Loading

Slide Bar

Share
Tampilkan postingan dengan label generation gap problem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label generation gap problem. Tampilkan semua postingan

Generation Gap Problem Perlu Dikenali dan Dipahami


www.inatanaya.com

Setiap keluarga pasti punya Generation Gap Problem.  Namun, adakah keluarga yang menganggap enteng, ada pula yang anggap tidak perlu dipusingkan.  Tetapi ada pula yang sangat pusing dengan Generation Gap Problem karena menganggu relasi antara orangtua dan anak.


Beberapa minggu terakhir ini ada beberapa teman saya maupun teman suami yang saling curhat tentang sulitnya memahami kelakuan yang berdasarkan nilai yang dianut oleh anak itu. “Anak sekarang itu tak pernah memahami orangtuanya, dulu kita dididik jika menginginkan barang atau beli sesuatu yang diinginkan, tak berani minta. Jika minta sesuatu,selalu berusaha untuk menyenangkan orangtua dulu jika belum bisa berbuat sesuatu. Tapi anak sekarang itu , jika ingin sesuatu harus mendapatkan. Jika tidak, dianggapnya, ibu atau ayahnya tak mendukung jika nanti dia dikucilkan oleh komunitas itu karena dia tak punya barang itu” Bahkan dicontohkan oleh teman kami, ketika dia ingin punya mainan, tapi tak berani minta karena tahu persis orangtuanya tak mampu untuk membelikannya. Lalu dia pun berusaha jualan layangan. Hasil keuntungan dari layangan itu dibuat untuk membeli mainan yang diinginkannya.

 Penyebab adanya generation Gap:


 Perbedaan sudut pandang, persepsi yang latar belakang kehidupannya berbeda.. Adanya hal historis yang mempengaruhi cara berfikir setiap generasi. Pemahaman tentang Gap antar generasi ini jika dipahami secara utuh, dapat membantu kita untuk mencari cara pendekatan yang tepat, memahami pemikiran rekan bicara kita, terlebih jika rekan bicara kita berbeda generasi dengan kita sehingga perdebatan yang tidak penting tidak perlu bisa terjadi. Generasi muda menganut “touch screen”, langsung beli dan praktekan ,baru pelajari caranya. Generasi tua menganut “theory button”, harus dipelajari dulu satu persatu, baru dibeli.

 Akibat generation Gap: 

 

Gap generation timbul karena ada perspektif yang berbeda antara suatu generasi dan generasi yang berikutnya. Akibatnya jika gap generation ini dianggap atau tidak diberikan solusi yang baik, selalu akan timbul friksi yang terus menerus. Setiap generasi mengalami nilai kepribadian dan nilai sosial yang terus berubah. Nilai itu akan mengikuti perkembangan zaman. Meskipun ada nilai sosial yang bersifat tradisonal tapi tidak semua anak yang dapat menerapkannya karena ada hal-hal yang menurut generasi muda saat ini nilai tradisional itu sudah tidak sesuai dengan apa yang terjadi di saat ini. Tetapi beberapa orang beranggapan bahwa generation gap itu tidak perlu dipersoalkan karena meskipun berbeda pendapat , ada jembatan yang dapat dipakai untuk melaluinya. 

Proses Menjembatani Generation Gap: 


Nach, kami para orangtua,terutama teman-teman kami sendiri pernah saling curhat di suatu pertemuan khusus. Kami menganggap bahwa kami sekarang tidak bisa memahami kemauan dan keinginan anak kami sendiri. Pemahaman dan ketidak mengertian itu karena kami sebagai orangtua yang dibesarkan oleh orangtua kami sebelumnya memiliki dasar nilai yang berasal dari orangtua kami. Dasar nilai yang kami anut itu mungkin sudah dianggap kuno oleh anak kami. Misalnya pada waktu kami kecil, jika ingin mendapatkan sesuatu barang yang kami ingini, kami harus berusaha untuk menabung atau mencari akal bagaiman mendapatkan uang untuk membeli barang karena tidak mungkin bagi kami untuk selalu minta uang . Kami selalu sadar bahwa orangtua kami itu bukan dari keluarga yagn berada yang mampu memberikan apa saja yang kami inginkan. 

 Kesadaran itu membawa kami untuk tidak menuntut kepada orangtua untuk selalu memberikan apa yang kami inginkan. Atau kami tidak akan mudah terpengaruh dengan teman-teman kami di luar yang memiliki suatu barang yang sedang trend dan harganya tidak terjangkau oleh keluarga kami. Lalu, apa yang kami pahami tentang generasi anak kami. Anak kami selalu banyak menuntut untuk dibelikan suatu barang jika ia menginkan barang itu. Meskipun sudah dijelaskan dengan sangat gamblang bahwa kami sebagai orangtua tidak selalu harus memenuhi keinginannya, tapi tuntutan itu terus didengungkan sampai anak itu memiliki barang yang diinginkan. 

 Seringkali anak juga tidak berusaha sendiri untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Misalnya dengan menabung atau mencari uang dengan cara berjualan sesuai dengan kemampuannya. Apa yang ingin dijelaskan di sini adalah anak zaman sekarang sikapnya lebih santai dan merasa bahwa orangtua bisa membelikan apa yang diinginkan tanpa mereka berusaha untuk mencapainya sendiri. Apakah alasan yang diberikan itu memang sesuai dengan realitanya, ataukah kasus dari beberapa keluarga itu sudah dapat dijadikan kasus secara umum. 

 Memang perlu dikaji lebih banyak tentang nilai dasar yang dianut oleh anak-anak zaman sekarang. Lalu bagaimana solusi menghadapi generation gap yang telah timbul dari teman-teman kami ini. Kami memang tidak dapat banyak menerima masukan bagaimana merubah situasi atau menanamkan nilai kami kepada anak karena memang nilai yang lama dari kami itu pasti tidak dapat diterima oleh generasi zaman ini. Solusinya kami sebagai orangtua harus menerima dan merubah diri kami. Kami harus menghadapi perubahan nilai ini dengan adaptasi nilai dan mencoba memahami dan jika memang kami tak mampu untuk memenuhi keinganan anak kami akan coba berterus terang kepada mereka dan meminta mereka mengerti .

 Tidak ada jalan lain karena nilai luar memang jauh lebih kuat dari nilai yang kami tanamkan kepada anak. Apalagi anak yang sudah dewasa, kami tak mungkin merubah pemikiran dan kebiasaannya.