Menemukan beberapa orangtua yang komplain anaknya selalu mempunyai kebiasaan buruk dengan membuang handuk selesai kamar mandi di tempat tidur . Padahal sudah sering diajarkan untuk menempatkan di tempat yang tepat, digantung di tempat handuk.
kebiasaan sehabis mandi, handuk yang basah jika dibiarkan diletakkan di kamar mandi akan bau dan pengap. Ini disebabkan udara kamar mandi lembab. Oleh sebab itu, kebiasaan buruk anak untuk meletakkan handuk yang dipakai selesai mandi, dibuang atau diletakkan sembarangan, sebaiknya dihindari.
Bagaimana caranya orangtua mengajarkan anak untuk meletakkan handuk di tempat gantungan handuk:
1. Berikan teladan kepada orangtua setiap kali habis mandi, kita selalu meletakkan handuk di luar dan mengantunggkannya di tempat gantungan handuk.
2. Berikan nasehat apabila dia masih juga belum bisa melakukan bahwa tempat yang selayaknya untuk handuk adalah gantungan handuk bukan tempat tidur.
3. Berikan penjelasan apa akibatnya jika handuk basah diletakkan di atas kasur.
4. Untuk anak yang sulit sekali diatur, berikan reward atas nasehat yang dikerjakan olehnya.
Selamat Mencoba!
"Why Asians are Less Creative Than Westerners"
![]() |
| google.com |
1.Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya bidan kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seseorang untuk memiliki kekayaan banyak.
2.Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita novel,sinetron atau film yang bertema miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yang wajar.
3. Bagi orang Asia,pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban"" bukan pada pengertian.Ujian Nasional, test masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.
4.Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah Asia dijelali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of Trades, but master of none"" (tahu sedikit tentang banyak hal tetapi tidak menguasai apappun).
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika & Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.
6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU).Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil risiko kurang dihargai.
7.Kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.
8.Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop,peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan.
Sumber:
"Why Asians are Less Creative Than Westerners"
Mendidik Anak Tanpa kekerasan
Kita memang manusia biasa yang tidak lepas dari berbagai
emosi, stres, dan rasa marah. Tapi, kekerasan, apa pun alasannya, tidak boleh
dilakukan terhadap anak. Apa yang sebaiknya kita lakukan agar tidak melakukan
kekerasan terhadap anak?
1. Jadi orang tua profesional.
Kalau menjadikan peran orang tua sebagai profesi, kita memiliki perencanaan, program, peningkatan kualitas, dan peningkatan karier. “Jadi, kita akan melakukannya dengan tanggung jawab dan kesadaran untuk melakukan peningkatan,” kata Seto.
2. Lakukan dialog terus menerus dengan anak.
Ketimbang memaksakan kehendak kita yang bisa berakhir pada tindak kekerasan pada anak, sebaiknya gali potensinya, dengarkan pendapatnya, sehingga ditemukan minat, bakat, dan tipe kecerdasannya. “Catat semua perkembangan anak, lakukan analisis. Semua informasi ini menjadi bahan diskusi keluarga bersama anak. Salah satu hak dasar anak adalah berpartisipasi dan didengar pendapatnya,” kata Seto.
3. Kelola amarah Anda.
Ketika muncul rasa marah, jangan meledakkannya di depan anak. Menjauhlah dari anak, ledakkan di luar dengan kegiatan-kegiatan lain yang lebih berguna, seperti olahraga. Bahkan, menyanyi, mencuci piring, menata lemari buku bisa menyalurkan amarah kita. Anak boleh tahu, kok, orang tuanya sedang marah.
Tapi lebih penting lagi mereka tahu bagaimana mengelola amarah dengan baik dan tidak merusak suasana lewat contoh. Ingat, dengan membentak saja, sel-sel saraf anak sudah banyak mengalami gangguan.
