 |
| konsultasipsikologi.kbc.-indonesia.com |
Celoteh seorang perawat dokter gigi: “Bu, pusing
ngga waktu anak ibu minta izin menginap di rumah teman?” tanyanya ketika saya
sedang menunggu kedatangan dokter gigi di ruang prakteknya. Saya tak bisa jawab langsung karena otak saya
berputar ke masa lalu hampir 6 tahun yang lalu.
Sebelum memberikan jawaban, saya masih bertanya
kepadanya: “Loh, emangnya anak itu khan
sudah minta izin, terserah kepada ibunya dong?” Dia beragumentasi, “Bu, dia sudah pernah
diberikan izin sebelumnya, sekarang dia pengin kumpul-kumpul dengan temannya
justru pada hari natal!”, setengah kesal dia menjelaskannya.
Dalam hati, saya langsung teringat dua atau tiga
hari yang lalu, anak saya yang sudah berusia 21 tahun (bukan remaja lagi), juga pamit kepada saya untuk menginap di
rumah temannya pada malam tahun baru.
Barangkali, masalah “menginap” di rumah teman itu
tidak jadi masalah serius seandainya ini tidak terjadi pada hari yang penting,
seperti Natal atau Tahun Baru.
Sebagai orangtua , ketika anak minta izin untuk
menginap di rumah teman, yang terpikir adalah kenapa anak ini lebih
mementingkan teman dari orangtuanya sendiri.
Apakah relasi selama ini yang telah dibangun demikian dekat, tidak
membuatnya nyaman lagi.
Masalah emosi sedikit terganggu karena anak mengganggap hubungan dengan orangtua tak
begitu penting dibandingkan dengan teman.
Untungnya emosi ini tak menjadikan saya sebagai orangtua marah atau
sakit hati.
Saya coba mencari tahu apa penyebabnya anak remaja,
menjelang dewasa, justru lebih dekat
kepada teman daripada orangtua.
Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Pengaruh
Hubungan dengan Teman Sebaya dan Perkembangan Sosial Remaja”, saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan
itu. Justru saya masalah orangtua yang tidak mengerti
perkembangan kedewasaan anak, akan membuat hubungan orangtua dan anak jadi
makin runcing.
Ciri sosial dari seorang anak yang mendewasakan diri
di lingkungan sosial adalah dia mulai bergeser dari lingkungan rumah menuju ke
lingkungan teman-teman. Pergeseran itu
adalah untuk menyamakan persepsi anak itu dengan teman-temannya yang punya pola
pikir dan pola nilai yang sama dengannya.
Diterimanya anak di suatu lingkungan membuatnya
nyaman. Lalu, dia akan mengaktualisasikan dalam bentuk hubungan baru dengan
temannya. Dia ingin dikatakan mandiri
bukan lagi tergantung pada orangtua.
Sedikit demi sedikit dia melihat bahwa kemandirian itu adalah suatu hal
yang harus dilakukannya tanpa harus ikut campur dari orangtua.
Kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan
sosial, mandiri, jadi acuannya.
Perkembangan ini harus diikuti oleh orangtua . Disini peran orangtua sangat penting. Jangan Orangtua tidak menyalahkan anaknya
yang tak tahu etika, tak mencintainya lagi atau ingin lari dari orangtua. Bahkan saya melihat slogan di sebuah angkot “ABG
Labil”. Benarkah?
Menghindari pertikaian antar anak dan orangtua untuk
masalah yang sebenarnnya tidak kompleks bila orangtua memahami kebutuhan
perkembangan sosialisasi dan juga memberikan pengarahan atau batasan apa yang harus dilakukan jika
dia memilih untuk menginap di rumah temannya.
Begitulah memahami perkembangan psikologi anak
sesuai dengan perkembangan usianya memang butuh pengetahuan dan pengertian yang
dalam. Tak mudah menjadi seorang ibu
yang bijak jika kita mendalami perkembangan psikologi anak. Sulit awalnya, tapi setelah membaca dan
memahami dan menempatkan diri kita di posisi anak, barulah kita jelas apa yang
harus dilakukan apabila kita menjadi anak itu.
Berikut ini intisari dari pengaruh hubungan anak
dengan teman sebaya dan perkembangan sosial:
- Merupakan pencapaian
kematangan dalam hubungan sosial.
- Sebagai proses belajar
untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi
dan juga untuk meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling
berkomunikasi dan bekerja sama.
- Pada dasarnya Anak
dilahirkan belum bersifat sosial. Untuk mencapai kematangan sosial, anak
harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain.
Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman
bergaul dengan orang-orang di lingkunganya, baik orang tua, saudara, teman
sebaya atau orang dewasa lainnya.
- Menurut Hurlock (1996) ada tiga
proses dalam perkembangan sosial yaitu:
1. Berperilaku dapat diterima secara sosial
2. Memainkan peran di lingkungan sosialnya.
3. Memiliki sikap yang positif terhadap kelompok sosialnya
- · Perkembangan Sosial pada Masa
Remaja
Perkembangan sosial pada masa remaja
dapat dilihat dari dua ciri khas yaitu :
- Mulai terbentuknya kelompok
dengan teman sebaya baik dengan jenis kelamin yang sama ataupun dengan
jenis kelamin yang berbeda.
- Dan mulai memisahkan diri dari
orang tuanya.
- · Peranan Kelompok Sebaya dalam
Kehidupan Remaja
·
1. Kelompok sebaya mempunyai peran penting dalam penyesuaian diri remaja, dan
persiapan bagi kehidupan di masa mendatang,
2. Berperan pula terhadap pandangan dan perilakunya.
3. Kelompok teman sebaya berperan pada saat remaja mengahadapi konflik antara
ingin bebas dan mandiri serta ingin merasa aman, pengganti yang hilang dan
dorongan kepada rasa bebas yang dirindukannya.
4. Berperan dalam memberikan persepsi agar ia tidak merasa kerdil diantara
orang-orang dewasa umumnya.
5. Remaja itu bergabung dengan kelompok teman sebaya, karena kebutuhan akan rasa
bebas dari orang dewasa dan rasa terikat antara sesama anggota.
6. Pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan remaja sangatlah dominan dalam
kehidupannya
Semoga
dengan adanya pengetahuan tentang hubungan remaja dengan temannya dan
perkembangan sosial , orangtua makin jelas bagaimana menghadapi dan
menyikapi remaja dan anak dewasa yang
lebih mementingkan hubungannya dengan teman dekatnya.
Akhir
kata, sebuah perkembangan harus dapat dimaknai dengan kesadaran pola
perkembangan itu sesuai dengan apa yang dipolakan , tidak ada penyimpangan .
Sumber: