Loading

Slide Bar

Share

"GHETTOISME" PENDIDIKAN

Membaca sebuah artikel di Kompas berjudul  "Ghettoisme Pendidikan", membuat kita sebagai orangtua mengetahui bahwa ada bahayanya sebuah pendidikan yang menganut Ghettoisme.

Apa makna Gthettoisme?
Ghettoiseme adalah sebuah yang digunakan untuk mengisolasi kehidupan kelompok minoritas karena alasan sosial, hukum, tekanan ekonomi.

Kata ini digunakan pertama kali di Venesia,Italia untuk menggambarkan tempat khusus di mana orang Yahudi dibatasi dan dipisahkan dari kelompok sosial di dalam masyarakat.

Relevansi dengan Pendidikan?
Ghettoisme pendidikan banyak dipraktikkan di sekolah negeri. Bahkan praktek ini diatur dalam aturan sekolah. Sekolah Negeri dibiayai oleh pemerintah , tapi justru melakukan dan menyuburkan praksis pendidikan yang bertentang Bhinneka Tunggal Ika.  Kegiataan keagaamaan setiap pagi sebelum pelajaran sekolah di mulai. Agar tampak adil dan berlaku sama, murid beragama lain dikumpulkan di ruang terpisah , tapi tidak ada pendamping untuk mengadakan kegiatan rohani tersendiri. Inilah yang disebut ghettoiseme pendidikan. Memisahkan siswa berdasarkan kategori sosial seperti ini secara pedagogis dan edukatif tak dapat dibenarkan.

Tiga Solusi ditawarkan:
Penulis Doni Koesoemaa, pemerhati Pendidikan memberikan tiga solusi:
Pertama:  Pemerintah harus segera menghilangkan praksis buruk semua kegiataan kerohaniaan.

Kedua :  para guru dan pendidik mengedepankan sikap kritis, kesediaan merivisi pandangan sempit dalam mendidik siswa yang justru cenderung mematikan daya nalar indoktrinasi ideologis.

Ketiga:  orangtua perlu kritis dan berani memperjuangkan kebenaran dengan berbagai macam kelompok yang mempunyai niat baik dalam mengembangkan pendidikan anak dan mengetahui kesadaran jika  anak-anak dididik secara salah di sekolah , menanamkan ketertutupan,permusuhan, kebencian kepada orang lain atas nama perbedaan sosial

GENG MOTOR KEGAGALAN ORANG TUA

Membaca beberapa anak dibawah umur yang terlibat dalam Geng Bermotor, melakukan kekerasan dan tindakan anarkistis, sungguh membuat miris dan sangat menyedihkan bagi saya sebagai ibu.

Seluruh polisi ,polres dan beberapa orangtua di kawasan Bekasi sangat resah dengan Geng Bermotor yang terus menerus mengganggu keamanan orang-orang dengan menyerang dengan senjata, merampas harta dan bahkan melukai orang.

Mereka yang ditangkap sebagai Geng Bermotor di Cipayung, biasanya berkumpul dan nongkrong dan duduk santai, .  Dalam melakukan kejahatan, enam remaja mengaku menenggak minuman beralkohol sehingga mabuk dan kurang perhatian dari keluarga atau sekolah.

Keluarga adalah benteng dari Geng Motor
Menjaga dan memberikan perhatian anak dari pengaruh luar yang sangat keras dimulai dari penjagaan dari rumah.  Menjaganya bukan dengan ancaman tetapi dengan cinta kasih dan perhatian yang diberikan kepada anak.   Tentunya perhatian yang dibutuhkan adalah sesuai dengan usia anak.   Kebutuhan afeksi juga menjadi hal yang penting bagi anak.  Jika kebutuhan dasar seperti cinta kasih diberikan didalam rumah, anak tidak
mencari di luar rumah.

Kenalilah Teman Anak
Begitu anak bergaul dengan teman-temannya, baik itu teman di dunia nyata maupun di dunia sosial media. Orangtua sebaiknya mengenal siapa teman-temannya.  Mengenal teman dari keluarga masing-masing temannya.  Hal ini sangat penting karena pengaruh teman lebih penting dari pada peran orangtua, pada saat anak remaja.   Jangan sampai anak terjerumus pada pergaulan yang sangat bebas, tak terkontrol dan kekerasan karena pengaruh seorang teman.

Kegiataan yang positif dan bermanfaat
Sering anak ingin terlibat dalam berbagai macam kegiataan.  Jika kegiataan itu sifatnya positif dan bermanfaat, tentu orangtua dapat mengizinkan.  Tetapi jika sebagai suatu awal dari suatu menuju ke arah yang tidak positif, sebaiknya tidak mengizinkan.  Jika anak  masih juga tidak mendengarkan, berikan pendekatan yang sangat persuasif untuk tidak melakukan mungkin melalui orang yang dianggap dihormati oleh anak.

The best thing to be value of a person, is to get a good start and finish !

Mari orangtua kita berjuang untuk tetap menjaga anak agar tidak terjatuh dari kegagalan kita.

KURANG PERCAYA DIRI

Proses untuk menanamkan percaya diri kepada anak berlangsung sangat lama. Saat SD, anak saya tidak suka bergaul dengan temannya yang tidak menyetujui atau tidak sealiran dengan dirinya.   Dia merasa lebih baik tak bergaul dengan teman yang tak disukainya ketimbang harus berkorban diri untuk mengerti atau memahami orang lain lebih dulu. Dia lebih suka orang lain memahami dirinya.
Saya terus berkali-kali menanamkan kepada dirinya agar tak mencoba mengubah orang lain untuk menyukai dirinya, tetapi belajar untuk bisa menyukai orang lain dengan kelebihan dan kekurangannya.

Saat SMP, dia mulai bisa bergaul dengan lebih banyak teman. Namun, persaingan makin kental. Apalagi dunia sekolahnya adalah dunia kompetisi.
Anak saya mulai menjauhkan diri dengan mereka yang berprestasi lebih tinggi dari dirinya.
Mulailah saya memberikan teladan kepada dirinya. Seperti saya yang tak mampu belajar teknologi, tetapi saya mau belajar dari orang yang jauh lebih pandai.
Akhirnya, dia bisa bergaul dengan teman-teman lain yang berprestasi jauh lebih baik darinya.

Saat masuk universitas, dia merasa hasil tugasnya tidak memuaskan dibandingkan dengan teman-temannya. Bahkan, ketika suatu hari dia mendapat kesempatan untuk "Portfolio Review", percaya dirinya hilang di hadapan dengan pakar-pakar yang akan me-review portofolio nya.
Alasannya adalah portfolio belum maksimal dibandingkan dengan mereka yang punya jam terbang lebih banyak dengannya.  Kembali, saya sebagai ibu memberikan "insight",  parameter portfolio ditentukan oleh dirinya sendiri bukan oleh orang lain.  Parameter dari penilaian adalah dari pakar bukan dari orang lain. Tentu parameter harus dipertimbangkan oleh beberapa faktor antara lain jam terbang, pengalaman, semester .

Jatuh bangun untuk memberikan percaya diri kepada anak. Tetapi selalu mengedepankan dan memberikan semangat agar anak lebih percaya diri.  Tak mudah , tetapi proses panjang harus dilalui demi percaya diri yang terus dipupuk dan dibangun.

Memperkenalkan Konsep Pertemanan kepada Anak

Norma kehidupan perlu diajarkan kepada anak. Sekian banyak nilai yang ditanamkan, lebih baik mengajarkan dasar-dasar pertemanan yang sangat menarik.

Caranya sederhana dan mudah apalagi sebagai orangtua harus memberikan contoh kepada anak-anak.

1. Ikut Bermain
    Terlibat bermain dengan anak baik indoor maupun outdoor.  Tentu sangat mengasyikan jika kegiataan
    diikuti bersama-sama antara anak dan orangtua. Permainan yang menunjukkan kebersamaan akan
     menumbuhkan nilai kebersamaan, belajar bersikap sportif, fairplay, menerima kekalahan, mengakui
     kemenangan orang lain, berbagai  dan menumbuhkan rasa kebersamaan sebagai teamwork.

2. Bangun kesempatan sosialisasi.
    Carikan teman sebaya dan dorong untuk berinteraksi .Untuk menciptakan kesempatan, dibutuhkan
    kesabaran dan tekat.  Orangtua menjadi perantara untuk mengawali pertemanan antara anak dan
    temannya. Setelah terjalin, barulah mereka dapat bersosialisasi secara alami.

