"WAITING IS PAINFUL"
Sebuah kalimat singkat tertera di bagian atas skype . Begitu singkat tapi sangat menggugah "Waiting is painful"
Bukan kebetulan, tapi akan tampak jelas kalimat itu ketika aku membuka skype untuk memulai pembicaraan. Apa yang membuatnya menulis seperti itu?
Anakku memang seorang futuristik yang membutuhkan kepastian dalam segala hal. Kegelisahannya timbul ketika dia selesai diwawancara untuk "internship" di sebuah perusahaan oleh general manager. Hari berganti hari, tidak ada jawaban, entah itu email atau telephone . Penantian jawaban itulah yang membuatnya menunggu tanpa kepastian. Diterima atau ditolak. Hanya dua kata, tapi serasa detik, demi detik, menit demi menit serta berjam-jam menunggu kepastian yang tak kunjung datang.
Kegelisahan itu timbul karena dia sebenarnya tak paham proses interview itu. Menurut pemikirannya, hanya dua kandidat dari fakultasnya yang diinterview oleh perusahaan itu. Jadi mengapa lama sekali untuk menentukan salah satu dari dua orang yang menjadi pilihan. Benaknya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan lain. Apakah ada calon dari universitas lain? Apakah perusahaan itu serius menerima mahasiswa/i internship atau dia coba cari tapi juga cari kandidat untuk pegawai baru lainnya?
Segudang pertanyaan muncul dan mengusik terus dalam jiwa dan benaknya. Meskipun kami sebagai orangtua sudah berkali-kali menjelaskan bahwa perlu kesabaran untuk menunggu proses dari jawaban perusahaan . Waktu perusahaan bukan waktu calon kandidat. Perusahaan punya jadwal tersendiri bukan jadwal kita.
Namun, rupanya pengarahan atau wejangan itu tak mengurangi sedikit pun kegelisahannya. Dia merasa seolah-olah dunia dan waktu itu harus sesuai dengan keinginannya.
Kegelisahan itu selalu tampak ketika kami berbicara, seolah mata dan jiwanya melayang kemana-mana. Komunikasi hanya searah saja. Apa yang ditanya, jawabannya entah kemana. Kami tahu apa yang dipikirkannya. Kami selalu mengulang kembali bahwa waktu perusahaan dan Tuhan selalu berbeda dengan waktu yang kamu inginkan.
Ternyata memang benar, hampir 10 hari kemudian ada jawaban email yang memintanya kembali datang. Ketika dia datang, dia sangat surprise diberitahukan bahwa dia diterima. Namun, berhubung karena pikirannya dipenuhi dengan perasaan "kaget", senang bercampur takut, dia hanya diam saja.
"Diam" itu ditafsirkan oleh general manager sebagai orang yang masih ragu-ragu menerima pernyataan. Oleh karena itu general manager minta supaya jika dia masih ragu, dia boleh memikirkan di rumah dan berbincang dengan keluarga.
Nach, begitu ke luar dari kantor itu. Dia sendiri kesal lagi, kenapa bersikap diam dan ragu-ragu, bukankah itu yang diinginkannya. Jadi dia agak menyesal. Setelahb erbincang beberapa lama dengan kami, dia segera mengambil keputusan untuk menghubungi general manajer itu untuk menyatakan kesediannya menerima internship itu.
Namun, setelah itu tak ada jawaban baik dari pihak employer/perusahaan atau sekolah sebagai koordinator dari placement industry. Bagaimana dengan kuliah yang sudah dimulai, dia harus enroll atau dia harus lepaskan. Terpaksa dia menuruti anjuran koordinator placement industry untuk enrol beberapa pelajaran dan bahkan sudah memasuki project assignment. Semakin mendekati waktu due date dari amendment enrollment dan pembayaran yang ditentukan membuat hati dan pikirannya galau. Waktu dan keputusan seolah tidak harmoni. Akhirnya, sehari sebelum tanggal akhir dari amendment enrollment dan pembayaran, diterimalah keputusan kontrak untuk internship. Lega sambil mengejar untuk melakukan amendment enrollment dan pembayaran.
Itulah, sifat dan sikapnya. Tegas tapi kadang-kadang penuh dengan keragu-raguan, jika tak sesuai dengan jadwal yang diinginkannya, dia gelisah setengah mati.
"Waiting is not painful , my dear, waiting is the practice for the patience".
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Dan dalam kondisi itu, biasanya ada super Mommy yang menguatkan. :)
BalasHapussenang baca tulisannya
BalasHapus