Loading

Slide Bar

Share

CUCU JADI "PELITA" BAGI KAKEK DAN NENEK

Menutup tahun 2014, aku sedang refleksi diriku tentang judul di atas. Persepsi yang sering timbul saat belum punya cucu, tentunya berbeda pada saat punya cucu.

Berhubung aku belum cucu, aku sering membayangkan hal-hal yang sangat negatif seperti, bagaimana jika anak kita tak mampu membesarkan anaknya sendiri, apalagi jika kedua orangtuanya harus bekerja.  Ingat hidup di kota Metropolitan menuntut orangtua untuk bekerja agar masa depan anak terjamin.  Barangkali pada dasar itulah, aku sering merasa "annoying" apabila melihat anak-anak masa kini terpaksa meninggalkan anaknya kepada orangtuanya.

Jika orangtuanya masih mampu dalam arti fisik maupun finansial untuk ikut membantu mengasuh cucu, tentu hal ini tak menjadi hal yang perlu dipikirkan sejelek apapun.  Namun, jika orangtua sudah sepuh dan tak punya kemampuan finansial, lalu anaknya menggantungkan cucunya kepada orangtuanya, wah saya berpikir, "alangkah sedihnya, beban pada masa tua yang seharunya sudah tidak ada, muncul dan bahkan lebih berat lagi".

Persepsi ini terpaksa saya singkirkan dan buang jauh, setelah beberapa kali bertemu dengan teman, bahkan kakak sendiri yang mengasuh cucunya dengan ketulusan hatinya.

Yang saya tangkap dari alasan mereka menerima dengan tulus pengasuhan cucu, hanya untuk sementara adalah mereka merasa sangat dibutuhkan, juga semangat untuk tetap hidup demi seorang cucu, membuat saya berlinang air mata.

Seorang ayah yang telah berusia cukup lanjut (70 tahun), sakit kanker prostat, dan menderita stroke. Putrinya telah menikah 5 tahun yang lalu. Belum dikaruniai anak seorang pun.  Doa kepada Tuhan agar dia tak dijemput oleh Tuhan sebelum punya cucu.  Tuhan memang menjawab keinginan Bapak ini. Dia diberikan kesempatan melihat, menimang dan mengalami kebahagiaan yang luar biasa, semangat hidupnya untuk tetap sehat kembali membara gara-gara cucu perempuan hadir ditengah hidupnya.

Cerita yang sangat mengharukan adalah seorang teman, yang anak dan menantunya adalah seorang pramugari dan pramugara sebuah maskapai penerbangan asing. Tinggal di kota Hongkong.   Memiliki seorang bayi yang baru berusia 1 l/2 tahun.  Kehidupan Hongkong menuntut agar mereka hidup dengan sederhana karena tak mampu untuk menyewa seorang "perawat" untuk bayinya.   Terpaksa teman saya sebagai oma, harus berangkat dari Indonesia ke Hongkong untuk berubah fungsi jadi "baby sitter".   Namun, saya melihat muka dan wajah yang bahagia setiap kali akan berangkat dan pulagn ke Hongkong.  Pekerjaan itu melelahkan sekali , sepanjang hari menjaga anak bayi.  Tapi ada kepuasaan, kebahagiaan dan nilai-nilai yang tak bisa dihitung dengan uang, katanya.

Di sini persepsi saya tentang "cucu yang menyusahkan kakek dan nenek" berubah 180% .   Semoga melewati tahun 2014, saya mendapat inspirasi yang lebih menantang lagi.

Siapkah Dunia Pendidikan Indonesia Mengadapi "MEA 2015"











2015 sudah diambang pintu.  Isu Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang menjadi pusat perhatian dan kajian para pelaku pendidikan terutama perguruan tinggi.

Di sana-sini mutu perguruan tinggi di Indonesia tidak sama rata. Terjadi kesenjangan , apalagi jiga dibandingan dengan mutu perguruan tinggi luar negeri, mutunya makin tidak terukur.  Data dari statistik menunjukkan bahwa Indonesia mempunya peringkat ke 49... untuk mutu perguruan tinggi secara global (50).