3.Bangun kepercayaan diri
   Sejak kecil anak diberikan kesempatan atau dorongan, motivasi untuk berani tampil diri , di depan
   kelas serta suka rela mengambil peran dalam kelas,bernyanyi, bercerita menjadi petugas piket.
   Orangtua bekerja sama dengan guru untuk memberikan motivasi keberanian kepada anak.

4. Jalin komunikasi
    Terus menerus dilakukan dengan anak tanpa paksaan.Ajak anak untuk bercerita, pengalaman
    dilakukan waktu senggang seperti seusai makan malam atau menjelang tidur.

Pemberian tak Selalu Baik bagi penerima

Orangtua sering berpikir memberikan sesuatu kepada anak, pasti sangat membahagiakan anak.  Ternyata tak semua pemberian bisa membahagian anak.  Belum tentu.   Mengapa?  Pasalnya orangtua seringkali hanya berpikir memberikan sesuatu "menurut cara berpikirnya" bukan "cara berpikir anaknya atau penerimanya".

Aneh, tentu hal itu tak pernah terjadi jika pengalaman yang saya dan suami sebagai orangtua tidak mengalaminya.

Anak sedang melakukan magang di suatu kantor.  Dia harus membuat video untuk suatu promosi perusahaan. Tehnik pembuatan video berdasarkan 3D.   Mendengar adanya pembuatan itu, sebagai orangtua, suami saya langsung mencari informasi tentang pembuatan video.  Setelah mendapatkan informasi, suami mencari bukunya.  Bukunya itu cukup mahal. Tapi mahalnya tak menjadi soal karena cinta orangtua memang tak memandang harga.  Bagi suami saya, membelikan dan memberikan buku adalah suatu hal yang tak ternilai harganya dibandingkan dengan harga buku itu sendiri.  Begitu besarnya semangat untuk memberi sampai segala persiapan dari pembelian sampai pengiriman pun dilakukan sendiri.

Tapi sayang seribu sayang, pengiriman buku yang disangkanya akan lebih aman, nyaman dan cepat ternyata menjadi bumerang bagi anak. Pengiriman buku gagal diterima karena kebetulan anak tidak di apartemen. Hanya sebuah catatan kecil yang menyatakan kurir telah datang, dan akan datang lagi.

Agak panik, bagaimana cara memberitahukan kepada perusahaan kurir agar pengiriman dapat diterima.  Berbagai kendala , ada aktivitas di luar apartemen, tapi harus tunggu kurir datang. Menghubungi customer service, ternyata tak banyak membantu. Tetap harus "stay at your apartment", ternyata sangat tidak enak menunggu sesuatu yang belum pasti.

Yang pasti pemberian itu bukan sesuatu yang enak bagi anak saya.  Assertive memberikan feedback bagi kami, lain kali pemberian buku itu sebaiknya dibeli saja di Melbourne tidak perlu dikirim karena menimbulkan kerepotan yang seharusnya tak perlu.

BOHONG

Ayah dan ibuku tak pernah mengajarkan kebohongan kepadaku sejak kecil .  Kebohongan itu tak baik dan tak bisa ditolerir, kata ibuku.  Jika engkau sekali berbohong, maka engkau akan masuk dalam kubang atau lubang kebohongan yang pertama dan seterusnya.  Kebohongan hanya akan melahirkan kebohongan lain, begitu kata ibuku.

Aku tentu tunduk dengan apa yang dikatakannya. Namun, suatu hari ketika aku SMP, ada suatu film dewasa yang berjudul "Rome and Juliet ".   Aku dan teman mainku, yang juga tetanggaku sangat ingin menonton film itu. Padahal umurku belum mencapai 17 tahun ke atas.  Larangan itu makin menggodaku bersama temanku itu. Mencari akal agar aku diperbolehkan nonton.   Aku minta izin kepada orangtua untuk menonton film drama anak-anak.   Tentu jam pertunjukkan film anak sengaja dimulai pukul 15.00 dan akan berakhir 17.00  Namun, aku dan temanku baru pulang pukul 19.00 .   Ibuku sangat mengkhawatirkan kepergianku. Dicarinya di bioskop yang kuberitahukan. Tidak menemukan.

