Loading

Slide Bar

Share

MENJADI ORANGTUA,MENDEWASAKAN DIRI

Melalui parenting, pengalaman membesarkan ,mengasuh dan mendidik anak, orangtua mendapat imbalan bagi pengembangan pribadi sebagai individu.

Bettie Youngs, penulis buku pendidikan anak dan remaja,menjelaskan bahwa pelajaran positif melalui parenting.

Orangtua selalu mempelajari makan sesungguh dari mencintai,bergembira, bahagia melihat keberhasilan yang dicapai anaknya, besabar dan bertahan berbagai hambatan yang dialami oleh hubungan timbal balik antara anak dan orangtua. Keinginan anak terkadang berbeda dengan yang diharapkan orangtua serta tanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Menjadi orangtua mengajarkan sebagai berikut:

Merasakan betapa rentannya kehidupan manusia:
Ketika mengandung dan melahirkan bayi, akan muncul perasaan takjub yang mendalam mengenayi nyawa bayi yang sepenuhnya bergantung kepada kita. Ibu dan ayah akan mengembangkan perasaan melindungi bayi dari berbagai bahaya dan kekurangan yang dialami. Melindungi kehidupan manusia menjadi hal yang menarik dari semua pengalaman. Hal ini menjadi pembuka untuk dapat ikut merasakan orang-orang yang hidupnya berada dalam bahaya dimana saja di dunia seperti perang,kelaparan atau perang.

Bereempati kepada orangtua lain:
Parenting menghubungkan semua orangtua dimana pun mereka berada. Bersimpati dengan ibu yang sakit,menangis,kterluka,atau kehilangan anak-anak,. Masa menjadi orangtua juga merasakan kegembiraan yang sama,rasa sakit,atau trauama yang kita rasakan. Saling berbagi di masa ini merupakan suatu perasaan yang mengikat.

Membuat Prioritas
Setelah mengetahui bahwa hari kita tidak hanya mengurusi kebutuhan kita sendiri,kita harus mengubah keinginan atau kebutuhan akan tercapai kesempurnaan.Ada hal-hal yang harus segera dilakukan dan tak bisa ditunda,semntara hal lain menjadi pilihan. Misalnya saya akan menerima ajakn teman lama untuk reunian atau saya akan mengambil rapor anak?  Orang yang menenangkan ,memotivasi,mengsinspirai atau mendukung kita menjadi sesuatu yang penting. Berbeda dengan orang yang menekan,membingungkan atau menjatuhkan kita.

Bertindak secara efisien:
Sebelum mepunyai anak, kita acapkali mudah menjadi kecewa atau kesal terhadap proses atau hasil kerja orang lain. Semua energi yang dulu dihabiskan untuk ketegangan, sekarang disalurkan untuk penyelesaian. Orangtua akan mempertimbangkan untuk tidak marah-marah. Mereka ingin agar sebagai orangtua melakukan pekerjaan secara efisien,praktis,cepat beres.Selalu ada tugas lain yang telah menunggu orangtua.

Menjadi konsisten dan asertif
Mengkomunikasikan hal yang kita inginkan secara jelas ,detail yang diperlukan.Ketika anak kita masih kecil,kita belajar bahwa anak-anak tidak berbagai mainan,mereka tidak punya teman.Jika mereka tidak tidur awal, mereka akan menjadi rewel dan kesal. Sebab dan akibat yang sama berlaku juga untuk remaja.Orangtua kadang-kadang khawatir dianggap suka memerintah dan menuntuk.Namun,kita berada diposisi dengan oranglain bergantung pada kita, baik di rumah, tempat kerja,sangat penting berintdak dan berpikir secara jelas,konsisten serta tegas.

Sifat orang dewasa:
Kebutuhan dan keinginan orang dewasa sama dengan anak,hanya kita expresikan secara lebih halus. Jika remaja sedang mengamuk, kita perlu menunggu dia sampai tenang.Seorang dwasa perlu diperlakukan dengan cara yang sama. Kita belajar tipe orang dewasa yang sangat mandiri sekalipun jika tengah pergi menangis, sesungguhnya tidak ingin ditinggal sendirian, mereka tetap ingin berbicara sedikit dan diyakin secara pribadi tanpa ditonton oleh orang banyak.

BErtanggung jawab terhadap kehidupan:
Kita belajar dari kesalahan dan dapat menyelesaikan tugas.Kita dapat mencapai apa yang diinginkan dan ketika semua menjadi serba salah, kita akan memulai dari awal lagi.Melalui belajar untuk mengontrol lingkungan, kita belajar mengendalikan diri,belajar melakukan disiplin.

Inilah orangtua yang mengantarkan kita dari masa kanak-kanak,ke masa deasa.
Menjadi orangtua mengubah pandangan kita mengenai dunia,kehidupan,dan kemanusiaan.
Melalui pengalaman menjadi orangtua,kita belajar jika secara konsisten ktia siap mencontohkan beberapa perilaku efektif kepada anak,kita akan menjadi manusia lebih baik,lebih bijak,dewasa dari sebelumnya.

Anak Era Digital

Hari Sabtu tanggal 29 Maret 2014, saya kedatangan cucu dari keponakan suami.  Bocah gadis kecil berusia 4 tahun, sangat lucu, cerdas dan cantik sekali.

Begitu bertemu dengannya, saya kaget karena saya tak pernah sebelumnya bertemu dengannya sejak bayi. Yang pertama dilakukannya adalah dia sudah dapat makan siang sendiri.

Memang sayang,saya tak menyediakan kursi untuk anak, oleh karena itu dia kerepotan untuk duduk kursi dewasa pada waktu makan.
Ternyata dia sudah sangat trampil untuk makan sendiri.




Selesai makan, dia saya ajak ke atas untuk main clay. Saya keluarkan semua clay bekas kepunyaan anak. Dengan mudahnya dia ikuti apa yang diajarkan oleh ibunya. Melihat gambarnya langsung dia mencoba sendiri. KEtika ditanya, bentuk apa yang dibuatnya.  O itu gambar ulat.

Setelah bosan, dia melihat Disney Junior, sambil melihat TV, rupanya dia sudah memperhatikan bagaimana caranya mengganti channel TV.  Dia bisa lakukan sendiri.  Lalu, dia bilang kepada saya, oma, saya juga punya HP, saya mau lihat Disney Junior di TV saya yang ada di HP.
Buset anak sekecil ini sudah tau kalau Disney Junior dapat diakes via HP karena HP nya ada internetnya.

Belum lagi kekejutan saya selesai, dia minta ipad nya dikeluarkan dari mobil.
Oma pengin tahu dech apa yang dikerjakan dengan Ipad ini. Lalu ditunjukkannya semua game yang pernah dia akses.

Selesai itu, dia ambil lagi hp nya. Dia bilang, aku mau lihatkan kepada oma, aku bisa telp papah pakai hp ini. Saya bertanya kepada mamahnya. Loh khan dia belum sekolah dan belum bisa baca, gimana tahu nomer hp papahnya.  O...dia ambil foto papahnya di whatsApp, lalu dia pencet gambar itu dan dia akan bilang halo kepada papahnya atau pencet seolah dia menuliskan kepada papahnya.

Di rumahnya, sering dia pura-pura menulis dengan mouse dan pointer yang sudah sangat mudah dilakukannya.

Wow, saya makin bingung lagi melihat anak era digital.......

"GHETTOISME" PENDIDIKAN

Membaca sebuah artikel di Kompas berjudul  "Ghettoisme Pendidikan", membuat kita sebagai orangtua mengetahui bahwa ada bahayanya sebuah pendidikan yang menganut Ghettoisme.

Apa makna Gthettoisme?
Ghettoiseme adalah sebuah yang digunakan untuk mengisolasi kehidupan kelompok minoritas karena alasan sosial, hukum, tekanan ekonomi.

Kata ini digunakan pertama kali di Venesia,Italia untuk menggambarkan tempat khusus di mana orang Yahudi dibatasi dan dipisahkan dari kelompok sosial di dalam masyarakat.

Relevansi dengan Pendidikan?
Ghettoisme pendidikan banyak dipraktikkan di sekolah negeri. Bahkan praktek ini diatur dalam aturan sekolah. Sekolah Negeri dibiayai oleh pemerintah , tapi justru melakukan dan menyuburkan praksis pendidikan yang bertentang Bhinneka Tunggal Ika.  Kegiataan keagaamaan setiap pagi sebelum pelajaran sekolah di mulai. Agar tampak adil dan berlaku sama, murid beragama lain dikumpulkan di ruang terpisah , tapi tidak ada pendamping untuk mengadakan kegiatan rohani tersendiri. Inilah yang disebut ghettoiseme pendidikan. Memisahkan siswa berdasarkan kategori sosial seperti ini secara pedagogis dan edukatif tak dapat dibenarkan.

Tiga Solusi ditawarkan:
Penulis Doni Koesoemaa, pemerhati Pendidikan memberikan tiga solusi:
Pertama:  Pemerintah harus segera menghilangkan praksis buruk semua kegiataan kerohaniaan.

Kedua :  para guru dan pendidik mengedepankan sikap kritis, kesediaan merivisi pandangan sempit dalam mendidik siswa yang justru cenderung mematikan daya nalar indoktrinasi ideologis.

Ketiga:  orangtua perlu kritis dan berani memperjuangkan kebenaran dengan berbagai macam kelompok yang mempunyai niat baik dalam mengembangkan pendidikan anak dan mengetahui kesadaran jika  anak-anak dididik secara salah di sekolah , menanamkan ketertutupan,permusuhan, kebencian kepada orang lain atas nama perbedaan sosial

GENG MOTOR KEGAGALAN ORANG TUA

Membaca beberapa anak dibawah umur yang terlibat dalam Geng Bermotor, melakukan kekerasan dan tindakan anarkistis, sungguh membuat miris dan sangat menyedihkan bagi saya sebagai ibu.

Seluruh polisi ,polres dan beberapa orangtua di kawasan Bekasi sangat resah dengan Geng Bermotor yang terus menerus mengganggu keamanan orang-orang dengan menyerang dengan senjata, merampas harta dan bahkan melukai orang.

Mereka yang ditangkap sebagai Geng Bermotor di Cipayung, biasanya berkumpul dan nongkrong dan duduk santai, .  Dalam melakukan kejahatan, enam remaja mengaku menenggak minuman beralkohol sehingga mabuk dan kurang perhatian dari keluarga atau sekolah.

Keluarga adalah benteng dari Geng Motor
Menjaga dan memberikan perhatian anak dari pengaruh luar yang sangat keras dimulai dari penjagaan dari rumah.  Menjaganya bukan dengan ancaman tetapi dengan cinta kasih dan perhatian yang diberikan kepada anak.   Tentunya perhatian yang dibutuhkan adalah sesuai dengan usia anak.   Kebutuhan afeksi juga menjadi hal yang penting bagi anak.  Jika kebutuhan dasar seperti cinta kasih diberikan didalam rumah, anak tidak
mencari di luar rumah.

Kenalilah Teman Anak
Begitu anak bergaul dengan teman-temannya, baik itu teman di dunia nyata maupun di dunia sosial media. Orangtua sebaiknya mengenal siapa teman-temannya.  Mengenal teman dari keluarga masing-masing temannya.  Hal ini sangat penting karena pengaruh teman lebih penting dari pada peran orangtua, pada saat anak remaja.   Jangan sampai anak terjerumus pada pergaulan yang sangat bebas, tak terkontrol dan kekerasan karena pengaruh seorang teman.

Kegiataan yang positif dan bermanfaat
Sering anak ingin terlibat dalam berbagai macam kegiataan.  Jika kegiataan itu sifatnya positif dan bermanfaat, tentu orangtua dapat mengizinkan.  Tetapi jika sebagai suatu awal dari suatu menuju ke arah yang tidak positif, sebaiknya tidak mengizinkan.  Jika anak  masih juga tidak mendengarkan, berikan pendekatan yang sangat persuasif untuk tidak melakukan mungkin melalui orang yang dianggap dihormati oleh anak.

The best thing to be value of a person, is to get a good start and finish !

Mari orangtua kita berjuang untuk tetap menjaga anak agar tidak terjatuh dari kegagalan kita.

KURANG PERCAYA DIRI

Proses untuk menanamkan percaya diri kepada anak berlangsung sangat lama. Saat SD, anak saya tidak suka bergaul dengan temannya yang tidak menyetujui atau tidak sealiran dengan dirinya.   Dia merasa lebih baik tak bergaul dengan teman yang tak disukainya ketimbang harus berkorban diri untuk mengerti atau memahami orang lain lebih dulu. Dia lebih suka orang lain memahami dirinya.
Saya terus berkali-kali menanamkan kepada dirinya agar tak mencoba mengubah orang lain untuk menyukai dirinya, tetapi belajar untuk bisa menyukai orang lain dengan kelebihan dan kekurangannya.

Saat SMP, dia mulai bisa bergaul dengan lebih banyak teman. Namun, persaingan makin kental. Apalagi dunia sekolahnya adalah dunia kompetisi.
Anak saya mulai menjauhkan diri dengan mereka yang berprestasi lebih tinggi dari dirinya.
Mulailah saya memberikan teladan kepada dirinya. Seperti saya yang tak mampu belajar teknologi, tetapi saya mau belajar dari orang yang jauh lebih pandai.
Akhirnya, dia bisa bergaul dengan teman-teman lain yang berprestasi jauh lebih baik darinya.

Saat masuk universitas, dia merasa hasil tugasnya tidak memuaskan dibandingkan dengan teman-temannya. Bahkan, ketika suatu hari dia mendapat kesempatan untuk "Portfolio Review", percaya dirinya hilang di hadapan dengan pakar-pakar yang akan me-review portofolio nya.
Alasannya adalah portfolio belum maksimal dibandingkan dengan mereka yang punya jam terbang lebih banyak dengannya.  Kembali, saya sebagai ibu memberikan "insight",  parameter portfolio ditentukan oleh dirinya sendiri bukan oleh orang lain.  Parameter dari penilaian adalah dari pakar bukan dari orang lain. Tentu parameter harus dipertimbangkan oleh beberapa faktor antara lain jam terbang, pengalaman, semester .