4. Move on!
Kalau kekerasan adalah cara orang tua mendidik Anda, percayalah, itu cara yang tidak boleh Anda terapkan terhadap anak. Kekerasan bukan cara efektif mendidik anak, merusak mental anak, merusak hubungan Anda dengan anak, rentan menjadi kekerasan lebih hebat.
5. Kekerasan adalah masa lalu Anda.
Cari informasi-informasi terkini tentang pendidikan dan pengasuhan anak. “Ini agar Anda tahu ada cara-cara yang lebih baik untuk mendidik anak. Kata Maya Angelou, only when we know better, we do better,” kata Suha.
1. Jadi orang tua profesional.
Kalau menjadikan peran orang tua sebagai profesi, kita memiliki perencanaan, program, peningkatan kualitas, dan peningkatan karier. “Jadi, kita akan melakukannya dengan tanggung jawab dan kesadaran untuk melakukan peningkatan,” kata Seto.
2. Lakukan dialog terus menerus dengan anak.
Ketimbang memaksakan kehendak kita yang bisa berakhir pada tindak kekerasan pada anak, sebaiknya gali potensinya, dengarkan pendapatnya, sehingga ditemukan minat, bakat, dan tipe kecerdasannya. “Catat semua perkembangan anak, lakukan analisis. Semua informasi ini menjadi bahan diskusi keluarga bersama anak. Salah satu hak dasar anak adalah berpartisipasi dan didengar pendapatnya,” kata Seto.
3. Kelola amarah Anda.
Ketika muncul rasa marah, jangan meledakkannya di depan anak. Menjauhlah dari anak, ledakkan di luar dengan kegiatan-kegiatan lain yang lebih berguna, seperti olahraga. Bahkan, menyanyi, mencuci piring, menata lemari buku bisa menyalurkan amarah kita. Anak boleh tahu, kok, orang tuanya sedang marah.
Tapi lebih penting lagi mereka tahu bagaimana mengelola amarah dengan baik dan tidak merusak suasana lewat contoh. Ingat, dengan membentak saja, sel-sel saraf anak sudah banyak mengalami gangguan.
4. Move on!
Kalau kekerasan adalah cara orang tua mendidik Anda, percayalah, itu cara yang tidak boleh Anda terapkan terhadap anak. Kekerasan bukan cara efektif mendidik anak, merusak mental anak, merusak hubungan Anda dengan anak, rentan menjadi kekerasan lebih hebat.
5. Kekerasan adalah masa lalu Anda.
Cari informasi-informasi terkini tentang pendidikan dan pengasuhan anak. “Ini agar Anda tahu ada cara-cara yang lebih baik untuk mendidik anak. Kata Maya Angelou, only when we know better, we do better,” kata Suha.
Sumber: Parenting Indonesia
Hindari Ini Saat Ajarkan Agama kepada Anak
Metode pengajaran apa pun yang ingin Anda sampaikan
pada anak, lakukanlah hanya bila keadaan mendukung, misal anak sedang dalam
kondisi senang dan tidak sedang dalam kondisi bosan, capek, atau marah kepada
Anda. Semenarik apa pun cara pengajaran Anda, anak pasti tak mau mendengarkan
jika mood-nya sedang tak baik.
Ada beberapa hal yang harus Anda hindari ketika mengajarkan agama kepada anak, yaitu:
Ada beberapa hal yang harus Anda hindari ketika mengajarkan agama kepada anak, yaitu:
- Menakut-nakuti bahwa anak akan masuk neraka jika melakukan dosa.
- Memarahi anak ketika tak mau salat (Lebih baik, ajak ia salat berjamaah!).
- Bersikeras melarang anak melakukan sesuatu yang menurut Anda tak sesuai dengan kaidah agama, seperti anak perempuan memakai rok mini, atau nonton film yang ada adegan pacaran. (Beri pengertian yang sesuai dengan usia anak, setelah anak mengerti, barulah larangan diterapkan!).
