Dua orang muda kakak beradi Arfián Fuadi (28) dan M. Arie Kurniawan (23) , beserta timnya mendesain "jet engine braket"", salah satu kompenen pengangkat mesin pesawat.
Desain ini keluar sebagai juara pertama dalam kompetisi desain tiga dimensi yang diadakan General Electric dan GrabCad.
Mereka itu mengalahkan kompetitor yang bertitel doktor dan lulusan univesitas terkemuka dunia.
Jalan panjang yang dilalui kedua anak mudah ini snagat jauh . Mereka dapat membuat desain yang jauh lebih ringat 84 persen dari 2 kilogram pada komponen asli menjadi hanya 327 gram.
Mereka bergelut dalam dunia design engineering. Bertahun-tahun sebelum mengikuti lomba, mereka sudah dipercaya oleh perusahaan asing untuk mendesain berbagai produk, salah satu produknya adalah pesawat ringat untuk sebuah perusahaan yang berbasis di Amerika.
Jalan hidupnya sangat panjang, begitu lulus dari SMK Neegeri 7 Semrang, Arfián mencoba berwirausaha. Dia berjualan susu segar keliling kota semarang dan menjadi penambal ban di Kota Semarang. Tahun 2009 dia berkejra di kantor pos sebagai penjaga malam.
Namun, mimpi besar bahwa dia tak mau hidup hanya begni begini saja. Ingin mengubah hidup dan keluarganya.
Gaji pertama sebesar Rp.1,5 juta digunakan untuk beli komputer bekas, ditambah dengan tabungan ayah. Suatu kemewahan bagi Arfian mendapatkan komputer saat itu. Begitu kerja bagus, dia dipercayakan menjadi petugas loket pengiriman. Sambil kerja, dia menyukai dunia desain sejak kecil, mencoba mengakseses situs freelance. Banyak proyek ditawarkan.
Seiring waktu, dia memberanikan diri keluar dari Kantor Pos dan fokus dengan pekerjaan barunya dunia desain.
Adiknya Arie setelah lulus SMK juga tertarik mengikuti jejak kakaknya . Lalu mereka mendirikan DTECH-ENGINEERING, usaha jasa desain dan engineering. Banyak proyek yang digarap. Lalu mereka memperkerjakan dua orang untuk membantu. Semua proyek itu dari luar negeri di antaranya adalah Coco Pen, pulpen ekslusif yang dibuat dari aluminum solid dan batok kelapa.
Mereka menawarkan produknya di www.kickstarter.com dalam jumlah terbatas. Coco pen berhasil terjual di seluruh dunia dan selain itu mereka membuat Puter Pen , penutup puter pen. Merupakan hasil kerajinan tangan yang ekslusif.
Hasil kerja mereka sudah dapat dirasakan dampaknya. RUmah orangtua yang sebelumnya berdinding kayu, dan atap bocor dapat di rumbah menjadi dinding bata.
Belajar dari pengalaman bekerja dengan proyek yang dimiliki perusahaan asing membuat mereka dapat melihat dan membuka matanya bahwa mereka dapat bekerja tak harus di kantor, asalkan kemaudan dan bekerja keras, dan dapat dipercaya, maka apa pun dapat diraih.
Satu proyek selesai, berganti proyek yang lain. BErdatangan. Tidak ada satu pun proyek dari perusahaan lokal karena mereka masih menganggang bahwa latar belakang lulusan Arie hanya SMK bukan perguruan tinggi.
Jalan menuju kesuksesan telah ditangan mereka, GO GLOBAL dan mereka masih punya mimpi untuk bisa kuliah lagi.
Sukses buat Arfián dan Arie!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar