Kami mempunyai keponakan lelaki yang telah dikarunia seorang anak perempuan usia 4 tahun, Lovi.
Setahun yang lalu kami berjumpa dengannya di rumah kami. Saya telah menuliskan bagaimana anak ini saya sebut dengan judul anak digital (lihat http://childparenting2.blogspot.com/2014/03/anak-era-digital.html) . Begitu banyak hal tentang tehnologi yang tak disadarinya benar-benar memampukan dirinya untuk terus bertanya dan melakukan explorasi dalam tehnologi seperti mencari game, mencoba berbagai alat-alat komputer, membuat gambar dengan program dalam komputer.
Setelah setahun tak berjumpa ternyata anak ini tetap masih mengenali diriku dan suamiku. Anak yang supel dan periang. Kami menengok ibunya di RS Carolus. Ditengah-tengah, sakit ibunya, dia mengajak saya ke luar dari ruang ibunya. Lalu dia ajak saya main di tengah kolam. Dilemparnya berbagai macam batu ke dalam kolam. Ketika saya menjelaskannya bahwa batu itu bukan makanan . Sebaiknya tak melemparnya. Jawabannya: "Batu itu nanti akan berubah jadi makanan jika ikan lapar!"
Luar biasa logikanya yang tak biasa, itu membuat saya terdiam. Di ujung kolam ada bungkusan dengan gambar seperti tengkorak. Dia menjerit. "Ada kuburan, ada orang mati", katanya. Saya jelaskan itu bukan kuburan, itu racun tikus, yang membahayakan manusia. Tak boleh dekat karena akan mati.
Bukan hanya sampai di situ, dibawanya saya menuju ke taman. Di taman itu ada sebuah patung bunda Maria. Lalu dia mulai bertanya : "Oma, kenapa kita berdoa kepada patung? ". Belum selesai menjawab, dia mulai dengan pertanyaan berikutnya: "Oma, kenapa patung itu memakai kalung (rosario)?
Pertanyaan yang perlu jawabannya dengan mudah dicerna dan dimengerti oleh seorang anak.
Permainan pun dilakukan, lari, loncat dari satu batu ke batu yang lain. Lalu dia menghitung batu-batuan.
Wow, dia selalu bertanya: "kenapa hari Minggu tidak ada dokter yang datang?"
Setiap pertanyaan tetap kujawab dengan skala seorang balita. Dia anak jenius yang perlu jawaban.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar