Loading

Slide Bar

Share

ATASI “POST HOLIDAY SYNDROME” PADA ANAK

google.com

Liburan telah usai.  Begitu banyak acara liburan yang sangat fantastis, menyenangkan, sudah berlalu. Pergi ke luar kota, ke luar negeri, jalan-jalan melihat tempat-tempat yang sangat indah, hiburan seperti ice skating, merasakan sensasi es di negeri panas, pergi ke rumah nenek, berbelanja, pergi ke mall.

Selesai libur, semua alat transportasi, darat, laut, udara, penuh sesak. Para orangtua yang ikut berlibur dengan anaknya, harus berusaha agar anak dapat pulang ke rumah sebelum sekolah dimulai.
Namun, setelah satu atau dua hari di rumah, ternyata apa yang dialami selama liburan itu masih terasa enak bagi anak.  Biasanya anak-anak yang bangun pukul 5 pagi untuk bisa berangkat ke sekolah pukul 6 pagi, ternyata masih tertidur menjelang pukul 7.00-8.00.

Bahkan ada yang setelah siang bangunnya, masih cenderung ingin bermalas-malasan seperti liburan.  Saat liburan panjang orangtua memang memberikan toleransi kepada anak untuk bangun lebih siang dari pada waktu sekolah.  Demikian juga orangtua mengizinkan anak untuk tidur lebih larut malam dibandingkan jika masuk sekolah. 

Bagaimana sekarang mengatasi anak yang masih malas dan belum mengembalikan semangat libur untuk kembali kepada aktivitas awal?

Disiplin:
Orangtua harus memaksakan anak tetap pada jam normal untuk tidur. Tidak boleh larut malam, setelah belajar selesai, persiapan sekolah (buku, pakaian dan alat-alat sekolah) besok harinya, anak harus segera tidur. Diharapkan dengan cepat tidur, anak akan merasa segar besok untuk bisa belajar.

Kebiasaan bangun pagi:
Pola kebiasaan bangun pagi harus dikembalikan. Orangtua memberikan contoh untuk bangun pagi. Anak juga bangun pada jam yang telah ditetapkan. Kebiasaan ini harus dimulai sejak seminggu sebelum sekolah dimulai. Jangan terlalu mepet hanya sehari sebelum sekolah.  Badan mudah beradaptasi. Hanya kemauan saja yang sulit diatasi.  Oleh karena itu berikan motivasi kuat untuk bangun pagi , tidak “kaget” ketika bangun pagi untuk berangkat ke sekolah.

Persiapan perlengkapan sekolah:
Menyiapkan perlengkapan sekolah yang baru dapat memberikan semangat anak untuk pergi ke sekolah. Tidak perlu semuanya baru. Hanya perlengkapan yang memang perlu diganti karena sudah usang, sudah jebol dan tak bisa dipakai lagi. Contohnya adalah sepatu, tas.  Mengenakan sepatu dan tas baru ,membuat semangat anak untuk kembali bersekolah.

AYO, KEMBALIKAN SEMANGAT UNTUK BERSEKOLAH!

KENAPA ANAK REMAJA LEBIH SUKA KUMPUL DENGAN TEMAN DARIPADA KELUARGA?

konsultasipsikologi.kbc.-indonesia.com


Celoteh seorang perawat dokter gigi: “Bu, pusing ngga waktu anak ibu minta izin menginap di rumah teman?” tanyanya ketika saya sedang menunggu kedatangan dokter gigi di ruang prakteknya.  Saya tak bisa jawab langsung karena otak saya berputar ke masa lalu hampir 6 tahun yang lalu.

Sebelum memberikan jawaban, saya masih bertanya kepadanya:  “Loh, emangnya anak itu khan sudah minta izin, terserah kepada ibunya dong?”    Dia beragumentasi, “Bu, dia sudah pernah diberikan izin sebelumnya, sekarang dia pengin kumpul-kumpul dengan temannya justru pada hari natal!”, setengah kesal dia menjelaskannya.

Dalam hati, saya langsung teringat dua atau tiga hari yang lalu, anak saya yang sudah berusia 21 tahun (bukan remaja lagi),  juga pamit kepada saya untuk menginap di rumah temannya pada malam tahun baru.
Barangkali, masalah “menginap” di rumah teman itu tidak jadi masalah serius seandainya ini tidak terjadi pada hari yang penting, seperti Natal atau Tahun Baru.   