- Melarang anak tanpa alasan untuk sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam agama, misal dengan mengatakan “Pokoknya tidak boleh!” atau “Itu haram!” (Selalu sertakan alasan di balik setiap larangan yang Anda terapkan, sesuai usia anak!)
- Menyebut-nyebut perbuatan keliru anak sebagai perbuatan dosa. (Anak belum sepenuhnya mengerti tentang konsep dosa!)
Sumber: Parenting Indonesia
MENJADI ORANGTUA HEBAT
![]() |
| www.bkkbn.com |
Menjadi orangtua hebat bukan karena pendidikannya, bukan karena cara berpikirnya, tetapi semata-mata karena pemahaman dan implementasi dari pengasuhan anak, pertumbuhan dan perkembangan anak, permainan bermakna, pembentukan karakter serta tantangan anak dengan gaya hidup dan teknologi.
Bersiap-siap Menjadi Orangtua:
Bagaimana membangun sebuah Keluarga?
Perencanaan membangun keluarga yang matang sangat diperlukan:
- Merencanakan usia pernikahan (20-30 tahun)
- MEmbina hubungan antar pasangan,dengan keluarga lain dan kelompok sosial
- Merencanakan kelahiran anak pertama, persiapan menjadi orangtua
- Mengatur jarak kelahiran dengan menggunakan alat kontrasepsi
- Berhenti melahirkan di usia 35 tahun agar dapat merawat balita secara optimal
- Merawat dan mengasuh anak balita memenuhi kebutuhan dasarnya (fisik,kasih sayang,stimulasi).
Keluarga berkualitas yang diciptakan dapat terwujud apabila masing masing keluarga memiliki ketahanan keluarga yang tinggi. Masing-masing dapat melakukan fungsi secara serasi, selaras dan seimbang.
9 Fungsi keluarga adalah:
a. Fungsi keagamaan: jadi panutan bagi anak-anaknya dalam beribadah
b. Fungsi sosial-budaya: jadi contoh berperilaku sosial budaya ,bertutur kata, bersikap budaya timur
c. Fungsi cinta kasih: memberikan cinta kasih kepada anak-anak, anggota keluarga lain
d. Fungsi perlindungan: menumbuhkan rasa aman, kehangatan bagi seluruh anggota keluarga
e. Fungsi Reproduksi: mengatur jumlah anak, jarak kelahiran,menjaga anak remaja kesehatan reproduksi
f. Fungsi sosialisasi & pendidikan: mendorong anak untuk bersosialisasi
g Fungsi ekonomi: bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
h.Fungsi pembinaan Lingkungan: menjaga, memelihara lingkungan, keharmonisan keluarga dan sekitarnya.
Memahami Peran Orangtua:
Peran orangtua dalam pengasuhan anak tidak diserahkan kepada oranglain. Sejak dini harus memulainya dalam pengasuhan ,menyediakan waktu,kedekatan dan menjadi pelatih emosi bagi anak-anaknya.
Tujuan pengasuhan agar dapat merawat,mengasuh dan mendidik anak agar orangtua dapat menjalankannya sebagai Hamba Tuhan, calon istri atau suami, calon ayah atau ibu, ahli dalam bidang profesional, pendidik,pengayom.
Pola asuh adalah pola perilaku yang diterapkan oleh orangtua pada anak dan bersifat konsisten dari waktu ke waktu.
Tipe pola asuh:
Otoriter: memaksa anak untuk mengikut apa yang diinginkan oleh orangtua. Dengan berbagai aturan.
Permisif: Orangtua tidak menetapkan batas-batas tingkah laku dan membiarkan anak mengerjakan menurut keinginannya.
Demokratis: Menghargai kepentingan anak, juga menekankan pada kemampuan untuk mengikuti aturan sosial.
Diabaikan: Mengabaikan keberadaan anak. Menunjukkan ketidak pedulian terhadap anak.
Dari keempat itu yang dapat membentuk anak percaya diri adalah pola asuh demokratis.
Apa saja faktor penting dalam pengasuhan?
1. Disiplin
2. Komunikasi
Disiplin:
a. Memberitahukan kepada anak apa yang harus dia kerjakan sesuai dengan harapan orangtua
b. Memberitahukan kepada anak hal-hal yang tidak boleh dilakukan
c.orangtua juga menerapkan disiplin pada dirinya sendiri.
Komunikasi:
Mengajarkan komunikasi dengan petunjuk,pengaturan, perintah orang dewasa. Peraturan harus bersifat masuk akal, positif, jelas, adil.
Masuk akal: sesuai dengan usianya
positif : "Berjalan yang baik!", "Menggambar di buku!", Jaga Tanganmu" ; jangan pakai JANGAN
jelas : Batasan jelas sehingga anak tahu apa yang diharapkan
adil : menjelaskan kapan , apa yang dilakukannya dan alasannya.
Penting melatih anak mengungkapkan perasannya:
1. Anak merasa nyaman
2. Anak merasa perasaannya penting,dirinya berharga
3. perasaan negatif hilang
4. ingin meneruskan pembicaraan
5. orangtua mengeri yang sebenarnya
6. hubungan menjadi baik dan tumbuh rasa hormat
Jika anak merasa orangtua menolak perasannya:
1. Anak merasa bingung dan kesal
2. Tidak percaya pada perasaannya sendiri
3. Tidak mengenal perasaanya
4. Penyebab kurang percaya diri
5. Konsep diri negatif.
Konsep diri positif: orangtua perlu mengenal dirinya sendiri lebih baik dari oranglain, memahami kelebihan ,keunikan dan kekurangan yang dimilikinya.
Penghargaan atas prestasi dan ciri-ciri positif yang dimiliki: orangtua dapat minta masukan dari orangtua tentang diri, terimalah yang kurang dan tingkatkan yang lebih /positif.
Membantu Tumbuh Kembang :
Masa balita adalah masa kritis dalam pengasuhan. Jika orangtua gagal dalam mengasuh maka akan berdampak buruk di kemudian hari.
Pertumbuhan anak adalah perubahan ukuran, bentuk tubuh, anggota tubuh:
o bertambahnya berat badan, tinggi badan,lingkaran kepala,tumbuh dan tanggal gigi susu,perubahan tubuh
Cara menilai pertumbuhan anak:
o Mengukur tinggi atau panjang badan: bayi lahir panjang bayi kira-kira 48 cm.; 1 tahun 71-72 cm
o MEngukur lingkaran kepala: dengan meteran kain, bayi 35 cm; bayi perempuan 31-38; laki 32-36 cm
o Memperhatikan bentuk tubuh: perhatikan bentuk tubuh anak dari bayi sampai dewasa
o Memperhatikan gigi: munculnya gigi susu, muali gigi seri bagian bawah, gigi seti atas, geraham awal, gigi taring seluruh 20 gigi susu.
Proses Perkembangan ada beberapa proses antara lain:
o Perkembangan berlangsung bertahap dalam waktu tertentu
o Perkembangan 5 tahun pertama adalah landasan
o Perkembangan mengikuti sejumlah ketentuan
o Terjadi variasi perkembangan 0-6 tahun
Perkembangan bertahap: mulai tengkurap,duduk, berdiri, tanpa dibantu. Pertumbuhan kaki apakah wajar? Setelah dapat berdiri sendiri dan berjalan dan seterusnya.
Perkembangan 5 tahun pertama adalah landasan yang menentukan bagi kepribadian manusia.
Perkembangan mengikuti sejumlah ketentuan seperti
1. Faktor bawaan: membawa dari lahir penyakit asma, orangtua harus memperhatikan hal tersebut
2. Faktor lingkungan: anak dalam lingkungan keluarga kurang kasih sayang,gangguan perkembangan seperti pemarah, murung dan sebagainya.
3. Bertahap/bertingkat: meniru , belajar bicara dengan kalimat sederhana, bercerita
4.Setiap anak itu individu yang unik: anak pertama dapat jalan umur 1 tahun, adiknya baru belajar sendiri.
Perkembangan pada usia 0-6 Tahun:
o Perkembangan mental
o Perkembangan psikososial
o Perkembangan emosi
o Perkembangan psikoseksual
o Perkembangan moral dan spiritual
Mental: Bayi belajar memandang,meraba,mencium bau,mengecap objek yang dapat dijangkau.
Usia 2 tahun dapat membuat generalisasi sederhana terhadap sekitarnya.
Kemampuan mental makin bertambah dengan melihat hubungan-hubungan.
Perkembangan psikososial:
Pengalaman sosial di masa bayi akan mempengaruhi hubungan sosial yang dikembangkan masa depan.
Reaksi sosial pertama ditujukan kepada orang dewasa seperti tersenyum dan mengeluarkan suara.
Waktu bermain dengan teman-temannya.
Perkembangan emosi:
Waktu lahir emosi sederhana, marah,ketakutan, rasa ingin tahu, gembira dan kasih sayang. Emosi jadi kuat setelah anak mudah terbawa oleh ledakan emosional, sulit dibimbing dan diarahkan.
Perkembangan psikoseksual
Dalam peran gender sebenarnya sudah ada sejak bayi. Byai laki atau perempuan melalui pakaiannya, mainannya dan perlakuan orang sekitar.
Perkembangan moral & Spiritual
Usia 0-6 tahun tentang benar dan salah terbatas pada situasi rumah. Lalu diperluas di luar rumah , lingkungan tetangga, sekolah dan teman bermain. Lebih penting letakan dasar untuk hati nurani sebagai bimbingan benar atau salah.
Peran orangtua dalam tumbuh kembang balita
o Memenuhi kebutuhan anak akan makanan yang bergizi
o Menjaga kesehatan anak
o Berinteraksi dengan anak
Hal yang penting agar tumbuh dengan baik:
o Meningkatkan kesehatan ibu hamil: tingkatkan kesehatan bayi dalam kandungan supaya tumbuh kembang
o Berikan bayi ASI eksklusif: beri ASI ekslusif sejak bayi berumur 1. Setelah 2 minggu memeriksakan pertumbuhannya
o Biasakan hidup sehat: minum air matang,mencuci makanan sampai bersih, cukup istirahat,olahraga,rekreasi
o Beirkan anak makanan gizi seimbang: Makanan sesuai umur dan kebutuhan anak, Makanan pendamping
o Beirkan anak imunisasi sedini mungkin
Aspek-aspek perkembangan anak yang perlu mendapatkan perhatin:
o Perkembangan kemampuan gerakan kasar
o Perkembangan kemampuan gerakan halus
o Perkembangan kemampuan komunikasi pasif
o PErkembangan kemampuan komunikasi aktif
o Perkembangan kemampuan kecerdasan
o Pekermbangan kemampuan menolong diri sendiri
o Perkembangan kemampuan tingkah laku sosial
Perkembangan gerakan kasar:
Gerakan yang dilakukan dengan melibatkan sebagian besar otot tubuh dan biasanya memerlukan tenaga Tujuan agar anak terampil dan tangkas.
Perkembangan gerakan halus:
Gerakan yang dilakukan oleh bagian tubuh tertentu , tidak perlu tenaga, tetapi perlu perhatian (kerja sama), mata dan anggota badan (badan dan kaki). Tujuan agar anak terampil menggunakan jari jemari dalam kehidupan sehari, terutama tugas sekolah.
Perkembangan komunikasi pasif:
Kesanggupan untuk mengerti isyarat dan pembicaraan orang lain.
Perkebangan komunikasi aktif:
Kemampuan untuk menyatakan perasaan,keinginan,pikiran,baik melalui tangisan, gerakan tubuh isyarat, maupun kata.
Perkembangan tingkah laku sosial
Kemampuan untuk menjalin hubungan baik dengan anggota keluarga maupun dengan orang lain.
Bagaimana orangtua dapat merangsang/menstimulasi tumbuh kembang anak:
Kebutuhan dasar anak harus diberikan agar anak dapat tumbuh kembang secara optimal.
Kebutuhan yang harus dipenuhi:
o Kebutuhan kesehatan dan gizi
o Kebutuhan kasih sayang
o Kebutuhan stimulasi
Kebutuhan kesehatan dan gizi:
o Memberikan ASi kepada byai segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir
o Pemberian ASI ekslufi sejak lahir hingga bayi usia 6 bulan
o Memberikan makanan pendamping ASi sejak beruisa 6 bulan sampai 24 bulan
o MP-ASI makanan dan minuman yang mengandung gizi kepada bayi atau anak 6-24 bulan
o Biarkan anak tidur pulas , sampai terbangun sendiri.
o Mengamati pertumbuhan anak dengan membawa ke Posyandu.
Kebutuhan kasih sayang
o Berikan rasa cinta,aman, kasih sayang, kita menyayangi dan selalu berada di dekatnya.
o Belai dan sentuh anak setiap hari menambah kedekatan orangtua dan anak
o Dekap dan peluk anak untuk yang sedih dan menangis karena mimpi buruk
o BErikan pujian jika berhasil mencapai sesuatu
o Jika anak melakukan kesalahan, jangan dimarahi namun tegur dan beritahu apa yang seharusnya dilakukan
o Bacakan dongen dan dengarkan cerita.
o Berikan akta halus penuh makna
o Motivasi anak agar mampu mencoba melakukan sesuatu
o Berikan panggilan sayang kepada anak
Selamat Menjadi Orangtua Hebat!
Belajar Masak Sejak Dini
![]() |
| google.com |
Ketika anak saya sedang belajar di luar negeri, betapa sulitnya beradaptasi untuk mendapatkan pengetahuan tentang masak. Pertama karena sebelumnya dari SD hingga SMA , dia tak pernah ke dapur, kedua karena dia tak suka masak, ketiga dia harus mencari sendiri pengetahuan tentang masak dari googling karena saya sudah tidak berada di sana mendampinginya.
Dari pengalaman itu, saya merasakan bagaimana sulitnya seorang anak jika tidak memiliki pengetahuan dasar tentang masak. Sebenarnya anak tidak perlu jago masak. Sebaiknya mengenal dasar-dasar bagaimana memasak nasi dan sayur. Ini yang paling mudah.
Manfaat memasak:
1. Memasak adalah bagian hidup yang tak bisa ditinggalkan. Semua orang butuh makanan. Untuk mengolah
makanan tentu harus di masak dulu.
2. Memasak adalah gaya hidup. Sekarang ini semua makanan dijadikan gaya hidup kuliner. Setiap orang
ingin mencoba apa yang dihidangkan.
3. Memasak itu adalah kepuasaan. Jika dapat menghidangkan sesuatu yang enak, pasti kita ingin mencoba
lebih enak lagi.
4. Memasak itu jauh lebih murah dari beli makanan di restoran.
5. Memasak itu kenikmatan atau kepuasan.
Jika kita sudah mengetahui bagaimana dan banyaknya manfaat memasak, lalu bagaimana kita mengajarkan memasak kepada anak sedini mungkin.
1. Ajak anak memasak sambil bermain. Buat masakan yang paling sederhana, misalnya puding
2. Sambil bermain, anak diberikan pengarahan bagaimana memasak yang enak itu. Langkah dari memasak.
3. Hasil memasak di publish di facebook.
4. Ajak teman-temannya untuk melihat hasil masakannya.
5. Komentar yang baik dari teman-temannya, dijadikan pemicu agar anak senang memasak kembali.
6. BErikan hadiah alat masak kecil ketika ulang tahun.
Nach, jika dari kecil sudah senang masak, pasti ketika dewasa tidak repot dech belajarnya.
