Proses untuk menanamkan percaya diri kepada anak berlangsung sangat lama. Saat SD, anak saya tidak suka bergaul dengan temannya yang tidak menyetujui atau tidak sealiran dengan dirinya. Dia merasa lebih baik tak bergaul dengan teman yang tak disukainya ketimbang harus berkorban diri untuk mengerti atau memahami orang lain lebih dulu. Dia lebih suka orang lain memahami dirinya.
Saya terus berkali-kali menanamkan kepada dirinya agar tak mencoba mengubah orang lain untuk menyukai dirinya, tetapi belajar untuk bisa menyukai orang lain dengan kelebihan dan kekurangannya.
Saat SMP, dia mulai bisa bergaul dengan lebih banyak teman. Namun, persaingan makin kental. Apalagi dunia sekolahnya adalah dunia kompetisi.
Anak saya mulai menjauhkan diri dengan mereka yang berprestasi lebih tinggi dari dirinya.
Mulailah saya memberikan teladan kepada dirinya. Seperti saya yang tak mampu belajar teknologi, tetapi saya mau belajar dari orang yang jauh lebih pandai.
Akhirnya, dia bisa bergaul dengan teman-teman lain yang berprestasi jauh lebih baik darinya.
Saat masuk universitas, dia merasa hasil tugasnya tidak memuaskan dibandingkan dengan teman-temannya. Bahkan, ketika suatu hari dia mendapat kesempatan untuk "Portfolio Review", percaya dirinya hilang di hadapan dengan pakar-pakar yang akan me-review portofolio nya.
Alasannya adalah portfolio belum maksimal dibandingkan dengan mereka yang punya jam terbang lebih banyak dengannya. Kembali, saya sebagai ibu memberikan "insight", parameter portfolio ditentukan oleh dirinya sendiri bukan oleh orang lain. Parameter dari penilaian adalah dari pakar bukan dari orang lain. Tentu parameter harus dipertimbangkan oleh beberapa faktor antara lain jam terbang, pengalaman, semester .
Jatuh bangun untuk memberikan percaya diri kepada anak. Tetapi selalu mengedepankan dan memberikan semangat agar anak lebih percaya diri. Tak mudah , tetapi proses panjang harus dilalui demi percaya diri yang terus dipupuk dan dibangun.