Sebagai orangtua , ketika anak minta izin untuk menginap di rumah teman, yang terpikir adalah kenapa anak ini lebih mementingkan teman dari orangtuanya sendiri.   Apakah relasi selama ini yang telah dibangun demikian dekat, tidak membuatnya nyaman lagi.
Masalah emosi sedikit terganggu karena  anak mengganggap hubungan dengan orangtua tak begitu penting dibandingkan dengan teman.   Untungnya emosi ini tak menjadikan saya sebagai orangtua marah atau sakit hati.

Saya coba mencari tahu apa penyebabnya anak remaja, menjelang dewasa,   justru lebih dekat kepada teman daripada orangtua.

Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Pengaruh Hubungan dengan Teman Sebaya dan Perkembangan Sosial Remaja”,  saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu.  Justru saya  masalah orangtua yang tidak mengerti perkembangan kedewasaan anak, akan membuat hubungan orangtua dan anak jadi makin runcing.

Ciri sosial dari seorang anak yang mendewasakan diri di lingkungan sosial adalah dia mulai bergeser dari lingkungan rumah menuju ke lingkungan teman-teman.  Pergeseran itu adalah untuk menyamakan persepsi anak itu dengan teman-temannya yang punya pola pikir dan pola nilai yang sama dengannya.

Diterimanya anak di suatu lingkungan membuatnya nyaman. Lalu, dia akan mengaktualisasikan dalam bentuk hubungan baru dengan temannya.  Dia ingin dikatakan mandiri bukan lagi tergantung pada orangtua.  Sedikit demi sedikit dia melihat bahwa kemandirian itu adalah suatu hal yang harus dilakukannya tanpa harus ikut campur dari orangtua.

Kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial, mandiri, jadi acuannya.  Perkembangan ini harus diikuti oleh orangtua .  Disini peran orangtua sangat penting.  Jangan Orangtua tidak menyalahkan anaknya yang tak tahu etika, tak mencintainya lagi atau ingin lari dari orangtua.  Bahkan saya melihat slogan di sebuah angkot “ABG Labil”.   Benarkah?

Menghindari pertikaian antar anak dan orangtua untuk masalah yang sebenarnnya tidak kompleks bila orangtua memahami kebutuhan perkembangan sosialisasi dan juga memberikan pengarahan  atau batasan apa yang harus dilakukan jika dia memilih untuk menginap di rumah temannya.

Begitulah memahami perkembangan psikologi anak sesuai dengan perkembangan usianya memang butuh pengetahuan dan pengertian yang dalam.  Tak mudah menjadi seorang ibu yang bijak jika kita mendalami perkembangan psikologi anak.   Sulit awalnya, tapi setelah membaca dan memahami dan menempatkan diri kita di posisi anak, barulah kita jelas apa yang harus dilakukan apabila kita menjadi anak itu.
Berikut ini intisari dari pengaruh hubungan anak dengan teman sebaya dan perkembangan sosial:
  • · Perkembangan Sosial
  •  Merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial.
  •  Sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi dan juga untuk meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.
  •  Pada dasarnya Anak dilahirkan belum bersifat sosial. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkunganya, baik orang tua, saudara, teman sebaya atau orang dewasa lainnya.
  • Menurut Hurlock (1996) ada tiga proses dalam perkembangan sosial yaitu:

1. Berperilaku dapat diterima secara sosial

2. Memainkan peran di lingkungan sosialnya.

3. Memiliki sikap yang positif terhadap kelompok sosialnya
  • · Perkembangan Sosial pada Masa Remaja
Perkembangan sosial pada masa remaja dapat dilihat dari dua ciri khas yaitu :
  1. Mulai terbentuknya kelompok dengan teman sebaya baik dengan jenis kelamin yang sama ataupun dengan jenis kelamin yang berbeda.
  2. Dan mulai memisahkan diri dari orang tuanya.