Selamat memasak....
Parenting "Oma" vs parenting "ibu sendiri"
Keluarga muda yang memiliki balita di Jakarta, suami istri harus bekerja meninggalkan buah hatinya untuk mencari nafkah, seringkali terpaksa menitipkan anaknya kepada orangtuanya.
Parenting ibu digantikan dengan parenting oma, itulah fenomena yang seringkali saya lihat. Terpaksa saya harus melihat secara detail apakah ada perbedaan antara parenting ibu dan oma.
Gaya parenting Ibu bisa saja ada 4 macam yang disebut dengan Otoritatif atau otoriter, mengercilkan, modern atau permisif. Keempat gaya ini memang membuat dampak yang berlainan. Tergantung gaya dominan dari orangtua atau ibu yang dianut.
Namun, sebagai oma, jika tak ada komunikasi yang jelas dengan anaknya untuk pola asuh/parenting cucu, maka sang Oma akan menggunakan parenting gaya lama atau konvesional yang menurutnya jauh lebih baik . Dengan sikap oma yang yang cenderung "sayang" yang berlebihan kepada cucu, maka pola asuhnya lebih kepada permisif.
Sifat parenting permisif adalah sebagai berikut “modern” atau permissif . Cucu dapat memakai atau menghabiskan sumberdaya keluarga (waktu, uang, energi) untuk hal-hal yang menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan kedekatan emosional semacam itu, kecuali satu hal: oma juga lupa bahwa dari sejak anaknya lahir, ia adalah oma yang pernah mendidik anak dengan gaya yang lain . Cucu-cucu yang diasuh dengan gaya ini cenderung menjadi “konsumen” kehidupan, mudah patah semangat, berkemauan lembek, gemar mengeluh, tak punya inisiatif, tidak produktif. Segala keinginan cucu dianggapnya harus dikasihani, dan selayaknya diberikan. Tak ada pengekangan atau faktor pendidikan. Akibatnya, cucu akan merasa lebih bebas, tanpa peduli dengan aturan dan bahkan berani kepada orangtuanya sendiri.
Parenting ibu digantikan dengan parenting oma, itulah fenomena yang seringkali saya lihat. Terpaksa saya harus melihat secara detail apakah ada perbedaan antara parenting ibu dan oma.
Gaya parenting Ibu bisa saja ada 4 macam yang disebut dengan Otoritatif atau otoriter, mengercilkan, modern atau permisif. Keempat gaya ini memang membuat dampak yang berlainan. Tergantung gaya dominan dari orangtua atau ibu yang dianut.
Namun, sebagai oma, jika tak ada komunikasi yang jelas dengan anaknya untuk pola asuh/parenting cucu, maka sang Oma akan menggunakan parenting gaya lama atau konvesional yang menurutnya jauh lebih baik . Dengan sikap oma yang yang cenderung "sayang" yang berlebihan kepada cucu, maka pola asuhnya lebih kepada permisif.
Sifat parenting permisif adalah sebagai berikut “modern” atau permissif . Cucu dapat memakai atau menghabiskan sumberdaya keluarga (waktu, uang, energi) untuk hal-hal yang menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan kedekatan emosional semacam itu, kecuali satu hal: oma juga lupa bahwa dari sejak anaknya lahir, ia adalah oma yang pernah mendidik anak dengan gaya yang lain . Cucu-cucu yang diasuh dengan gaya ini cenderung menjadi “konsumen” kehidupan, mudah patah semangat, berkemauan lembek, gemar mengeluh, tak punya inisiatif, tidak produktif. Segala keinginan cucu dianggapnya harus dikasihani, dan selayaknya diberikan. Tak ada pengekangan atau faktor pendidikan. Akibatnya, cucu akan merasa lebih bebas, tanpa peduli dengan aturan dan bahkan berani kepada orangtuanya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)