Jatuh bangun untuk memberikan percaya diri kepada anak. Tetapi selalu mengedepankan dan memberikan semangat agar anak lebih percaya diri.  Tak mudah , tetapi proses panjang harus dilalui demi percaya diri yang terus dipupuk dan dibangun.

Memperkenalkan Konsep Pertemanan kepada Anak

Norma kehidupan perlu diajarkan kepada anak. Sekian banyak nilai yang ditanamkan, lebih baik mengajarkan dasar-dasar pertemanan yang sangat menarik.

Caranya sederhana dan mudah apalagi sebagai orangtua harus memberikan contoh kepada anak-anak.

1. Ikut Bermain
    Terlibat bermain dengan anak baik indoor maupun outdoor.  Tentu sangat mengasyikan jika kegiataan
    diikuti bersama-sama antara anak dan orangtua. Permainan yang menunjukkan kebersamaan akan
     menumbuhkan nilai kebersamaan, belajar bersikap sportif, fairplay, menerima kekalahan, mengakui
     kemenangan orang lain, berbagai  dan menumbuhkan rasa kebersamaan sebagai teamwork.

2. Bangun kesempatan sosialisasi.
    Carikan teman sebaya dan dorong untuk berinteraksi .Untuk menciptakan kesempatan, dibutuhkan
    kesabaran dan tekat.  Orangtua menjadi perantara untuk mengawali pertemanan antara anak dan
    temannya. Setelah terjalin, barulah mereka dapat bersosialisasi secara alami.

3.Bangun kepercayaan diri
   Sejak kecil anak diberikan kesempatan atau dorongan, motivasi untuk berani tampil diri , di depan
   kelas serta suka rela mengambil peran dalam kelas,bernyanyi, bercerita menjadi petugas piket.
   Orangtua bekerja sama dengan guru untuk memberikan motivasi keberanian kepada anak.

4. Jalin komunikasi
    Terus menerus dilakukan dengan anak tanpa paksaan.Ajak anak untuk bercerita, pengalaman
    dilakukan waktu senggang seperti seusai makan malam atau menjelang tidur.

Pemberian tak Selalu Baik bagi penerima

Orangtua sering berpikir memberikan sesuatu kepada anak, pasti sangat membahagiakan anak.  Ternyata tak semua pemberian bisa membahagian anak.  Belum tentu.   Mengapa?  Pasalnya orangtua seringkali hanya berpikir memberikan sesuatu "menurut cara berpikirnya" bukan "cara berpikir anaknya atau penerimanya".

Aneh, tentu hal itu tak pernah terjadi jika pengalaman yang saya dan suami sebagai orangtua tidak mengalaminya.

Anak sedang melakukan magang di suatu kantor.  Dia harus membuat video untuk suatu promosi perusahaan. Tehnik pembuatan video berdasarkan 3D.   Mendengar adanya pembuatan itu, sebagai orangtua, suami saya langsung mencari informasi tentang pembuatan video.  Setelah mendapatkan informasi, suami mencari bukunya.  Bukunya itu cukup mahal. Tapi mahalnya tak menjadi soal karena cinta orangtua memang tak memandang harga.  Bagi suami saya, membelikan dan memberikan buku adalah suatu hal yang tak ternilai harganya dibandingkan dengan harga buku itu sendiri.  Begitu besarnya semangat untuk memberi sampai segala persiapan dari pembelian sampai pengiriman pun dilakukan sendiri.

Tapi sayang seribu sayang, pengiriman buku yang disangkanya akan lebih aman, nyaman dan cepat ternyata menjadi bumerang bagi anak. Pengiriman buku gagal diterima karena kebetulan anak tidak di apartemen. Hanya sebuah catatan kecil yang menyatakan kurir telah datang, dan akan datang lagi.

Agak panik, bagaimana cara memberitahukan kepada perusahaan kurir agar pengiriman dapat diterima.  Berbagai kendala , ada aktivitas di luar apartemen, tapi harus tunggu kurir datang. Menghubungi customer service, ternyata tak banyak membantu. Tetap harus "stay at your apartment", ternyata sangat tidak enak menunggu sesuatu yang belum pasti.

Yang pasti pemberian itu bukan sesuatu yang enak bagi anak saya.  Assertive memberikan feedback bagi kami, lain kali pemberian buku itu sebaiknya dibeli saja di Melbourne tidak perlu dikirim karena menimbulkan kerepotan yang seharusnya tak perlu.