Pada jam 19.30, kami mengendap-endap pulang ke rumah dengan rasa takut dan bersalah. Begitu kami muncul, ternyata ibu sudah siap menemuiku.  Pertanyaan pertama yang sangat menyambar hatiku "Film drama anak-anak  sudah berubah jadi Romeo & Juliet. Bagaikan disambar petir di siang hari bolong, aku terdiam.  Dimana dan kenapa ibu bisa mengetahuinya?

O, ternyata ibuku sudah menjadi seorang FBI. Dia menemui tukang becak yang mengantarkanku bersama temanku.  Dengan mengetahui bioskop itu, ibuku langsung dapat mengetahui film apa yang sedang diputar di sana.

Ach, serasa ditampar pipiku.  Aku mendapat amarah yang besar dari ibu.   Berbohong sekali dalam seumur hidup, menjadi sandungan diriku, tak dipercayai lagi...

Inilah pelajaran penting dalam kebohongan. Nilai suatu kebohongan itu pasti akan terbongkar, cepat atau lambat.

Mengenal Lebih Dekat Anakku

Pertanyaan aneh jika seorang ibu tak mengenal anaknya.  Ini juga terjadi pada diriku. Awal mulanya tak percaya bahwa aku sebenarnya tak mengenal anakku.  Bagaimana ini bisa terjadi?  Aku setiap hari ketemu dengannya, walaupun pada saat itu aku bekerja, tetapi begitu pulang kerja, aku langsung mengasuh anakku, mendongeng dan tidur bersama anakku.  Tiap cuti, aku selalu bersamanya, bercanda, mengantar sekolah , menatapnya, bermain dan bercanda, bersama-sama mendengarkan musik kesayangannya.

Rasanya tak ada yang tak kukenal diri anakku. Semuanya kukenal, phisiknya dari awal hinggal menjadi gempal, besar dan tumbuh menjadi gadis kecil.

Tapi suatu hari , anakku bingung menentukan untuk memastikan apakah dia memilih bidang sosial atau matematik/fisika/biologi.   Keduanya ada yang disukainya ada yang tak disukainya.  Aku sendiri ikut bingung karena tak mudah kuketahui pelajaran apa yang tak disukai dan disukai, di semua pilihan itu ada yang tak disukai. Pilihan yang sangat krusial , jika salah pilih bisa fatal pikirku.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mencoba bertanya kepada seorang grapfolog.  Aku dan anakku mengirimkan tulisan kami. Seminggu kemudian kami mendapat hasil dari analisa dari grafolog itu.  Kami masing-masing membaca laporan itu, lalu kami bertukar . Aku membaca kepunyaan anakku. Anakku membaca kepunyaanku.   Terkaget-kaget dan rasa tak percaya apa yang ditulisnya.  Tetapi ada fakta kebenaran di sana. Aku memang tak mengenal anakku secara ke seluruhan. Secara phisik kukenal dia, tetapi secara pribadi, aku belum mengenalnya.  Benturan demi benturan sering terjadi. Aku tak mengenalnya karena aku tak mengetahui jalan pikirannya. Ternyata bukan begitu, tetapi karena aku tak mengenal kepribadinnya.  Salah satunya adalah dirinya yang penuh dengan perasaan halus. Aku tak tahu ini. Sehingga dalam komunkasi aku sering menggunakan kata keras, pedas jika ia dalam kondisi yang tak baik. Seharusnya aku tak menggunakan emosi pada saat dia sedang dalam kondisi down. Kata-kata dan komunikasi yang baik akan terjalin dan hubungan bisa lebih baik.

Sejak saat itu aku makin mengenal dirinya seutuhnya. Bukan hanya sebagai individu di depanku, tetapi sebagai anak yang mempunyai kelemahan dan kekuataan . Mengenalnya berarti juga memahami semua yang ada dalam dirinya. Aku tak lagi memandang kelemahannya sebagai kelemahan dirinya. Tetapi juga kelemahan itu harus dibuat menjadi kekuataan bagi dirinya.  Semoga aku bisa membimbingmu sampai engkau sudah siap..................