  • · Peranan Kelompok Sebaya dalam Kehidupan Remaja
·                    
1. Kelompok sebaya mempunyai peran penting dalam penyesuaian diri remaja, dan persiapan bagi kehidupan di masa mendatang,

2. Berperan pula terhadap pandangan dan perilakunya.

3. Kelompok teman sebaya berperan pada saat remaja mengahadapi konflik antara ingin bebas dan mandiri serta ingin merasa aman, pengganti yang hilang dan dorongan kepada rasa bebas yang dirindukannya.

4. Berperan dalam memberikan persepsi agar ia tidak merasa kerdil diantara orang-orang dewasa umumnya.

5. Remaja itu bergabung dengan kelompok teman sebaya, karena kebutuhan akan rasa bebas dari orang dewasa dan rasa terikat antara sesama anggota.

6. Pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan remaja sangatlah dominan dalam kehidupannya


Semoga dengan adanya pengetahuan tentang hubungan remaja dengan temannya dan perkembangan sosial , orangtua makin jelas bagaimana menghadapi dan menyikapi  remaja dan anak dewasa yang lebih mementingkan hubungannya dengan teman dekatnya.
Akhir kata, sebuah perkembangan harus dapat dimaknai dengan kesadaran pola perkembangan itu sesuai dengan apa yang dipolakan , tidak ada penyimpangan .

Sumber:

TIPS FOR ADULT CHILDREN'S PARENTING

 
It can be very painful to realize that the child you worked so hard to raise is not living up to their potential. Even more heartbreaking is the realization that you may not have a very good relationship with them. Sometimes these issues can make you feel like you’ve failed. As parents, we tend to think that if anything goes wrong with our kids, it’s our fault. Not only do we have the pressure we put on ourselves, we may also have well-meaning family members (and the rest of society) sending us those same blaming messages. But it’s more likely that you did the very best you knew how to do at each juncture in your child’s life. Some things may have been more effective, and some less effective, but you did your best.

Examine Your Own Feelings
I think it’s important to look at your own feelings in a more objective light. Are you feeling frustrated because your child is in a potentially harmful situation, or because the choices he or she made don’t fit in with your goals for their life? Culturally, we tend to value social status over personal fulfillment and happiness. So, if your child opts to go into a career that makes them happy, but does not necessarily provide a good living, we can feel like they are under-achieving. If you’re feeling this way, it might be helpful to take a step back and ask yourself which is better – having a child who is outwardly successful, or one who is inwardly happy? More importantly, whose life is it, anyway?
The reality is, this is now your child’s journey. Whether you approve of their career, their lifestyle, or their choice of life partner, it doesn’t change the fact that they now have the right to make their own choices. Along with that right comes the responsibility of those choices. This is what adulthood is all about. No matter what kind of upbringing a person has had, good or bad, there comes a time when they have to take responsibility for their own lives. This is easy for most of us when we’re looking at another adult who is not related to us, yet it can easily be blurred when that adult happens to be your child.

Have You Stumbled into an Ineffective Parenting Role?
As parents of adult children, we can still fall into some of those  less effective roles James Lehman talks about in the Total Transformation. We may find ourselves repeating the same patterns we did when they were children. For example, a parent may fall into the role of a martyr or savior, and constantly step in to help their adult child out of situations they have gotten themselves into. They may feel it necessary to help their child pay their rent, for example, even if that child is wasting their own money on drugs or alcohol. Sometimes, this is at a cost to our own well being. Or parents may find themselves being the Perfectionist. “My daughter could have gone to West Point when she graduated, but instead, she waited a couple years and then went to a local college.” (This was actually what my own mother used to say about me. I’m sure it wasn’t intended to be hurtful — she actually was trying to point out that I was intelligent. I just wasn’t putting it to good use, in her opinion.)


