi, kita selalu meletakkan handuk di luar dan mengantunggkannya di tempat gantungan handuk.

2. Berikan nasehat apabila dia masih juga belum bisa melakukan bahwa tempat yang selayaknya untuk handuk adalah gantungan handuk bukan tempat tidur.

3. Berikan penjelasan apa akibatnya jika handuk basah diletakkan di atas kasur.

4. Untuk anak yang sulit sekali diatur, berikan reward atas nasehat yang dikerjakan olehnya.

Selamat Mencoba!

"Why Asians are Less Creative Than Westerners"

google.com
Sebuah buku yang ditulis oleh Prof.Ng Aik Kwang dari University of Queensland, berjudul "Why Asians are Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontaversial tapi ternyata menjadi best seller (www.idearesort.com/trainers) mengemukakan beberapa hal tentang bangsa Asia yang telah membukakan banyak orang:

1.Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya bidan kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seseorang untuk memiliki kekayaan banyak.

2.Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita novel,sinetron atau film yang bertema miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Asia,pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban""  bukan pada pengertian.Ujian Nasional, test masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4.Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah Asia dijelali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of Trades, but master of none"" (tahu sedikit tentang banyak hal tetapi tidak menguasai apappun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika & Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU).Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil risiko kurang dihargai.

7.Kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8.Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop,peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Sumber:  
"Why Asians are Less Creative Than Westerners"