Bayangkan bagaimana Indonesia bisa berkompetisi dengan negara lain jika mutu perguruanttingginya saja belum sama, kompetisinya jauh tinggi, apalagi lulusannya belum siap kerja.  Bursa tenaga kerja yang trampil tahun depan terbuka lebar.   Ancaman penggangguran bagi lulusan terdidik dari 600,000 tahun ini akan jauh lebih tinggi lagi.  Hal ini harus serius ditangani.

Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan, Anies Baswedan pun berkomentar soal kondisi pendidikan Indonesia sebaga “Gawat Darurat”. Berikut adalah masalah besar yang dihadapi oleh Indonesia:
 Quote

"Pendidikan Indonesia sedang dalam gawat darurat. Fakta-fakta ini adalah sebuah kegentingan yang harus segera diubah," ujar Anies, dalam pemaparan materi di hadapan kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota se-Indonesia, di Kemendikbud, Senin (1/12/2014).

Berikut beberapa data mengenai hasil buruk yang dicapai dunia pendidikan Indonesia pada beberapa tahun terakhir.

1. Sebanyak 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan.

2. Nilai rata-rata kompetensi guru di Indonesia hanya 44,5. Padahal, nilai standar kompetensi guru adalah 75.

3. Indonesia masuk dalam peringkat 40 dari 40 negara, pada pemetaan kualitas pendidikan, menurut lembaga The Learning Curve.

4. Dalam pemetaan di bidang pendidikan tinggi, Indonesia berada di peringkat 49, dari 50 negara yang diteliti.

5. Pendidikan Indonesia masuk dalam peringkat 64, dari 65 negara yang dikeluarkan oleh lembaga Programme for International Study Assessment (PISA), pada tahun 2012. Anies mengatakan, tren kinerja pendidikan Indonesia pada pemetaan PISA pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, dan 2012, cenderung stagnan.

6. Indonesia menjadi peringkat 103 dunia, negara yang dunia pendidikannya diwarnai aksi suap- menyuap dan pungutan liar. Selain itu, Anies mengatakan, dalam dua bulan terakhir, yaitu pada Oktober hingga November, angka kekerasan yang melibatkan siswa di dalam dan luar sekolah di Indonesia mencapai 230 kasus.
unquote

Berbenah diri adalah satu-satunya cara yang harus dikerjakan oleh  pelaku dan stakeholder pendidikan. Semua lulusan harus memenuhi kualifikasi sehingga mampu bersaing.

Penyesuaian Kurikulum dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)  serta dengan negara-negara  ASEAN dan internasional telah mulai dilakukan.  Kerja sama di antara institusi perguruan tinggi ataupun industri di dalam dan luar negeri, menjadi salah satu strategi untuk memperkuat mutu lulusaan.   

Kerjasama dengan asosiasi profesi yang resmi juga diperkuat agar ada kesepahaman antara yang diproduksi oleh peruguran tinggi dan apa yang diharapkan oleh industri dari delapan profesi yang terbuka dalam MEA 2015.

Hasil penelitian yang dirangkum dalam judul “Pemetaan Pekerja Terampil Indonesia dan Liberalisasi Jasa Asean” menunjukan bahwa kerja sama penelitian ASEAN Study Centrer UI bersama dengan Kementerian Luar Negeri RI tahun 2013, 8 profesi terbuka di MEA 2015. Perlu perbaikan untuk penyamaan kompetensi, lama belajar, memaknai pendidikan profesi.

Selamat menyambut  MEA 2015 dengan tantangan yang besar!

MELENGKAPI GIZI YANG CUKUP UNTUK BUAH HATI



Cukup menggagetkan bahwa data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dikatakan bahwa ada sekitar 3,1 juta anak di dunia meninggal akibat  gizi setiap hari. Kebanyakan mereka masih berusia di bawah lima tahun.