2 Points to Remember:
Aside from recognizing your feelings and acknowledging them, there are two important points to remember. The first is that there are very few black-and-white deadlines in life in regards to the path your child chooses. Every person has milestones in their life, and just as we mark early childhood milestones (the first time our child walks, talks, or uses the potty) we can also mark milestones in adulthood (the first car, first time living on their own, first serious relationship). Just like when your kids were younger, it’s important to realize that not everyone matures at the same rate.
This means that despite the fact that 18 is considered the “legal” age of adulthood, not every person who reaches 18 is truly ready for all the challenges of living independently. This is an individual choice each family needs to make, and there is no right or wrong. The key is recognizing if one of your boundaries is being crossed. In other words, are you helping because you truly want to, or do you feel like you are being taken advantage of? Generally, a good “gut check” can help you determine if a boundary has been crossed. If you feel at peace, you are probably okay. If however, you find you are unsettled, or resenting your child or the situation you are in, it may be time to look at things and make some changes.
The second and probably most important point to remember is that people are continuously growing and changing. Just because you don’t see the fruits of your efforts yet, it doesn’t mean you never will. One of the most inspiring examples to me is the story of James Lehman himself. As a young adult, he was using drugs, stealing, and eventually wound up in jail. Yet, fast forward a few years later, he went to college, got his Master’s degree, and began a life-long career of helping troubled youth and their parents. I’m sure he would say to any disheartened parent, “Game not over!”

6 More Tips for Parents of Adult Children
  1. Love the child you have right now and try not to lose hope if they aren’t doing well.
  2. Continue to maintain healthy boundaries.
  3. Even if your child is an adult, he or she does not have the right to be abusive to you or anyone else.
  4. Give them your support and guidance if they ask for it, but try not to force it on them.
  5. Continue to help them in appropriate ways if you feel it is healthy and necessary to do so.
  6. Give them the same space to follow their journey, just as you want others to do for you.
It is, after all, your child’s life. Your relationship with them will be vastly improved if you are able to let go of your expectations for them while never losing hope in their potential.

PERUBAHAN PARADIGMA TENTANG "BEKERJA"

Sering kita mendengar kata-kata dari seseorang "Waktu berjalan sangat cepat".   Memang benar jika kegiatan seorang ibu pekerja, rumah tangga, activitasnya pasti sangat berjubel.  Waktu bagaikan berlari tanpa berheti sedetik pun.

Anak yang dulunya masih bayi, tidak terasa, sudah masuk TK.  Sebentar lagi, masuk ke SD, SMP dan SMA.   Ketika masuk ke perguruan tinggi pun, kita berharap anak cepat selesai menamatkan studinya.  Impian setiap ibu agar anaknya setelah lulus dari perguruan tinggi, mereka akan cepat dapat pekerjaan.

Seorang teman saya yang jauh lebih muda dari saya, mempunyai beberapa putra. Salah seorang putranya melanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi di Melbourne.   Ketika selesai, putranya itu mencoba cari cara agar dapat tinggal di Melbourne meskipun sekolah telah selesai. Lalu, dia berusaha untuk kuliah di fakultas yang lain yang masih ada hubungannya dengan teknologi.

Selesai sekolah yang kedua, dia mendapat tawaran job free lance dari teman, dosen yang mengetahui keahliannya dalam bidang web.

Pekerjaan free lance adalah pekerjaan yang tidak terlihat mata. Dia tetap bekerja di apartemen, tanpa harus ke luar rumah, tanpa harus hadiri di sebuah kantor.

Namun, di mata ibunya, dianggapnya pekerjaan "free lance" anaknya itu tak sepadan dengan harapan ibu. Bekerja di kantor. Dia anggap pekerjaan itu harus di kantor atau di suatu tempat.

Pemikiran itu membuat si Ibu memaksa anaknya untuk segera pulang. Anaknya  masih merasa senang, bahagia dengan apa yang dikerjakannya.  Dia anggap pekerjaan itu memang sesuai dengan passionnya.

Paksaan pun datang.  Ibu dan suaminya berangkat ke Melbourne. Sengaja untuk menjemput anak lelakinya. Ultimatum diberikan. Jika tak pulang, tak ada lagi uang untuk cost of living, uang saku.

Terpaksa anak ini ikut pulang bersama ibunya.  Saat kami datang di tempat kerja ibunya, sebuah toko komputer besar, ibu ini bercerita panjang lebar tentang bagaimana anak itu tak mau pulang dan tak punya pekerjaan setelah selesai sekolah.   Apa yang diceritakan ibu persis di depan anaknya.   Bayangkan saja apa tanggapan anak itu dalam hatinya.   Saya sendiri sampai tak tega melihat raut mukanya.

Persepsi anak tentang bekerja adalah sebuah passion yang tak kenal tempat maupun waktu.  Sementara persepsi ibu tentang bekerja adalah bekerja di sebuah tempat yang permanen dan waktunya tertentu.

Di zaman global ini istilah yang sering kita dengar "work at home" begitu kentalnya.   Bahkan google, IBM pun mengizinkan pegawainya bekerja di rumah .  Ada rambu-rambu yang ditentukan untuk mengukur pekerjaan seseorang yang bekerja di rumah. Kinerja tetap di monitor, tanggung jawab juga harus dikerjakan.

Sebab itu marilah kita sebagai ibu-ibu baik yang kerja maupun tidak, sebaiknya memiliki persepsi benar  tentang sebuah pekerjaan.  Pergeseran tentang pekerjaan yang dulu bekerja identik dengan  kantor sekarang sudah berubah menjadi "mobile" di mana pun, kapan pun.


CUCU JADI "PELITA" BAGI KAKEK DAN NENEK

Menutup tahun 2014, aku sedang refleksi diriku tentang judul di atas. Persepsi yang sering timbul saat belum punya cucu, tentunya berbeda pada saat punya cucu.

Berhubung aku belum cucu, aku sering membayangkan hal-hal yang sangat negatif seperti, bagaimana jika anak kita tak mampu membesarkan anaknya sendiri, apalagi jika kedua orangtuanya harus bekerja.  Ingat hidup di kota Metropolitan menuntut orangtua untuk bekerja agar masa depan anak terjamin.  Barangkali pada dasar itulah, aku sering merasa "annoying" apabila melihat anak-anak masa kini terpaksa meninggalkan anaknya kepada orangtuanya.

Jika orangtuanya masih mampu dalam arti fisik maupun finansial untuk ikut membantu mengasuh cucu, tentu hal ini tak menjadi hal yang perlu dipikirkan sejelek apapun.  Namun, jika orangtua sudah sepuh dan tak punya kemampuan finansial, lalu anaknya menggantungkan cucunya kepada orangtuanya, wah saya berpikir, "alangkah sedihnya, beban pada masa tua yang seharunya sudah tidak ada, muncul dan bahkan lebih berat lagi".

Persepsi ini terpaksa saya singkirkan dan buang jauh, setelah beberapa kali bertemu dengan teman, bahkan kakak sendiri yang mengasuh cucunya dengan ketulusan hatinya.

Yang saya tangkap dari alasan mereka menerima dengan tulus pengasuhan cucu, hanya untuk sementara adalah mereka merasa sangat dibutuhkan, juga semangat untuk tetap hidup demi seorang cucu, membuat saya berlinang air mata.

Seorang ayah yang telah berusia cukup lanjut (70 tahun), sakit kanker prostat, dan menderita stroke. Putrinya telah menikah 5 tahun yang lalu. Belum dikaruniai anak seorang pun.  Doa kepada Tuhan agar dia tak dijemput oleh Tuhan sebelum punya cucu.  Tuhan memang menjawab keinginan Bapak ini. Dia diberikan kesempatan melihat, menimang dan mengalami kebahagiaan yang luar biasa, semangat hidupnya untuk tetap sehat kembali membara gara-gara cucu perempuan hadir ditengah hidupnya.

Cerita yang sangat mengharukan adalah seorang teman, yang anak dan menantunya adalah seorang pramugari dan pramugara sebuah maskapai penerbangan asing. Tinggal di kota Hongkong.   Memiliki seorang bayi yang baru berusia 1 l/2 tahun.  Kehidupan Hongkong menuntut agar mereka hidup dengan sederhana karena tak mampu untuk menyewa seorang "perawat" untuk bayinya.   Terpaksa teman saya sebagai oma, harus berangkat dari Indonesia ke Hongkong untuk berubah fungsi jadi "baby sitter".   Namun, saya melihat muka dan wajah yang bahagia setiap kali akan berangkat dan pulagn ke Hongkong.  Pekerjaan itu melelahkan sekali , sepanjang hari menjaga anak bayi.  Tapi ada kepuasaan, kebahagiaan dan nilai-nilai yang tak bisa dihitung dengan uang, katanya.

Di sini persepsi saya tentang "cucu yang menyusahkan kakek dan nenek" berubah 180% .   Semoga melewati tahun 2014, saya mendapat inspirasi yang lebih menantang lagi.

Siapkah Dunia Pendidikan Indonesia Mengadapi "MEA 2015"











2015 sudah diambang pintu.  Isu Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang menjadi pusat perhatian dan kajian para pelaku pendidikan terutama perguruan tinggi.

Di sana-sini mutu perguruan tinggi di Indonesia tidak sama rata. Terjadi kesenjangan , apalagi jiga dibandingan dengan mutu perguruan tinggi luar negeri, mutunya makin tidak terukur.  Data dari statistik menunjukkan bahwa Indonesia mempunya peringkat ke 49... untuk mutu perguruan tinggi secara global (50).

Bayangkan bagaimana Indonesia bisa berkompetisi dengan negara lain jika mutu perguruanttingginya saja belum sama, kompetisinya jauh tinggi, apalagi lulusannya belum siap kerja.  Bursa tenaga kerja yang trampil tahun depan terbuka lebar.   Ancaman penggangguran bagi lulusan terdidik dari 600,000 tahun ini akan jauh lebih tinggi lagi.  Hal ini harus serius ditangani.

Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan, Anies Baswedan pun berkomentar soal kondisi pendidikan Indonesia sebaga “Gawat Darurat”. Berikut adalah masalah besar yang dihadapi oleh Indonesia:
 Quote

"Pendidikan Indonesia sedang dalam gawat darurat. Fakta-fakta ini adalah sebuah kegentingan yang harus segera diubah," ujar Anies, dalam pemaparan materi di hadapan kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota se-Indonesia, di Kemendikbud, Senin (1/12/2014).

Berikut beberapa data mengenai hasil buruk yang dicapai dunia pendidikan Indonesia pada beberapa tahun terakhir.

1. Sebanyak 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan.

2. Nilai rata-rata kompetensi guru di Indonesia hanya 44,5. Padahal, nilai standar kompetensi guru adalah 75.

3. Indonesia masuk dalam peringkat 40 dari 40 negara, pada pemetaan kualitas pendidikan, menurut lembaga The Learning Curve.

4. Dalam pemetaan di bidang pendidikan tinggi, Indonesia berada di peringkat 49, dari 50 negara yang diteliti.

5. Pendidikan Indonesia masuk dalam peringkat 64, dari 65 negara yang dikeluarkan oleh lembaga Programme for International Study Assessment (PISA), pada tahun 2012. Anies mengatakan, tren kinerja pendidikan Indonesia pada pemetaan PISA pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, dan 2012, cenderung stagnan.

6. Indonesia menjadi peringkat 103 dunia, negara yang dunia pendidikannya diwarnai aksi suap- menyuap dan pungutan liar. Selain itu, Anies mengatakan, dalam dua bulan terakhir, yaitu pada Oktober hingga November, angka kekerasan yang melibatkan siswa di dalam dan luar sekolah di Indonesia mencapai 230 kasus.
unquote

Berbenah diri adalah satu-satunya cara yang harus dikerjakan oleh  pelaku dan stakeholder pendidikan. Semua lulusan harus memenuhi kualifikasi sehingga mampu bersaing.

Penyesuaian Kurikulum dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)  serta dengan negara-negara  ASEAN dan internasional telah mulai dilakukan.  Kerja sama di antara institusi perguruan tinggi ataupun industri di dalam dan luar negeri, menjadi salah satu strategi untuk memperkuat mutu lulusaan.   

Kerjasama dengan asosiasi profesi yang resmi juga diperkuat agar ada kesepahaman antara yang diproduksi oleh peruguran tinggi dan apa yang diharapkan oleh industri dari delapan profesi yang terbuka dalam MEA 2015.

Hasil penelitian yang dirangkum dalam judul “Pemetaan Pekerja Terampil Indonesia dan Liberalisasi Jasa Asean” menunjukan bahwa kerja sama penelitian ASEAN Study Centrer UI bersama dengan Kementerian Luar Negeri RI tahun 2013, 8 profesi terbuka di MEA 2015. Perlu perbaikan untuk penyamaan kompetensi, lama belajar, memaknai pendidikan profesi.

Selamat menyambut  MEA 2015 dengan tantangan yang besar!