Ancaman gizi buruk yang menjadi momok bagi kematian anak-anak harus segera dihindari dan ditanggulangi.   Diharapkan banyak pihak ikut serta dalam penanggulangan ini secara serempak.
Untuk penanggulangan ini tidak cukup hanya  berupa seruan-seruan saja agar mereka yang menderita gizi buruk segera memperbaikinya.  Tetapi perlu diberikan sosialisasi secara significant pentingnya gizi bagi perkembangan tumbuh pada masa keemasan.   Jika pada masa keemasan tidak adanya asupan gizi yang cukup maka dampaknya  perkembangan tidak optimallpada saat dewasa.   Kemampuan motorik rendah, produktivitas rendah, kemampuan daya saing pun rendah.  

Edukasi mengenai asupan gizi dan nutrisi pada usia emas harus ditekankan terus . Bahkan badan dunia Food and Agriculture Organization pun menjadikannya isu global dengan menetapkan Hari Pangan Sedunia tiap 16 Oktober.

Pemahaman dan kepedulian masyarakat untuk menyediakan  pangan yang cukup bergizi bagi putra-putrinya harus dilakukan secepatnya.  Bagaimana caranya asupan gizi itu diberikan kepada putra-putri sesuai dengan perkembangan umurnya.

Di bawah ini tabel yang dapat membantu orangtua dalam memberikan gizi sesuai dengan usia dari putra/putrinya:
Kebutuhan makan-minum sesuai umur.

Umur
Minum
Makan
1
Bayi 0-4 bulan
7 x minum ASI/ hari (asi exclusive)
Tidak diberikan makanan lain
2
Bayi 4-6 bulan
5 x minum ASI
ditambah 2 x makanan lumat
3
Bayi 6-9 bulan
4 x minum ASI
ditambah 3 x makanan lembek  “
4
Bayi 9-13 bulan
3 x minum ASI
ditambah 4 x makanan lunak dan
1 x makanan selingan
5
Anak 13-18 bulan
3 x minum ASI
ditambah 4 x makanan dewasa dan 1 x makanan selingan
6
Anak 18-24 bulan
3 x minum ASI
ditambah 4 x makanan dewasa dan 2 x makanan selingan
7
Anak 2-3 tahun
2 x minum susu formula
3 x makanan biasa
2 x makanan selingan
8
Anak 4-6 tahun
2 x minum susu
3 x makanan biasa
2 x makanan selingan
9
Anak 7-12 tahun
2 x minum susu
2x makanan selingan
3x makanan biasa
10
13-18 tahun
2 x minum susu
ditambah 3 x makanan biasa
2 x makanan tambahan


 
Berikut ini adalah  beberapa menu favorit yang dapat menjadi selingan bagi si kecil agar dapat menyukai makanan lebih baik lagi:

SO BOLANG BALING TAHU
Wortel 4 buah
Tahu iris dadu
Bakso 12 iris tipis
Bawang putih iris tipis
Daun bawang rajang
Gula,grama, yang utama tanpa MSG
Rebus air sampai mendidik,masukkan bawang,wortel, tunggu setengah matang. Masukkan tahu,bakso,daun bawang, gula garam.
Tunggu mendidih, aduk, angkat, siap disajikan , di tambah dengan tempe goreng malang.


BROKOLI SEAFOOD
Bahan:
1.Brokoli iris tipis 200 gr
2.Ikan dori potong dadu 100 gr
3.Udang kupas 3 ekor
4. Cumi iris tipis 50 gr
5.Minyak goreng 2 sendo makan
6.Air 300 ml
Bumbu:
1.Bawang putih cincang
2. Bawang bombay iris tipis
3.Kecap asing l/2 sdg
4. chicken power 1 sdt
5.Merica l/4 sdg
1.Panaskan wajandengan minyak goreng
2.Masukan bawang putih dan bawang bombay tumis hingga harum
3.Masukkan udang, ikan dori,cumi ,lalu aduk
4. Masukkan brokoli, tumis hingga rata dan tambahkan air
5. Masukkan kecap asing chicken power dan merica, aduk rata hingga air sisa sedikit
6. Sajikan di piring dan hiasi dengan dadar telur